Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 42 "Hari Kesepuluh, Bulan Ketiga, Musim Dingin"


"Latihan kedua adalah berjalan melewati jembatan itu sampai keujung. Maka latihan kedua selesai."


Lasius terdiam mendengar perkataan Vleia. Jembatan itu adalah jembatan kayu yang berdiri diatas aliran air yang tenang. Jembatan itu sendiri selebar satu meter dengan panjang dua meter. Latihan kali ini .. hanya perlu melewati jembatan itu?!


Tapi tunggu, mengingat kejadian diair itu, Lasius tak berpikir untuk meremehkan hal sekecil ini. Siapa yang tahu, ketika dia sedang berjalan, ada sesuatu yang terjadi atau muncul.


"Manusia, kau duluan."


Iloania menepuk pundak Lasius, "Semangat kak Sius. Jangan cemas, oke?"


"Tidak." Jawab Lasius dengan senyuman tipis.


Lasius melangkahkan kakinya dan berhenti sejajar dengan jembatan dihadapannya. Ia menghela napas dan sedikit bergerak maju, bersamaan dengan gerakan ia mengangkat kaki kanannya untuk menginjak jembatan. Langkah pertama, ketika Lasius menoleh kebelakang, Iloania masih memandangnya dengan senyuman. Sementara Vleia memandangnya dengan tatapan tajam seperti biasanya. Langkah kedua Lasius merasakan perasaan aneh meliputi dadanya dan membuat tubuhnya begitu berat, dan berat. Ketika ia menoleh kembali kebelakang, sosok Iloania menghilang, tergantikan kegelapan yang menjebaknya dalam ruang hampa. Bahkan, ketika ia menatap kebawah kakinya, jembatan kayu itu sudah menghilang tanpa jejak.


Lasius bertanya-tanya, dimanakah dirinya. Dan menerka-nerka apakah ini adalah bentuk pelatihannya? Apakah tugasnya adalah menemukan jalan kembali?


Hahahaha...


Hahahaha...


Suara tawa itu membuat Lasius mematung. Suara tawa yang menggelegar dan suara rintihan juga jeritan itu begitu jelas ditelinganya. Membuat wajahnya sedikit tajam dan kedua tangannya terkepal. Lasius terdiam selama dua detik sebelum dengan gerakan perlahan menolehkan kepalanya dan menatap apa yang ada dibelakangnya dengan mata lebar.


...***...


Iloania menatap cemas pada Lasius. Yang bahkan sudah melewati berjam-jam lamanya,masih berdiri dijembatan dengan tanpa kata-kata atau gerakan sedikitpun. Sampai suatu waktu, dimana dari tubuh Lasius, aura kehitaman melingkupinya dan dengan tekanan membuat Iloania tersentak.


"Itu .. apa?" Beonya.


Vleia memincingkan matanya dan bergumam dengan suara pelan, "Dia gagal disini."


Aura hitam makin menguar dan dengan gerakan aneh sedikit bergerak. Sebelum sepasang manik terbuka, Vleia mengulurkan tangannya dan menyentuhkan ujung jari telunjuknya kekening Lasius selepas berpijak dipinggiran jembatan. Ketika aura kehitaman itu menghilang dan kembali terserap kedalam tubuh Lasius, sepasang bulu mata lentik itu bergetar dan menampilkan manik ungu didetik berikutnya. Lasius mengerjab sesaat dengan wajah dingin, bukan hanya datar.


"Kau gagal disini. Aku tak melarangmu untuk kembali kejembatan ini, tapi kembalilah jika kau, memang sudah siap saja. Aku tidak ingin latihan Ilo terganggu karena kelemahan jiwamu." Kata Vleia dengan suara jernih, terdengar jelas.


Lasius menatap Vleia sebelum mengepalkan tangannya dengan kuat, bahkan sampai mengungkapkan kulit telapak tangannya yang memucat.


Lasius bergumam, "Aku .. akan kembali lagi kesini."


...***...


Keesokan harinya, Iloania memandang Xalien yang nampak menebar senyuman ramah didepan kelas. Banyak gadis menatap Xalien dengan rona merah muda dipipi mereka, merasa nyaman. Sementara laki-laki, nampak santai dan jauh dari kata tegang, Xalien, benar-benar guru yang hangat dan menyenangkan.


"Iloania, tolong datang keruang kepala sekolah setelah ini." Pertanyaan Xalien membuat Iloania yang merasa dipanggil menganggukkan kepalanya.


"Baik, sir~" Jawabnya.


Ketika Xalien telah melangkah keluar, Jissiana dan Miaka memandang Iloania dan sama-sama bertanya dengan penasaran yang terlihat.


"Kenapa kepala sekolah memanggilmu?" Tanya Jissiana.


"A-Apa .. kamu membuat kesalahan?" Tanya Miaka hati-hati.


Iloania menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu. Tapi lebih baik aku segera pergi. Mungkin saja sesuatu yang penting untuk dikatakan."


Jissiana dan Miaka mengangguk. "Mungkin saja. Hati-hati, ya?"


"Jie, seperti aku akan kemana saja." Ucap Iloania.


"Pokoknya tetap tenang!" Semangat Jissiana membuat Iloania dan Miaka tertawa kecil.


Ia meletakkan kertas itu diatas meja, "Bagaimana menurutmu?"


Manik emas Iloania menangkap lukisan naga yang luar biasa agung, dengan kesempurnaan dan aura yang begitu kuat dan menyebar. Iloania berkedip sekali, sebelum bibirnya menyunggingkan senyuman lebar.


"Sangat baik." Gumamnya.


"Apa kamu tahu Segel Naga Suci?" Pertanyaan itu membuat Iloania mendongak dan menggelengkan kepalanya setelah terlihat menimang selama dua detik dalam diam.


Gheorn mengangguk, "Nanti juga kamu akan tahu."


Iloania tertawa kecil. "Saya pikir kepala sekolah akan memberitahu saya. Yah, baiklah."


"Tidak. Ah, lalu bagaimana dengan Clareon?"


"Oh?" Iloania membeo.


Gheorn mengulas senyuman. "Bukankah ada sesuatu diantara kalian? Tidak ada titik buta bagi diarea saya di Dragonia Academy. Ah, tentunya terkecuali asrama. Saya bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi."


"Mn? Saya mengerti." Ucap Iloania.


...***...


Hari Kesepuluh, Bulan Ketiga, Musim Dingin


"Kenapa kakak membunuhnya?" Iloania kecil bangkit berdiri, menepuk pantat kecil terbungkus dress-nya dan memandang pemuda dihadapannya.


Pemuda itu bertubuh tinggi, wajar baginya memanggilnya kakak. Pemuda itu memiliki surai hijau gelap dengan sepasang manik kelabu yang kosong. Hanya saja, ketika Iloania melihatnya, ada sedikit rasa yang mengganjal didalam hatinya. Pemuda itu mengabaikan Iloania, diam membisu, kemudian tanpa kata berbalik dan berjalan dengan tanpa suara. Iloania mengernyitkan dahinya, sebelum menggerakkan kaki kecilnya untuk mengikuti pemuda dengan balutan mantel hitam berbulu itu.


"Halo, kakak~ Kenapa kakak tidak menjawabku?" Tanya Iloania.


Langkah kaki pemuda itu tidak begitu besar, juga tidak begitu cepat. Hingga Iloania, mudah untuk mengimbanginya. Iloania menyatukan tangannya dibelakang dan membungkuk, memiringkan kepalanya dan mendongak untuk melihat pemuda itu. Pemuda itu tampan. Dan Iloania menarik bibirnya membentuk senyuman.


"Sepertinya kakak pemalu~ Baiklah, hanya saja sepertinya membunuh itu terlalu kejam. Wanita tadi-"


Suara dingin jatuh, membuat ucapan Iloania tertahan. "Wanita itu sudah mati. Dia monster, dan kematian adalah satu-satunya cara kebebasannya."


"Pergilah."


Iloania sedikit tertegun, sebelum sadar dan kembali mengikuti pemuda bernama Gailes itu. "Memang wanita tadi terlihat seperti monster. Tapi kebebasannya bukan hanya dengan kematian. Ada, mungkin ada cara membuat mereka kembali normal. Itu hanya pengaruh, bukan murni."


"Mustahil." Dinginnya.


Iloania menatap Galies, "Kenapa kakak begitu yakin?"


Gailes tak menjawab. Diam membisu dan terus meneruskan langkahnya, dengan Iloania yang berada disampingnya. Sesekali melihat sekelilingnya, kota itu benar-benar kosong. Sebuah kota mati, yang membawa kesan tersendiri bagi Iloania.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


08/08/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux