Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 30 "Clareon Vollien"


"Elemen angin adalah sihir yang memiliki tipe penyerang juga pertahanan. Elemen angin bisa digunakan dalam jarak dekat maupun jauh. Jadi, elemen angin menjadi elemen fleksibel yang mudah dikuasai dan memiliki ragam jenis serangan dari antara elemen yang lain. Tapi meskipun begitu elemen yang lain tidak bisa dipandang sebelah mata. Semua elemen saling terhubung. Kalian paham?"


Roter Alfeo, penyihir elite tipe angin menjelaskan tentang bagaimana elemen lainnya terhubung. Sementara para murid tingkat pertama pemilik elemen angin mendengarkan dengan serius dibangku masing-masing diruangan yang sangat luas itu.


Iloania duduk didekat jendela dibaris tengah. Maniknya menatap Roter dan telinganya fokus mendengarkan.


"Fungsi utama sihir angin adalah berpusat pada kecepatan. Makin kalian mahir menggunakan sihir angin, maka makin cepat kalian dapat bergerak. Makin cepat kalian bergerak, pengguna elemen angin tidak akan merasakan yang namanya kekurangan energi. Itu salah satu keuntungan dari pengguna elemen sihir angin." Kata Roter dengan jelas.


"Setelah ini kita bersama pergi kearena pelatihan khusus elemen angin. Dan disana saya akan mencoba menilai kecepatan yang kalian miliki dan akan membagi jenis pelatihan yang harus diterima. Mengerti?"


Dengan pertanyaan Roter, semua penyihir muda menjawab ya dengan serentak.


"Kane, apa kamu mengenal anak laki-laki itu?" Tanya Iloania pada Kane ketika mereka sampai diarena latihan khusus elemen angin.


Kane Huorisin, adalah teman satu kelas elemen angin yang baru saja ditemui oleh Iloania. Selepas memperkenalkan diri dan sedikit mengobrol, keduanya menjadi dekat dan memutuskan untuk berteman. Gadis bersurai hijau lembut itu menggelengkan kepalanya.


"Aku sepertinya belum pernah melihatnya diantara penyihir angkatan kita. Atau mungkin dia senior?" Tanya Kane balik.


"Aku tidak tahu."


"Sebelum mulai, saya akan memperkenalkan penyihir kelas 2. Dia adalah murid dengan elemen angin yang memiliki kecepatan tercepat diantara yang lain, bahkan lebih cepat dari penyihir angin kelas 3. Namanya, Clareon Vollien. Kali ini, Clareon akan memperlihatkan contoh bagaimana kalian harus bergerak dan memanfaatkan elemen angin yang kalian miliki." Kata Roter seakan memberi jawaban atas pertanyaan mereka atas pemuda bertubuh kecil bersurai perak bermanik kelabu itu.


Clareon melangkah selangkah dan menjentikkan jarinya. Memunculkan sebilah pedang berwarna perak yang mempesona. Iloania membangkitkan senyum dan alisnya melihat pedang itu.


"Wow~"


Cahaya keabuan memendar dari dahinya dan diarahkan pada bilah pedang dalam hitungan sepersekian detik. Ketika Roter memberi aba-aba mulai, sosok Clareon seakan menghilang. Menyisakan kepulan debu akibat kuatnya hembusan angin yang dikeluarkan ketika sosoknya dibawa pedang perak itu melesat. Melewati pilar-pilar dan melintasi arena yang luas dengan hitungan detik.


Ketika melaju, rintangan yang ada disana dimulai dari jaring tali lengket, penumbuk kayu, panahan dan berbagai rintangan jebakan dihindarinya dengan sangat mudah dan sangat cepat. Membuat mereka yang menyaksikan dirinya meliuk diudara menganga dengan kagum.


"Sangat cepat!"


"Bagaimana dia melakukannya?!"


"Sangat hebat!!"


Iloania memandangnya dengan mata tersenyum. Sementara Kane sedikit terkagum melihatnya.


"Yah~ Dia cukup cepat juga." Gumam Kane tak ingin mengakui kekalahannya.


"Hump, dia cepat." Balas Iloania.


Ketika Clareon menghentikan sihirnya dan menapak kembali ketanah, maniknya memandang dengan kosong kedepan. Nampak tak memiliki cahaya sama sekali. Pemandangan itu membuat Iloania terhenyak, sebelum perhatiannya teralihkan pada Roter.


Roter mulai menunjuk beberapa orang untuk mencoba. "Kau, kau, kau, kau dan kau coba gerakan tadi. Lewati rintangan dan aku akan menilai pelatihan yang sesuai untuk level kalian."


"Baik!"


...***...


Giliran demi giliran. Banyak yang gagal, banyak yang berhasil namun kecepatannya sebatas biasa dan terus berganti. Hingga kini menyisakan Iloania, Kane dan beberapa pengguna elemen angin lain. Ketika gilirannya, Iloania menenangkan Kane yang nampak sedikit gugup.


Ia menepuk bahunya pelan, "Mari lakukan bersama. Jangan gugup, kita pasti bisa."


Kane tersenyum lebar dan mengangguk, "Tentu saja. Aku akan membantumu nanti disana."


"Haha, ayo." Ajak Kane.


Kane memunculkan sebatang tongkat pendek dan mengalirinya dengan sihir elemen angin sehingga tongkat itu melayang. Mendudukinya miring, Kane bersiap digaris awal berbaris dengan yang lain. Iloania memendarkan cahaya dicincinnya dan memunculkan piringan hitam berukuran normal dan menudukininya dengan tenang. Tangannya bebas dan surai panjangnya berkibar.


Ketika tanda mulai diberikan, mereka bersamaan melesat dengan cepat diarena yang sangat luas itu.


Mereka melewati ringtangan dengan cukup mudah, meskipun saat melewati rintangan cambukan, seorang murid tercambuk dan terjatuh kebawah. Dirintangan panahan yang melesat, Kane yang sedikitnya lengah hampir terkena panah. Namun dengan gerakan sembunyi-sembunyi, Iloania memberikan dorongan sedikit lebih cepat pada tongkat kayu yang diduduki Kane dan menahan gerakan panahan selama sekian detik.


Maka ketika kecepatan makin cepat dan rintangan makin cepat, Iloania terus diam-diam membantu Kane dari belakang. Bahkan tak hanya Kane, karena merasakan kekhawatiran pada yang lain untuk terkena jebakan, diam-diam dengan bantuan tidak terlihat ia menyingkirkan atau setidaknya menggeser sesuatu yang bisa melukai bagi mereka. Hingga pada akhirnya mereka berdua dan beberapa penyihir muda yang tersisa bisa sampai diakhir.


"Hump~ Aku duluan~" Kata Kane pada Iloania.


Iloania tertawa kecil, "Lain kali aku akan lebih cepat dari Kane."


Kane tersenyum, "Tentu saja~ Mari mulai lomba suatu saat nanti."


Hanya saja, Iloania tak menyadari jika sedari awal, sepasang manik kelabu itu tak luput memperhatikan gerakan kecil diarena latihan itu. Bahkan tak luput memperhatikan benda-benda yang dengan sengaja dilambatkan atau dimelesetkan ketika hampir mengenai penyihir lain.


...***...


Ketika kelas elemen angin telah selesai, Iloania berjalan dilorong bersama dengan Kane untuk kembali keasrama. Kelas elemen api akan dimulai 30 menit lagi, dan masih ada waktu untuk mengganti pakaiannya yang dipenuhi debu karena pelatihan elemen angin tadi. Kane sendiri tentunya hanya akan tinggal diasrama.


"Ketika kamu bertemu Lane, katakan saja kamu adalah sahabatku." Kata Kane membuat Iloania tersenyum.


"Mengerti," katanya.


Ketika mereka melangkah dengan tenang dikoridor yang juga dilalui beberapa orang yang tak bisa tidak melirik kearah Iloania, langkah mereka dihentikan oleh seseorang yang berdiri didepannya.


"Kak Clareon?" Beo Iloania.


Kane menoleh dan bertanya, "Ada apa menghentikan kami?"


Clareon menatap datar Iloania, "Mari bicara."


Iloania mengangguk, "Tentu."


"Kane, kamu duluan saja ke asrama. Jika sempat aku mungkin akan menyusul kesana," kata Iloania.


Sempat ragu beberapa saat, Kane akhirnya menyetujui perkataan Iloania, berbalik dan melangka pergi. Iloania mengikuti Clareon yang berjalan keluar dan menggunakan pedangnya terbang keatas kepala naga. Sedikit bingung, Iloania mengeluarkan piringan hitamnya dan melayang keatas dengan cepat. Maniknya menatap tenang manik datar dan nyaris kosong Clareon. Didalam benaknya, terpikirkan sesuatu yang membuat Iloania mengenang dalam hitungan beberapa detik saja.


"Jadi, apa yang ingin kakak tanyakan?" Tanya Iloania.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update


11/7/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux