Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 78 "Disebut Sebagai Pelarian"


Lasius melihat sekelilingnya dengan sepasang mata yang jeli. Mengingat detail demi detail tempat yang hanya pernah dikunjunginya dua kali itu dengan teliti.


"Siuss!" Pekikan itu dibarengi dengan pelukan besar dan erat yang diterima Lasius yang bahkan tak bersiap.


Ada alasan mengapa dia hanya dua kali pernah menginjakkan kakinya disana. Alasan pertama, karena dia tidak bisa berlama-lama dikerajaan lain meninggalkan tanggung jawabnya sendiri. Dan alasan kedua, adalah dia.


Lasius mendorong wanita itu menjauh darinya, "Tolong jaga sikap, ketua."


Dia adalah Agara Gheska, wanita berusia 23 tahun yang menjabat sebagai ketua dari pasukan khusus APA


Lasius tidak menganggapnya sesuatu yang penting, namun wanita itu nyatanya nampak terobsesi dengannya. Bahkan saat dulu dia masih berada dikerajaan ini, Agara akan selalu mendekatinya dan bahkan melakukan kontak fisik yang menurut Lasius sendiri sangat dan sangat berlebihan. Itulah akibatnya, dia cukup tidak menyukai Agara.


"Ara, ara~ Sius sangat dingin, sangat tampan. Hey, sudah lama kamu tidak kemari, apakah kamu merindukanku?" Tanyanya sembari mengedipkan matanya pada Lasius.


Lasius secara alami tidak memperdulikannya dan mulai bertanya. "Dimana murid Dragonia Academy yang kalian bawa kemari?"


Agara sedikit menaikkan alisnya bingung, "Kenapa dengannya? Apakah dia temanmu?"


"Dimana dia?" Tanyanya.


"Tentu saja diruang bawah tanah. Kami menyeretnya kesana," kata Agara dengan ringan, namun reaksi Lasius sedikit panas.


Ia mengerutkan alisnya dan memiliki jejak ketidaksabaran dikedua maniknya. "Katakan sekali lagi?"


"Hey, kenapa kamu begitu peduli dengannya. Mari ikut dengan kami saja. Kami sudah merencanakan makan-makan bersama. Kamu tahu, Aleco yang akan mentraktir kita!" Katanya hendak meraih lengan Lasius.


Namun Lasius menghindarinya dan melangkah menuju seseorang yang paling muda diantara mereka semua.


"Dimana, gadis itu?" Tanya Lasius dengan nada yang jelas memaksanya untuk bersuara.


"Ru-Ruang interogasi.." Cicitnya sembari menunduk, mencoba menyembunyikan tatapan Lasius yang seakan bisa melubangi isi kepalanya saat itu juga.


Lasius sedikit mengeratkan kepalan tangannya, sebelum melangkah memasuki bangunan itu tanpa mengindahkan panggilan dari Agara. Agara dengan jelas menyaksikan Lasius membuka pintu ruang interogasi selepas menggunakan tanda pengenalnya agar tak terpengaruh ilusi yang dipasang disana. Dan berhenti tepat didepan pintu, memandang lekat lurus kedepan dengan sepasang manik yang sulit diartikan.


Untuk sesaat, Agara tak bisa berkata-kata melihat tatapan itu. Dan ada jejak rasa takut dibenaknya, melihat hal itu.


...***...


Iloania berlari, peluh tercipta didahinya, dan napasnya terengah. Lasius menggandengnya dan berlari didepannya, namun dengan jelas merasakan bahwa larian Iloania melemah dan melambat.


"Ilo, apa kamu masih sanggup?" Tanya Lasius.


Mereka berhenti berlari selama beberapa saat. Iloania menarik napas panjang dan mencoba menstabilkan pernapasannya. Ia bahkan tak peduli dengan peluhnya, disaat perutnya terasa panas dan seakan terbakar.


"Maafkan aku kak," untuk sekali ini, Iloania bahkan tak sanggup untuk berlari.


Dia telah menunjukkan kelemahannya.


Lasius memandang Iloania, sebelum berjongkok didepannya. "Naiklah kepunggungku, aku akan menggendongmu."


Iloania memandang punggung Lasius, dan menyaksikannya tersenyum, "Tidak apa. Naiklah, aku akan menggendongmu."


Dalam sekejab, Lasius sudah membawa Iloania dipunggungnya. Lasius mulai melangkahkan kakinya melewati wilayah hutan dan menyusuri jalan-jalan dibawah pohon yang rindang. Iloania memandang Lasius, dan menyandarkan kepalanya dipundaknya yang kokoh.


