Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 95 "Hari Kedua, Bulan Keempat, Musim Semi"


Selain cerdas, nyatanya ingatan Iloania sangat baik. Jangan menanyakan seberapa baik ingatan Iloania. Ia bahkan mampu mengingat hal penting apa yang terjadi sejak usianya menginjak satu tahun tanpa melewatkan satu detail pun. Meskipun dibeberapa kesempatan, Iloania sedikit ragu apakah ingatannya benar atau tidak.


Iloania duduk diatas rumput. Memejamkan matanya dan membayang kemasa lalu. Bernostalgia untuk menyelami memori yang mampu menunjukkannya sebuah petunjuk.


Sebuah simbol.


Hari Kedua, Bulan Keempat, Musim Semi


Bunga-bunga sedang bermekaran. Aroma manis melayang diudara, dan ribuan kupu-kupu bermanufer bersama diatas hamparan bunga. Mereka tidak berebut, tetapi bersama-sama dan berbagi untuk menikmati manisnya nektar segar dari bunga yang menawan.


"Guru, kita mau kemana?" Tanya Iloania kecil digendongan Delt.


Iloania berumur dua tahun. Masih menjadi bayi manis yang menggemaskan. Kedua pipinya tembam, berlapis lemak bayi yang membuat siapapun gemas dan tak tahan untuk mencubit atau melayangkan ciuman diatasnya. Helaian rambut emas sepinggangnya dikepang dan dihias dengan mahkota bunga diatas kepalanya. Iloania menerimanya dengan senang hati, karena gurunyalah yang membuatnya.


"Bertemu dengan gurunya guru," jawab Delt. "Apa Iloania mau?"


Iloania menyentuh dagunya dan bertanya dengan polos. "Apa gurunya guru galak?"


Delt mengangguk. "Sebenarnya, Ilo~ Gurunya guru memang sangat galak!"


"Tapi jangan takut. Guru akan memeluk Ilo jika Ilo takut." Kemudian memeluk Iloania lebih erat.


Gadis cilik itu terkikik geli sebelum menganggukkan kepalanya dan berspekulasi dengan otak kecilnya yang sudah cerdas. "Jika itu gurunya guru, maka seharusnya sangat kuat! Apa guru ingin berlatih lagi bersama gurunya guru?"


"Hey, guru sudah lebih kuat daripada guru Gamma~ Tidak perlu berlatih lagi," kata Delt dengan percaya diri.


"Benarkah? Lebih kuat dariku?"


Suara itu membuat Delt membatu ditempatnya. Sementara Iloania digendongannya menoleh, untuk melihat siapa yang berbicara. Ada seseorang yang duduk diatas dahan pohon yang dipenuhi mekaran bunga berwarna merah muda. Ia mengenakan pakaian yang cukup terbuka. Seorang wanita muda berparas menawan. Helaian surai keemasan tersibak oleh angin dan menampilkan leher jenjangnya. Dipinggangnya tersimpan apik pedang dalam sarungnya. Wanita itu menoleh dan menampilkan seringaian diwajahnya yang setengah tersembunyi caping berlapis kain semi transparan.


Langit malam mulai menampakkan keagungannya. Semburat aurora muncul dilangit, berpadu dalam satuan cahaya yang semu, samar dan berlalu dalam waktu. Bintang bertabur dan sang purnama menyandang tempat tertingginya, menyinari sebagian bumi dengan pantulan cahayanya oleh matahari.


"Apa kamu kedinginan?" Tanya Lasius mendapatkan gelengan kepala dari Iloania yang duduk dibelakangnya. Menaiki kuda dan melewati hutan yang lebat.


Iloania tersenyum. "Tidak kedinginan, kok."


Iloania menambahkan dengan berkata, "Punggung kak Sius sangat hangat dan nyaman."


Terbatuk, Lasius memiliki telinga yang memerah. "Kalau begitu, peluk saja."


"Selain itu, sebenarnya kita mau kemana sih, kak? Sepertinya setelah aku membenarkan jika guru Gamma memiliki simbol itu, kak Lasius seperti merencanakan sesuatu," tanya Iloania dengan tangannya yang melingkar dipinggang Lasius.


"Menemui seorang kenalan. Mereka bisa membantu kita menemukan keberadaan guru Gamma dengan gambar itu." Jawaban Lasius membuat Iloania memiringkan kepalanya.


"Mereka?" Beonya.


Lasius mengangguk. "Kamu pernah mendengar rumor tentang Si Kembar Ka-Ra?"


"Oh! Aku pernah mendengarnya sekali. Kudengar mata mereka istimewa. Tapi aku tidak begitu yakin dengan pengetahuanku tentang mereka." Balas Iloania.


"Mata mereka adalah Mata Pendeteksi. Mereka bisa mengetahui dimana keberadaan seseorang atau bahkan sesuatu selama mereka mengetahui ciri khusus apa yang akan dicari."


Iloania terperangah. "Jadi itu kemampuan mereka? Kak Sius mengenal mereka?"


Lasius mengangguk. "Sebenarnya ini adalah rahasia. Kami masih memiliki sedikit ikatan darah."


"Benarkah? Bagaimana?" Tanya Iloania penasaran.


Lasius mulai menjelaskan. "Mereka adalah anak kembar dari adiknya adiknya neneku. Mudahnya, nenekku memiliki adik yang menikahi seorang wanita yang memiliki adik. Adik wanita itu menikah, kemudian lahirlah Ka dan Ra."


"Oh? Ternyata begitu," gumam Iloania menganggukkan kepalanya paham.


"Lalu mereka tinggal disini?" Tanya Iloania lagi.


Iloania memejamkan matanya dan berharap bahwa si kembar itu memang ada ditempatnya. Dia tidak ingin gagal menghidupkan kembali sahabat sekaligus keluarganya, Vleia. Dia tidak ingin Raja Iblis memiliki kesempatan yang lebih besar dengan mengandalkan sihir yang diambilnya darinya. Iloania berharap dihatinya.


"Tolong.." Batinnya.


Keduanya menghabiskan beberapa malam berkuda. Dimalam hari, mereka beristirahat dan kembali melanjutkannya disiang hari. Setelah.tiga.hari, dua malam berkuda, mereka sampai di perbatasan desa tempat tinggal Ka-Ra.


Turun dari kuda, Iloania bertanya. "Kita sudah sampai?"


Lasius menggandengnya sembari menuntuk kuda.dan mengangguk. "Ya, kita hanya perlu menemukan rumah mereka."


Desa itu tidak ramai, bahkan termasuk desa kecil. Ada sawah dan padang yang luas, banyak perkebunan dan aliran sungai yang jernih terlihat. Meskipun desa kecil, desa ini sangat makmur dengan kekayaan sumber pertanian dari penduduk disana.


Manik sewarna anggurnya mendapati seseorang yang hendak memasuki rumahnya dengan bakul sayuran ditangannya. Ia menoleh kepada Iloania dan berkata, "Ilo, tunggulah disini sebentar. Aku akan bertanya kepada wanita disana tentang Ka-Ra."


Iloania tersenyum dan mengangguk. Membiarkan Lasius melangkah meninggalkannya bersama kuda hitam disampingnya.


"Permisi, nyonya." Sapanya pada wanita tua itu.


"Oh? Siapa?" Dengan suaranya yang sedikit bergetar khas orangtua, wanita itu mendongak memandang Lasius yang jauh lebih tinggi darinya dan bertanya.


"Apakah ada kakak beradik kembar didesa ini?" Tanya Lasius.


"Kembar? Ahh, apakah itu Ka-Ra?"


Wanita itu kembali bertanya, "Ada apa mencari mereka?"


Lasius menyunggingkan senyuman sopan dan berkata, "Mereka adalah saudara jauh saya. Saya kemari untuk mengantarkan sesuatu kepada mereka karena sudah lama tidak pulang. Apalagi mereka suka berpindah-pindah tempat.Disurat terakhir mereka menulis jika mereka ada didesa ini, jadi saya ingin tahu apa mereka masih ada didesa ini?"


Wanita itu tidak bertanya lebih lanjut, tetapi langsung percaya dengan alasan Lasius dan menunjuk kepuncak bukit.


"Mereka tinggal dipuncak bukit. Ada rumah tua disana, dan mereka tinggal disana," jawab wanita itu.


Lasius membungkuk sekilas berterima kasih. "Terima kasih, nyonya."


Dan berbalik pergi meninggalkan wanita tua itu yang kemudian bergumam sebelum berbalik memasuki rumahnya. "Anak laki-laki yang sangat tampan."


"Bagaimana kak?" Tanya Iloania begitu Lasius mendekat.


Lasius berujar dengan senyuman. "Mereka masih ada didesa ini. Nyonya tadi mengatakan jika Ka-Ra tinggal diatas bukit. Hanya perlu melewati jembatan menyebrangi sungai untuk tiba ke kaki bukit."


Iloania tersenyum senang. "Kalau begitu ayo kesana, kak!"


Mengambil alih kuda dengan tangan kirinya, Lasius mengulurkan tangannya menggenggam tangan Iloania dan berkata, "Ayo."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:



17/06/2022


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux


Ps: Cara bicara Iloania sewaktu masih berumur 2 tahun cadel, tapi karena LuminaLux tidak nyaman menulisnya, maka cara bahasanya biasa. Selamat berimajinasi~