
Membuka matanya, Iloania merasa bahwa saat ini, yang paling menyesakkan adalah menyadari bahwa apa yang dialaminya beberapa saat yang lalu hanyalah sebuah mimpi. Iloania menutup kedua matanya menggunakan lengannya, dan membiarkan cairan hangat mengalir dari celah dua pasang kelopak mata putih itu. Iloania menggigit bibir bawahnya, dan tidak merespon bahkan saat Vleia memanggil namanya.
"Ilo, apa yang terjadi?" Tanya Vleia.
Iloania membungkam bibirnya, mencoba menahan isakan dari bibirnya. Iloania bahkan mengabaikan pintu yang terbuka.
"Ilo? Kamu sudah sadar?" Namun dalam sedetik, Lasius menyadari bahwa Iloania tengah menangis dalam diam. Dengan cepat Lasius menghampiri Iloania dan menanyakan keadaannya.
"Ilo? Mengapa kamu menangis? Apakah ada yang sakit?" Tanyanya dengan nada lembut disamping Iloania.
Iloania secara alami tidak merespon, meneruskan isakan tangisnya dan bergumam dengan nada samar, "Guru.. Hiks, hiks.. Guru.."
Mendengar itu, Lasius tanpa sadar membungkam bibirnya. Tak dapat mengatakan apapun mengenai hal ini. Sepertinya, seseorang yang dipanggil guru oleh Iloania ini adalah seseorang yang begitu berharga bagi Iloania, namun sepertinya pula, terjadi sesuatu dengan guru Iloania. Lasius mendesah dalam hati, memikirkan kemungkinan bahwa guru Iloania mungkin sudah tiada.
Mengulurkan tangannya, Lasius hanya bisa menggenggam tangan Iloania. Menyalurkan kehangatan dan kekuatan, agar Iloania tak lagi bersedih.
"Jangan menangis, kamu sudah berjanji padaku." Ucap Lasius pelan.
...***...
Hari kesembilan, Bulan ketujuh, Musim panas
"Jauhkan itu dariku!!"
Ada jeritan seseorang disebuah danau. Lebih tepatnya, tepi danau. Kilau sinar mentari menyorot danau, menjadikannya seakan cermin. Memantulkan pesona gunung salju abadi dan gunung hutan musim gugur yang tak pernah mati, selalu berguguran dan tak memiliki musim lain. Gelombang kapas putih bergulung-gulung dipantulan cermin, nampak seperti sebuah lukisan tiga dimensi.
Sosok manusia Vleia berdiri disamping pohon sembari menggoyangkan setangkai bunga didepan wajahnya. Bunga itu berwarna biru dengan bentuk kecil dan sedikit meruncing.
"Hehe, kemarilah~" Vleia berujar dengan seringaian jahil dibibirnya.
"Vleia, hentikan! Guru ketakutan!" Tegas Iloania didepan Vleia.
Iloania mengenakan dress tanpa lengan model bunga yang biasa dia kenakan. Hari ini, dia melengkapinya menggunakan jubah pendek berwarna putih dengan telinga kelinci buatan ditudung jubahnya. Siapa yang membuatnya? Tentu saja itu gurunya.
"Delt tua yang payah~ Mengapa begitu takut dengan bunga?" Cibir Vleia kembali menggoyangkan bunga ditangannya.
Delt, sang guru, meringkuk dibelakang Iloania yang masih setinggi pinggul orang dewasa. Sementara dirinya, setinggi 188 centimeter. Sangat jelas bahwa itu begitu terlihat.
"Jangan menghinaku. Aku bukannya takut, hanya aku punya alergi bunga!" Kata Delt mencoba menipu Vleia.
Mungkin itu terjadi ketika dia kecil. Delt mengingat dengan jelas bagaimana teman-temannya mengatakan kepadanya bahwa bunga-bunga terutama yang berwarna biru dapat membuat seseorang mengalami kematian jika mendekati dan mencium aromanya. Terdengar tidak masuk akal, namun itu memang benar adanya.
Alasan mengapa mereka berkata seperti itu adalah karena teman-temannya adalah seorang yang tahu bahwa pemilik bunga didesa mereka adalah seorang wanita kejam yang tergila-gila dengan bunga biru. Saat itu Delt berpikir bahwa tidak ada salahnya jika pemilik bunga tidak tahu, jadi diam-diam dia memetik satu bunga dan mengendusnya untuk mencium aroma wangi.
Sampai dia ketahuan, dan hampir mati karena siksaan pemilik bunga-bunga didesa itu. Itu menjadi sebuah bayangan psikologis yang membuatnya sedikit takut kala melihat bunga yang indah, tetapi anehnya hanya berlaku pada bunga berwarna biru.
"Vleia, hentikan itu sekarang juga!" Tegas Iloania membuat Vleia mencebikkan bibirnya dan membuang bunga itu.
"Sangat tidak menyenangkan~" Gumam Vleia sembari bersiul dan menangguhkan dua tangannya dibelakang kepalanya.
Iloania berbalik, "Guru jangan takut lagi. Mari pergi kekota dan membeli beberapa makanan manis. Juga beberapa pakaian baru~"
Delt memandang Iloania, sebelum menerbitkan senyuman manisnya. "Guru akan membelikan Iloania pakaian musim dingin yang cantik."
Memeluk Iloania setelah mengangkat Iloania kedalam gendongannya, pria muda itu menggosokkan pipinya kepipi bundar Iloania yang kenyal seperti kue. Keduanya memasang wajah riang dan memancarkan latar belakang bunga merah muda yang membuat mata Vleia sakit ketika melihatnya.
"Hentikan kemesraan kalian atau aku akan meninggalkan kalian disini sendirian!" Kata Vleia dengan wajah datar.
Iloania segera tersadar dan menjulurkan lidahnya pada Vleia. "Bilang saja kamu iri~"
Vleia mendecih dan memutar tubuhnya, meskipun kedua telinganya sedikit memerah. "Tentu saja tidak. Mengapa aku harus iri?"
...***...
Dipasar, Delt tak lepas menggunakan sebuah topeng. Jika ada yang bertanya alasan mengapa pria rupawan itu mengenakan topeng, mungkin itu menjadi alasan sepele. Terlalu ramai, jadi dia enggan dan mungkin merasa malu mendapatkan tatapan dari banyak orang yang mengatakan bahwa wajahnya seperti ukiran dewa. Jadi, demi kenyamanannya sendiri, Delt menutupi kerupawanan wajahnya.
"Paman, berapa harga kubis ini?" Tanya Iloania sembari membolak-balikkan kubis segar ditangannya.
Paman penjual dengan ramah berujar, "Hanya sepuluh koin perak nona kecil. Apakah nona kecil ingin membeli?"
Iloania mengernyitkan dahinya. "Sepuluh koin perak? Mengapa mahal sekali?"
"Ah, bagaimana itu bisa mahal? Lihat, lihat~ Kubisnya sangat segar dan manis. Sangat cocok dimasak dengan tahu atau kentang."
"Tapi satu seharga sepuluh koin perak itu mahal sekali. Tidak bisakah diturunkan?" Tanya Iloania berusaha menawar.
Alasan mengapa pedagang itu bersikap ramah adalah karena melihat penampilan ketiganya yang rapi dan persis seperti keluarga berada. Jadi, dia berpikir untuk menggandakan harga satu kubis itu. Tentu saja harganya hanya lima koin emas, namun menjualnya dengan harga dua kali lipat, seperti mendapatkan uang ganda dengan hanya menjual satu kubis. Belum lagi, orang tinggi seperti mereka tidak hanya akan membeli satu bukan?
Yah, tapi siapa sangka gadis cilik itu justru mengatakan bahwa sepuluh koin perak terlalu mahal. Apakah tiga orang ini sebenarnya adalah orang miskin?
Sedikit mengubah ekspresinya dengan jejak ketidakpuasan, sebelum paman pedagang itu membuka suaranya, suara Delt mengalihkan perhatian mereka.
"Hanya sepuluh koin perak, mengapa begitu ribut Ilo? Mari patuh dan beli. Kami butuh sepuluh kubis, tolong siapkan," ujar Delt.
Paman penjual segera berbunga kembali, "Tentu saja. Akan segera saya siapkan tuan!"
Paman penjual itu segera menyiapkan apa yang diminta Delt, sementara Iloania mendongak dan menatap sebal pada Delt.
"Jelas saja pedagang ini mencoba menipu guru, kenapa guru justru tetap membelinya? Hmph! " Batin Iloania.
Merasakan tatapan panas dari muridnya, Delt menoleh dan tersenyum tanpa daya. Terlebih ketika gadis lima tahun itu membuang mukanya acuh dan berjalan mengikuti Vleia yang sedang melihat-lihat sekelilingnya dengan wajah arogan dan sombong.
"Ini tuan kubis anda." Kata paman penjual.
Delt mengambil sekeping uang koin emas dan memberikannya pada penjual itu.
"Terima kasih, silakan datang lain kali~" Katanya.
Wah, pedagang itu saja sudah mendapatkan uang 50 koin perak karena menipu. Delt menganggukkan kepalanya dengan ramah dan sedikit berlari kecil menyusul Iloania dengan kubis yang telah disimpannya didalam cincin penyimpanan.
"Ilo, tunggu guru." Katanya.
Sayang sekali bahwa gadis cilik didepannya itu tak sedikitpun menoleh dan bahkan mempercepat langkah kakinya.
"Anak muridku sedang marah. Bagaimana membujuknya?" Gumamnya sembari meletakkan tangannya didagu topengnya.
Sesaat kemudian sepasang manik sewarna langit itu berbinar oleh cahaya. Nampaknya, guru muda yang tengah dalam kondisi diacuhkan muridnya ini memiliki ide.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
26/12/2021
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux