Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 9 "Bertemu Dengan Teman"


Iloania menatap penginapan didepannya. Ia melangkah menuju meja pendaftaran dan mendaftarkan dirinya untuk memesan sebuah kamar.


"Permisi," sapa Iloania dengan ramah.


"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu cukup ramah.


Iloania tersenyum tipis, "Bisakah saya memesan satu kamar disini? Untuk semalam saja."


Wanita yang kemudian tertegun begitu Iloania membuka tudung jubahnya. Wanita itu segera tersadar, "Ah. Biaya permalam 8 koin emas lengkap dengan fasilitas air mandi dan makan malam."


"Baik." Gumam Iloania sembari menyerahkan delapan koin emas diatas meja.


Wanita itu menghitungnya sesaat dan memberikan sebuah kunci pada Iloania, "Kamar 21 dilantai 2. Selamat beristirahat dipenginapan kami."


Iloania mengangguk dan berbalik, ketika ia berpapasan langsung dengan seorang gadis bersurai ungu sebahu. Gadis itu memiliki mata berwarna hijau dengan tubuh sedikit gemuk. Bibir tebalnya terbuka sedikit dan sepasang manik itu melebar. Ia menunjuk Iloania, sama halnya dengan Iloania yang terkejut dan menunjuk gadis itu.


"Ilo!"


"Jisiiana?!"


Kaget Illoania dan gadis itu bersamaan. Mereka secara naluri saling berpelukan melepas perasaan senang saat keduanya kembali dipertemukan setelah begitu lama tidak berjumpa. Jisiiana Loudeea, adalah gadis yang pernah ditolong Iloania sewaktu umur Iloania dan Jisiiana menginjak 8 tahun. Saat itu Jisiiana berniat mencari buah-buahan untuk dimakan bersama sang adik. Saat ia memanjat dari pohon yang cukup tinggi, ia terpeleset dan nyaris mati jatuh dari pohon setinggi 6 meter. Disaat itu kebetulan sekali Iloania sedang lewat dan langsung menangkap Jisiiana dengan piringan hitamnya.


Dan disanalah Iloania tinggal bersama Jisiiana dan keluarganya selama 3 minggu dan memutuskan kembali menjelajah. Awalnya Jisiiana dan keluarganya menahan Iloania. Mereka telah nyaman dengan Iloania, dan Iloania pun sudah nyaman dengan mereka. Namun, dia tak bisa tinggal disana seterusnya.


Karena itu bukan rumahnya.


"Astaga, Ilo! Bagaimana kabarmu selama ini? Aku selalu bertanya-tanya dimana dan apa kamu baik-bai saja!"


Iloania tersenyum manis, "Aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong apa yang sedang kamu lakukan disini? Dimana paman, bibi dan Illia?"


"Mereka masih ada didesa. Aku disini karena aku berniat mendaftarkan diriku ke Dragonia Academy." Jawab Jisiiana.


"Apa?" Beo Iloania.


Jisiiana tersenyum kecil, "Aku ingin berjuang dan membuktikan pada diriku sendiri. Bahwa aku mampu menjadi salah satu dari mereka. Aku ingin, menjadi kuat."


Iloania mengulas senyuman tulus, "Aku mengerti. Aku sendiri juga ingin menjadi kuat."


"Tapi, sepertinya kita harus kekamar penginapan dulu. Disini terlalu banyak yang melihat kita. Sepertinya mereka kesal karena kita mengganggu mereka." Ungkap Iloania.


Jisiiana menatap sekelilingnya dan mendapati pria-pria bahkan wanita menatap Iloania dengan tatapan kagum. Jisiiana membungkam bibirnya. Bagian mana dari mereka yang menunjukkan kekesalan mereka? Itu hanya tatapan berinar dan kegum!


Ah, Iloania masih sama saja seperti 8 tahun yang lalu.


Tapi melihat wajah Iloania yang merasa tak nyaman membuat Jisiiana menghela napas dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kita kekamarmu saja."


Iloania menganggukkan kepalanya. Melangkah meninggalkan ruangan itu, wajah orang-orang disana berubah masam ketika mereka tak dapat lagi memandang kecantikan dan mendengarkan suara yang menggetarkan hati itu.


...***...


Dikamar yang cukup luas itu, Iloania mendudukkan dirinya diranjang tunggal dengan Jisiiana duduk didepannya dengan bangku nyaman.


"Jadi, berapa lama kamu bisa sampai kesini?" Tanya Iloania.