"Kak Sius, bisa mendapat masalah karenaku. Seharusnya kakak tidak perlu sampai begini. Kenapa, kak Sius mengikutiku?" Tanya Iloania.


"Bukankah aku sudah mengatakan jika aku menyukaimu? Apakah aku perlu alasan lain?" Tanya balik Lasius.


Iloania mengulas senyuman dan mengeratkan pelukannya pada Lasius. Berkata dengan suara yang hampir seperti bisikan. "Aku juga .. menyukai kak Sius. "


Tapi Lasius, jelas mendengarkannya. Ia tersenyum, mengabaikan hal penting bahwa mungkin saat ini mereka telah dicap sebagai buronan APA.


Itu terjadi beberapa waktu lalu, tepatnya terjadi atas keinginan Iloania.


...***...


"Aku harus menemukan mereka. Vle bilang waktu yang kupunya tak banyak. Itu artinya bahwa batas pemulihan diri Raja Iblis dan masa adaptasinya dengan kekuatanku yang dia ambil tidak lama. Dia bisa muncul kapanpun." Gumamnya.


Iloania memandang lurus kedepan, "Aku harus segera pergi. Aku tidak akan tahu seberapa lama aku terkurung didalam sini untuk menjalani pemeriksaan. Mereka jelas mencurigaiku sebagai mata-mata Raja Iblis. Jika aku tidak segera menemukan mereka, aku takut jika Raja Iblis akan segera kembali. Bahkan sebelum aku juga bisa membangunkan Vleia. "


Iloania bangkit berdiri, melangkah mendekati dinding dan merasakannya. "Rasanya seperti ... ilusi."


"Benar, ini ilusi. " Batin Iloania setelah memeriksa dengan lebih jauh.


"Aku bisa menembusnya. Tetapi .. apakah energiku cukup ?" Batin Iloania setelah menyentuh perutnya dengan tatapan yang menyiratkan setitik keraguan.


Iloania mengenyahkan keraguannya dan dengan jelas bertekad. "Tidak, aku pasti bisa. Aku harus segera menemukan mereka dan membangkitkan Vle. Aku, tidak ingin melibatkan siapapun lagi, untuk merasakan kehilangan. "


Iloania menggigit ibu jarinya. Melukis sebuah segel didinding dengan ukuran kecil. Memejamkan matanya. Ditangannya muncul simbol berbentuk lingkaran dengan rantai yang mengitarinya ketika dia menyentuh dan menyalurkan energinya ke segel yang dibuatnya dari darahnya. Ketika Iloania membuka matanya kemudian, ruangan itu seakan pecah seperti kaca dan jatuh bertebaran sebelum menghilang tanpa jejak.


Ruangan terutup yang semula adalah ruang intergasi ketat dengan satu pintu dan satu lubang kecil ventilasi berubah menjadi ruangan luas dengan pencahayaan yang baik. Dingingnya terbuat dari bahan kuat, dan jendela-jendela dipasang dengan sejajar.


Iloania mencoba menggunakan sihirnya. Dan pecahan kristal muncul ditangannya. Ia sudah bisa menggunakan sihir.


Tapi Iloania tak memiliki waktu untuk mengagumi hal itu. Yang harus dilakukannya hanyalah pergi, sebelum mereka datang dan membawanya ketempat yang lebih ketat dari ini. Baru berpijak ditanah diluar ruangan itu, Iloania merasakan dadanya berdesir, dan perutnya seakan bergejolak ringan. Itu adalah batasan dimana dia tak bisa lagi menggunakan sihir.


"Kerajaan ini, adalah markas APA. Akan sedikit sulit untuk menetap dan bersembunyi disini. Mungkin, aku harus pergi ketempat yang lainnya. " Batinnya sebelum ia melangkahkan kakinya dan pergi dari tempat itu.


...***...


Lasius terhenti didepan ruang interogasi, sebelum menyadari bahwa nampaknya, Iloania telah pergi dengan pecahnya segel ilusi yang dipasang diruangan ini.


Dalam pikirannya, ditengah teriakan dan obrolan orang-orang disekitarnya yang beradu menetapkan Iloania sebagai buronan karena melarikan diri, hanya satu hal yang terlintas dibenaknya saat itu.


Dia tak akan ragu, untuk mengikuti Iloania.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


27/01/2022



LuminaLux