Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 2 "Aku Akan Menolongmu"


Pria besar itu menatap nyalang Iloania. Sementara beberapa dari mereka nampak menatap ngeri pada Iloania yang mengatakan dan melakukan yang sangat berlawanan. Iloania mengalihkan tatapannya pada bocah laki-laki berambut cepak yang menatapnya dengan tatapan takut, cemas, gelisah dan dipenuhi emosi lain yang nyata. Bibir Iloania melengkung dengan manik melembut. Tatapan itu membuat anak laki-laki tadi tertegun dan kehilangan semua perasaan takut dan cemasnya.


Kakak itu tidak berbahaya!


"Jhio! Bunuh j*lng itu! Cabik dia sampai mati!" Pria besar hitam menyuruh serigala hitam dengan mutlak.


Serigala hitam mengunci Iloania dan berlari secepat angin. Menerjang Iloania dengan taring-taring tajamnya dan dengan cakar tajamnya serigala itu hendak mencabik Iloania. Kobaran api menyala dimata serigala. Elemen serigala hitam adalah api. Manik hijau bocah itu melebar. Jantungnya berdentum berkali-kali lipat lebih cepat dan juga kuat.


"Kakak!!" Jeritnya ketika justru Iloania menyunggingkan senyuman dan mengangkat tangan kirinya.


Cahaya keemasan memendar lembut, membuat tubuh serigala hitam berhenti dan terserap dengan pelan kedalam cincin dimensinya. Para pria besar yang menyaksikan membelalak.


Pria besar berteriak, "Dasar! Kembalikan binatang sihirku! Kembalikan!"


"Kembalikan? Baiklah."


Berujar ringan, Iloania kembali memendarkan cahaya keemasan lembut dari cincinnya. Serigala hitam muncul didepannya dengan kondisi yang benar-benar berbanding terbalik dari awal. Serigala itu bersimpuh dengan mata merah yang dipenuhi ketakutan. Gigi-gigi runcing bergemeletuk karena takut, bukan karena amarah. Tubuh besar itu bergetar. Selayaknya kucing dan anjing, serigala itu menyembunyikan ekornya dibawah tubuhnya dan menggigil dengan takut. Tidak biasa!


"Jhio! Serang dia!"


Seriala hitam tidak mendengarkan. Seolah tuli menurunkan telinganya, serigala hitam memecah segel kontrak didahinya. Melolong kesakitan, serigala hitam langsung berlari pergi. Sakitnya tidak seberapa! Binatang sihir itu kuat. Pria besar pemilik serigala hitam memuntahkan seteguk darah kental. Efek samping dari pemecahan segel kontrak antara manusia pemilik sihir dan binatang sihir.


Iloania bahkan tak bergeming dari tempatnya, ketika para pria besar itu menatap aneh padanya. Penuh emosi dan kemarahan. Tapi disana juga ada sesuatu. Ancaman. Mereka mungkin tak akan langsung takut pada Iloania, namun mereka menangkap Iloania sebagai ancaman dan menaikkan sedikit kewaspadaan mereka. Itu adalah binatang sihir tingkat 5, mengapa dia lari setelah masuk dalam cincin dimensi milik gadis yang terlihat polos dan manis itu?!


"Siapa kau?!" Pimpinan mereka bertanya dengan tajam.


"Siapa aku?" Beo Iloania.


Iloania mengulum senyuman. "Iloania Rexelite, kalian bisa memanggilku Iloania."


...***...


Nampak seorang pemuda rupawan menyibukkan dirinya dengan tumpukan kertas yang ada didepannya. Maniknya menampakkan kejenuhan meskipun wajahnya tetap pada wajah datar tanpa ada ekspresi. Lasius, dingin dan misterius layaknya bunga mawar. Tak banyak bicara adalah poin dari Lasius.


"Tuan, satu bawahan melaporkan adanya pergerakan dari Kelelawar Hitam dikota Andes, Tenggara distrik 11. Peluk waktu lebih dari satu minggu untuk kesana menggunkan kereta. Jari lebih baik anda memanggil Hallias."


Lasius memperhatikan pengawal sekaligus tangan kanannya itu sesaat sebelum meletakkan kertas yang ada ditangannya keatas meja.


"Aku akan pergi sendiri. Urus masalah yang ada disini, aku akan kembali dalam beberapa hari." Lasius berujar sembari bangkit berdiri, meraih jubah hitamnya dan mengenakan kalung berliontin kristal merah dilehernya.


Itu adalah benda dimensi.


Zalion menatap Lasius yang kini bergerak menuju jendela. "Berhati-hatilah, tuan. Beliau bisa membunuh saya bila terjadi sesuatu dengan anda."


"Artinya kau bisa bertemu Dewa," ucap Lasius.


Sudut bibir Zalion yang menyunggingkan senyuman berkedut. "Jika anda mati saya akan langsung melarikan diri. Tuan tenang saja, tuan akan menjadi yang pertama bertemu Dewa."


Lasius terkekeh kecil sebelum beriul dengan nyaring. Sesuatu melesat dengan cepat kearahnya. Seberkas cahaya berhenti dihadapannya, melebar. Cahaya itu membentuk sepasang sayap dan seekor burung phoeniks yang diselimuti cahaya putih. Helaian sayap itu memiliki kilauan ungu disekitarnya.


"Hallias, bawa aku ke kota Andes distrik 11!" Perintahnya.


Phoeniks menjawab dengan seadanya, "Baik tuan."


Dan melesat melewati cakrawala menuju distrik 11. Distrik yang berada diwilayah paling Selatan kerajaan Alete. Manik ungu penuh dingin itu menyorot dengan datar apa yang ada dibawah dan depannya. Tujuannya adalah kota Andes, maka dia akan tiba dalam semalam. Terbang mengendarai phoeniks tingkat 8 akan sangat memudahkannya menghemat waktu perjalanan. Lagipula phoneiks itu sangat cepat, jadi meski membutuhkan 1 minggu lebih menggunakan kereta, ia bisa mempersingkatnya menjadi 1 hari saja.


...***...


Pria-pria besar menatap tajam Iloania, "Kau akan membayar perbuatanmu!"


"Membayar perbuatanku? Dia yang meminta kehangatan, kenapa kalian marah saat dia sudah hangat?" Tanya Iloania.


"Kau membakarnya! J*lang!"


"Kau akan berhadapan denganku, bocah!" Ucap pria besar itu.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Tujuh kutu kecil akan terhempas angin karena berbuat jahat. Lindungi kepala dan pantat kalian." Ujar Iloania membuat mereka mengernyit.


"Omong kosong ap- Aahhhhh!!!" Pria itu menjerit kaget saat tubuhnya tiba-tiba terhempas oleh angin kuat dan terhempas menjauh dari tempat itu.


Suara pekikan juga diteriakkan oleh pria besar lain, yang terdorong tinggi dan jauh. Erangan kesakitan dan pekikan histeris terdengar setelah mereka hilang dari pandangan Iloania dan si bocah. Meninggalkan Iloania yang mengulas senyuman.


"T-Terima kasih, kak! Sudah menyelamatkanku." Kata anak itu sambil berlutut disamping Iloania.


Iloania menoleh. Tangan kirinya mengayun keatas secara lembut, bersamaan dengan munculnya piringan hitam yang sama dengan cara muncul seperti pusaran pasir yang memadat. Piringan itu kemudian melayang dan membawa bocah itu duduk diatasnya.


"A-Ah! Apa ini?!" Kaget bocah itu.


"Tidak apa, tenanglah. Siapa namamu?" Tanya Iloania membuat si bocah tenang.


"N-Namaku Raynen."


Iloania memiringkan sedikit kepalanya, "Raynen? Apa yang terjadi sampai mereka mengejarmu?"


Raynen nampak menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang memburuk dengan air mata. Raynen tidak bisa mengatakan apa yang ada dibenaknya. Terlalu takut untuk kembali dikecewakan ketika dia menginginkan bantuan. Melihat ketakutan dimata Raynen, Iloania menyentuh pundak Raynen dengan hangat.


"Tidak apa, katakan saja. Kakak pasti akan membantumu." Ucap Iloania dengan senyuman.


"Hiks.. Hiks.. A-Adikku. Mereka menangkap aku dan adikku. Mengurung kami bersama anak-anak lain dan menyiksa kami. Hiks.. mereka akan menjual kami. Hiks.. Aku dijual, tapi aku berhasil melarikan diri dan berniat membawa adikku. T-Tapi aku ketahuan dan adikku menyuruhku lari. Huuu~" Tangis Raynen.


Ia mengusap matanya. "A-Aku mencoba mencari bantuan namun polisi militer bahkan tak berani menolongku. Mereka mengabaikanku karena aku melihat mereka telah disuap! Kami bukan berasal dari sini, tapi mereka membawa kami ketempat yang asing dan sangat jauh untuk dijadikan budak orang kaya!"


Dalam satu tarikan, Raynen sudah ada dalam pelukan hangat Iloania. Pelukan yang membuatnya tak bisa menahan air matanya yang selalu ia tahan didepan sang adik. Pelukan yang sama seperti pelukan sang ibu, tempatnya berkeluh kesah. Iloania mengusap belakang kepala Raynen dengan lembut, membisikkan kata-kata menenangkan dengan hangat.


"Tidak apa, tidak apa. Kakak akan menolongmu. Aku akan menolongmu." Bisik Iloania.


"Huaaaa!!! Tolong adikku! Kumohon tolong adikku. Aku akan melakukan apapun sebagai balasannya. Kumohon.." Ucap Raynen melirih.


Iloania mengusap kepala Raynen. "Aku akan menolongmu. Membawa adikmu padamu. Dan mempertemukanmu dengan keluargamu. Percayalah, aku berjanji."


"Janji?" Beo Raynen lirih.


Iloania mengangkat jari kelingkingnya dan menyatukannya dengan kelingking kurus milik Raynen, "Janji."


Senyuman dibibir Raynen terbit. Ia menemukan sebuah harapan. Harapan kembali tumbuh dibenaknya. Adiknya, ibunya dan kakaknya. Dia akan bertemu dengan mereka kembali.


"Sekarang ayo obati lukamu. Setelah itu ceritakan dengan detil apa yang menimpamu. Oke?" Kata Iloania.


Raynen menganggukkan kepalanya. Sementara Iloania membawanya mengambang tinggi dengan piringan hitam itu. Awalnya Raynen ketakutan setengah mati dan tak melepaskan tangan Iloania, namun setelah beberapa saat, Raynen melepas tangan Iloania dan tertegun melihat pemanangan luas dibawahnya.


"Hebat." Gumamnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


20/04/2021


Jangan lupa beri dukungan tiap sudah membaca chapter~


Makasih banyak...


@LuminaLux