Jisiiana nampak menimang-nimang sesuatu, "Yah~ Hampir 3 minggu perjalanan darat. Kamu tahu sendiri kan, jika aku cukup susah dengan uang. Sehingga sulit mencari binatang sihir terbang yang bisa mengantarku. Jadi aku memilih menumpang kereta pengangkut atau berjalan kaki."


"Kau sendiri? Bagaimana perjalananmu? Bagaimana kau bisa berakhir dikota ini? Kupikir kamu akan langsung kekerajaan lain karena telah mengelilingi seluruh kerajaan Alete."


Iloania tertawa kecil, "Aku juga ingin mendaftar di Dragonia Academy."


Jisiiana membelalak, "B-Benarkah?"


Gadis dengan tubuh yang sedikit terlapisi lemak itu berjingkrak gembira. Ia menatap Iloania yang juga tersenyum lebar dengan manis.


"Kita akan menjadi saudari seperjuangan yang masuk menjadi siswi disana. Ayo berjuang bersamaku Ilo~"


Iloania mengangguk, "Tentu saja. Kamu dengan sihir alam dan penyembuhanmu dan aku dengan sihir angin dan apiku. Kita akan berjuang dan masuk menjadi siswi disana."


"Tunggu, kau masih ingat aku memiliki elemen sihir alam dan penyembuhan?" Tany Jisiiana.


Iloania mengernyit bingung. "Tentu saja aku ingat. Kamu kan sahabatku, bagaimana aku bisa melupakannya."


"Iloo~" Ucap Jisiiana sembari merentangkan tangan dan memeluk Iloania.


"Tapi tunggu. Kita perlu mempersiapkan apa yang kita butuhkan diacademy. Terutama uang untuk membeli makanan dikantin dan menyewa asrama. Ilo, berapa banyak yang kamu miliki?" Tanya Jisiiana.


Iloania nampak mengingat-ingat sesuatu dalam sekian detik. "Mungkin tersisa 300 koin emas dan 50 koin perak."


"Ah! Aku hanya 200 koin emas dan 150 koin perak. Itu tidak akan cukup," gumam Jisiiana.


Ia nampak berpikir. Sampai Iloania membuka suara, "Bagaimana dengan bekerja?"


"Bekerja? Apa?"


"Kamu lihat aku bisa bertahan sampai sekarang. Setiap perjalananku, ketika uangku habis, aku akan bekerja manangkap binatang iblis dan menyerahkan inti hatinya pada petugas. Dan mereka akan memberiku uang sesuai tingkat inti hati dan level binatang iblis itu." Kata Iloania.


Jisiiana terdiam, "Aku tahu mengenai itu. Tapi melawan binatang iblis, apakah itu tidak sulit?"


"Kita membutuhkan lebih dari 40 ribu koin emas masing-masing untuk satu tahun. Bagaimana bisa kita mendapatkan sebanyak itu dalam waktu sebulan?" Kata Jisiiana.


Iloania menggeleng kecil, "Percaya saja padaku. Kita akan mendapatkan uang nanti. Saat ini yang perlu kamu pikirkan adalah cara meningkatkan levelmu. Bukankah kamu seharusnya ada di Level Bumi 6?"


Jisiiana menggaruk tengkuknya, "Tiga tahun lalu aku tak sengaja meminum ramuan yang menghambat perkembangan tubuh. Jadi, selama setahun aku tidak bisa meningkatkan levelku."


"Mwo? Bagaimana kamu masih bisa seceroboh itu?" Kata Iloania.


Jisiiana menatap kesamping dan tersenyum kaku, "Kau tahu bagaimana aku kan? Kukira itu jus manis. Ternyata ramuan yang menghambat perkembangan level."


"Aku mengerti."


Iloania menatap keluar jendela sesaat dan tersenyum, "Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi, Jie. Kupikir, aku akan menjadi satu-satunya orang asing ditengah kota yang luas."


Jisiiana meraih tangan Iloania dengan lembut. Iloania menoleh dan menatap manik hijau yang menatapnya teduh.


"Kamu bukan orang asing dimanapun kamu berada Ilo. Kami semua, kami semua keluargamu. Tak peduli siapa kamu, kami keluargamu." Kata Jisiiana membuat Iloania menerbitkan senyumannya.


Iloania menganggukkan kepalanya selepas terkekeh kecil. Iloania memang memiliki kecantikan yang luar biasa. Dan ketika ia tersenyum, kecantikannya berkali-kali terlihat lebih menyenangkan dan mempesona. Dan Jisiiana tak sedikitpun mengelak dari hal itu.


"Baiklah.. Kalian semua adalah keluargaku," gumam Iloania.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


29/04/2021


Jangan lupa beri dukungan tiap sudah membaca chapter~


Makasih banyak...


@LuminaLux