
“Sudah kukatakan berulang kali untuk tidak bermain dengan anak itu! Dia adalah penyakit yang menular dan menjijikan! Jauhi dia!!” Wanita itu berteriak dengan marah, “Jika sampai ibu menemukanmu bermain dengannya lagi, ibu akan mengurungmu dirumah dan tak akan membiarkanmu keluar!”
Anak perempuan yang membawa boneka ditangannya itu memandang ibunya dengan perasaan takut juga dengan liputan rasa penasaran. Dia hanya bermain dengan temannya, tetapi mengapa ibunya sampai semarah itu dan bahkan mengancam akan mengurungnya dirumah selama berhari-hari?
Dia memberanikan dirinya bertanya, “Memangnya kenapa, bu? Aku hanya bermain dengannya.”
Wajah wanita itu bergolak, nampak tak sabar untuk segera melemparkan kata-kata yang seperti kutukan bagi anak yang saat ini tengah berjongkok didekat lubang semut, memandang semut-semut kecil yang masuk kedalam lubang dengan makanan yang mereka temukan, daun atau remah-remah roti dan makanan sisa yang dapat mereka jumpai dan menyimpannya kedalam sarang mereka untuk dijadikan sebagai simpanan mereka untuk menghadapi musim dingin yang sebentar lagi akan tiba.
“Anak itu adalah anak pembunuh! Orangtuanya adalah anggota kelompok berbahaya yang membuat ayahmu meninggal terbunuh lima tahun yang lalu, tepat ketika kamu berusia 1 tahun, Biana!”
Wajah Biana memucat, anak perempuan itu memandang tak percaya sekaligus kebingungan kearah ibunya. Pembunuh? Kelompok pembunuh yang membunuh ayahnya?
Lamunanya terpecah kala dia diseret oleh sang ibu untuk menjauh dari anak perempuan yang masih setia memandangi semut-semut yang masuk kedalam sarang mereka. Tatapan kosong itu tak beralih, bahkan ketika tangan kanannya meraih batang kayu disampingnya dan dengan tegas menahan setengah tubuh semut yang ada diantara mereka. Semut kecil itu menggeliat, dan semut-semut lain bergegas melarikan diri dengan panik. Beberapa dari mereka bergerak liar disamping semut yang sekarat itu, namun pada akhirnya mereka melarikan diri dan meninggalkan semut yang sekarat itu, untuk perlahan meregang nyawa dan tak bergerak sama sekali.
Gadis itu mengangkat tongkatnya dan bergumam dengan wajah dan suara datar, “Kamu tidak memiliki teman yang benar-benar peduli padamu.”
Sebelum mengungkap seringaian lebar yang penuh dengan kejenakaan. “Sungguh malang.”
...***...
Musim Dingin, 10 tahun kemudian
“Mirocuez? Nama yang cukup aneh.” Pernyataan itu terlontar dari bibir pemuda yang tengah menikmati manisnya manisan gula yang dibelinya ditengah keramaian karnaval. Di Kota Refoloin, Kerajaan Angsues, Karnaval Matahari Senja diadakan disetiap bulan Ketiga disetiap tahun untuk menghormati arwah leluhur yang sudah meninggal, baik keluarga, teman bahkan orang asing sekalipun. Orang-orang yang percaya akan mempersembahkan sedikit dari apa yang mereka hasilkan yakni berupa makanan atau hasil pertanian yang akan diletakkan dan dikuburkan dibawah sebuah pohon raksasa yang ada diujung kota itu.
Gadis yang mengenakan jubah menoleh, memperlihatkan sepasang iris anggur yang dingin dan berkilau keperakan, hampir membuat orang salah paham bahwa itu adalah batu permata yang dipahat. Bibirnya yang merah delima bergerak, mengungkap suara tersembunyinya. “Kechexer, itu nama yang lebih aneh.”
“Saya bahkan bingung harus memanggil anda dengan panggilan apa.” Gumamannya penuh kejujuran, namun membuat pemuda bernama Kechexer itu mengerutkan ujung bibirnya yang berkedut dan melemparkan permen buah itu kedalam mulutnya dalam sekali gigitan.
“Betapa menyebalkannya, namaku memiliki arti yang agung, tahu! Di sukuku, namaku berarti Kemurnian dan Keberanian Yang Akan Menjadi Pemimpin.”
“Aku seorang peramal, dan aku tahu bahwa namamu tidak sesuai dengan takdirmu. Ah, menyerahlah anak muda, aku tahu arti namamu yang sesungguhnya, ketahuilah, aku akan merahasiakannya karena tidak ingin kau memilih bunuh diri daripada memiliki nama itu.” Mirocuez mengucapkan kata demi kata yang kali ini berhasil menyulut sumbu emosi Kechexer yang memang hanya sepanjang kuku jari bayi.
“Apakah mulut seorang peramal abal-abal sangat tajam? Mengherankan sekali.” Ledek Kechexer sinis.
Mirocuez mendengus dan hendak mengucapkan sesuatu ketika ia merasakan aura mengerikan ada didekatnya. Seperti adegan slow motion, gadis itu melangkah melewati Mirocue dengan hembusan angin dingin yang diciptakannya. Aura hitam nan dingin, berat dan penuh dengan kebusukan melingkupinya, menyebar dan dapat dirasakan oleh Mirocuez dan Kechexer yang benar-benar terpaku ditempatnya saat ini.
Dingin dan berat, sepasang iris merah darah dengan aura intimidasi dan tekanan itu berhasil menciptakan keringat dingin dikedua anak manusia berbeda gender itu. Mirocuez yang lebih sensitif terhadap sihir dan energi hitam merasakan bahwa gadis yang melewatinya itu benar-benar mampu menggetarkan tulang belakangnya, menghantarkan sensasi dingin dan dingin, intimidasi kuat yang nyata dan berbahaya.
Tapi bahkan itu hanya sebuah tatapan.
Tepat ketika dia bereaksi dan hendak mengejar gadis itu, dia terlambat ketika tak lagi menemukan sosok dan auranya dikerumunan penduduk dijalan yang ramai itu. Tangan Mirocuez gemetar, dan dia melirik Kechexer yang terengah disampingnya. Tatapan manik emas itu seperti sebuah serigala liar yang menemukan mangsanya, mangsa yang lebih kuat darinya, namun dia tertantang untuk merasakan kelezatan dan sensasi berburunya yang luar biasa. Mirocuez mengulurkan tangannya, menempelkan dengan kuat sebuah keras hitam bergambar lingkaran dan lambang sebuah bunga fuji. Gambaran bunga itu sedikit memancarkan cahaya samar ketika menempel dibelakang kepalanya, dan sepasang manik emas Kechexer perlahan kembali kewarna semulanya, hitam kebiruan. Nafasnya perlahan menjadi normal, dan dia memandang sekelilingnya dengan sedikit ketidakpuasaan, terutama ketika tatapannya jatuh kepada Mirocuez.
...***...
“Hei, Rem. Dari mana saja kamu?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir seorang gadis yang berbaring nyaman diatas sofa dengan boneka bermata kancing ditangannya.
Gadis itu menarik tudung jaketnya, menampilkan helain surai hitam bergaya wolfcut dan sepasang manik merah darah yang bercahaya dikegelapan. Bibir tipisnya membentuk garis lurus, dan sedikit bergerak ketika dia berkata, “Memeriksa kota ini.”
Si albino mengalihkan pandangannya kembali kepada bonekanya. “Lalu apa yang kau dapatkan?”
Remarion Alskellen—yang berambut hitam itu menjawab dengan acuh tak acuh, “Tidak banyak. Hanya buruan utama dan, dua tikus kecil yang nampaknya tersesat.”
Gadis itu memeluk bonekanya dan berkata dengan nada jijik. “Aku benci tikus. Mereka menjijikkan, tentunya karena mereka pengerat.”
Rema, menggulung seringaian tipis. “Tidak perlu menganggapnya ada. Tikus selalu lari saat dihadapkan pada bahaya. Seperti itulah pengecut.”
Si albino terkekeh geli, “Benar juga!”
Ia kembali melanjutkan berkata, “Ngomong-ngomong, Rem. Sebenarnya minggu lalu aku dan Coryln, menemukan sesuatu yang mungkin akan membuatmu bersemangat sedikit untuk buruan kali ini.”
“Apa itu?”
Senyuman selebar telapak tangan itu tercipta, menciptakan gambaran mengerikan diwajahnya yang ayu, seperti malaikat, namun membawa aura kematian dan rasa jijik yang sangat kentara. “Tentang orangtuamu. Sebenarnya, mereka juga mengincar buruan yang sama.”
“Dimana kau tahu masalah ini?”
Tidak ada perubahan diwajah Rema, wajahnya tetap datar bahkan meskipun si albino telah menyangkut pautkan orangtua gadis itu dalam obrolan kali ini. Selliev Vroms, sedikit kecewa, mungkin?
Selliev memiringkan kepalanya dan berkata, “Barat daya Kota Nirts. Dan kurasa, kau sudah seharusnya akrab dengan kota itu kan, kakak?”
Rema mengangkat tangannya dan membuat gerakan mencengkram ditangan kirinya. Saat itu juga tubuh Selliev terangkat, dan dia tergantung dengan leher yang seakan tercekik oleh angin, tetapi jejak cengkraman kuat dilehernya bahkan terlihat oleh mata telanjang. Gadis itu menahan bonekanya tergantung ditangan kirinya, sementara tangan kanannya menyentuh lehernya, merasakan rasa sakit, panas dan juga dingin merayap ditulang belakang dan lehernya ketika dia melihat tatapan haus darah yang selalu dia suka dari gadis yang saat ini, mencekiknya. Dia meringis pelan, sebelum Rema menarik tangannya dan membiarkan tubuh Selliev menghantam lantai marmer yang dingin dan keras.
Pemilik manik darah itu hanya melirik dengan dingin sebelum melangkah memasuki lorong panjang nan gelap oleh bayang-bayang, dibawah tatapan penuh kekaguman dan penuh pemujaan dari Selliev.
“Sungguh mempesona!”
Yogyakarta, LX