
Hari Ketujuh, Bulan Kedelapan, Musim Panas
Iloania melangkah mengikuti remaja yang mengepalkan tangannya dengan emosi yang tertahan. Sudah satu jam dia berputar-putar, dan satu jam pula Iloania mengikutinya, yang jelas membuatnya tak nyaman dan kesal. Apakah gadis itu akan memanfaatkan dirinya? Mengancamnya dengan akan menyebarkan bahwa dirinya adalah pencopet? Dan akan memerasnya?
Tetapi bahkan dari penampilannya saja terlihat bahwa dia adalah anak dari keluarga berkelas tinggi.
Hari ini benar-benar hari yang paling sial baginya!
Ia berhenti dan berbalik secara tiba-tiba, "Berhenti mengikutiku!"
Hanya saja ketika dia berbalik, dia menyaksikan Iloania berada beberapa meter darinya. Bersandar didinding dengan deru napas samar yang seirama dan teratur. Remaja itu bingung, melangkah mendekatinya dan dengan penuh kehati-hatian menggoyangkan bahunya.
Tak ada tanggapan dari Iloania dan hal itu mengundang kepanikan untuk remaja itu. Apakah sebenarnya gadis ini kelelahan karena mengikutinya dan pingsan?
Pemuda itu mendapati fakta bahwa Iloania hanya tertidur. Merasa lega dihatinya, sebelum menghela napas dan bangkit berdiri. Ia menatap sesaat sekelilingnya dan bergerak meninggalkan Iloania yang tertidur itu.
"Aku harus segera pergi. Atau mungkin saja gadis itu akan memanfaatkanku." Batinnya sembari berjalan.
Dia menghentikan langkah kakinya. Entah seberapa jauh dia sudah berjalan, kakinya tiba-tiba terpaku. Ada hal yang memaksanya untuk berhenti, menolak untuk melangkah. Sebelum tetes air kran jatuh, pemuda itu telah membalikkan tubuhnya untuk kembali.
"Hey-hey, lihatlah.. Wajahnya sangat cantik!" Ada seorang pria berdiri didekat Iloania, menunduk untuk memandangnya.
Temannya yang mabuk berkata sembari menggoyangkan kendi anggur bahan kulit ditangannya dan tertawa menjijikan. "Benar sobatku. Kita bisa bersenang-senang lagi malam ini. Hehe, kau duluan saja, aku akan menyelesaikan minumku, hehe.."
"Hentikan!"
Sebelum pria pertama mengulurkan tangannya kearah Iloania, sebuah suara lantang membuat keduanya menoleh dan mendapati pemuda itu memandang mereka dengan tajam, namun tak menyembunyikan jejak ketakutan dan kegugupannya. Sama sekali tak ada yang menyadari, cahaya keemasan memendar samar dijemari Iloania.
"Aku, kembali.." Suara berintonasi rendah itu membuat seorang gadis cilik yang tengah berkutat didapur segera keluar dengan senyuman.
"Kak Zuha, selamat datang! Eh!! Siapa yang kakak bawa?!" Dia dengan terkejut bertanya dengan cemas saat melihat kakaknya kembali dengan seorang gadis digendongan punggungnya. Segera dia menghampiri Yazuha yang meletakkan Iloania disofa.
"Kak, siapa? Dan kenapa wajah kakak begini?" Tanyanya lagi.
Yazuha menggelengkan kepalanya dengan wajah babak belur, "Kakak tidak tahu. Kakak menemukannya tergeletak dipinggir jalan dan hampir diganggu preman." Lebih baik tidak memberitahu adiknya bahwa dia adalah seorang pencopet.
"Ah, jadi kakak melawan preman itu?" Tanya gadis itu.
Yazuha tidak membalas, justru menyuruh adiknya. "Ize, tolong bawakan kompres dan obat ya."
Ize patuh, menganggukkan kepalanya dan segera berlari kecil kedapur untuk mengambil air kompresan yang diminta saudaranya. Yazuha menyeka pelan darah diujung bibirnya dengan lengan bajunya dan mengambil selimut untuk Iloania.
Setidaknya, itu hampir sama seperti adiknya.
"Apa kakak tahu namanya?"
Ize mendapatkan gelengan kepala Yazuha, "Tidak. Aku tak sengaja bertemu dengannya Ize. Tidakkah mustahil kakak tahu namanya saat bahkan dia tak sadar saat kakak menemukannya?"
Ize menganggukkan kepalanya paham, "Aku mengerti. Tapi apakah kakak cantik ini terluka? Dia tidak membuka matanya selama tiga hari. Apakah dia baik-baik saja?"
Ia menatap jam bundar ditangannya dan bangkit berdiri membuat Ize mendongak menatapnya, "Kak Zuha akan pergi?"
Yazuha menganggukkan kepalanya, memandang wajah bundar adiknya yang manis dan tak bisa menahan untuk tidak mengulurkan tangannya mengacak surai legamnya. "Kakak hanya akan keluar sebentar. Tolong jaga kakak ini sebentar selama kakak diluar ya."
"Ize ingat apa yang harus Ize lakukan jika ada orang asing mengetuk pintu?" Tanya Yazuha.
Ize tersenyum lebar, "Harus bersembunyi darinya!" Jawabnya.
"Bagus. Nah, kakak pergi dulu, ya~" Kata Yazuha sembari melangkah keluar dan melambaikan tangannya.
"Cepat pulang ya, kak!"
Ize sekarang memiliki tugas menjaga Iloania yang terbaring ditempat tidur sederhana itu. Ize hanya tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya dan melambaikan tangannya, membiarkan Yazuha menghilang tertelan pintu.
"Dimana barangnya?" Ada seorang pria berjubah, mengulurkan tangannya.
Yazuha menurunkan topi yang dikenakannya, menutupi wajahnya dibawah bayangan. Dia merogoh sakunya dan menyerahkan sebuah gulungan kepada pria misterius itu, sebelum sekantung koin emas berakhir ditangannya. Dia kemudian dengan samar menyaksikan pria itu menghilang dibalik bayang-bayang, dan dia sendiripun berbalik.
"Ini bayaranmu untuk minggu ini. Akan ada bos besar lain minggu depan. Datanglah tepat waktu." Bos rumah informasi itu memberikan sekantung kecil uang kepada Yazuha.
Pemuda itu menerimanya dengan anggukan kepala dan melangkah pergi. Bukannya dia tidak tahu bahwa dia dimanfaatkan dengan bayaran sekecil ini. Tak hanya tugasnya beresiko, itu berbahaya di tingkat-tingkat tertentu. Tetapi demi sekeping uang, dia melakukannya. Bukan keinginannya sendiri bekerja sama dengan mereka. Oh, bahkan jika dia bisa, dia akan melakukannya sendirian.
Sayang sekali dia tidak memiliki koneksi dengan orang-orang seperti bos gemuk yang tamak itu.
"Bos, ini sebenarnya informasi yang baik. Anak itu secara alami memang berbakat sebagai pencuri, haha!"
"Benar, kita benar-benar bisa memanfaatkannya sebagai mesin pencetak uang. Ckck, dia sangat bodoh." Suara-suara itu bergema, dan tawa terdengar ketika Yazuha telah pergi beberapa saat lalu.
Ada seseorang yang mendengarkan perbincangan mereka dibalik pilar kayu. Segaris luruh bibir yang ditekan, sebelum seringaian dingin dia tampilkan.
"Orang-orang jahat."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
15/05/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux