
Menjelang malam, suasana kota itu ramai. Dengan jubah yang menutupinya, Iloania dan Lasius bersembunyi dibalik dinding dicelah gang menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap.
"Kenapa kita harus bersembunyi?" Tanya Lasius setengah berbisik.
Iloania menatap Lasius. "Kak Sius tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika ada yang tahu kita ada disini. Mereka, sangat menakutkan~"
Ucapan Iloania membuat Lasius mengernyitkan dahinya. Apa yang menakutkan bagi gadis-nya ini? Apakah itu penjahat atau sesuatu yang lain? Apakah itu pria hidung belang? Jika benar, Lasius akan langsung menghabisinya ditempat. Ketika suasana menjadi lebih sepi, Iloania melirik sekelilingnya dan dengan segera menarik Lasius mengendap melewati tumpukan barang untuk menuju sebuah tempat.
Lasius menatap sekilas tulisan ditoko yang tertutup itu. "Toko Tuan Bambu" asing ditelinganya.
Kota Aletron. Iloania dan Lasius ada disana, dengan alasan utama yakni mengambil tombak Iloania yang telah dibuat ulang dengan tambahan mutiara roh air.
"Dimana kita?" Bisiknya pada Iloania.
"Toko tuan bambu~" Jawab Iloania dengan senyuman.
Tangannya mengetuk pintu toko itu setelah memastikan sekelilingnya dalam keadaan sepi. Suara langkah kaki terdengar mendekat, dan pria bertopeng muncul dan sedikit terkejut melihat Iloania. Namun tertegun, ketika melihat sosok yang ada dibelakang Iloania.
Iloania menyapanya, "Halo tuan topeng bambu~"
"Ilo, kamu akan mengambil senjatamu?" Tanya pria bertopeng.
Iloania mengangguk.
"Dan siapa pemuda ini?" Tanyanya.
"Dia temanku tuan topeng bambu. Dan kak Sius, tuan ini adalah tuan topeng bambu. Ahli senjata dikota ini. Paman Zaree bahkan sangat percaya pada kemampuan tuan topeng bambu." Kata Iloania.
"Siapa paman Zaree ?" Batin Lasius.
"Saya Lasius. Senang bertemu dengan tuan." Kata Lasius memperkenalkan diri dengan wajah dan nada yang senantiasa datar.
Pria bertopeng itu menganggukkan kepalanya dan mempersilakan keduanya untuk masuk. Dimeja kayu, sebuah kotak panjang dengan panjang lebih dari 2 meter dan lebar 30 centimeter diletakkan disana. Iloania yakin, jika tombaknya ada didalam sana.
"Bisakah aku membukanya?" Tanya Iloania pada pria bertopeng.
Pria bertopeng itu mengangguk. Sementara disisi lain meja, Iloania yang berdiri disamping Lasius menggerakkan tangannya untuk membuka kotak itu. Sebilah tombak kaca semi transparan sama terlihat. Dibagian pangkal ujung mata tombak, sebuah mutiara melekat dengan sempurna. Memancarkan cahaya lembut dan mengalirkan aliran cahaya spiral disepanjang tombak. Cincin yang mengitari tombak itu berlipat menjadi 2 dengan gerakan melingkar secara bergantian. Sementara disalah satunya terikat lonceng bulu.
Melihat keindahan tombak yang tak pernah dilihatnya itu, Lasius sedikit tertegun dan terpukau. Sampai sedikit terkejut ketika melihat mutiara roh air yang benar-benar berkualitas tinggi dipangkal ujung tombak milik Iloania.
"Berapa biayanya tuan topeng bambu?" Tanya Iloania.
Mendengar pertanyaan Iloania, Lasius diam-diam hendak mempersiapkan uang untuk membayarkan biaya perbaikan senjata Iloania. Namun terhenti ketika pria bertopeng menjawabnya.
Pria itu menggeleng. "Tidak ada biaya. Berilah nama senjatamu dan pergilah sebelum mereka datang."
"Tapi ini .."
"Tidak ada biaya." Tegas pria bertopeng itu membuat Iloania mengerucutkan bibirnya sebelum menatap kearah tombaknya.
Ia sedikit mengangkat tangannya dan bergumam samar, "Vleia. Nama apa yang cocok?"
"Berikan saja namaku."
Mendengar itu Iloania mencebik pelan. Mengingat mutiara roh air itu, Iloania membuka bibirnya tanpa sadar.
"Tombak Siena." Gumamnya membuat tombak itu bercahaya selama sekian detik sebelum memudar.
"Baiklah, dia sudah memiliki nama. Pergilah," kata pria itu.
Iloania mengangguk sembari tersenyum. Ia menyimpan tombaknya didalam cincin dimensinya, "Baiklah. Ngomong-ngomong, tuan topeng bambu. Tidak baik untuk selalu menyembunyikan emosi. Kebahagiaan dan kebebasan, adalah milik semua orang. Tidak peduli bagaimanapun masa lalu dan siapapun orang itu."
Ucapan Iloania membuat pria bertopeng mematung sebelum menatap Iloania dengan sepasang mata yang rumit. Sementara Iloania, memasang senyuman tipis yang tulus. Sebelum mengucapkan selamat tinggal dan meninggalkan toko itu tanpa jejak dengan Lasius mengikutinya.
Setelah Iloania berlalu, pria bertopeng melangkah dengan perlahan kesebuah lemari yang dikunci. Membukanya, didepannya adalah setelan baju zirah yang kokoh dan beraura kuat. Itu sepasang baju zirah yang tinggi dan bukan sembarangan.
"Apakah aku memang bisa .. bahagia dan bebas?" Gumamnya dengan suara yang benar-benar kecil.
...***...
Diperjalanan, Iloania dan Lasius terbang dengan piringan hitam milik Iloania. "Tombak itu, darimana kamu mendapatkannya?"
"Dan mutiara roh itu. Seorang teman memberikannya padaku. Namanya Sie, mungkin suatu saat nanti kalian bisa bertemu." Kata Iloania.
"Baiklah,"
Lasius menolehkan kepalanya, "Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa tahu ada tempat seperti itu dikota ini? Juga, kenapa kamu mengatakan hal-hal itu pada pria tadi?"
Iloania tersenyum dimatanya, "Aku pernah ada dikota ini selama beberapa waktu. Dan untuk tuan topeng bambu, entah kenapa sepertinya semua emosi yang dimilikinya memang tersimpan rapat dibalik topengnya. Perasaan bersalah dan perasaan terkekang juga kemarahan. Rasa seperti itu yang biasanya membuat seseorang, memilih bersembunyi karena takut untuk melihat dunia dan mengingat masa lalu yang kelam baginya."
"Apakah .. begitu?" Gumam Lasius.
Iloania hanya tersenyum samar. Membiarkan angin menerpanya dan membiarkan segala kata-kata terlarut dalam pemikiran masing-masing.
...***...
Di kota Neredith, Bellestine memandang Jissiana yang baru saja menyebutkan nama Iloania dengan jelas ditelinganya. Iloania, Iloania. Nama itu terngiang dikepalanya selama beberapa saat sebelum senyumnya mengembang.
Itu adalah kejadian lama sekali..
...***...
"Jadi paman, apakah mereka benar-benar bukan orang yang dikenal oleh paman dan yang lain?"
Iloania duduk diatas kereta yang berjalan dan bertanya pada Cleus yang duduk disamping kusir. Kedua kakinya bergerak mengayun dan sesekali saling menyilang dan kembali berayun.
"Aku tidak tahu. Mereka mungkin pengacau tanpa pikiran." Dingin Cleus.
"Pengacau ya?" Gumam Iloania sembari mendongak menatap langit biru yang cerah.
Aroma semerbak bunga yang ada disepanjang jalan membuat kedua pipinya bersemu dengan senyum yang merekah. Semerekah bunga mekar dimusim semi yang indah.
Iloania bergumam, "Apa yang membuat mereka melakukan itu?"
"Semua komoditas pangan benar-benar rusak dan sebagian tak bisa dimakan. Bagaimanapun, mereka adalah pengacau yang sangat buruk!" Geram seorang pria didalam kereta.
"Benar sekali! Bagaimana kerugian ini akan ditanggung?!"
Iloania melirik Cleus dan bergumam tipis. "Daripada pengacau, bukankah mereka terlihat seperti .. ingin diketahui? Lagipula, kenapa harus menunggu sampai didekat kota jika ingin menyerang, bukankah bisa ditengah perjalanan?"
Iloania memandang kota besar yang ada didepannya. Ada banyak sekali binatang sihir yang belum dikontrak dan telah dikontrak disana. Bersembunyi didalam pohon, dibalik semak-semak, didalam air dan bahkan banyak yang melayang dilangit kota itu. Kota ini adalah, Neredith, kota binatang sihir.
"Vleia, ada banyak sekali binatang sihir. Mungkinkah aku bisa mengontrak beberapa lagi?" Tanya Iloania.
"Kamu sudah memilikiku Ilo~ Mereka begitu berisik!"
"Maaf, maaf~ Aku hanya bercanda. Aku hanya memiliki Vleia. Tapi entah kedepannya~" Ucap Iloania.
Suara Vleia mengeras, "Sangat jahat!"
Iloania hanya terkekeh geli dengan suara kecil. Menatap kota kemudian dengan sepasang manik yang melengkung membentuk segaris senyuman yang menawan.
"Kita bisa tinggal sesaat," gumamnya pada Vleia.
Diwaktu yang bersamaan, suara-suara bergema disebuah ruang kecil dengan pencahayaan yang minim itu. Lima orang duduk melingkar disebuah meja. Suasana itu dingin dan gelap. Membuat siapapun yang melihatnya tak akan merasakan kenyamanan sedikitpun.
Pemilik manik biru tajam itu berucap dengan nada dingin, "Bagaimanapun juga. Kita akan hancurkan kota itu."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update
11/7/2021
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux