
"Dari mana saja kakak?"
Ketika Hesian melangkah di koridor, Laisen muncul dari balik bayangan dan bertanya dengan nada yang tidak begitu ceria dan lembut. Bahkan ada sedikit nada tajam dan interogatif didalamnya yang membuat Hesian meliriknya samar sebelum melanjutkan kembali langkahnya.
Laisen dengan kesal mengerutkan keningnya dan mengangkat tangannya. Sihir kemerahan muncul dari tangannya, memanjang seperti akar dan menjebak bayangan Hesian. Pemuda itu tidak bisa bergerak sedikitpun, dan suaranya dingin. "Apa yang kau lakukan?"
Laisen dengan perlahan melangkah mendekati Hesian. Dengan penampilannya yang muda, ia hanya setinggi pinggang Hesian. Wajahnya tidak senang, dan dia berdiri didepan Hesian, bertanya dengan suara yang sama.
"Kak Sian dari mana saja?"
Hesian hanya diam, tidak menjawab Laisen. Hal itu memicu kemarahan gadis itu. Sepasang manik persiknya menyempit, dan rahangnya mengerat. Itu jauh dari penampilan imut yang biasanya dia miliki. "Jawab aku!"
Pada akhirnya, Hesian meludahkan beberapa kata. "Apa urusannya denganmu?"
Laisen mengerutkan keningnya. Tentu saja ada hubungannya!
Itu karena dia dengan mata kepalanya sendiri melihat seorang gadis mencium Hesian. Meski hanya dipipi, itu benar-benar menyulut kemarahan Laisen. Siapa orang itu hingga berani-beraninya mencium pemuda yang dia sukai?
Laisen berkata dengan nada yang meninggi. "Tentu saja ada hubungannya! Kakak bersama dengan seorang gadis bukan? Katakan, siapa dia? Kenapa kakak mengizinkannya mencium kakak?!"
Hesian melihat kegilaan paranoid dimata Laisen dan tidak bisa menahan rasa dingin di matanya. Ia dengan tegas menjawab. "Bukan urusanmu!"
"Lepaskan aku."
"Bukan urusanku?" Laisen mengulangi perkataan Hesian dan tidak bisa menahan tawa yang menggema dikoridor itu. "Hahahahahaha!!"
Tawanya melengking karena suaranya yang masih muda, namun tidak bisa menyembunyikan kekejaman yang dimilikinya. Siapapun yang mendengarnya dipastikan akan gemetar kedinginan. Orang-orang di kelompok itu selalu menganggap bahwa Hesian adalah yang terkejam di dalam kelompok. Dengan pandangan dingin dan apatisnya, dia tidak akan ragu untuk menghabisi orang yang menentangnya dengan kejam. Dan tidak pandang bulu. Namun, tidak ada yang tahu kecuali beberapa orang termasuk Hesian, bahwa siapapun yang pantas dinobatkan sebagai yang terkejam adalah Laisen.
Gadis itu biasanya selalu memasang wajah polos dengan senyuman manis, namun sebenarnya dia adalah apa yang mereka sebut kekejaman itu.
Laisen adalah seseorang yang licik, tidak berhati dan ketika menghabisi seseorang, akan menyiksanya dengan sadis hingga korban berharap benar-benar mati daripada terus dibiarkan hidup.
"Apakah kakak benar-benar berpura-pura buta terhadap perasaanku?!"
Laisen berkata, "Siapa dia?"
"Baik, kakak tidak mau mengatakannya?" Laisen bergumam dan memandang Hesian dengan dingin. "Maka aku akan mencarinya dengan tanganku sendiri dan menghancurkannya menjadi ribuan potongan karena berani menyentuh kakak!"
Brak!
Laisen dengan keras terpelanting dan menabrak dinging. Tubuhnya tersangkut, dan darah mengalir dari kepala dan bibirnya. Berdiri dengan aura hitam yang menyelimutinya, Hesian menurunkan tangannya dan sepasang mata merahnya memandang tajam penuh ancaman pada Laisen. "Cobalah lakukan dan lihat bagaimana kau akan merasakan perasaan menjadi korbanmu selama ini."
Ia menambahkan beberapa kata sebelum berbalik meninggalkan Laisen.
"Aku memperingatkanmu."
Laisen memang yang terkejam, namun tidak ada yang bisa menentang, bahwa diantara mereka semua, Hesian adalah yang paling kuat.
...***...
Berjalan dengan tenang dijalan setapak, Hesian dengan tenang mengawasi Luce yang dengan riang melompat diatas bebatuan disungai dangkal dipinggir hutan.
Hesian mendengus, memilih kembali berjalan sembari memandang kedepan. Melihat Hesian menolak ajakannya, Luce mengedikkan bahunya dan dengan semangat melanjutkan kegiatannya melompat dari satu batu ke batuan lainnya. Baik batuan besar ataupun batuan kecil tertata apik oleh dorongan pelan air sungai yang hanya setinggi setengah kaki orang dewasa itu. Mendengar tawa ringan Luce, Hesian tidak bisa menahan pandangan lurusnya dan menoleh untuk menemukan Luce yang hampir terjungkal karena batuan yang diinjaknya berputar.
Tanpa memikirkannya, tubuh Hesian bergerak menangkap Luce, dan keduanya hampir secara bersamaan jatuh kedalam air.
"Eh?" Luce bergumam dengan terkejut, sebelum ia mulai tertawa dengan liar.
Luce adalah kepribadian yang sederhana. Ketika dia senang dia senang, ketika dia sedih dia sedih, dan ketika dia marah maka dia akan marah. Luce benar-benar tidak menyembunyikan tawanya yang begitu bahagia. DIbawah tatapan suram Hesian karena pakaiannya benar-benar basah, Luce tidak merasa bersalah sedikitpun dan justru dengan riang menarik Hesian kepelukannya.
Ia melingkarkan lengan rampingnya ke leher Hesian dan tersenyum manis. "Gendong aku."
"Ada apa denganmu?" Hesian bertanya, namun dengan tenang menangkap pinggang tipis Luce dan membawanya ke gendongannya.
Luce menggelengkan kepalanya. "Hanya merasa sedikit lelah."
Ini hampir dua bulan semenjak mereka bertemu dan sering bersama. Hampir seminggu ini, Luce mengalami hal aneh pada tubuhnya. Pada waktu-waktu tertentu, dia akan merasakan tubuhnya menjadi begitu lemah, hingga bahkan dia tidak mampu berjalan. Pada awalnya itu hanya berlangsung selama beberapa jam, namun semakin kebelakang, jangka waktu dia merasa lelah seakan sihirnya dikuras semakin lama.
"Apakah aku berat?" Luce bertanya disela manik mengantuknya.
Hesian melirik helaian surai Luce yang perlahan berubah menjadi perak. Ia menjawab dengan ringan. "Sebenarnya berat."
"Bohong! Bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa wanita cantik seperti aku berat?!"
Hesian tidak mengatakan apa-apa dan hanya bergumam dengan dengungan lembut. Langkah kaki Hesian yang tegas namun ringan dan sentuhan lembut dan kokoh dipinggangnya membuat Luce terbuai. Ia memandang wajah Hesian yang sempurna bahkan dari sisi manapun, dan tidak bisa menahan senyumannya.
Senyuman miris dan pedih.
Ia membuka bibirnya, "Sian."
"Mn?"
Dengungan lembut itu membuat Luce menyunggingkan senyuman. "Apakah kamu memiliki keinginan?"
Mendengar pertanyaan itu, Hesian memandang Luce yang juga memandangnya. Ia menatap lurus kedepan, berpikir lama sebelum menjawab. "Bersamamu."
Mendengar hal itu dari bibir Hesian membuat Luce menyunggingkan senyuman yang semakin lebar. Tapi Hesian tiba-tiba menunduk dan memandangnya. "Apa keinginanmu?"
Memikirkannya, ada senyuman tipis yang diberikan Luce sembari ia bersandar di ceruk leher Hesian. Ia mengeratkan pelukannya di lehernya dan menjawab dengan lembut sembari memejamkan matanya. "Aku ingin menjadi kerlip cahaya."
Belum sempat Hesian bertanya mengapa, Luce terlebih dahulu melanjutkan perkataannya. "Aku benar-benar ingin hidup sesuai dengan jalanku sendiri. Meskipun menjadi kerlip cahaya kecil ditengah kegelapan, aku berharap cahayaku yang samar itu mampu bertahan selamanya. Bebas, berani meskipun lemah, dan tenang meskipun keberadaanku hanya hal samar yang bisa kapanpun dilupakan."
"Aku ingin menjadi seperti itu."
"Sian," panggilnya lembut. "Jika aku menjadi kerlip cahaya seperti itu, maukah kamu melihatku?"
Kemudian, Luce jatuh dalam tidurnya. Ketika dia membuka matanya, dia sendirian diatas tempat tidur yang memiliki jejak kehangatan dua orang. Sepasang maniknya terkulai, dan air mata meluncur dari sudut matanya. "Hiks, hiks!"
Luce, tidak ingin meninggalkan Hesian.