
Langkah demi langkah mengikuti, Iloania mengikuti Gailes dan banyak kali berbicara. Meskipun hampir semua perkataannya diabaikan. Iloania melihat sebuah rumah pondok yang ada ditengah hutan bersalju. Rumah pondok dibangun dengan jerami dan bambu, ketika melihatnya, ada suasana aneh disana. Bukan suasana yang buruk, tapi hanya ada sedikit kehangatan disana.
"Kakak, ini tempat apa?" Tanya Iloania.
Gailes mengabaikan Iloania lagi dan lagi. Membuka pintu, dan membiarkan Iloania masuk mengikutinya meskipun sedikit ragu, apakah ia boleh masuk atau tidak. Melihat Gailes yang membiarkannya, Iloania mengedikkan bahunya, dan melihat sekelilingnya. Ada beberapa orang diruangan itu. Ruangan hanya berisikan dua bangku panjang dan satu kursi tunggal diujung, juga satu meja ditengahnya. Satu pintu terletak disudut ruangan, disamping jendela kecil tanpa kaca, dan terbuat dari bambu yang dianyam.
Seorang pria dewasa duduk disatu bangku, berjajar dengan seorang gadis bersurai merah muda yang Iloania yakini, berusia sama dengannya. Diseberangnya, ada seroang pemuda dengan surai coklat. Nampak bertubuh kekar dan nampak seperti bukan orang baik-baik.
Gadis itu bangkit berdiri dan menyembunyikan dirinya disamping Gailes yang berdiri dalam dia. "Siapa kamu?"
"Aku?" Beo Iloania.
Gadis itu mengangguk, menunggu jawaban Iloania. "Ilo, panggil saja begitu. Kalau kamu?"
"Merina." Jawabnya.
Manik Iloania berbinar. "Kamu sangat manis~ Bagaimana kamu mengikat rambutmu begitu?"
Gadis itu tersenyum dan mendekati Iloania. "Kamu juga sangat cantik. Ayo duduk disana,"
Ia membawa Iloania duduk dibangku kosong. Dan dengan cepat berinteraksi layaknya anak kecil yang berteman dekat.
"Gail, siapa anak itu?" Pria dewasa itu bertanya.
Gailes diam selama dua detik, untuk duduk dibangku tunggal. "Entahlah."
Pemuda di seberang Iloania menatapnya. Tatapannya membuat Iloania sadar, dan menolehkan kepalanya dengan senyuman setipis kertas. "Bagaimana kau bisa ada didesa ini?"
"Hanya kebetulan. Dan sekarang, aku jadi penasaran dengan desa ini. Ada apa didesa ini?" Tanyanya.
Iloania melanjutkan, "Aku tidak tahu begitu banyak. Tapi, aku pernah mendengar sebuah cerita tentang Manusia Hantu Desa Kavele. Apakah, ini desa Kavele?"
Mendengar itu, suasana nampak menjadi lebih aneh. Dan Iloania, tak bisa menahan mengangkat satu alisnya. Sepertinya apa yang terjadi didesa ini, diwilayah ini, lebih buruk dari yang dipikirkannya. Diluar kota ini, Iloania telah mendengar beberapa desas-desus tentang apa yang terjadi disebuah desa, dikota Reebet. Kata-katanya, desa ini dihantui oleh roh jahat, yang sering menculik orang dan merasuki tubuh mereka. Mengubahnya menjadi monster. Katanya, banyak orang sudah menjadi korban, dan karena itu orang-orang yang awalnya tinggal dikota besar itu melarikan diri, dan mengisolasi kota ini dari dunia luar. Mereka begitu takut, bila saja mereka yang menjadi korban selanjutnya. Katanya juga, mereka yang diculik bisa menjadi monster yang sangat berbahaya, dan itu merepotkan, bisa dibunuh dengan sihir.
Tapi, melihat keberadaan mereka, Iloania sedikit merenung. Didunia ini, tidak ada yang namanya roh jahat. Apalagi yang dapat merasuki manusia dan menculiknya. Satu-satunya, hanyalah roh yang terinfeksi kebencian dan menjadi jahat. Namun roh iblis, hanya mendiami satu wilayah dengan lingkup yang kecil, dan biasanya hanya akan mengganggu manusia ketika manusia secara tidak sengaja atau bahkan sengaja memasuki wilayahnya. Tetapi, mereka tidak menculik manusia yang ada diluar wilayahnya. Dan lagipula, jika itu roh iblis, Vleia harusnya bisa merasakan energinya.
Semuanya diam, dan Iloania membuka kembali bibirnya. "Bukankah ada .. sihir hitam disini?"
Mereka sedikit bereaksi. Gadis disebelahnya tercengang, pria dewasa juga sedikit terkejut dan pemuda besar itu menyipitkan pupilnya. Merina meraih lengan Iloania dan meremasnya dengan senyuhan pelan, tidak kuat. Bertanya dengan sedikit kebingungan disana.
"Apa .. apa itu sihir hitam? Bukankah mereka terinfeksi oleh monster jahat?" Tanyanya.
"Kalian tahu, jika ada dua jenis penyihir didunia ini. Satu yang menggunakan energi sihir dari dalam diri sendiri dengan peningkatannya melalui meditasi pada alam. Dan yang satu lagi, meningkatkan sihir dengan mengambil inti energi sihir penyihir yang lain. Jenis kedua memiliki jenis sihir yang berbeda. Itu adalah sihir hitam, yang memiliki kebencian dan amarah serta hal buruk yang ada didunia. Digunakan, dalam cara yang benar-benar salah. Sebenarnya, ada kisah tentang terbentuknya golongan ini. Termasuk dalam perang dewa ribuan tahun lalu. Tetapi singkatnya, ini adalah hal yang buruk."
Iloania cukup yakin. Benang hitam yang mengikat disekitar leher, tangan dan kaki wanita yang dilawannya tadi, adalah sesuatu yang pernah dilihatnya, ketika gurunya bertarung dengan sekelompok penyihir hitam. Dan tak bisa dipungkiri, ada sedikit keanehan yang menyelinap dibenaknya.
Jika itu adalah sekelompok atau seseorang pengguna sihir hitam, apa yang dilakukannya dengan orang-orang yang diculik. Atau mungkin, apa alasannya sampai membuat semua orang dikota pergi dan mengisolasi tempat ini?
Iloania memandangnya tanpa kata dan melukis senyuman. "Yah, tidak percaya juga tidak masalah. Aku hanya memberitahu, apa yang aku ketahui. Paman bisa mengkonfirmasinya sendiri. Sebenarnya, tidak ada untungnya juga aku memberitahu kalian tentang ini."
"Bagaimana?" Dan lagi, Iloania tersenyum tipis.
...***...
Iloania kecil melangkah menyusuri hutan raksasa didepannya. Tiap langkahnya, adalah batuan berkilauan yang memancarkan kehangatan. Seperti kristal yang memanjang, berwarna hijau lembut yang menyenangkan. Iloania melihat kedepan, dan menemukan sebuah bangunan rumah pohon disatu pohon besar. Sedikit tersembunyi, terbuah dari papan kayu dan tangga melingkar, dan ditutupi dengan sulur tanaman hijau berbunga. Ada cahaya lembut dari dalamnya.
"Vleia, apakah apa guru meninggalkan buku tentang sihir hitam?" Tanyanya, pada sosok anak laki-laki yang berjalan disampingnya tanpa jejak suara.
Vleia mengerutkan kening, tampak berpikir. "Sepertinya, ada?"
Melihat ketidakyakinan Vleia, Iloania tidak mempermasalahkannya lagi. Berjalan dengan ritme yang sama kebangunan rumah pohon yang tampak tua itu, untuk melihat penampakan ruang baca dengan banyak buku kuno dan perkamen tua yang disusun dengan rapi didalam rak.
"Ah. Aroma ini," dalam sepersekian detik, tatapan Iloania meredup.
Tanpa adanya emosi, dalam dan tak bisa mencerminkan jiwanya dalam sekali tatapan. Tapi disampingnya, Vleia jelas melihat perubahan dalam hitungan sepersekian detik itu, tanpa terlewat. Vleia mengulurkan tangannya, menyentuh puncak kepala Iloania.
"Ilo," panggilnya.
Senyuman Iloania terbit. Melebar dengan cahaya lembut yang menyambutnya. "Tidak apa. Aku akan mencarinya sekarang. Jika kamu mengantuk, tidur saja."
Vleia mengangguk dan mendudukkan dirinya dibangku meja kayu tua dengan adanya tinta dan beberapa kertas kosong yang telah menguning diatasnya. Sementara Iloania, telah membelakanginya dan menghadap rak, mencari sesuatu yang diperlukannya diantara ribuan buku. Tangannya menyusuri tepi meja, ada setitik debu disana, namun Vleia tidak mempermasalahkannya. Tangannya membuka laci meja, untuk menemukan sebuah kotak kecil yang tersimpan rapi disana. Meletakkannya dimeja tanpa suara, Vleia membukanya. Mendapati sebuah kuas kaca yang menawan dengan ujungnya adalah kuas dari helaian benang perak yang lembut dan berkilau dibawah cahaya.
Ada sesuatu yang terukir dipegangan kuas itu. Delt Loxele.
Tangannya mengelusnya dengan senyuman setipis kertas. Sebelum tangannya terhenti, ketika melihat sesuatu terselip dibalik penahan kuas. Ketika Vleia membukanya, itu adalah lembaran kertas yang bertuliskan rangkaian huruf melengkung yang indah dan terangakai dengan tinta emas yang berkilauan. Vleia tahu, itu adalah tinta abadi. Membaca kata demi kata didalamnya, Vleia tak bisa menyipitkan pupilnya dan mengetatkan bibirnya.
[] Ketika bintang pertama bersinar, ketika sang luna dan sang surya menyatu dalam cincin semu yang tak bisa terlukiskan dalam keabadian, tangisan memanggil disebuah bukit tertinggi dihutan tanpa kehidupan yang nyata. Suara bergema dengan kejelasan yang menyentuh dan maha agung tanpa cela, "Kelak akan ada saatnya kami kembali." Tanpa nafas dan detak jantung yang terdengar, selain dari petak kristal diatas rerumputan tanah kering.
Itu adalah tulisan tangan yang nyatanya melekat diingatannya. Dan tulisan tangan itu, membuatnya menatap Iloania tanpa kata yang terucap.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
10/08/2021
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux