
Ketika fajar menyingsing, orang-orang dari kelompok kelelawar hitam masih dalam kekangan rantai sihir. Mereka tak bisa menggunakan sihir dan kabur karena saling terikat. Lagipula, dinding paranada milik Iloania masih melingkupi bangunan itu, bahkan sampai kehalamannya. Dihalaman itu, matahari menyorot anak-anak yang kini berbinar bahagia ketika bisa melihat matahari kembali setelah beberapa lama terjebak dalam ruang gelap. Namun disisi lain mereka merasakan kesedihan saat melihat Iloania nampak putus asa menyembuhkan Qilan yang sudah meninggal belum lama.
"Kumohon!" Rapal Iloania diambang keputusasaannya.
Binatang-binatang sihir yang ada disana mendengar kesedihan Iloania. Mereka dengan tanpa ragu mendekati dan mengelilingi Iloania. Kelinci besar didepan Iloania memancarkan cahaya hijau remang ditubuhnya. Cahaya itu perlahan bersatu dengan cahaya ditangan Iloania. Binatang lain menyusul tanpa keraguan.
Iloania mendongak, "Kalian.."
"Ini adalah inti roh kami. Kami memberikan sebagian dari inti roh kami untuk anak ini." Kata kelinci.
"Kenapa?" Lirih Iloania.
"Jangan membebani kami. Fokus saja dengan sihirmu." Ucap seekor burung disampingnya.
Iloania yang mendengarnya mengalihkan tatapannya pada Qilan. Cahaya dengan berbagai warna itu berkumpul dan menyatu menjadi satu warna yang asing. Cahaya itu merasuk kedalam tubuh Qilan. Cahaya memendar pelan dari tubuh Qilan dan menghilang.
"Ugh~" Qilan meringis pelan sembari bergerak membuka kelopak matanya.
"Ah! Syurlah kamu sudah bangun." Kata Iloania dengan wajah yang menunjukkan kelegaan.
Qilan menatap sekelilingnya dan terkejut melihat banyak hewan besar disekelilingnya. Ia nyaris menjerit jika Iloania tak menenangkannya. "Mereka telah menyelamatkanmu, Qilan. Mereka baik, jangan takut ya?"
"A-Ah! T-Terima kasih banyak sudah menyelamatkan hidupku. A-Aku tak tahu harus membayar dengan apa."
Qilan mencicit sambil menunduk. Melihat itu, Iloania berbisik pada cincinnya, "Vleia sayang. Apa menurutmu ada sesuatu yang bisa kita berikan pada mereka sebagai balas budi? "
Seakan mendengar balasan, Iloania kembali berbisik. "Ya, darimana kamu belajar menjadi tamak? Berikan mereka sesuatu. Semua! "
"Terima kasih~" bisik Iloania ketika cahaya keemasan samar merambat keluar.
Cahaya itu memendar dan menciptakan masing-masing sebuah segel didahi mereka. Segel itu kemudian menghilang secara perlahan. Semua merasa panik, termasuk Hallias yang mendapat segel yang sama. Mereka menatap Iloania yang membuka suaranya.
"Jangan khawatir. Itu adalah segel Kesempatan Hidup. Ketika kalian dalam bahaya, segel itu akan melindungi kalian dari serangan seperti apapun, bahkan yang mematikan. Namun segel itu hanya bisa digunakan sekali. Jadi, gunakan dengan baik ya~"
Ucapan dan senyuman tulus Iloania membuat semua binatang sihir itu tertegun. Binatang-binatang sihir liar itu sering diperlakukan dengan semena-mena. Manusia sering menangkap dan menggunakan mereka secara ilegal. Katakanlah binatang sihir liar seperti mereka memiliki kepekaan yang lebih tajam dibandingkan binatang sihir kontrak. Dan binatang sihir itu tahu jelas, bahwa gadis didepan mereka memiliki jiwa yang benar-benar terang.
"Suatu hari nanti, kita pasti akan berjumpa lagi. Iloania," ucap binatang sihir berbentuk rubah didepannya dengan suara yang makin memelan saat tubuhnya bercahaya dan seakan tersapu angin.
Binatang sihir lainnya bergerak pergi, ketika Iloania menjentikkan jarinya dan menghilangkan kubah paranada itu. Semua binatang sihir memutuskan kembali kewilayah mereka masing-masing. Sementara semua pria besar kelompok kelelawar menampilkan wajah frustasi. Iloania bangkit berdiri dan menyaksikan matahari yang makin lama makin naik dan memancarkan cahaya yang maha agung. Ia tersenyum.
"Bukankah akan sulit membawa mereka semua kak?" Tanya Iloania menatap Lasius.
Lasius bergumam, "Tidak juga."
Lasius mengambil kalungnya dan mengarahkannya pada mereka. Kalung itu memancarkan cahaya kemerahan dan menyerap para pria besar itu kedalamnya. Dalam hitungan detik, semua sudah terserap kedalam kalung.
"Yang akan sulit adalah membawa mereka sekaligus. Lebih dari 50 anak dan semuanya mungkin berasal dari daerah yang berbeda." Kata Lasius.
Iloania tersenyum lebar, membuat Lasius tertegun. "Masalah itu serahkan saja padaku."
"Bagaimana caramu membawa mereka?" Tanya Lasius.
Iloania mengangkat tangan kirinya. Cahaya keemasan muncul dari cincin, dan membentuk banyak sekali piringan hitam terbang dengan ukuran yang cukup lebar. Mereka mengambang setinggi 1 meter diatas tanah dan menyebar.
Ini apa, adalah pertanyaan yang anak-anak itu gumamkan.
"Anak-anak. Yang ingin pulang dan bertemu ayah ibu kalian boleh naik. Tepuk piringan hitam itu sekali dan katakan dimana rumah kalian. Percaya padaku, besok kalian akan sampai dirumah kalian masing-masing." Ucap Iloania.
"B-Bagaimana jika kami tertidur dan jatuh?" Tanya seorang anak.
Iloania mengetuk 2 kali salah satu piringan hitam, "Jika kalian mengantuk ketuk 2 kali piringan hitam akan memunculkan dinding yang menjaga kalian tetap didalam dan menjaga agar angin tidak langsung mengenai kalian. Bahkan jika kalian lapar, katakan "lapar" dan makanan akan muncul didepan kalian. Baik?"
Penjelasan Iloania membuat mereka terkagum. Sebenarnya benda macam apa piringan hitam itu? Sampai-sampai juga menyediakan makanan?
"Jadi, selamat tinggal~" Kata Iloania sembari tersenyum.
Ketika anak-anak itu melihatnya, mereka menangis dan memeluk Iloania. Mengucapkan terima kasih dan mengatakan mereka berhutang budi pada Iloania.
Salah seorang anak bertanya, "Akankah kami bisa bertemu kakak lagi?"
"Mungkin saja." Jawab Iloania.
Iloania tersenyum, "Baiklah~ Nama kakak, Iloania. Iloania Rexelite."
Lasius menatap Iloania, "Jadi namanya Iloania? "
Anak-anak itu mulai naik dan mengucapkan tempat asal mereka masing-masing. Kecuali Qilan yang masih harus menemui sang kakak. Iloania melambaikan tangannya.
"Kami tak akan melupakan kak Ilo dan kakak tampan selamanya!" Ucap mereka hampir bersamaan.
Mendengar julukan untuk Lasius, Iloania terkekeh kecil. Sangat kecil. Ketika semua sudah melayang setinggi 30 meter, piringan hitam itu melesat dengan kecepaan rata-rata dan berpencar keseluruh penjuru mata angin.
"Baik, kami juga harus segera kepenginapan." Kata Iloania sembari bergerak menaikkan Qilan keatas piringan hitam.
"Tunggu." Suara Lasius membuat Iloania menoleh.
Lasius menatap cincin Iloania, "Bisakah kami mencoba taruhanmu semalam? Lupakan taruhannya, biarkan Hallias mencoba melawan binatang sihirmu."
Iloania menyunggingkan senyuman dan menatap Hallias, "Apa kamu yakin?"
"Ya. Saya ingin melihatnya," kata Hallias dengan yakin.
"Baiklah. Berapa lama waktu yang ingin kamu gunakan?" Gumam Iloania sembari mengkat tangan kirinya.
"5 menit." Jawab Lasius.
Iloania menggeleng, "Terlalu lama. 5 sampai 10 detik."
"Apa-" ucapan Lasius terpotong.
"Atau tidak sama sekali." Ucap Iloania membuat Lasius menghela napas.
"10 detik," cahaya keemasan itu mambawa tubuh Hallias terserap kedalam cincin.
Iloania bergerak mendudukkan dirinya diatas piringan hitam yang membawanya naik perlahan. 10 detik berlalu dalam sekejab, cahaya keemasan membawa sosok pemuda rupawan bersurai putih dan ungu diujung dengan balutan kain putih bersimpuh sambil menunduk ditanah. Lasius terkejut saat melihay sosok manusia Hallias. Pasalnya, Hallias cukup tak menyukai bentuk manusianya. Bentuk manusianya terlihat lemah, karena itu dia tak pernah mau berubah dan hanya sekali berubah dalam ratusan tahun.
"Ada apa?" Tanya Lasius pada Hallias.
"M-Maafkan saya tuan. Maafkan saya." Ujar Hallias.
Saat itu ketika ia mengetahui bahwa Hallias tak bisa mengatakan sesuatu tentang apa yang dilihatnya, Lasius mendongak keatas dan mendapati Iloania mengulas senyuman padanya. Senyuman manis dengan mata yang tulus.
"Sampai bertemu lagi, kakak~"
"Apa kita bisa bertemu lagi?" Tanya Lasius pada Iloania.
Iloania tersenyum kecil, "Jika itu takdir. Maka kita akan bertemu lagi."
Setelah mengatakan itu, piringan hitam Iloania makin naik dan melesat pergi. Meninggalkan bangunan ditengah hutan itu. Lasius menatap jejak langit yang berwarna biru.
"Maafkan saya tuan." Kata Hallias dengan tubuh yang sedikit bergetar.
Lasius menatapnya sesaat, "Tidak apa. Ayo kembali."
Hallias yang mulai bisa menenangkan dirinya perlahan bercahaya dan menjadi seekor burung phoeniks kembali. Sayapnya dibentangkan dengan lebar sebelum Lasius menaiki Hallias yang membawanya pergi dari sana dengan cepat.
"Itu benar. Jika itu takdir, kita akan bertemu lagi. " Batin Lasius.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
27/04/2021
Jangan lupa beri dukungan tiap sudah membaca chapter~
Makasih banyak...
@LuminaLux