
Suasana meriah mendatangkan euforia yang mengejutkan ketika iringan demi iringan dalam parade itu perlahan menampakkan diri setelah seakan tubuh mereka menembus dan muncul dari barrier semi transparan.
Sorak sorai terdengar bersamaan dengan taburan bunga yang menyambut mereka, peri-peri kecil yang menjadi simbol pelindung wilayah itu berterbangan dengan ringan dan menyampaikan kegembiraan mereka melalui tarian dan nyanyian merdu yang mengalun lembut di udara.
"Damai sejahtera menyambut!"
"Damai sejahtera menyambut!"
Dengan bunyi-bunyian terompet dan biola yang melayang, anak-anak tertawa dan orangtua mengawasi dengan wajah cerah. Serombongan orang-orang berjubah putih yang menutupi wajah mereka melangkah maju, mengikuti langkah sang pemimpin yang berjalan dalam barisan paling depan. Bibirnya menyunggingkan senyuman lembut yang membawa aura dingin namun hangat dan penuh kasih secara bersamaan. Helaian benang peraknya bergoyang mengikuti tiap langkahnya yang mantap dan tanpa sedikitpun keraguan yang tercipta. Sepasang manik putih itu memandang tegas kedepan, seakan siap untuk menghadapi yang ada didepannya.
Jubah putih yang dikenakannya dilengkapi dengan aksesoris berwarna perak yang membuat penampilannya elegan, menawan dan berwibawa. Ditangan kanannya, sebuah tongkat sihir tajam berwarna hitam sangat kontras dengan kulit pucat yang menggenggamnya.
Penampilannya membawa perhatian banyak orang tertuju kepadanya.
Seperti seorang malaikat, bagaimana sepasang manik putih itu benar-benar mencerminkan kesucian dan penampilan yang murni.
Semua orang mengenalnya sebagai seorang penyihir yang paling suci dan murni di kerajaan. Dinilai dari penampilan, dan bagaimana kekuatan sihirnya diantara penyihir lainnya, bukanlah suatu keanehan jika di usianya yang baru menginjak 15 tahun ia telah menjadi Master Penyihir Akar Semesta, yang merupakan sebuah kehormatan tertinggi yang mampu dimiliki oleh seorang penyihir.
"Nona Luce sempurna seperti biasanya."
"Betapa mengagumkannya melihatnya dari dekat seperti ini. Aku merasa bahwa jika aku mati saat ini juga, aku tidak akan memiliki penyesalan apapun dalam hidupku, barang sedetikpun!"
"Benar, memangnya apa yang lebih indah dan sempurna dari penampilan nona Luce?"
Luce, melirik warga yang dengan suara lantang membicarakannya. Pandangannya hanya melintas sekilas sebelum dia menarik tatapannya dan tetap mempertahankan senyuman yang dimilikinya. Penyihir dibelakangnya, yang menutup kepalanya dengan tudung jubah berbisik dengan suara samar.
"Nona, tolong fokus."
Luce mengangkat tongkatnya, dan sesekali menggoyangkannya untuk menciptakan lontaran cahaya tinggi yang meledak dan menjadi serpihan-serpihan kerlip yang terasa sejuk dan menenangkan. Ia bergumam dengan acuh. "Aku tahu."
Arakan-arakan meriah itu membawa mereka hingga berhenti disebuah kuil yang menjulang tinggi. Dipucuk kuil, ada sebuah lonceng perak yang akan berdenting dengan sendirinya ketika jam sudah menunjukkan tengah hari. Lonceng itu bahkan dengan otomatis akan berbunyi ketika merayakan hari-hari khusus.
Tepat ketika lonceng berbunyi, sorak sorai perlahan menghilang. Iringan musik yang meriah benar-benar berhenti total dan menyisakan keheningan yang hangat, bahkan jika itu adalah keadaan hening, mereka bersorak dan bersukacita didalam hati mereka.
Sekelompok penyihir itu mulai menyebar dan membentuk formasi, didalam kuil itu. Di tengah-tengah formasi, Luce berdiri dengan tongkat sihirnya ditangan kanannya dan permata mana ditangan kirinya. Bagi penyihir, ada perbedaan besar antara batu mana dan permata mana. Batu mana biasanya digunakan untuk meningkatkan sihir, namun permata mana adalah sebuah batuan yang menyimpan sihir spiritual dari alam, sehingga permata mana digunakan sebagai salah satu benda suci dalam upacara atau ritual-ritual seperti ini.
