Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 60 "Malam Singkat Di Pasar Malam"


Malam itu begitu gelap disana. Didalam sebuah gua, bebatuan menyimpan hawa panas yang membuat siapapun yang merasakannya akan kepanasan. Cahaya samar berasal dari bebatuan granit merah dilapis kedua gua, masuk dan terus masuk. Dijurang sedalam ratusan ribu meter, sosok-sosok binatang iblis setinggi belasan kaki saling berkerumun, mencabik-cabik daging dari binatang malang yang tersesat dan terperosok dalam kematian.


GROAA!!!


Suara raungan dan gema melengking terdengar saling bersahutan. Memberikan gambaran berbahaya yang membuat bulu kuduk meremang. Diatas jurang dalam dan luas itu, gumpalan kristal memberikan perhatian lebih.


Seseorang terjebak didalam kristal merah yang memiliki samar kerlip cahaya perak yang menawan dan mempesona.


Crak!


Ketika segaris retakan muncul, hempasan angin sekuat badai topan memporak-porandakan bebatuan digua itu. Binatang iblis yang bersembunyi didalam lubang raksasa itu tak sempat melawan sebelum terhempas, meraung dan lenyap terbakar. Bersamaan dengan hempasan angin itu, gelombang samar meledak. Membentuk cincin yang meluas melingkupi gunung, meluas kehutan rimba yang rimbun, meluas kelautan yang biru nan mempesona dan semakin menipis. Sebelum semua kembali hening, seolah tak pernah terjadi sesuatu digua dan digunung itu.


...***...


Deg!


Berdiri dikeramaian, Iloania menolehkan kepalanya ketika merasakan sesuatu yang akrab diingatannya. Sekecil debu, dan terasa seperti setetes air dilautan lepas. Iloania tak bisa memastikan apakah yang dirasakannya memang nyata atau hanya perasaannya saja.


"Vleia, apa kamu merasakannya?" Tanya Iloania pada Vleia.


Vleia menjawab, "Merasakan apa?"


Iloania terdiam selama beberapa detik sebelum berkata, "Tidak. Mungkin itu hanya perasaanku saja."


"Ilo, disana ada gaun yang terlihat cocok untukku. Aku kesana dulu ya!" Kata Jissiana tanpa mengindahkan panggilan dan uluran tangan Iloania.


"Cepat sekali perginya. Yah, tinggal kita bertiga seka-" ucapan Iloania terhenti ketika melihat Kane dan Lane nampak menunjuk sesuatu dan secara bersamaan meninggalkan Iloania sendirian ditengah keramaian.


Iloania tersenyum dengan sepasang mata yang berkedip. "Aku ditinggal sendirian?"


"Kau mau aku menjadi manusia dan menemanimu berbelanja?" Tawar Vleia dengan cepat ditolak Iloania.


"Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin terdorong-dorong oleh para gadis yang tergila-gila karena penampilanmu, hmph!" Kata Iloania.


Iloania mendengar Vleia berbicara beberapa kata lagi, "Yah~ Lihat saja sekelilingmu. Tanpa aku dengan penampilan luarbiasaku, orang-orang sudah melihatmu, tahu?"


Iloania memandang sekelilingnya, dan benar-benar melihat banyak orang yang lewat disekitarnya memandangnya dengan tatapan kagum, penasaran bahkan tatapan iri dari para gadis yang merasa bahwa bahkan dengan pakaian sederhana saja, Iloania nampak cantik.


Tentu saja, Iloania saat ini hanya mengenakan baju tanpa lengan dan rok selutut yang dilengkapi dengan jubah hitam. Tak terlihat mewah, namun tak bisa menyembunyikan penampilannya yang mempesona. Mendapati tatapan sedemikian Iloania sedikit canggung, terlebih, sedikit tidak percaya diri. Iloania menutup kepalanya dengan tudung jubahnya dan melangkahkan kakinya dari tempatnya berdiri.


...***...


"Kenapa kita harus pergi kesini?"


Lasius bertanya dengan nada datar sembari menatap Zalion. Ia berdiri tegap ditengah kerumunan dengan jubah hitam yang tak lepas dari warna aksennya, melirik sekilas orang-orang yang berlalu-lalang.


"Tentu saja membeli pakaian untuk Festival Lentera!" Jawab Zalion semangat.


Lasius memandangnya dengan tatapan datar dan berbalik, sebelum ditahan oleh Zalion. "Tunggu, kawan! Jangan berbalik begitu saja, mari berkeliling sebentar saja! Beli pakaian untuk menggantikan tumpukan pakaian dukamu."


"Pakaian duka?" Beo Lasius.


Zalion menggeleng, "Tidak. Tunggu, siapa yang mengatakannya? Kau pasti salah mendengar. Ayo, carikan pakaian untukmu."


Pada akhirnya, Lasius hanya bisa pasrah saat Zalion mendorongnya untuk berjalan menerobos jalanan yang dipadati orang-orang yang datang untuk membeli sesuatu dipasar malam itu.


"Gadis cantik, apakah sendirian saja?" Ada suara samar disudut gang yang sedikit gelap.


Mendengar suara itu, Lasius sedikit memperlambat langkahnya. Namun tidak berhenti, karena merasa itu bukanlah urusannya dan dia tidak seperti pahlawan, yang membantu siapapun dan kapanpun itu. Dia cukup memanggil Zalion untuk mengurusnya, tak perlu turun tangan.


"Apa ingin menemani kami bermain?" Mungkin pria lain menimpali ucapan pria pertama.


Itu suara Iloania!


...***...


Didalam gang, empat orang pria mengepung Iloania yang sedikit terpojok didinding, walaupun sebenarnya tidak benar-benar tersudut. Iloania memandang mereka dengan sepasang mata tenang, dan sedikit memiringkan kepalanya membalas pertanyaan retoris mereka.


"Permainan apa?" Tanya Iloania.


Mereka menyeringai, "Permainan luar biasa yang akan menguras banyak tenaga. Bukankah begitu?" Tanya yang berambut kemerahan.


Yang bertindik telinga menyahut, "Tentu saja kakak besar. Yang pasti akan sangat menyenangkan. Jadi ikutlah bersama dengan kami."


Iloania bergeming ditempatnya sembari memandang lurus dengan sekali berkedip cepat. Dimata keempat pria itu, dihadapan mereka adalah anak kelinci cantik yang baru dilahirkan. Sangat polos dan naif. Dan perempuan seperti itu adalah mangsa empuk yang menyenangkan.


"Kemarilah cantik," kata pria berambut panjang sembari mengulurkan tangannya untuk menyentuh Iloania, namun sebelum tindakan itu terjadi, sebuah tangan kokoh menahan kuat gerakan pria berambut panjang itu.


Disusul suara rendah penuh ancaman. "Jika kau berani menyentuhnya, kupatahkan tangan menjijikkanmu."


"Siapa kau, hah?! " Bentaknya.


Krak!


"Arghhh!! Sialan!!" Raung pria itu kesakitan saat Lasius dengan tenang memelintir lengennya hingga suara retakan terdengar begitu keras digang itu.


Beberapa pengguna jalan yang berlalu lalang disekitar gang menoleh, namun tak berani mendekat dan hanya sekilas menoleh penasaran, karena mereka tidak berani mengambil resiko untuk terlibat dalam masalah yang bahkan mereka tidak ketahui alasannya. Mereka mendengar raungan kesakitan dan berbagai macam umpatan yang terdengar samar karena tersamarkan oleh riuh pejalan kaki dipasar malam itu.


"Ba*ingan ini berani-beraninya ikut campur!" Bentak salah satu dari mereka.


Si pria berambut kemerahan mengangkat tangannya dan mengeluarkan pecahan-pecahan batu disekitarnya. Batu itu menajam, dan hendak dilemparkan kearah Lasius. Sebelum sebuah barrier melingkupi empat orang itu. Menoleh, Lasius mendapati Iloania memandangnya dengan senyuman tipis. Melihat senyuman Iloania, wajah Lasius melembut dan otot tangan dan rahangnya mengendur. Mengabaikan keberadaan empat orang yang berteriak-teriak didalam paranada penjebak kecil itu.


"Br*ngsek! Lepaskan kami sialan!!"


"Lepaskan aku dari sini!"


Blar! Blar!


Mereka mencoba menggunakan kekuatan sihir mereka, namun sayang sekali bahwa setiap kekuatan yang dilancarkan justru terserap begitu saja tanpa menyisakan jejak.


"Kak Sius, sudah ya. Ngomong-ngomong, kenapa kak Sius ada disini?" Tanya Iloania sembari mendekat kearah Lasius.


Lasius menjawab seadanya, "Membeli pakaian. Zalion memaksaku."


Iloania sedikit tertawa, "Kalau begitu sama. Aku juga sedang mencari gaun untuk dipakai saat malam festival. Tadinya aku kemari bersama Jie dan kembar Ane, tapi mereka berpencar dan meninggalkanku."


Lasius mendengarkan kata-kata Iloania dengan tenang dengan sepasang manik lembut. Tidak masalah, Iloania menyelamatkan mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


20//12/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux