
"Bagaimana dengan Irrex?" Tanya Lasius sembari duduk disebelah Iloania yang sedikit melamun sembari memandang cincinnya.
Gadis pemilik manik emas itu menoleh dan menyunggingkan senyuman. "Sudah mulai membaik. Karena aku belum mampu menyalurkan energiku untuk memenuhi cincin dimensiku lagi sejak pertarungan itu, ruang dimensi memiliki sedikit energi yang bisa diserap Irrex untuk penyembuhannya. Tubuhku akan memburuk jika aku tetap memaksakannya. Tapi, pemulihan Irrex akan lama."
"Tidak bisakah aku menggantikanmu melakukannya?" Tanya Lasius dijawab gelengan kepala oleh Iloania.
Iloania sedikit menundukkan kepalanya. Merenung memikirkan semua masalahnya. Lasius menyadarinya, menyadari betapa sulitnya Iloania. Ia menatap Iloania dan mengulurkan tangannya memegang tangan Iloania digenggamannya. Kedua tangan itu bertautan. Tangan yang lebih besar menggenggam erat tangan yang lebih kecil, menyalurkan kekuatan untuk bertahan.
"Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja." Kata Lasius ketika Iloania mendongak menatapnya.
Iloania menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Sangat baik memiliki seseorang disampingnya ketika dia sedang dilanda masalah.
"Ekhm." Suara deheman itu membuat Iloania sedikit tersentak dan menoleh untuk mendapati sosok Tuan Topeng Bambu berdiri didekat pintu.
"Paman, apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Iloania.
Tuan Topeng Bambu duduk diseberang mereka dan secara alami pura-pura tak melihat bahwa tangan keduanya masih saling bertautan dengan langsung menuju topik utama.
"Aku menemukan keberadaan orang yang kau cari." Katanya.
Ia melanjutkan ketika ucapannya membuat Iloania dan Lasius terkejut, "Beberapa waktu lalu aku mencoba mencari informasi tentangnya dari beberapa tempat. Aku mendapatkan cukup banyak informasi. Orang ini hanya akan muncul sekali dalam satu tahun selama tiga hari. Setelah itu, dia akan menghilang dan akan muncul kembali setelah selang waktu itu."
"Aku mendengar dari temanku yang seorang pedagang. Bahwa saat dia pergi ke Ribnon sehari sebelum kemarin, dia mendengar kabar simpang siur tentang pendongeng itu muncul disana." Katanya menjelaskan.
Lasius nampak berpikir, "Ribnon itu .. Ibukota kerajaan Tophaz."
"Apakah dia muncul kemarin? Itu artinya kita masih memiliki waktu sehari untuk sampai kesana." Kata Lasius.
"Apakah itu masih sempat?" Tanya Tuan Topeng Bambu.
Lasius membenarkan, "Bahkan dengan kecepatan Hallias, itu akan memakan waktu. Tapi bagaimanapun, kami harus berhasil sampai disana."
Iloania mengerutkan alisnya, "Kerajaan Tophaz?"
"Ah! Aku baru mengingatnya. Dulu aku pernah kesana saat masih kecil. Aku ingat, saat itu aku meninggalkan segel disana." Kata Iloania dengan sepasang manik yang berbinar cerah.
Itu harapannya, dia bisa menemui pendongeng itu!
Iloania menatap Lasius. "Kak Sius, kita harus pergi malam ini juga. Aku bisa membawa kita berdua kesana, asalkan segel itu masih ada!" Katanya.
"Baiklah." Jawab Lasius.
"Tuan! Ada masalah digerbang desa!" Suara itu terdengar, bersamaan dengan terbukanya pintu.
Zaree sedikit terengah, menenangkan pernapasannya dan memandang mereka yang ada diruangan itu dengan cemas. Meski tidak begitu kentara, tetapi seperti itulah keadaannya.
"Ada apa?" Tanya Lasius.
"Pasukan APA ada digerbang dan meminta izin melakukan pencarian. Jika mereka menemukan kalian ada disini, kalian akan dalam masalah besar!" Kata Zaree.
Iloania bangkit berdiri, "Kita harus pergi sekarang juga."
"Ya, aku akan menahan mereka. Meski hanya sesaat, aku akan memberi kalian waktu." Kata Tuan topeng bambu membuat Iloania mengangguk
Tanpa menunda waktu lagi, dua pria dewasa itu bersama-sama menuju gerbang, sementara Iloania dan Lasius tetap disana. Iloania mengambil kertas dan kuas dari laci dan meletakkannya dilantai. Ia Duduk berseberangan dengan Lasius dibawah. Ia mencelupkan kuas kedalam tinta dan menggoreskannya keatas kertas membentuk sebuah segel yang sulit. Ia kemudian menekan kertas dengan tangan kirinya. Secara ajaib, ujung jari tangan kirinya memendarkan cahaya yang lembut.
Iloania bergumam, "Semoga ini berhasil."
"Pergilah!!"
"Kenapa bisa ada penyihir disini?! Apa mereka datang ingin mengolok-olok kita?!"
Mereka berdiri disekitar gerbang desa dan tak menutupi cibiran mereka pada sekelompok kecil penyihir yang merupakan anggota APA itu. "Sangat menjengkelkan. Tak ada hal yang baik saat berurusan dengan mereka."
"Buat apa mereka kemari? Apa mencoba mencari perkara?"
"Ada keperluan apa penyihir seperti kalian kemari?" Tanya Zaree.
Pimpinan kelompok itu, seorang wanita muda berdiri dibarisan terdepan dan mencoba berkomunikasi dengan Zaree. Terutama mencoba menenangkan amarah dan permusuhan kental dari penduduk Alvatro. Geska Ayoca, berkata dengan sopan.
"Maaf atas perilaku tiba-tiba kami yang menurut kalian semua tidak sopan," katanya sembari membungkuk.
Ia mengangkat kembali kepalanya kemudian berbicara, "Beberapa waktu lalu salah satu orang yang ada didalam pengawasan kami kabur saat kami berunding tentang ketidakbersalahannya. Jadi perilakunya dapat menjadi keputusan kami menetapkannya sebagai buronan. Apakah anda atau penduduk anda mengizinkan, kami akan melakukan pemeriksaan dikota ini."
"Tentu saja ini demi keamanan dan kenyamanan bersama," lanjutnya.
Orang-orang yang mendengar mengernyitkan kening mereka, dan wajah mereka bertambah suram, "Oh! Jadi karena tempat ini adalah tempat yang dikucilkan, mereka menuduh kita menyembunyikan buronan?"
"Benar-benar keterlaluan!!"
"Ya kawan, tempat kita bukan lagi tempat yang didiskriminasi. Sekarang Alvatro juga menjadi markas penjahat! Hey, lihat aku, membunuh seorang pejalan kaki tadi~"
Yang lain menimpali, "Yap! Aku habis mencuri dan aku adalah pelaku pengeboman dikota sebelah. Disinilah aku bersembunyi!"
"Keterlaluan sekali mereka!"
Ayoca sedikit tidak nyaman, dan kembali berbicara. "Kami hanya akan melakukan pemeriksaan karena bisa jadi buronan yang kabur adalah orang yang berbahaya. Apalagi, ia kabur bersama seseorang yang tidak bisa diprediksi. Tolong dengarkan, karena ini benar-benar untuk kebaikan bersama."
"Omong kosong apa? Kebaikan bersama katanya. Hey dengar, aku tidak tidur selama lima hari karena harus menjaga ladangku dari hama. Aku tak melihat apapun yang mencurigakan, apa kau akan mengatakan aku buta?" Seseorang kembali memanaskan suasana.
"Keamanan Alvatro baik. Jangan meremehkan kota kami, dasar!!"
Anggota pasukan APA yang ada dibelakang saling melirik. Tidak menyangka jika sesulit itu berurusan dengan penduduk Alvatro. Terlebih membandingkan besar tubuh mereka, mereka bahkan mungkin bisa remuk dengan sekali pelukan kuat.
"Tolong ketenangannya." Kata Ayoca tak mendapat respon baik.
"Pergi kalian!!"
"Sangat mengganggu! Pergilah jika hanya bisa berkata omong kosong!"
Anak-anak yang sebesar orang dewasa normal itu mengumpulkan batu ditangan mereka dan melemparkannya pada pasukan APA. Sembari berteriak, "Pergilah!"
"Orang jahat! Orang jahat!"
"Ack!" Mereka yang terkena lemparan batu memekik, dan mereka yang sempat menghindar menahan batu dengan sihir mereka.
Seorang anggota APA yang memiliki emosional yang tinggi menukikan alisnya dan mengeram penuh amarah. Dia mengumpulkan sihir ditangannya, dan cahaya kemerahan terkumpul ditangannya, sebelum mereka menyadarinya, kobaran api berkobar dan menuju kerumunan itu. Anak-anak menjerit dan orangtua mencoba menarik anak-anak mereka.
"Gawat!" Batin
Hanya ketika Ayoca hendak menggunakan sihirnya, sebuah gelombang air berwarna keunguan terlebih dulu muncul dan membentuk dinding pelindung.
Shaaashh!!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
06/05/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux