
"Aku benar-benar masih tidak percaya kalau Ilo-ku yang manis ini sudah memiliki kekasih!" Ujar Olena.
Diruang utama, Orena duduk dengan Aya dipangkuannya, sementara Lasius duduk dibangku panjang sembari menatap tajam kedepan. Tepatnya menatap Olena Lativia yang seenaknya memeluk Iloania yang masih setengah mengantuk. Gadis itu bahkan sesekali hampir menjatuhkan wajahnya sebelum tersadar kembali.
"Itulah kenyataannya, Le." Ucap Orena.
"Bagaimana pria dingin dan membosankan sepertinya bisa menjadi kekasih Ilo-ku yang manis dan menggemaskan seperti ini?" Protes Olena.
"Um? Tapi kak Sius memang kekasih Ilo." Ucap Iloania kala mendengar samar suara Olena.
"Uh! Bagaimana kamu mau berpacaran dengannya, Ilo? Dia membosankan."
Iloania tersenyum, "Aku cinta kak Sius~"
Saat itu, Lasius mengulas senyuman penuh kemenangan kepada Olena yang menatapnya bengis. Menyebalkan!
"Baiklah, aku mengalah. Kuakui kau hebat bisa membuat Ilo 'balas' mencintaimu. Kemudian,"
Olena menjeda ucapannya. "Aku sudah mendengar semuanya dari Re. Suku Mue, aku bisa membawa kalian berdua kesana. Tapi aku tidak benar-benar bisa mengantar kalian sampai ketempatnya. Aku hanya bisa mengatar kalian sampai kewilayahnya, karena tempat itu berbahaya."
Lasius mengangguk. "Bukan masalah. Terimakasih sudah bersedia membantu."
Olena membrengut. "Aku membantu karena Iloania yang benar-benar memerlukan bantuan. Jadi jika kalian memenangkan perang, itu karena jasa besarku ya."
"Astaga, Le~" Heran Orena dengan senyuman diwajahnya saat ia menggeleng pelan.
Aya mendongak dan menatap Orena. "Kak Re, apa kakak cantik akan berperang?"
"Um, yeah." Jawab Orena ragu.
"Hiks, huee!"
Semua terkejut ketika Aya menangis. Gadis itu jarang menangis, tetapi sekalinya menangis karena alasan yang tidak diketahui.
"Aya, kenapa? Apa yang terjadi? Apa ada yang sakit?" Tanya Orena khawatir.
Aya menggeleng dan menjawab sambil sesungukan. "Kak Re bilang, hiks, perang selalu berakhir dengan kematian. Perang adalah perbuatan buruk, bagaimana jika kakak cantik dan kakak tampan sampai meninggal karena perang, huee!"
"Bagaimana jika Aya tidak bisa bertemu kakak cantik dan kakak tampan lagi?"
Astaga.
Iloania memejamkan matanya. Dalam alam bawah sadarnya, Iloania berdiri diatas sebuah jembatan L. Pemandangan sempurna yang luar biasa menenangkan ada disisi kanan. Lautan yang bagaikan cermin. Memantulkan awan putih. Tetapi disisi lain, ada kobaran api dan lava pijar yang menyala-nyala dan siap melelehkan.
Iloania selalu menyadari bahwa ini adalah dua cerminan dari dirinya.
Iloania melangkah ketepi jembatan. Ada sebuah bunga melayang diatas jurang pemisah dua pemandangan yang berbeda itu. Jurang gelap yang hampir tidak berdasar. Bunga teratai itu berkuncup, dan ketika Iloania mengulurkan tangannya, bunga itu perlahan-lahan melayang turun, berputar lembut sembari memekarkan bunganya.
Hingga ketika sampai diatas tangannya, bunga itu telah sepenuhnya mekar dan menunjukkan dengan jelas sebuah permata berwarna putih berbentuk lingkaran melayang diatas bunga itu.
Iloania tidak tahu bagaimana. Tetapi dia tahu bahwa dia memiliki sebuah mustika yang menjadi nyawa baginya. Lebih tepatnya, sesuatu yang menjadi petunjuk untuk mengetahui hidupnya. Jika kelopak bunga itu layu dan mulai berguguran, itu berarti Iloania ada dalam keadaan hidup dan mati. Dan jika kristal yang mengambang itu berhenti memancarkan cahaya dan mati, maka Iloania pun berarti mati.
Delt bahkan tidak mengetahui tentang ini, dan hanya Iloania dan Vleia yang tahu.
Ketika Iloania membuka matanya kembali, bunga yang awalnya besar menjadi seukuran telapak tangannya. Muncul didepannya dengan cahaya yang lembut. Ia membawanya mendekat ke Aya.
"Aya, lihat, cantik kan?" Tanyanya.
Aya melihat bunga itu dan mengangguk dengan air mata sembab. "Mn, cantik."
Iloania tersenyum, "Ini adalah sesuatu yang penting bagi kakak. Jika kakak bisa mengibaratkannya, ini seperti nyawa kakak. Jika ini layu, maka kakak sekarat. Dan jika mati, maka kak Ilo juga akan mati. Jadi, bisakah kakak menitipkannya pada Aya?"
Aya menggeleng panik. "Ti-Tidak! Aya tidak bisa menjaga sesuatu sepenting itu. Bagaimana jika Aya lupa menyiramnya dan membuatnya layu? Bagaimana?!"
"Eh, Aya tidak perlu menyiramnya dengan air. Aya hanya perlu tertawa dan tersenyum, maka senyum dan tawa Aya akan menjadi pupuk bagi bunga ini." Kata Iloania.
Aya memiringkan kepalanya, "Benarkah?"
Iloania mengangguk. "Tentu saja. Ini, ambilah."
Aya mengambil bunga itu dengan tangan kecilnya dan menatapnya dengan sepasang manik berkilau. Antara genangan air matanya dan cahaya, atau memang karena ia terpukau dengan keindahannya. Aya tanpa sadar menarik sudut bibirnya membentuk senyuman manis yang panjang.
"Ah, lihat! Kak Ilo merasa bersemangat tiba-tiba! Itu karena Aya memberi pupuk untuk bunganya!" Kata Iloania sambil berdiri.
Ia berkacak pinggang dengan gaya heroik. "Dengan begini, kakak yakin kita akan memenangkan perang~"
"Terima kasih, Aya!"
Aya terdiam selama dua detik sebelum mengangkat senyuman lima jarinya. "Mn! Aya juga akan berjuang!"
Iloania menatap Lasius yang turut memandangnya dengan senyuman, dan pada akhirnya mengungkap senyuman tipis.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
04/08/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux