Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 63 "Suku Rubah Salju"


Memandang sekitarnya dengan pipi menggembung, perasaan kesal dihatinya tak turut reda. Penipu itu menipu gurunya, dan gurunya menurut bahkan saat penipu itu merampok uang dari mereka. Sebenarnya Iloania tidak mempermasalahkan soal uang, namun soal tanggung jawabnya sebagai seorang penjual, penjual itu seharusnya tidak berbuat seenaknya dengan menaikkan harga hanya untuk orang-orang tertentu.


"Hey, Ilo. Lebih baik kau kembali dan menanam ubi, daripada kau membuat mereka takut melihat wajah kusutmu." Kata Vleia yang tengah menyantap manisan buah.


Ditangan Iloania sendiri, memang ada manisan buah, namun Iloania belum makan segigitpun karena terlalu fokus pada acara merajuknya. Dan bahkan lihat, gurunya sudah tidak mencoba membujuknya!


Iloania lebih kesal.


"Diam dan jangan menggangguku!" Ujarnya sembari mengangkat tangannya seakan hendak memukul Vleia.


Vleia tidak terkejut, karena memang tak pernah sekalipun Iloania memukulnya. Anak tampan itu hanya menjulurkan lidahnya dan kembali berjalan sembari memakan manisannya. Meninggalkan Iloania yang menghentakkan kakinya dengan pipi menggembung bersemu merah dan sepasang manik yang berkaca-kaca.


Uhh, mengapa dia merasa sangat kesal?


"Ilo," panggil seseorang.


Iloania berbalik dan menemukan Delt berjongkok didepannya sembari mengulurkan kotak kayu ringan berisikan kue berbentuk bunga kecil yang menggemaskan. Ada bubuk putih diatasnya yang tipis, dan makanan itu sebenarnya tidak beraroma. Iloania jelas tahu itu, makanan kesukaannya, kue kacang.


Iloania memandang Delt dengan pandangan bertanya, meskipun sedikit banyak sudah paham alasannya. "Kenapa membeli kue kacang?"


Meskipun tidak kelihatan wajahnya, namun dari suaranya Iloania tahu bahwa Delt benar-benar tulus dan lembut. "Guru minta maaf, apa Ilo akan memaafkan guru? Guru sudah membelikan kue kacang kesukaan Iloania. Maafkan guru ya?"


Iloania memandangnya dengan sepasang manik yang menyipit, "Hmm?"


"Ayolah, guru sampai berkeliling seluruh pasar malam, loh? Dan akhirnya beruntung menemukan sebuah toko kecil dipinggir jalan yang cukup sepi. Maafkan guru~" Kata Delt memelas.


Iloania masih memincing, membuat Delt meneguk ludahnya gugup. Sebelum lepas ketika Iloania tertawa cerah dan menerjang Delt dengan pelukan hangat.


"Hihi, Ilo sayang guru~"


Delt tersenyum dan membalas pelukan Iloania, "Guru juga menyayangi Ilo."


Nyam~ Nyam~


Disudut kanan, sepasang manik.emas memandang keduanya datar. Bibir tipisnya terus mengunyah dengan tenang, seakan memandang sesuatu yang asing. Vleia yang malang hanya menikmati manisan buahnya diantara beberapa orang yang menyaksikan drama kecil yang mengharukan.


"Mereka mulai lagi, ah~" Gumamnya.


...***...


Pondok itu ada diatas bukit yang dikelilingi hutan. Ada jalan setapak yang menurun kelereng bukit, dan disisi lain, adalah jalan menuju sungai yang mengalirkan airnya menuju danau yang besar dan tenang. Pondok itu dibangun menggunakan dipan kayu, dan beratapkan jerami. Dengan lantainya terbuat dari papan kayu lebar yang dipernis sederhana. Jendela-jendela terlindungi oleh kaca buram, dan hanya ada dua jendela dipondok itu.


Didepan pondok, ada sebuah kebun kecil yang ditanami lobak dan umbi. Ada juga beberapa kubis kecil yang sepertinya baru-baru ini ditanam dilahan itu.


"Guru, waktunya makan~" Kata Iloania sembari menyeka tangannya yang basah setelah dia mencuci tangannya.


Didalam pondok itu, ada empat ruangan. Ruang pertama adalah dapur dan ruang makan kecil. Ruang kedua adalah ruang utama dan dua lainnya adalah kamar. Iloania memandang kesekelilingnya, mengintip diambang pintu kamar sang guru dan bahkan mencari keluar.


"Guru? Guru dimana?" Panggilnya.


Berkacak pinggang, Iloania menyentuh dagunya dan menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri. Sebelum teriakan terdengar dari atas kepalanya. Mendongak, Iloania menyaksikan seseorang meluncur dari atas langit dengan cepat. Helaian rambut merah itu tersibak. Itu adalah gurunya, dengan Vleia yang mengambang diatas awan sembari memainkan kedua kakinya.


"Ahhhhhhh!!! Iloania, tolong guru ahhh!!" Teriaknya keras.


Tak menyembunyikan nada ketakutan didalamnya. Iloania sedikit terkejut, sebelum menggunakan sihir anginnya. Lima meter sebelum Delt jatuh dari ketinggian ribuan meter diatas tanah, Iloania menggunakan elemen anginnya untuk menahan kecepatan jatuh Delt dengan drastis, hingga sedetik kemudian pria muda itu duduk ditanah tanpa merasakan sakit sedikitpun. Membuka matanya dan berkedip beberapa kali, Delt memandang Iloania yang berdiri didepannya.


Iloania memiringkan kepalanya dan bertanya, "Kenapa guru tidak bangun? Tanahnya kotor."


Sepasang manik biru itu berair, "Hiks.. Hiks.. Itu menakutkan. Kenapa Vleia sangat nakal? Aku hanya mengatakan akan sangat bagus jika bisa merasakan terbang diudara dan melayang nyaman. Kenapa dia menyeretku dan melemparkanku dari langit? Uaaaa!!" Tangisnya.


Ia mengulurkan tangannya dan memeluk Iloania, menenggelamkan wajahnya diperut Iloania dan menangis. Mendengar tangisan gurunya, Iloania mendongak. Melihat bintik Vleia yang ada diketinggian sana.


Iloania mengepalkan tangannya, menyembulkan ibu jarinya dan membuat gerakan memotong dengan kejam. Kau-akan-mati-ditanganku. Yah, mungkin seperti itu yang kira-kira akan diucapkan Iloania.


"Guru, jangan menangis lagi. Makanan sudah jadi, mari makan~" Ajak Iloania.


Delt mengangkat wajahnya yang sembab. Iloania mengusap kedua pipinya dan memintanya berdiri. "Sudah, sudah. Mari makan,"


"Umm," gumam Delt sembari menghapus jejak air matanya.


Apa yang salah? Iloania sejak lama menyadari bahwa gurunya berbeda dari kebanyakan pria dewasa lain. Memang bukan dalam artian lain, namun, gurunya adalah seseorang yang polos menurutnya. Jika ketakutan, gurunya akan menangis. Jika sedih, gurunya akan murung. Jika marah, gurunya akan merajuk seperti anak kecil. Jika gurunya bahagia, jangan tanya seberapa senyuman yang dimilikinya.


...***...


"Makanan hari ini sangat enak!" Ujar Delt sembari membersihkan tangannya. Senyumnya lebar dengan lesung pipit dikedua pipinya.


Iloania menepuk dadanya dengan bangga, "Tentu saja. Aku kan pandai memasak~"


"Iya," jawab Delt.


"Pandai memasak apa, kau hanya memberiku sepiring kentang rebus dan sayap ayam. Kau pikir itu bisa mengenyangkanku?" Kata Vleia yang tengah duduk dikusen jendela setinggi satu setengah meter itu.


Iloania menatapnya, "Kita belum menyelesaikan perhitungan kita. Vleia sayang~ Kemarilah, biarkan aku setidaknya menarik keluar ekormu."


"Kau pikir aku akan menjawab ya begitu? Aku tidak bersalah. Delt duluan yang mengatakan ingin melayang dan terbang. Makanya aku membawanya kelangit." Alasan Vleia.


"Tapi, kamu melepaskannya begitu saja?" Kata Iloania.


Vleia sedikit menghindari tatapan Iloania dan bersiul, "Itu adalah metode latihan terbang layang. Dia terlalu penakut!"


Sret~


Entah berapa lama perdebatan tak jelas mereka berdua berlangsung, tetapi suara pintu geser yang tertutup akhirnya membuat Iloania mengalihkan pandangannya. Disana, Delt nampak mengenakan hakama biru gelap dengan tali berwarna hitam. Surai panjangnya diikat kuda dengan rapi.


"Oh? Guru akan pergi?" Tanya Iloania.


Delt menganggukkan kepalanya, "Iya. Guru akan mencari beberapa tehnik ditempat lain. Sepertinya, semua tehnik disini sudah guru ketahui."


"Berapa lama guru akan pergi?" Tanya Iloania kembali.


"Mm, mungkin satu bulan." Jawabnya.


Iloania mengerutkan alisnya, "Mengapa lama sekali? Tidak mengajak Vleia saja?"


Vleia menguap, "Aku sedang malas~ Aku ingin berhibernasi."


"Kau sudah berhibernasi setiap hari, Vle!" Sebal Iloania.


"Lagipula, kenapa guru perginya lama sekali?" Tanya Iloania.


Delt berjongkok, "Guru harus pergi kebenua lain. Jadi akan memakan waktu. Iloania baik-baik disini, saat pulang nanti, guru akan membawakan oleh-oleh untuk Ilo~"


Iloania tersenyum, "Benar ya?"


Delt mengangguk, "Tentu saja. Guru tidak akan pernah berbohong."


Iloania mengangguk, "Baiklah kalau begitu. Aku akan menyiapkan bekal perjalanan untuk guru. Guru harus menjaga kesehatan guru. Tidur tidak boleh terlalu malam dan selalu pakai pakaian hangat saat cuaca dingin. Guru juga tidak boleh lupa makan, guru sering lupa makan jika tidak Ilo ingatkan." Iloania terus memberi pengingat kepada Delt yang tersenyum cerah mendengarnya.


Sebelum menjawab dengan senang, "Baik~"


Vleia yang memandang mereka tak bisa menahan senyumnya. Keluarga yang harmonis.


"Ngomong-ngomong, tehnik apa yang ingin guru cari?" Tanya Iloania.


Delt menjawabnya, "Guru membaca disebuah perkamen. Jika suku itu benar ada, maka akan banyak hal yang bisa guru pelajari."


"Suku? Suku apa?" Tanya Iloania.


Delt menjawabnya, "Suku Rubah Salju."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


29/12/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux