
Iloania mencoba bangkit berdiri. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan menahan batuk darahnya. Tendangan sekuat itu, membuat punggungnya yang menghantam pohon hampir mati rasa.
"Jika kau bersedia ikut dengan kami, tidak akan ada kekerasan disini." Hisso berkata kepada Iloania.
Iloania menyipitkan matanya. Ia tahu bahwa dua orang ini adalah salah satu bawahan Raja Iblis. Iloania merasakan aura yang sama dalam darah mereka, meskipun lebih lemah. Iloania mengepalkan tangannya. Raja Iblis pasti memerintahkan mereka untuk menangkapnya. Tetapi jika ia tertangkap, dunia bisa hancur dengan sisa kekuatannya yang belum didapatkan oleh Raja Iblis.
Iloania mengangkat tangannya dan melemparkan serangan angin sembari bergerak melompat mundur untuk menjauh dari Hisso.
"Elemen angin: Tebasan Silang!" Gumamnya sembari menyabetkan tangannya menyilang.
Bersamaan dengan gerakan dan gumamannya, hempasan angin yang bahkan dapat memotong pohon melesat kearah Hisso yang diam tak bergeming. Pria berambut ikal hitam itu menatapnya tajam dengan sepasang manik kosong, sebelum mengangkat tangannya dan menyerap serangan Iloania.
Sesaat setelah serangannya diserap, lingkaran ditelapak tangannya memendar, sebelum serangan yang sama dikembalikan berkali-kali lipat kuatnya kearah Iloania.
Memasang barrier angin disekelilingnya, Iloania masih tertolak beberapa meter dengan beberapa luka sayatan yang didapatkannya. Dibelakangnya, semua pohon dalam radius sepuluh meter terpotong dan tumbang.
"Dia mengembalikan seranganku? Bahkan serangannya lebih kuat." Batin Iloania terkejut.
Iloania menggunakan nalurinya untuk menghindari Hisso yang datang menyerangnya. Tiap tendangan yang diarahkan padanya ia hindari dan beberapa kali Iloania mencoba melawan balik. Kenyataan yang paling sulit bagi Iloania adalah fakta bahwa dia lemah dalam pertarungan fisik yang mengandalkan tenaga. Terlebih setelah kehilangan hampir semua kekuatannya, ia bak dilahirkan kembali dengan level kekuatan yang jauh dibawah.
Tak ayal dengan keadaan saat ini, Iloania mendapatkan pukulan dan tendangan dengan mudahnya.
Srug!
Terpental dan tersungkur ditanah, Iloania cepat-cepat mengusap darah disudut bibirnya dan bangkit berdiri. Dia mengangkat kedua tangannya,dan menggunakan sihir anginnya untuk menciptakan serangan yang lebih kuat.
"Elemen angin: Badai Penghancur!" Gumamnya.
Awan dilangit nampak berputar perlahan sebelum kemudian berputar dengan cepat. Angin berkumpul dan mengelilingi tubuh Hisso. Dan bahkan dari jarak jauh, Lasius dan Eavy dapat merasakan efeknya.
"Ilo?" Batin Lasius menatap kearah dimana Iloania berada.
"Lawanmu ada didepanmu, bodoh!" Ucap Eavy sebelum menyerang kembali menggunakan boneka mayatnya.
Serangan boneka mayat itu sangat ganas. Bagian tubuhnya menumbuhkan senjata panjang yang dapat melukai dalam sekali tebasan. Lasius menangkisnya menggunakan pedang dan menebas lengan boneka mayat itu.
"Percuma saja. Aku bisa memperbaikinya." Kata Eavy sebelum memainkan jemarinya dengan gerakan yang lebih lambat.
Potongan tangan yang tergeletak diatas tanah tertarik benang berwarna kemerahan, dan menyambungkan lagi setelah bertemu dengan bagian lain dari potongannya.
"Benar-benar tidak memiliki jejak." Batin Lasius.
Eavy menyeringai. "Sangat baik untuk menjadi abadi. Jadi, apakah kau bersedia menjadi salah satu dari bonekaku?"
Lasius mengangkat sudut bibirnya dan mencemooh sebelum mengangkat pedangnya dan mengalirinya dengan energi sihirnya. "Dalam mimpimu."
Eavy melompat mundur dan mendarat diatas pohon. "Keras kepala."
Disaat bersamaan, Hisso telah terperangkap didalam badai yang diciptakan Iloania. Badai ini bukan badai biasa. Siapapun yang ada didalamnya akan seperti tertekan karena kekurangan oksigen. Selain itu, serangan angin akan langsung dilancarkan kepada siapapun yang ada didalamnya.
Iloania berlutut dan menyangga tubuhnya dengan sebelah tangan sebelum terengah.
Setidaknya ini bisa menghambat iblis itu untuk sementara waktu.
"Berpikir serangan seperti itu bisa menjebakku?" Sebuah suara dibelakang Iloania membuatnya terkejut dan menoleh, sebelum sebelum sesuatu menjerat lehernya.
Iloania tercekik, dan tubuhnya terasa terangkat. Sulur bewarna kehitaman itu mengikuti gerakan tangan Hisso dan mencengkram leher Iloania dengan kuat, hingga membuat wajah gadis itu memerah kesulitan bernapas.
"Ughh!! Le—paskan!!" Geram Iloania mencoba meloloskan, dirinya.
Iloania kesakitan. Darah mengucur dari kepalanya. Darah mengucur dari punggungnya yang terkena serpihan pohon yang hancur. Ada jejak cengkraman dilehernya sebelum kembali tertutup ketika Hisso meraihnya kembali.
"Aku diperintahkan untuk membawamu dalam keadaan hidup atau mati. Jika kau tidak ingin pergi secara baik-baik, maka aku hanya perlu membawa mayatmu." Kata Hisso dingin.
Iloania tidak mengatakan apa-apa. Tangannya terangkat mencengkram balik sulur yang mencekik lehernya. Wajah itu terangkat, dan sepasang manik kosong itu menatap Hisso dengan penuh tekad dan tujuan.
Iloania bergumam. "Beku!"
Dari tangannya, kristal mencuat dan membekukan sulur itu. Mendekat dan mendekat dengan cepat menuju Hisso. Pria itu menyipit, sebelum dengan paksa memotong sulurnya sendiri dengan kuku-kuku tangannya yang meruncing. Darah menetes dari sulur yang terpotong, dan Iloania tertunduk. Ia meraih sulur dilehernya dan menariknya.
Iloania mengencangkam kepalan tangannya sebelum dia menyentak tangannya bersamaan dengan munculnya serpihan-serpihan kristal ditangannya.
Menggunakan energi sihir anginnya tanpa disadarinya, kristal itu bergerak lebih cepat dari serangan biasa dan bahkan cukup kuat untuk membuat lubang menganga ditanah.
Tak! Tak!
Serpihan kristal yang dihindari Hisso menembus pohon dan mendarat ditanah. Menatapnya, Hisso mengangkat tangannya dan menggunakan sulurnya untuk meraih kristal Iloania dan menyerapnya. Hisso memandang Iloania dan mengembalikan serangan kristal Iloania dengan kecepatan dan kekuatan yang hampir setara dengan milik Iloania sebelumnya.
"Kukembalikan." Gumamnya.
Iloania menggunakan kristal yang sama untuk menangkis serangan kristal berwarna kehitaman itu. Keduanya bertabrakan diudara dan hancur menjadi serpihan kecil sebelum lenyap ketika menyentuh tanah.
Iloania berlari menyerang Hisso, mengangkat tangannya mengeluarkan serangan sihir anginnya. Hisso memandangnya datar sebelum dengan mudah menghindarinya dan mencengkram leher Iloania sebelum membantingnya ketanah.
"Aghh!" Tersentak, Iloania merasakan rasa sakit hingga ketulang-tulangnya.
Ia kesulitan bernapas dan paru-parunya seakan ditekan menggunakan batu. Sangat menyesakkan hingga rasanya seperti dia akan mati didetik berikutnya. Hisso membuka mulutnya berkata, "Kematianmu adalah untuk memuliakan Yang Mulia. Berbanggalah, manusia rendahan."
Pendengaran Iloania berdengung. Ia hampir tak bisa mendengar suara apapun disekelilingnya, dan napasnya hampir berhenti ditenggorokannya, sampai sebuah suara bergema dikepalanya.
"Aurea ..."
Iloania melebarkan matanya dan menghantamkan tangannya ketanah. Bersamaan dengan itu, bongkahan kristal tajam muncul dari tanah dan menjebak Hisso didalamnya. Menusuk diperutnya hingga membuatnya menjerit.
"Hoakhh!!" Jeritnya merasakan rasa sakit yang mendera perutnya, ketika sebongkah kristal menembus perutnya hingga kepunggung.
Disisi lain, Iloania yang terbebas melengkungkan dadanya dan segera bernapas. Terlentang ditanah, Iloania menarik napasnya dengan cepat. Kepalanya tertoleh kekanan dan kekiri beberapa kali, dan wajahnya memerah. Jika beberapa detik lagi saja Hisso masih mencengkram lehernya, Iloania tidak bisa memastikan apakah dia masih akan bisa hidup.
"Hah! Hah! Ugh! Hah!" Suara Iloania meraup udara sebanyak-banyaknya.
Iloania perlahan bangkit, menyeret tubuhnya menjauh dari Hisso yang mencoba membebaskan dirinya dari kristal itu sebelum mengangkat tangannya.
"Elemen angin: Pisau Pembelah!" Gumamnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
29/06/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux