
Suara jangkrik melengking dipadang yang luas itu. Deru suara ombak dan samar suara angin terdengar malam itu. Memang pemandangan yang cukup asing untuk melihat padang dan pantai yang saling membelah. Itu benar-benar bukan pasir, tetapi itu juga bukan danau atau mata air, melainkan pantai yang terhubung langsung kelaut lepas.
Orang diwilayah itu sering memanggilnya dengan nama Tundra Airia.
Meskipun tempat ini tidak terlihat begitu menarik dalam keindahannya, dan bahkan air pantainya yang lebih gelap dibandingkan air pantai yang jernih, namun tempat ini adalah tempat yang paling luar biasa dimuka bumi.
Ada sebuah kabar yang mengatakan bahwa siapapun yang menginjakkan kakinya disana, tak akan pernah kembali lagi secara hidup-hidup. Tetapi itu terjadi hanya sejak sepuluh tahun belakangan. Tidak hanya satu orang yang memberikan kesaksian, tetapi hampir seluruh orang diwilayah itu menceritakan tentang menemukan potongan anggota tubuh didekat sana.
Mereka percaya bahwa ada penunggu ditempat itu karena kutukan penyatuan dua hal yang sebenarnya sangat tidak sepantasnya disatukan. Dan orang-orang memanggil kutukan itu dengan nama "Rohe".
Kicau burung terdengar, semilir angin menerpa dedaunan dihutan yang dihuni oleh satwa liar. Bahkan tak ada jejak roh sihir atau binatang sihir disana. Suara burung yang seperti tawa, suara serangga yang seperti lengkingan jerit, dan suara mamalia yang seperti memanggil.
"Kudengar tempat ini menyembunyikan harta yang luar biasa," kata seseorang.
"Benarkah?" Tanya yang lain.
Dua orang itu melangkah menyusuri jalan setapak dihutan. Meskipun mereka telah mendapatkan peringatan dari penduduk desa yang mereka temui, mereka masih terus maju untuk memasuki gerbang menuju Tundra Airia.
Ada seorang pengumpul kayu ranting yang melihat mereka dari jarak yang cukup jauh. Pakaian mereka seperti pakaian penduduk kota maju, dan mereka memiliki lencana sihir dipinggang mereka. Pria itu meninggalkan sementara rantingnya dan berlari mendekati mereka yang hampir mencapai pilar bertempelkan jimat berwarna kuning.
"Tunggu! Jangan masuk!!" Lantangnya menahan gerakan mereka.
Terengah, dia mendengar mereka berkata. "Ingin memperingatkan kami? Kami sudah cukup mendengarnya selama diperjalanan."
"Ya, pak! Tolong jangan menghambat kami." Kata yang bertubuh tinggi.
Pria itu terkejut mendengar perkataan keduanya. "Kalian sudah diberitahu tetapi masih tetap ingin pergi?! Kalian harus tahu tentang Rohe! Makhluk itu berbahaya!!"
Meskipun dia memperingati mereka, namun dua orang itu mengabaikannya dan melangkah melewati pilar. Pria itu hendak mengejar mereka, namun ketika menyadari kakinya tinggal selangkah didekat pilar, dia melompat kebelakang karena terkejut.
"Aku sudah memperingati mereka." Gumamnya samar dengan nada ketakutan.
Ia memandang punggung dua orang itu yang makin menyempit. Ketika ia mengangkat sedikit tatapannya, ada sesosok bayangan samar diatas puncak pohoh dipinggir hutan itu. Jantung pria itu berdetak keras, dan dia berlari sembari menahan jeritannya.
Dia melihatnya! Sang Rohe!!
Memejamkan matanya, Iloania memasang posisi pertahanan diri ditengah tanah lapang yang dikelilingi hutan. Langit nampak mendung, dengan angin yang sedikit berhembus dengan lebih kuat daripada biasanya. Sesaat ketika dia melangkahkan kakinya selangkah kedepan, ada bilah tajam yang terarahkan kepadanya. Dengan kecepatan tinggi. Tetapi mengandalkan latihannya selama beberapa minggu ini, Iloania berhasil menghindarinya dengan mudah.
Syut!
Sebuah mata pisau berhenti didepannya, disusul mata pisau lainnya. Iloania mengangkat tangannya dan menggerakkannya samar dengan gerakan pelan, hingga membuat pisau-pisau itu berputar mengitarinya.
Ia membuat gerakan menunjuk kearah sebuah pohon, dan mata pisau itu secara bersamaan terlempar dan melesat dengan cepat menuju pohon yang ditunjuk Iloania.
Slap!! Slap!! Slapp!!
Suara pisau yang tertancap dibatang dan didahan pohon selepas menembus dedaunan terdengar. Tetapi hampir bersamaan dengan itu, seseorang lebih dulu melompat keluar dan menyerang Iloania dengan sihir. Itu Ozzo, menyatukan kedua tangan didepan dada dan menariknya berpisah untuk memunculkan serpihan logam tajam yang terlontar kearah Iloania.
Menggunakan instingnya, Iloania melompat menghindari setiap serangan yang datang dan menggunakan elemen sihirnya untuk menciptakan dinding pelindung.
Tak hanya bertahan, Iloania mengangkat tangannya dan menciptakan serangan angin yang kuat. Dalam lajunya, serangan angin Iloania mengangkat dan memporak-porandakan pohon dan tanah dalam jangkauan duaratus meter. Bahkan hembusan angin yang dirasakan masih kuat.
Tap!
Mendarat dengan lembut, Ozzo mengangkat kedua tangannya dan menggunakan serulingnya.
Fluu— Nada lembut dan tenang terdengar, sehingga angin berhembus. Tetapi berlalu suara semakin keras dan semakin tidak terkendali. Angin menderu dengan kuat, bahkan menumbangkan dan menerbangkan pohon hingga jauh. Angin memenjarakan Iloania, yang kerap kali hampir terseret oleh pusaran angin yang mengitarinya. Semakin keras, semakin kuat dan semakin berbahaya.
Cukup jauh dari tempat itu, Lasius sedikit melindungi pandangannya dari angin yang kuat. Ia memperhatikan dengan kecemasan, tetapi dia hanya mengepalkan tangannya. Dia yakin Iloania pasti bisa melewati latihan terakhir ini.
Fluuuu— Suara seruling terekam jelas oleh pendengarannya. Iloania tidak terburu-buru, dan tidak mengambil tindakan gegabah, tetapi dia juga tidak bisa terus diam ditempatnya dan ditekan oleh angin ini.
"Elemen angin, Hembuskan!" Gumamnya sembari menggerakkan tangannya membentuk gerakan menyentak kesamping.
Bersamaan dengan gerakannya, pusaran angin yang menggila secara tiba-tiba berhenti dan lenyap. Suara seruling Ozzo terhenti kala dia menyadari bahwa dia tak bisa mengendalikan angin kembali. Menurunkan serulingnya, Ozzo menyunggingkan senyuman sebelum berbalik dan melangkah pergi.
"Terima kasih banyak, Ozzo!" Lantang Iloania ketika tahu Ozzo berbalik hendak pergi.
Pria itu berkata sembari melangkah. "Sepertinya kita akan bertemu kembali dalam waktu dekat. Yah, sampai saat itu sepertinya aku juga harus segera mempersiapkan bala bantuan."
Iloania membungkukkan badannya memberi hormat dan terima kasihnya. Bagaimana dia bisa memahami arti sesungguhnya dari angin. Bagaimana dia bisa selangkah lebih dekat menuju tubuh Vleia.
"Ilo? Bagaimana keadaanmu? Apa kamu terluka?" Mendarat disampingnya, Lasius segera menanyakan keadaan Iloania dan memeriksanya dari kanan ke kiri dan dari atas sampai kebawah dengan matanya. Ia bahkan sampai memutar Iloania.
"Lenganmu tergores? Lihat, bahkan wajahmu juga tergores." Kata Lasius mengungkapkan kecemasannya, namun nadanya tetap datar.
Iloania menghentikan gerakan Lasius yang nampak tak akan berhenti sampai menemukan luka padanya. Iloania berkata, "Aku baik-baik saja kak. Hanya beberapa lebam kecil dan goresan, selain itu aku baik-baik saja."
Lasius menatap Iloania dan melihat kesungguhannya. "Benarkah?"
"Mn, aku sungguh baik!" Jawabnya.
Lasius menghela napas dan mengelus pelan puncak kepala Iloania. "Kamu sudah berusaha dengan sangat baik. Selanjutnya, beristirahatlah sampai kita tiba di Nosten."
Iloania mengangguk patuh. "Baiklah~"
"Hallias!" Panggil Lasius segera mendapat respon dari Hallias.
Burung Phoeniks itu mendarat disamping mereka. Dan suaranya terdengar menyapa, "Tuan, nona Iloania."
Iloania melambaikan tangannya. "Halo, Hallias~"
"Hallias, kita harus segera pergi. Dan kita sudah tak lagi memiliki banyak waktu."
Hallias merentangkan sayapnya yang memancarkan cahaya lembut. Ia berkata, "Saya akan memastikan saya terbang secepat yang saya bisa."
Lasius mengangguk. "Ilo, naiklah."
Naik lebih dulu keatas punggung Hallias, Lasius mengulurkan tangannya menyambut tangan Iloania dan menariknya keatas. Mendudukkan Iloania dibelakangnya, ia melingkarkan tangan Iloania dipinggangnya.
"Berpeganganlah padaku."
Iloania tertawa dan menyandarkan kepalanya dipunggung tegap kekasihnya itu, dan bergumam. "Baiklah."
Hallias mengepakkan sayapnya dan melayang tinggi. Ketika dia mengepak dan melesat dengan cepat, mereka tahu bahwa hari-hari yang lebih berat akan ada didepan mata.
"Berkembanglah, dan teruslah bertambah kuat, karena itulah takdir yang kau miliki, Iloania Rexelite." Ucap Ozzo ketika menatap kearah Hallias, sebelum kembali berbalik dan melangkah dengan bantuan tongkat berjalannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
05/06/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux