Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 77 "Kekuatan Lacana dan Kedatangan Lasius"


Hari Kesembilan, Bulan Kesepuluh, Musim Gugur


Ada suara gemerisik kain-kain yang saling bergesekan. Kerumunan-kerumunan menimbulkan suara, dan hentakan kaki terdengar tak berkesinambungan, tetapi seakan tak pernah terputus. Suara roda kereta kuda dan ringikan kuda terdengar. Aroma-aroma asing saling bercampur, diantara padatnya kota disiang hari itu, Iloania menutup hidungnya dengan ekspresi yang sedikit keruh.


"Guru, bukankah kita akan ke Kuil Ao? Kenapa kita lewat sini?" Tanya Iloania.


Delt menyunggingkan senyuman, "Guru ingin mengajak Ilo kesuatu tempat dulu. Dan kebetulan, kuil dekat dengan tempat ini."


Iloania mengerutkan bibirnya, "Tapi Ilo tidak suka disini. Disini baunya bercampur, dan aromanya tidak enak."


"Ayo, ikut guru." Ajaknya sembari menggenggam tangan Iloania dan mengajaknya memasuki sebuah gang diantara bangunan-bangunan rumah dan pertokoan.


Iloania sedikit kebingungan, namun membiarkan dirinya mengikuti sang guru ketempat yang juga belum diketahuinya. Iloania sedikit terkejut ketika hampir sampai diujung gang, ada selaput transparan. Yang menimbulkan gerakan seperti riak air saat mereka berdua melewatinya. Iloania menoleh kebelakang sampai riak air itu menghilang.


"Eh?" Kagetnya ketika kembali menoleh kedepan.


Didepan sana, ada lapangan luas yang dipenuhi kerumunan orang. Ada berbagai bentuk lampion dengan warna-warni yang menarik. Aroma tidak enak yang diciumnya berganti menjadi aroma makanan dan aroma samar bunga yang terbawa angin. Satu hal lagi yang berbeda adalah bahwa setiap orang yang berlalu-lalang disana menggunakan topeng yang menutup wajah mereka. Entah itu topeng tertutup, atau topeng setengah wajah.


Iloania tertarik dari lamunannya kala sang guru memasangkan topeng kepadanya. Itu adalah topeng yang menutup seluruh wajahnya. Topeng itu datar dan tanpa lekukan, memiliki lubang mata yang melengkung dengan garis bibir kucing yang sama-sama tersenyum. Ada bentuk telinga kucing diatas topeng itu.


Saat inipun, Delt turut menggunakan topeng sama yang hanya berbeda warna. Milik Iloania berwarna putih, sementara milik Delt berwarna hitam.


"Guru, kenapa semua yang ada disini menggunakan topeng? Sebenarnya, tempat apa ini?" Tanya Iloania penasaran.


Delt menjawabnya, "Ilo tahu bukan kalau didunia ini, kita manusia hidup berdampingan dengan para roh. Tetapi, tidak semua manusia menyukai dan tahu keberadaan roh sihir. Terkadang, ada beberapa manusia yang tidak menyukai keberadaan roh sihir."


"Mengapa ada yang tidak menyukai roh sihir? Bukankah mereka baik?" Tanya Iloania.


"Karena roh sihir itu sangat jarang dapat dikontrak, berbeda dengan binatang sihir, ada beberapa manusia yang menaruh waspada pada roh sihir. Karena mereka menginginkan kebebasan dan tidak suka dikekang dalam kontrak. Mereka itu mungkin saja takut bahwa roh sihir sebenarnya adalah bawahan Raja Iblis." Jelasnya sembari berjalan dengan Iloania yang digandengnya, ditengah keramaian itu.


Iloania sedikit memiringkan kepalanya. Meski suaranya sedikit teredam topeng, tetapi itu masih jelas. "Bagaimana itu mungkin. Pikiran mereka dangkal sekali, bukankah sebenarnya mereka selama ini justru hidup berdampingan dengan mereka, bawahan raja iblis."


"Bagaimanapun, tempat ini dibuat sebagai wilayah netral. Dimana mereka manusia dan roh sihir bahkan binatang sihir yang tak dikontrak dapat bersenang-senang berdampingan."


Delt meletakkan jari telunjuknya diatas dagunya yang terlapis topeng, "Ini sama seperti wilayah Neredith."


"Oh, lalu guru. Kenapa mereka semua menggunakan topeng? Bahkan kita juga menggunakannya." Tanya Iloania.


Delt nampak berpikir sebelum menggeleng, "Tidak tahu. Sepertinya memang sudah seperti ini sejak dulu."


Iloania mengangguk, tak bertanya lebih lanjut. Maniknya mengedar, dan menemukan pemandangan dimana seseorang yang memiliki ekor serigala dibelakang tubuhnya. Iloania menggeser pandangannya, dan menemukan seorang anak yang tengah berendam didalam sebuah bak berisi air. Ekor itu berwarna biru, berkilau dan sesekali bergoyang ketika pemiliknya tampak bersemangat menunjuk sesuatu kepada seseorang yang mendorong bak dengan sihir dibelakangnya.


Iloania memandang sekelilingnya dan tak bisa menahan senyumannya.


...***...


Berjam-jam berlalu tanpa terasa. Iloania dan Delt, serta Vleia yang keluar turut menikmati meriahnya pasar malam yang nyatanya diadakan setiap waktu itu. Iloania sudah berkeliling keseluruh penjuru tempat dan telah mencicipi dan mencoba berbagai hal yang baru baginya.


"Sangat menyenangkan!" Gumam Iloania.


Ditangan kanannya, manisan buah menjadi jajanan wajib yang harus ada. Sementara tangan kirinya menggandeng Delt yang turut membawa banyak jajanan pasar yang lezat. Tak jarang, juga menemukan beberapa barang seperti boneka dan kincir angin kertas kecil.


"Sa, guru. Jika Ilo sudah besar nanti, Ilo akan merawat guru." Kata Iloania.


Delt tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya, "Baiklah."


"Guru juga menyayangi Ilo~" Balas Delt dengan senyuman meski tak nampak dibalik topeng wajahnya.


...***...


"Bagaimana?" Seseorang bertanya kepada Vacco yang baru saja keluar dari ruangan interogasi.


"Bagaimana La?" Tanya Vacco pada gadis kecil disampingnya.


Lacana Evena memeluk bonekanya dan berkata dengan suara suram yang lirih, "Tidak berbohong. Dia tidak tahu siapa dirinya dan meski setengah tertutup, ceritanya memang benar."


"Dia memang tidak mengenal Raja Iblis, tapi menurut penglihatanku Raja Iblis menginginkan kekuatan yang dimilikinya. Pertemuan pertama mereka saat dia berusia 5 tahun dan saat itu gurunya terbunuh. Sepertinya gurunya hanya sekarat setelah berhasil menyegel Raja Iblis, dan memperbaiki segel yang menyegel kekuatannya sebelum mati." Kata Lacana.


"Lalu darimana segel itu?" Tanya Vacco.


Lecana menggeleng, "Aku kurang yakin. Tetapi sepertinya, itu berasal dari Kerajaan Emerald. Simbol mata itu sedikit mirip."


Vacco dan yang lain sedikit bingung, "Kerajaan Emerald? Apakah dia berasal dari sana?"


Lacana menjawab lagi, "Dia berasal dari Zhoie."


"Lalu, darimana asal kekuatannya?" Tanya Vacco membuat Lacana diam.


"Ada beberapa hal didunia, yang sebaiknya tidak diketahui. Mungkin, ini sudah menjadi takdirku pula, bahwa aku memiliki kemampuan ini. Aku tidak bisa berbicara lebih lanjut." Kata Lacana.


Ia melanjutkannya dalam hati, "Atau langit akan menghukumku karena telah membocorkan sebuah takdir. "


Seseorang yang bersurai kemerahan berkata dengan sarkas, "Tetapi siapa yang tahu jika kekuatanmu sudah dimanipulasi olehnya? Bagi iblis jahat seperti mereka, membalikkan bumi dan membelah langitpun adalah hal yang mudah. Apalagi memanipulasi kekuatanmu."


"Kau salah! Kekuatan Lacana itu ti-" ucapan Vacco terpotong oleh perkataan Lacana.


"Aku juga manusia biasa, dan aku yakin aku selalu memiliki kekurangan. Tapi aku yakin, bahwa dia bukanlah tangan kanan Raja Iblis." Kata Lacana sebelum dengan kepala sedikit tertunduk melangkah pergi.


Karena kenyataannya, memang seperti itu.


...***...


"Lapor ketua! Lasius Valletryern anggota khusus datang dan saat ini sedang ada diruang pertama." Ada suara tanpa wujud yang terdengar ditempat itu?


Seorang wanita bersurai abu ikal memandang kearah luar dengan tatapan yang sulit dijelaskan, sebelum senyuman tersungging dibibirnya.


"Dia akhirnya mengingatku."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


24/04/2022



LuminaLux