Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 114 "Tempat Suci Di Suku Mue"


Iloania dan Lasius baru setengah jalan ketika keduanya dihadang oleh seekor binatang iblis setinggi tujuh meter. Binatang iblis itu memiliki empat pasang mata merah pekat dan gigi runcing yang mencuat dari bibir bergeriginya. Ada kumis panjang melintang dikedua sisi wajahnya, dengan badan menyerupai elang namun berkaki singa. Ekornya runcing dan meliuk tajam, hampir seperti ular.


Tanpa aba-aba binatang iblis itu mengayunkan ekor besar nan sekokoh baja itu kearah keduanya, hampir menghancurkan seluruh pohon-pohon yang dilintasinya, membelahnya dan mematahkannya berkeping-keping.


Melegakannya, Iloania dan Lasius mampu menghindarinya dengan melompat keatas. "Kak Sius, awas!"


Iloania yang terbiasa menggunakan sihir anginnya, yang membuatnya bisa bergerak lebih cepat menyadari bahwa ekor itu meliuk dan berbalik dengan cepat kearah mereka kembali. Insting bertarung Lasius timbul disaat-saat seperti ini, membuatnya segera bereaksi untuk melakukan gerakan berputar diatas udara, bahkan sebelum otaknya merespon?


Bergulung diatas tanah sekali, Lasius mendarat dan melihat Iloani tidak menghindar, namun beberapas saat lalu bergerak memegang ekor itu dalam rengkuhannya, sementara tangannya yang lain menyiapkan serangan.


Lasius tak tinggal diam, dia hendak menarik pedangnya kala sesuatu menghalanginya, berdiri membelakanginya, tepat didepannya.


"Jangan tarik pedangmu."


Suara berat itu membuat Lasius terhipnotis, bahkan ia tak bisa menggerakkan jarinya sedikitpun. Pria itu berbalik dan menatap Lasius dengan sepasang manik putih.


"Jika kau maju, kau akan membunuh teman gadismu itu." Ucapannya membuat Lasius terkejut, namun dengan wajah datarnya, ia segera menghilangkannya.


"Apa maksudmu?"


Pria itu tidak menjawab, dan Lasius yang tak mendapat jawabanpun hanya diam ditempatnya. Dia tidak yakin, namun dia merasa bahwa dirinya benar-benar tidak boleh bergabung dengan Iloania disana.


"Siapa anda sebenarnya?" Tanya Lasius.


"Mozart, dari Suku Mue." Lasius terkejut dan hendak membuka bibirnya ketika Mozart menyelanya. "Tidak perlu menjelaskan apapun. Waktu adalah hal yang paling mengerikan yang ada didunia. Tidak ada yang bisa menentangnya, melawannya atau mengubahnya, atau akan ada kekacauan besar yang melanda. Karena itu sebuah penglihatan sangat terbatas. Kami memang bisa melihat, tetapi kami tidak bisa ikut andil dalam garis yang telah ditakdirkan dewa. Bahkan saat inipun."


Disaat bersamaan dengan ucapannya yang terselesaikan, pertarungan itu berakhir dalam waktu singkat.


Cukup singkat untuk menyembunyikan semua rahasia yang seharusnya terjadi.


Mereka dibawa menuju sebuah pondok yang berada dibangunan tertinggi. Penduduk menatap mereka dengan penuh tanya. Meski ada jejak kekhawatiran diwajah mereka, tetapi melihat Mozart yang membimbing mereka memasuki desa seharusnya menandakan bahwa keduanya tidak mengancam bagi mereka. Sebagai salah satu tokoh terkenal disuku Mue, Mozart terkenal karena kemampuannya yang setingkat dibawah sang kepala suku yang kini menginjak usia 178 tahun, yang masih mempertahankan penampilannya diusia 80 tahunan.


"Ikuti aku." Perintah Mozart membuat Lasius dan Iloania mengangguk dan mengikutinya sesaat setelah keduanya saling melempar lirikan.


