
Ketika semua orang tersadar, Tuan Topeng Bambu menurunkan tangannya yang memiliki jejak cahaya biru keunguan. Orang-orang menghela napas lega, sementara dan terkejut melihat Tuan Topeng Bambu, sementara anggota pasukan APA sedikit terkejut melihat ada penyihir diantara mereka. Meskipun mereka menyadari bahwa pria bertopeng itu bukan orang asli Alvatro karena penampilannya yang seperti tinggi orang suku Alvatro normal, tapi mereka tidak berpikir bahwa dia adalah penyihir. Karena kenyataan, bahwa orang-orang Alvatro membenci penyihir sejak dulu.
"Dasar sialan! Kalian ingin membakar kami?!"
"Kalian benar-benar menantang! Meski kami tak bisa menggunakan sihir, coba ingat bahwa kami adalah petarung tangan kosong terbaik didunia! Kami bahkan bisa menghancurkan tengkorak kalian dengan satu tangan!!" Maki seorang pria.
Yang lain turut bersorak penuh amarah, "Benar! Pergilah!!"
Tuan topeng bambu melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar semuanya tenang. "Tolong tenang semuanya."
"Ini hanya sebuah pemeriksaan demi keamanan kita sendiri. Benar seperti yang dikatakan oleh nona ini, tidak ada yang tahu apa yang bisa terjadi jika benar buronan itu berbahaya, dan ada disini." Kata Tuan Topeng Bambu.
Ia memandang kearah Ayoca dan berbicara dengan nada tanpa sedikitpun keramahan, "Tetapi kami dapat meyakinkan bahwa kota kami aman. Jika bahkan benar orang yang kalian cari ada disini, itu karena kelalaian kalian dalam menjalankan tugas, hingga orang itu bisa kabur. Kami akan bekerjasama dengan kalian."
"Tapi Voun-" Ada seseorang yang ingin memprotes, namun melihat lambaian tangan pria bernama Voun itu, ia hanya bisa menelan kembali protesannya.
Voun, Tuan topeng bambu itu membuka mulutnya kembali, "Kami akan memberi kalian waktu 60 detik untuk memeriksa tempat ini. Jika kalian tak menemukan apapun, segeralah pergi, atau mereka tak akan bisa menahan amarah mereka."
Ayoca yang merasa akan membuang waktu jika berterima kasih dan berbasa-basi, segera berbalik, "Kirimkan suar."
Seseorang dibelakang dengan cepat menjawab, dan mengeluarkan suar yang segera meluncur keatas dan membentuk bunga warna biru yang artinya mereka diizinkan untuk bergerak. Alvatro telah dikepung, dan setelah mendapat perintah untuk bergerak, mereka segera melesat menggeledah rumah demi rumah. Bahkan rumah yang masih memiliki orang didalamnya.
"Apa yang kalian lakukan dirumahku!"
Mereka menjawab, "Kami diizinkan melakukan pemeriksaan. Pemimpin desa ada digerbang dan telah memberi izin. Tolong kerjasamanya."
Mendengar kata-kata itu, mereka yang terkejut bahwa rumah mereka dimasuki dan diperiksa segera berkumpul dan bergegas menuju gerbang untuk menemukan sebagian besar penduduk Alvatro berdiri berkerumun didekat gerbang desa. Meski bukan pemimpin desa, nampaknya Zaree dan Voun telah memberi izin.
Zaree berbisik didekat Voun, "Apa yang kau lakukan? Apakah menurutmu Iloania dan Lasius sudah pergi?"
Voun diam, dan memandang kearah barat. Memandang langit petang yang menyembunyikan sang raja siang dibalik gugusan pegunungan yang menjulang.
"Semoga saja." Gumamnya samar.
Dilain tempat, suara napas tersengal-sengal membuat suasana sedikit mencekam. Beberapa pria berbadan besar mengepung seorang pemuda bertubuh kurus yang kini dipenuhi lebam. Sepasang manik kelabu semu itu memandang kosong kedepan.
"Cough! Cough!!" Pemuda itu terbatuk dan memuntahkan darah.
"Dasar sampah! Berani-beraninya menolak tawaranku! Lebih baik kau kuhabisi saja!" Pria yang paling tinggi menendang perutnya, membuat pemuda itu terbatuk dan tersungkur.
"Sepertinya aku akan mati. Ize, maafkan kakak." Batinnya.
"Matilah!" Pria itu mengangkat bongkahan batu dengan sihir dan siap melontarkannya pada pemuda itu, namun dalam sepersekian detik itu gelombang cahaya muncul dari goresan-goresan hitam ditubuhnya. Dari ujung kakinya hingga ujung kepalanya.
Pria-pria itu terkejut dan terdorong beberapa meter kebelakang. "Akh! Br*ngsek!"
Setelah terjatuh, mereka dengan cepat mengambil posisi berdiri siaga, memandang sengit dan waspada pada pemuda itu, yang masih memiliki cahaya. Untuk beberapa saat kemudian, cahaya itu perlahan memendar dan mengungkap sosok Lasius yang membantu Iloania bangkit berdiri.
"Sialan! Darimana asal kalian?!" Seseorang diantara mereka memekik.
Lasius melirik mereka dingin, sementara Iloania terpaku menatap pemuda yang ada didekatnya. Sepasang manik emas itu melebar penuh keterkejutan, "Ka-Kak Zuha?!"
Yazuha, diambang ketidaksadarannya, samar-samar mendengar seseorang meneriakkan namanya. "Si-Siapa?" Lirihnya.
Malam menyingsing. Suara burung berkicau terdengar bersahutan, dan angin pagi menyebarkan semerbak aroma bunga yang samar. Ada cahaya samar didalam sebuah bangunan rumah sakit dikota itu. Diranjang tunggal itu, sosok pemuda bersurai hitam itu terbaring dengan plester luka diwajahnya.
"Apa dia sudah sadar?" Tanya Lasius yang duduk didekat jendela.
Iloania disamping ranjang menggelengkan kepalanya, "Mungkin sebentar lagi. Dokter juga berkata lukanya tidak parah."
"Apakah segel itu kamu tinggalkan padanya? Kukira kamu meninggalkannya dibangunan atau dibenda mati." Kata Lasius.
Ia melanjutkan, "Aku tidak menyangka segel teleportasi dapat digunakan dimakhluk hidup. Terlebih manusia."
"Aku juga belajar dari guru." Kata Iloania tersenyum.
Melihat senyuman itu, Lasius tak bisa menahan lengkungan bibirnya pula. "Gurumu sangat hebat."
Iloania tersenyum semangat, "Tentu saja guruku sangat hebat."
"Kamu sangat mengagumi gurumu, ya?" Tanya Lasius dengan senyuman.
Iloania mengangguk, "Tentu saja."
"Guru menerimaku dan bersedia merawatku. Meskipun lima tahun bukanlah waktu yang lama, tetapi, cukup bagiku untuk mengaguminya sebagai seseorang yang paling berarti dalam hidupku." Kata Iloania.
"Ugh.." Iloania dan Lasius sama-sama berbalik, menoleh untuk mendapati pergerakan dari ranjang.
"Kak Zuha sudah sadar. Apakah ada yang tidak nyaman?" Iloania bertanya dengan khawatir.
Sementara objek yang ditanyai justru bertanya-tanya didalam hatinya yang penuh dengan kebingungan. "Apakah aku tidak mati? Bukankah aku tadi sudah akan mati? Dimana aku? Siapa yang memanggilku tadi? Kenapa dia tahu namaku ?"
Pemuda itu membuka belahan bibirnya yang kering, "Di-Dimana aku? Dan siapa kau?"
Iloania meraih tangan kanan Yazuha dan berkata, "Ini aku kak. Iloania!"
Untuk saat itu, tubuh Yazuha menegang. Maniknya melebar dengan pupil kosong itu menyempit. "I-Ilo? I-Iloania?!"
Yazuha jelas mengingat satu nama itu. Iloania Rexeite. Orang yang sama yang menemukannya ditempat itu, dan menariknya dari keputusasaan dan dari kegagalan.
"Itu kamu!!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
09/05/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux