Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 3 "Cerita Dari Raynen"


Iloania membawa Raynen menuju sebuah penginapan. Dengan jubah menutupi tubuh Raynen dan ada digendongan Iloania, luka-luka ditubuhnya tidak akan terlihat. Dan dia juga tidak akan dikenali mereka yang masih mengejarnya. Dipenginapan berlantai dua itu, Iloania melangkah masuk untuk menyewa satu kamar.


"Permisi," ucap Iloania dengan sopan.


Wanita paru baya yang menunggu diruang masuk berdiri dan menyambut Iloania dengan ramah. "Nona kecil, apakah membutuhkan kamar?"


Iloania mengangguk. "Iya bibi, adik saya sangat mengantuk dan tertidur. Kami bahkan belum sampai dirumah saudara kami. Sepertinya masih jauh."


"Dimana rumah saudara kalian?" Tanya wanita itu.


"Kota Yaisan."


"Wah, itu masih ada diutara kota ini nona. Kota itu masih cukup jauh dan harus memakai kereta untuk kesana." Ucap wanita itu menjelaskan.


"Benar. Jadi karena adik saya sudah sangat kelelahan, kami memutuskan menginap disini sampai besok pagi." Ucap Iloania.


"Baiklah, nona. Biaya satu kamar 2 tempat tidur permalam 5 koin emas sudah termasuk makan siang, malam dan sarapan," jelas si wanita pemilik penginapan.


Iloania mengangguk dan mengeluarkan 7 koin emas dari cincin dimensinya. "Ini bibi."


"Ini terlalu banyak, nona!" Kaget wanita tadi.


Iloania menggeleng dengan senyum manis, "Tidak masalah bibi. Dimana kamar kami, bibi?"


"Ah! Terima kasih nona! Mari, bibi antarkan kekamar kalian."


Wanita itu mengajak Iloania dan Raynen menaiki tangga dan menuju sebuah kamar. Beberapa penginap terlihat berjalan disekitar penginapan. Wanita itu membuka sebuah pintu kayu diantara pintu kayu lain dilorong itu dan membiarkan Iloania masuk. Kamar itu tidak terlalu luas, sederhana dengan hanya ada dua tempat tidur, meja kecil ditengah dengan bantal duduk. Ada beberapa buku yang diletakkan dirak disudut ruangan. Jendela yang cukup besar ada diantara dua ranjang kecil itu.


"Bibi akan mengantar makan siang nanti nona. Pastikan nona kecil dan tuan kecil mandi agar merasa segar setelah perjalanan."


"Terima kasih, bibi." Kata Iloania sembari menutup pintu ketika wanita itu melangkah pergi.


Ketika pintu tertutup, Raynen turun dari punggung Iloania dengan wajah cemas, "M-Maaf kak. A-Aku pasti berat."


"Tidak berat. Ayo duduklah, kakak akan mengobatimu."


Raynen menganggukkan kepalanya. Melepas jubah dan baju yang dikenakannya, luka-luka dan lebam tercetak jelas ditubuh kurung itu. Iloania samar menggigit bibir bawahnya menahan ringisannya ketika melihatnya. Sungguh, luka itu bagi anak kecil seperti Raynen sangat mengerikan.


Ketika Raynen mendudukkan dirinya dikasur, Iloania duduk dibelakangnya dan menempelkan tangan kirinya ke punggung Raynen. Cahaya keemasan menyelimuti Raynen, membuat Raynen berbinar dan terkagum. Perlahan, luka dan lebam ditubuh Raynen memudar. Penyembuhan memerlukan cukup waktu. Selepas makan siang dan melanjutkan kembali pengobatan, penyembuhan itu selesai ketika matahari mulai tenggelam.


Ketika selesai, Iloania menarik tangannya dari punggung Raynen. Yang sekarang tubuhnya bebas dari luka.


"H-Hebat! Kakak luar biasa!" Kagum Raynen.


"Benarkah?" Gumam Iloania.


"Benar!! Kakak sangat hebat!" Puji Raynen dengan binar diwajahnya, sementara terkekeh kecil menyahutinya.


"Jadi, Raynen. Bisa kamu ceritakan bagaimana mereka bisa menangkapmu? Dan apa yang kamu ketahui tentang mereka?" Tanya Iloania.


Raynen terdiam sesaat. Mengumpulkan keberaniannya untuk menceritakan rangkaian peristiwa yang menjadi momok menyeramkan baginya.


"Dua minggu yang lalu, aku dan adikku Qilan sedang berjalan untuk menuju pusat kota menemui ibu dan kakak. Jalanan memang cukup sepi disaat siang hari. Tepat ketika kami berjalan, dari arah seberang ada banyak kereta yang cukup besar. Lima sampai enam kereta. Kupikir itu hanya orang yang ingin pindah dan tetap berjalan biasa. Nyatanya salah satu kereta berhenti dan keluar seorang pria berbadan besar dari dalam kereta. Kusir itu menatap kami tajam. Dan aku mulai merasakan bahaya. Tapi terlambat, pria besar itu sudah lebih dulu menangkapku dan Qilan dan memasukkan kami secara paksa kedalam kereta yang ternyata dipenuhi anak-anak seusiaku dan adikku." Ucap Raynen.


"Kemudian kami secara paksa dijemput banyak pria menakutkan yang memaksa kami masuk kesebuah bangunan tua yang dikelilingi hutan pendek. Disana ... banyak sekali anak-anak yang disekap. Bukan didalam bangunan itu, tapi kami dipaksa untuk masuk kedalam ruang bawah tanah yang gelap dan sangat dingin. Disana menakutkan, terlebih anak-anak yang lain selalu menangis."


Rayner meremat jemarinya, "Tiap waktu selalu ada anak yang diseret secara paksa dan tak pernah kembali. Kupikir mereka adalah anak yang sudah dibeli. Tak hanya itu, beberapa anak perempuan yang cantik dipaksa berhubungan dengan mereka. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat beberapa anak perempuan mati kedinginan dan kesakitan. Aku ingin membantu mereka, tapi aku sendiri tahu aku tak bisa berbuat apapun. Kelamaan setelah mendengar beberapa obrolan, aku tahu jika mereka sering disebut sebagai Kelelawar Hitam. Dan itulah pekerjaan mereka. Mereka berasa dari distrik 3 barat kerajaan dan menculik anak-anak untuk diperdagangkan dengan orang-orang dari kerajaan lain."


"Tiap malam kami semua mengalami kekhawatiran. Berpikir apakah kami masih bisa bertahan hidup atau tidak hanya dengan makan roti keras dan air putih sekali dalam sehari." Kata Raynen.


"Sejak kecil Qilan memiliki tubuh yang sedikit lemah. Itulah kenapa aku selalu menjaganya. Namun sekarang aku ada disini, sementara Qilan disana ... kedinginan. Qilan pasti kesakitan, karena perutnya lemah terhadap makanan keras. Dan aku disini makan makanan lezat. Hiks, aku kakak yang buruk." Isak Raynen.


Iloania mengepalkan tangannya, hatinya sakit mendengar cerita Iloania. Iloania tak bisa membayangkan semenderita apa mereka dalam cerita Raynen. Namun yang pasti, mereka pasti ketakutan. Mereka hanyalah anak-anak yang malang. Yang menjadi korban manusia egois yang serakah dan tidak memiliki hati nurani!


Seperti binatang! Dan Iloania kini merasakan yang namanya geram.


"Ketika aku mencuri dengar mereka akan menjualku, aku panik. Saat satu pria datang, aku mendorongnya hingga membentur dinding dan pingsan. Namun aku ketahuan. Aku berniat menarik adikku pergi, namun adikku mengatakan dia tak bisa bergerak. Memintaku mencari bantuan," ucap Raynen dengan ekspresi mimik sedih.


"Aku yang panik dan dilanda paksaan, terpaksa meninggalkan Qilan. Tapi aku sudah berjanji akan mencari bantuan untuk menyelamatkan mereka." Lanjutnya membuat Iloania menganggukkan kealanya setelah memahami keadaan.


Tangan ramping Iloania mendarat dikepala Raynen, "Aku mengerti. Sekarang sudah malam. Mandilah, setelah itu makan dan tidur. Masalah ini biar kakak yang mengurusnya."


"Libatkan aku juga kak!" Kata Raynen mendapatkan gelengan kepala dari Iloania.


Bukan apa, mereka Kelelawar Hitam adalah kelompok yang cukup berbahaya. Mengingat anggota bawahnya saja memiliki partner binatang sihir tingkat 5 menandakan mereka kuat dan bukan orang sembarangan. Iloania tak bisa membawa Raynen dalam bahaya. Setidaknya dirinya akan memastikan Raynen aman disini.


"Tidak. Kamu percaya pada kakak bukan?"


Raynen diam sesaat sebelum menganggukkan kepalanya. Iloania meraih tangan Raynen, "Percaya padaku. Aku akan membawa adikmu kembali tanpa luka sedikitpun."


Raynen menganggukkan kepalanya. Ia harus yakin, jika Iloania bisa menepati janjinya. Karena Iloania kuat.


"Baik."


Ketika Raynen telah tertidur pulas selepas mandi dan makan, Iloania bergerak membuka jendela. Jubah hitam melekat ditubuhnya. Surai panjangnya dimasukkan kedalam jubahnya, meskipun bagian bawah tetap terlihat. Melebihi jubah yang hanya sebatas lutut. Maniknya tetap hangat, namun bibirnya membentuk garis lurus. Dengan kilatan tegas sekilas dimatanya ketika menatap kegelapnya malam. Bergerak membuka pintu, Iloania memunculkan piringan hitam dan mendaratkan kakinya yang berbalut sepatu flatshoes  putih. Dengan tali melingkari pergelangan kakinya dan benda berbentuk lingkaran berwarna emas disisi luar masing-masing kakinya. Sepatu itu ramping dan terlihat elegan. Sangat cocok untuk melengkapi penampilannya.


Seperti Dewi!


Piringan hitam membawa Iloania terbang menjauh dengan kecepatan rata-rata. Surai dan jubahnya berkibar. Namun Iloania hanya menatap lurus tanpa berpaling.


"Kalian harus bersabar. Aku akan menyelamatkan kalian." Gumam Iloania dengan pelan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


22/04/2021


Jangan lupa beri dukungan tiap sudah membaca chapter~


Makasih banyak...


@LuminaLux