Ketika Iloania dan Lasius dibawa masuk kedalam pondok itu, ada aura mistis yang entah mengapa membuat Iloania termangu selama beberapa saat sebelum tersadar kala Lasius menyentuh tangannya dengan lembut.


"Ilo, ada apa?" Tanyanya.


Iloania menoleh, tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa. Aku hanya sedikit kagum dengan nuansa tempat ini. Cukup berbeda dengan tempat-tempat yang pernah kudatangi."


"Benarkah? Tempat ini tidak terlalu bagus untuk anak-anak kecil." Ucap Lasius setengah berbisik membuat Iloania menyenggol lengannya.


"Pstt! Kak Sius tidak boleh begitu." Bisik Iloania sembari melirik punggung tegap Mozart yang tengah menggosokkan arang merah keatas parutan lembut.


"Apa ini?" Tanya Lasius.


"Arang api. Membersihkan kejahatan didalam pikiran dan hati kalian. Tempat yang akan kita masuki adalah tempat paling suci didunia. Tempat dimana waktu akan menjawab semua pertanyaan dan yang mempertanyakan semua kebenaran." Jelas Mozart.


Lasius mengernyit. Ucapan pria itu selalu penuh dengan makna.


Tak lama setelah itu, Mozart menempelkan telapak tangannya keatas dinding kayu yang membelah ruangan itu. Ketika cahaya keperakan memendar dari dinding, perlahan mengungkap sebuah lapisan samar. Memancarkan kerlip warna pelangi yang membentuk gelombang berurutan. Sekali, lagi, lagi dan sekali lagi.


Ketika mereka melewatinya, gelombang membesar layaknya percikan air, sebelum menghilang tanpa bekas.


"Akhirnya, sudah datang."


Suara itu yang pertama kali menyambut mereka. Suara tua dengan sedikit getaran yang tersimpan dalam setiap lafal. Seorang kakek tua duduk bersila didepan sebuah meja batu yang cukup jauh dari sebuah pohon yang rindang. Ada hamparan bunga disekelilingnya, dan sepanjang mata memandang, hanya ada air dangkal yang bak permadani kaca, membentang memantulkan awan dan langit yang mempesona.


Mozart menoleh menatap Iloania dan berkata dengan suara beratnya. "Disinilah kamu akan menemukan jawaban atas pertanyaanmu, Iloania. Jalani takdirmu, saat kamu sudah mengerti bagaimana kamu harus bertindak."


Ia meninggalkan Iloania disana setelah membungkuk kepada kakek tua yang terduduk diatas batu. Iloania masih sedikit termangu, tetapi segera sadar dengan perkataan kakek tua itu.


"Tidak perlu memikirkannya keras-keras, nak. Semua yang ada didunia bahkan semesta telah tergariskan oleh takdir. Bahkan dewa sekalipun memiliki takdir mereka masing-masing. Dewa Oreto, sang penggaris takdir hanya menyampaikan apa yang harus menjadi nubuatnya. Baik itu baik maupun buruk, menjadi tugasnya untuk mengukir garis takdir." Ucapnya dalam.


Ia tersenyum hingga manik sipitnya makin menyipit, dan janggut putih lebatnya bergerak ringan. "Jangan takut untuk mengetahui masa lalu nak. Terkadang, masa lalu bisa menyelamatkan seseorang dari jurang dalam."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:



14/08/2022


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux


Ps: Kemungkinan besok update terakhir LBK sebelum novel ini hiatus. Ini karena aku bakal menyiapkan volume baru yakni volume 3. Tapi ada yang berbeda disini, setelah menyelesaikan volume 3, aku akan melanjutkan kembali volume 2 lagi. Alasannya karena volume 3 ini hanya sebagai jembatan untuk mengetahui tentang jati diri Iloania yang sebenarnya. Atau mungkin volume 3 ini bisa disebut sebagai volume special yang lumayan panjang, ya tidak kurang dari 15 bab.


So, cukup sampai sini dulu penjelasanku. Aku bakal jelasin lengkapnya diupdate-an besok.


See ya~