Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 143 "Keteguhan Hati"


Pelajaran pada hari itu benar-benar diperhatikan dengan baik oleh Zeron. Meskipun sebenarnya dia selalu memperhatikan pelajaran dengan sangat baik dan tidak pernah sekalipun main-main. Tidak ingin melakukan kesalahan sedikitpun yang bisa membuat gurunya tidak puas akan kegagalannya.


"Lihat-!" Ia hendak mengoreksi ketika sebuah burung merpati hinggap diatas toples kaca dan memandangnya dengan mata yang untuk sesaat berkilat putih.


Ia mengerutkan keningnya dan mengeluarkan sihirnya untuk disalurkan pada burung merpati itu. Tubuh burung merpati itu memudar dan melebur sebelum sebuah gambaran seperti sebuah pemutar film muncul ditempat merpati itu berada.


Ada sosok pria yang mengenakan pakaian hitam, rambutnya putih dan janggutnya panjang. Matanya memandang tegas, dan ada aura yang menyelimutinya. Suaranya terdengar halus namun dingin bersamaan. "Anorexa."


"Memberi salam pada guru."


Meskipun itu hanya berupa fragmen ingatan, namun Anorexa tetap memberikan salam sapaan karena rasa hormatnya. Jika Anorexa adalah guru Zeron, maka Zeron harus menganggapnya sebagai guru besarnya karena merupakan orang yang telah mengajari gurunya.


Suara pria itu berlanjut. "Sudah hampir 30 tahun usiamu saat ini. Sudah saatnya kamu menentukan pasanganmu, Anorexa."


Jantung Zeron berdentum dengan kencang, seakan ia benar-benar mendengar berita buruk, wajahnya memucat. Gurunya sudah berusia hampir tigapuluh tahun, dan di wilayahnya, semua orang harus memiliki pasangan sebelum genap berusia tigapuluh tahun, atau jika melebihi itu, tidak akan diizinkan untuk mencari pasangan. Zeron selalu melupakan fakta itu, hingga kini ia lupa bahwa gurunya sudah hampir berusia tigapuluh tahun dalam dua bulan.


"Aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam hidupmu, namun aku telah membantumu memilih pria yang mungkin bisa menjadi pasanganmu. Datanglah ke puncak satu minggu lagi, dan jumpailah mereka yang mencoba mendapatkan hatimu. Jika kamu merasa nyaman dan baik dengan salah satu dari mereka, segera nikahi mereka."


Zeron memandang Anorexa yang nampak terdiam, dan nampak menimang sesuatu. Ia dengan sepasang manik gelapnya yang bergetar mencoba mengendalikan perasaannya yang campur aduk dan pada akhirnya dia dengan tegas memejamkan matanya dan membuka suaranya yang sedikit serak. "Guru, aku mohon izin istirahat lebih awal. Aku merasa sedikit lelah hari ini."


"Apakah kamu baik-baik saja? Apakah perlu guru memeriksamu?"


Zeron tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, guru. Aku hanya akan istirahat sebentar karena sedikit lelah. Aku tidak sakit."


Anorexa tidak banyak berkomentar dan menganggukkan kepalanya. "Istirahatlah kalau begitu. Jika merasa tidak nyaman, segera panggil guru dan akan guru siapkan obat."


"Baik guru. Terima kasih!"


Ia kembali dengan cepat ke kamarnya. Melemparkan dirinya ke tempat tidur, manik Zeron memandang langit-langit jerami dan kayu dengan pandangan kosong.


Pikirannya menjadi satu, dan apa yang diingatnya adalah bahwa guru besarnya meminta gurunya memilih pasangannya yang sudah disiapkan. Jika itu terjadi, tidak hanya dia tidak bisa bersama gurunya sebagai pasangannya, gurunya bahkan bisa meninggalkannya untuk bersama dengan suaminya. Memikirkannya, kepala Zeron sakit, sama sakitnya dengan jantungnya yang seperti ditikam sesuatu yang tak kasat mata.


"Guru, apa yang harus aku lakukan?"


Ia bergumam dengan suara setipis kertas, dan sepasang maniknya berair. Untuk pertama kalinya, Zeron tidak mampu menahan air matanya.


Bahkan ketika dia terluka parah saat melawan binatang iblis. Bahkan saat dia kelelahan karena latihan, dia tidak pernah merasa bahwa dia akan menangis. Namun kali ini, hanya dengan memikirkan wajah dan senyuman gurunya, dia tidak bisa menahan air matanya.


...***...


Perlu banyak waktu untuk memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan. Pemuda itu terus menerus menghindari sang guru selama beberapa hari, dengan berbagai alasan yang diberikannya.


Zeron tengah duduk dibawah pohon ketika sebuah suara menginterupsinya. "Kak Zeron, sedang melamunkan apa?"


Pemuda itu menoleh, menemukan adik seperguruannya tengah memandangnya dengan kepala yang dimiringkan penasaran. Zeron memandangnya selama beberapa waktu sebelum menggelengkan kepalanya, membuat gadis itu cemberut.


"Kak Zeron bisa bercerita padaku. Meskipun aku terlihat kekanakan, sebenarnya aku tidak begitu bodoh dalam urusan kehidupan. Aku sebenarnya memiliki cukup banyak pemahaman tentang masalah-masalah yang sering dihadapi orang lain." Ucap gadis itu.


Pemuda itu tidak bisa sepenuhnya mempercayai ucapan gadis yang bahkan lebih muda darinya. Membahas masalah seperti itu, sebenarnya lebih bagus mendiskusikannya dengan orang dewasa. Namun melihat tampilan manik yang tegas dan penuh kepercayaan diri itu, Zeron pada akhirnya membuka bibirnya setelah diam selama beberapa menit. "Jika kamu jatuh cinta pada seseorang, apakah seharusnya kamu mengungkapkannya?"


Pertanyaan itu membuat gadis itu mengangkat tangannya dan menyentuh dagunya. "Jawabannya tergantung sebenarnya. Apakah kakak benar-benar mencintainya atau itu hanya perasaan suka sesaat."


"Aku mencintainya."


Tidak ada keraguan sedikitpun dalam suaranya yang membuat gadis itu meliriknya dan menyunggingkan senyuman. "Menurutku tidak ada yang salah dengan mengungkapkannya. Selama kakak memiliki mental dan keteguhan hati, tidak masalah selama kakak tidak terus memendamnya yang lama-lama justru bisa menjadi obsesi. Obsesi adalah perasaan lain yang lebih berbahaya."


Mendengarkan kata-kata gadis itu, Zeron memikirkannya dengan lamat sebelum dia mengepalkan tangannya. Ia membuka bibirnya untuk bergumam samar.


"Terima kasih."