Dari tempat-tempat penyihir lain berdiri, muncul cahaya yang membentuk garis hingga membentuk sebuah formasi yang disebut dengan formasi Bintang Tujuh karena berbentuk seperti bintang, namun memiliki tujuh sisi.
"Demi Dewa Cahaya, Pelindung Amalox, berkati kami dengan cucuran air hidupmu dan kesuburan bumi pertiwi."
Luce bergumam dengan lirih, dan menggumamkan mantra asing selanjutnya, ketika sebuah cahaya putih berpendar kuat dari dua benda ditangannya dan bercampur dengan cahaya kehijauan dari formasi. Cahaya-cahaya itu memperkuat, menari dan menyinari segala penjuru tempat, dan kemudian denting lonceng berbunyi merdu.
Ritual Musim Semi Kerajaan Amalox, berhasil.
***
Membanting tubuhnya ke ranjangnya, Luce merasakan keringat membanjiri tubuhnya. Menggunakan sihir untuk ritual besar seperti memberkati panenan rakyat kerajaan membutuhkan sihir yang tidak sedikit. Meski sudah terbiasa dan meski dia kuat, Luce juga cukup kelelahan dengan hal itu.
"Lelahnya!"
"Kalau begitu aku yakin kamu akan kembali bersemangat saat aku mengatakan kau boleh berkeliling sebentar."
Luce menoleh, mendapati seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan pakaian putih berdiri diambang pintu dengan aura yang menyelimutinya. Luce segera bangkit dan menyapanya. "Penatua! Benarkah aku boleh keluar?"
Penatua itu menganggukkan kepalanya, memberikan izin kepada Luce untuk menikmati dunia luar untuk beberapa lama tanpa kekangan dan pengawasan dari penyihir lain. Karena dia adalah jantung dan inti dari penyihir Amolux, penyihir lain memperlakukannya dengan lebih berhati-hati. Penyihir cahaya memiliki kekhawatiran bahwa penyihir hitam akan menggunakan kesempatan dirinya sendiri dan menyerangnya. Meski Luce adalah pemyihir cahaya terkuat dikerajaan, penyihir hitam adalah penyihir licik yang penuh dengan tipu daya, hingga kemungkinan-kemungkinan yang tidak diharapkan lebih baik untuk mengantisipasinya.
Luce melihatnya mengangguk dan tidak bisa menahan untuk tidak bersorak dalam hatiya. Setiap emosi bisa dengan mudah ditebak oleh penatua Lagen yang membuat bibir tipisnya yang tersembunyi dibalik janggut dan kumis putihnya melengkung.
"Nikmatilah waktumu, Nak. Tetapi ingat untuk tidak tampil mencolok dan jangan melupakan untuk mengubah penampilanmu."
Luce segera menghilang setelah memberikan salam khas penyihir, yakni menarik garis didepan dahinya, dari dahi kirinya ke dahi kanannya dengan menggunakan tangan kanan dan hanya merupakan sebuah simbolik.
Ketika dia muncul kembali entah disuatu tempat, bibir gadis itu tidak bisa menahan untuk mengembang menjadi sebuah senyuman lebar penuh dengan kepuasan yang terkesan lega dan menyenangkan.
"Seperti aku tidak pernah memiliki kesempatan ini sebelumnya.
Tangan kanannya terangkat untuk membunyikan sebuah jentikan jari, bersamaan dengan memudarnya warna perak rambutnya, tergantikan oleh helaian rambut hitam yang benar-benar kontras dengan kulit pucatnya. Sepasang manik putihnya disembunyikan dibalik kelopak matanya, sebelum ketika ia membuka pandangannya, sepasang manik hijau itu mampu menyedot orang dalam pesonanya.
Penampilannya sederhana, namun bahkan dengan penampilan normal dan sederhananya yang tidak mewah, ia masih nampak begitu mempesona, misterius hingga membuat orang ingin dekat dan menyelaminya.
Ia bergumam dengan senang. "Mari bersenang-senang!"