Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 45 "Percayalah, Aku Akan Membantu Sebisaku"


Gailes menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana puluhan orang-orang dengan rupa menyeramkan dengan brutal menghancurkan bangunan-bangunan disekelilingnya. Dengan tebasan tangan mereka, satu dinding batu dapat hancur dalam sekejap. Diantara mereka, hanya beberapa yang nampak sedikit tenang, meski tetap menghancurkan apa yang dilihat dan mengganggunya. Ia mengeratkan giginya dengan wajah datar, mengangkat tangannya dan memunculkan jejak cahaya keabuan disana.


"Pisau Penebas." Gumamnya.


Hembusan angin berkumpul, memadat menjadi banyak bentuk tajam dan pipih, yang kemudian dilesatkan kepada masing-masing manusia hantu. Namun sebelum itu menyentuh mereka, angin lain memecah, menghentikan serangan pada titik lebur yang sia-sia. Gailes mendongak dan melihat Iloania turun dari piringan hitamnya, mendarat beberapa langkah darinya dan menatapnya dengan sorot mata saat mereka pertama kali berjumpa.


"Kakak ingin membunuh mereka lagi." Kata Iloania.


Gailes memandangnya dengan tidak puas. "Jangan menganggu. Mereka menghancurkan kota ini, jika dibiarkan, mereka bisa menyebar kekota lain dan menyebabkan korban lagi."


Ilania juga tidak puas. "Kak Gail lupa dengan bukunya!"


Gailes tertegun. Ia memikirkan buku yang diberikan oleh Iloani, dan teringat dengan hal-hal yang tertulis didalamnya. Ada tertulis, jika sihir hitam dapat dibatalkan dengan hanya menggunakan sihir cahaya atau menggunakan titik kelemahan sihir itu, yakni penggunanya. Jadi, apakah benar mereka bisa diselamatkan?


Gailes mengangkat satu tangannya keatas. Cahaya keunguan muncul disekitarnya, dan merambat kelangit dalam hitungan detik. Menembus awan, dan memunculkan kilatan-kilatan petir dilangit.


"Kubah Petir." Gumamnya dengan nada dingin.


Petir memecah dilangit malam. Cahaya ungu menyambar kesudut-sudut tertentu. Membentuk tepatnya segitiga dengan cahaya yang melingkupinya. Manusia hantu yang terjebak didalamnya mencoba menerobos, namun gerakan mereka tertahan. Bahkan setelah mereka mengerahkan kekuatan mereka untuk menyerang. Dari tiga pilar petir yang kokoh, sulur petir memanjang. Bergerak seperti ular dan meliuk-liuk diudara. Sebelum melesat menuju manusia hantu yang menyebar dan menangkapnya. Menjebaknya dalam ikatan kencang dan melemparkannya kedalam barrier petir. Gerakan itu berulang dan berulang sampai sebagian besar manusia hantu berhasil terjebak dalam barrier.


Iloania memandang Gailes selama lima detik sebelum berbalik dan mengangkat pandangannya, dan samar melihat beberapa samar melayang tinggi dilangit. Gelap dan bergerak dengan lembut. Sepasang manik emas menyipit, dan Iloania bersenandung dengan nada yang sangat tipis.


"Kak Gail!! Ilo!!" Teriakan itu membuat Iloania menoleh. Sementara Gailes, melirik disudut matanya.


Merina menerjang Iloania dan memeluknya. "Kenapa kamu begitu impulsif?! Bahkan disalju yang dingin seperti ini kamu bahkan hanya membiarkan tubuhmu tertutupi sehelai pakaian tipis!"


"Bagaimana jika kamu flu? Kak Gail juga?!" Katanya.


Iloania menyunggingkan senyuman tidak berdaya, "Aku memang agak terburu-buru. Maaf ya, Merie."


Gailes menatap Hyurents dan Geace sekilas. "Kumpulkan manusia hantu. Jangan menyakiti mereka."


Geace mengangguk tanpa kata dan pergi dalam hitungan detik, begitu pula dengan Hyurents. Ada aroma samar, asap, dan kabut perlahan memenuhi tempat itu menjadi lingkungan yang gelap dan gelap. Iloania memandang sekelilingnya dengan waspada. Sedangkan Gailes memejamkan mata, menggunakan instingnya untuk mendeteksi perubahan ini.


Blarrr!!! Blarrr!!!


Dua sambaran panjang muncul dari langit sekaligus. Seperti lajur lontaran senjata api, itu panjang dan berekor. Jejak hitam terlihat, dan langsung mengarah pada Gailes. Menyebabkan kabut debu menutupi area itu selama beberapa waktu. Ketika kabut menipis, sosok Iloania menggunakan piringan hitamnya, melayang dan memunculkan barrier untuk melindungi Gailes dan Merina dibawahnya.


Krak!


Manik Iloania sedikit menyipit, ketika barrier yang diciptakannya mengalami keretakan yang cukup parah. Maka Iloania mengakuinya. Serangan itu, benar-benar kuat dan berbahaya. Barrier loania tidak hanya retak, namun Iloania merasakan sedikit kebas ditangannya ketika menahan dua serangan itu.


Iloania bergumam dengan suara setipis benang, "Vleia, bagaimana kekuatanmu melemah?"


"Bukan melemah sayangku, Ilo~ Itu benturan, kekuatanku dan kekuatan ini berbenturan. Itu tidak akan berpengaruh padaku, tetapi akan berpengaruh padamu. Segel itu, akan berpengaruh jika benturan terjadi terus menerus."


Mendengar perkataan Vleia, Iloania mengatupkan bibirnya dan menurunkan tangannya.


"Tidak, jika segel itu terlepas ... Tidak! Itu tidak boleh terjadi." Samar Iloania pada Vleia.


Vleia menjawab. "Kamu hanya perlu menghindari sihir itu Ilo. Jangan memaksakan diri. Kamu yang paling tahu konsekuensinya."


Iloania memandang sekelilingnya dan menggunakan kekuatannya. Ada cahaya keabuan ditangannya yang menyebar dan menghantarkan hembusan angin kuat, menyapu kabut pekat keunguan dalam sekali sapuan. Bergulung, pemandangan itu jelas dilihat dengan mata telanjang. Tetapi dalam sekejab, kepulan asap itu kembali menutupi jarak pandang mereka.


"Mereka menghilang." Gumamnya.


Gailes menatap kosong kedepan. "Buku itu hanya omong kosong. Jika aku menyingkirkan mereka tadi, mereka tidak akan menghilang kabur."


"Kenapa aku berhenti?"


Iloania menatapnya. "Kak Gail, mereka bisa diselamatkan."


"Lagi, lagi. Kalimat itu membuatku kesal. Ketika mereka muncul, aku akan menyingkirkan mereka. Aku akan menggunakan caraku. Dan jika kamu tak senang dengannya maka kamu tahu apa yang harus dilakukan." Ucap Gailes.


Tatapan yang sama, kosong itu membuat Iloania sedikit tertunduk.


Gailes tanpa kata melewati Iloania dan pergi. Sementara Merina menatap keduanya dengan cemas. Ia mendatangi Iloania dan dengan ragu bertanya. "Ilo, apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, Merie."


Mendengar jawaban Iloania, Merina ragu sebelum akhirnya mengangguk. "Ayo kembali, yang lain akan cemas."


Iloania terpaku ditempatnya, menggulung senyuman. "Aku tidak akan ikut denganmu. Kamu bisa pergi menyusul kak Gail. Tunggu dan dengarkan aku, aku memiliki sesuatu yang harus kulakukan, lagipula perjalananku masih jauh. Jadi, sampai jumpa lain waktu, Merie."


"Ah?! Kamu ingin pergi? Kemana? Ikutlah denganku saja, Ilo." Pinta Merine.


Iloania menggeleng. "Aku memiliki sesuatu yang harus dilakukan. Percayalah, aku akan membantu sebisaku, meskipun aku tidak tahu mengapa menjadi sangat penting untuk sekedar membunuh dan melenyapkan. Jadi, tolong temani kak Gail, Merie."


Tanpa mendengarkan kata-kata dan panggilan Merina, Iloania berbalik dan menaiki piringan hitamnya. Terbang menjauh dengan cepat, melintasi pepohonan yang menjulang tinggi dan rimbun. Iloania sudah memutuskan untuk menyelidiki masalah ini. Masalah yang juga pernah diketahuinya bertahun-tahun lalu saat bersama dengan gurunya.


...***...


Gailes tiba dipondok dengan wajah dan aura yang dingin. Sepasang manik kelabu itu tetap kosong, dan bibirnya membentuk garis ketat. Ia mendudukkan dirinya dibangku tunggal dan merenungkan kejadian malam ini. Seharusnya dia bisa menghentikan mereka. Menahan mereka agar tidak meloloskan diri.


Tetapi, petir darimana itu?


"Kak Gail, sebenarnya bagaimana keadaannya? Kenapa mereka bisa tiba-tiba menghilang?" Tanya Merina.


Gailes menolehkan kepalanya sesaat sebelum bertanya dengan samar. "Dia, tidak ikut denganmu?"


"Ilo? Um, dia mengatakan memiliki sesuatu yang harus diurus. Dia mengatakan akan mencoba yang terbaik untuk membantu, meskipun dia tidak tahu mengapa, ini menjadi sangat penting untuk membunuh? Sepertinya itu yang diucapkannya." Kata Merine mengulangi perkataan Iloania.


Gailes membuat suara gumaman yang setipis suara angin. Bahkan mungkin, hanya didengar olehnya sendiri. Gadis itu, adalah pilihannya sendiri untuk tidak senang dengan caranya. Tetapi hanya dia yang tahu, kenapa dia, benar-benar ingin segera membunuh mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


13/09/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux