Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 35 "Kekuatan Tekad Wency"


Menginjakkan kakinya didaerah perhutanan, Iloania mendapati binatang iblis yang nampak meraung dipenuhi kemarahan. Iloania sadar, sedikit kemarahannya mungkin dikarenakan serangannya yang menghempaskannya keluar seperti tadi. Terlebih, ketika ia tiba, binatang iblis itu mencoba menghancurkan barrier yang melindungi kota itu.


Namun sayangnya, tak ada satupun serangan yang bisa membuat pelindung itu hancur.


Grooaaa!!


"Dia tampaknya sangat marah~" Ucap Iloania.


"Benda itu sangat mengganggu. Bungkam dia segera, Ilo. Ah, aku sangat mengantuk."


Iloania mengangguk, "Sama~".


"Cincin Api." Gumam Iloania.


Nyala api terlihat diarea leher binatang sihir itu. Cahaya itu membesar dan membentuk cincin api yang bertingkat dan mengurung binatang iblis itu didalamnya. Binatang iblis itu mengamuk, mengeluarkan semacam ledakan energi yang membuat cincin api pecah dan menghilang.


Binatang iblis itu berbalik dan membuka mulutnya. Mengumpulkan petir dimulutnya dan melontarkannya pada Iloania.


"Perisai Angin." Gumam Iloania, membentuk sebuah puraran angin yang membuat bola petir itu tertelan dan menghilang tanpa jejak.


Ketika melihat kedepan, binatang iblis itu telah berpindah kebelakang Iloania, membuka mulutnya dan hendak melontarkan serangan api kepada Iloania. Iloania menggunakan piringan hitamnya untuk menjadi pelindung dan membuatnya terdorong beberapa meter ketika tak kuasa menahannya.


Grooaaa!!!!


Manik emasnya menatap binatang iblis yang mendekat. Sepasang mata itu memiliki pandangan yang beberapa kali mengabur sebelum akhirnya menghindari serangan yang datang berikutnya.


"Badai Langit."


Gumaman Iloania menciptakan langit dipenuhi gumpalan awan hitam. Rintik hujan turun dan angin menerpa binatang iblis itu dengan ganas. Tiap tetesan air yang terseret berubah menjadi mata pisau yang terus menggores dan menggores disekujur tubuhnya.


Hingga salah satu antena dikepalanya terpotong dengan mudah.


Grooaaaa!!!!


Binatang iblis itu meraung makin hebat dan mengerang kesakitan. Akhirnya Iloania mengetahui, jika antena dikepalanya itu adalah kelemahan binatang iblis yang ada didepannya.


Iloania memunculkan piringan hitam, "Paranada penjebak." Dan menjebak binatang iblis itu kedalamnya.


"Lingkaran api pem-".


Sebelum menyelesaikan ucapannya, sesuatu yang dingin melewati pipi Iloania. Menggoresnya dan menghantarkan sensasi perih yang membeku.


Ketika melihatnya, sebuah anak panah dari air yang segera meleleh terlihat membasahi tanah dan terserap kedalamnya. Iloania berbalik dan mendapati seseorang berdiri diatas dahan pohon dengan busur yang terbuat dari air. Sepasang mata biru dingin itu menatapnya dengan tajam.


"Ah, kakak yang waktu itu~" Gumam Iloania.


...***...


Setelah meninggalkan Iloania dan mulai melawan beberapa orang berjubah hitam dan bertopeng merah bersama dengan kelompoknya, Cleus menyasikan ketika binatang iblis terhempas. Sedikitnya ketika cahaya keemasan memendar dan membentuk sebuah barrier yang melindungi seluruh kota itu dari binatang iblis, hanya satu yang terselip dibenaknya.


Apakah itu kekuatan Iloania?


Cleus menghindari serangan satu berjubah didepannya. Gerakan pengguna elemen tanaman itu membuat Cleus hanya menghindar. Dia benar-benar tahu bahwa sihir petir lemah terhadap sihir elemen tanaman seperti itu.


"Katakan siapa kalian dan apa mau kalian?!" Tanyanya tegas.


Sosok yang diyakini gadis itu terkikik. "Kehancuran.. Kehancuran.. Khikhi.. Kehancuran kota ini.."


Mendengar itu, Cleus terkejut. Ia menggerakkan tangannya dan memunculkan pedang. Gerakan memotong tanaman yang terus tumbuh dan menjalar itu membuat Cleus tak henti menebas. Sampai sebuah bola api melesat dan membakar tanaman-tanaman itu.


"Ayah!"


Dari arah belakang, sosok Wency muncul dengan wajah tanpa keraguan dan tanpa keraguan.


Cleus terkejut, "Wency! Ayah menyuruhmu bersembunyi. Kenapa kau ada disini?!"


"Aku bukan pengecut ayah!"


Wency memunculkan bola api dikedua tangannya. "Jika Ilo saja bisa bertarung, aku juga bisa! Aku tidak ingin selalu menjadi yang dilindungi! Aku juga akan berjuang bersama ayah dan Ilo!"


"Tapi disini berba-"


"Ayah!"


Wency memotong ucapan Cleus. "Aku bisa, ayah. Percayalah."


"Jangan kecewakan ayah dengan lukamu. Mengerti?!" Kata Cleus membuat Wency menyunggingkan senyum penuh keyakinan dan tekad dikedua manik ungunya.


Ketika Cleus meninggalkan Wency dan gadis bertopeng itu, Wency memandangnya dengan yakin.


"Aku akan mengalahkanmu!" Ucapnya tanpa rasa takut.


Gadis itu terkikik, "Khikhi.. Menghancurkan kota, adalah tugas utama kami."


"Aku tidak akan membiarkanmu, menghancurkan kota kelahiranku! Hyaaa!!" Lantang Wency.


Gadis itu melemparkan bola api kearah gadis bertopeng dengan cepat. Namun gadis itu menahannya menggunakan tanaman dan membiarkannya terbakar sebelum memunculkan tanaman rambat lainnya. Namun, Wency tak menyerah.


Kota ini, kota ini adalah kotanya. Tempat dimana dia dan ibunya bersama. Tempat yang penuh kenangan. Bagaimana mungkin dia membiarkan kenangan itu akan dihancurkan?!


"Cakram Api." Kata Wency.


Ia melebarkan tangannya kesamping. Dari telapak tangannya muncul cakram air yang berdiri dan berputar dengan cepat. Selayaknya cincin sirkus. Wency mengayunkan lengannya kedepan dengan gerakan dari samping kedepan. Bersamaan dengan gerakan tangannya yang lembut, kedua cakram api itu melesat dan melebar, memotong tiap batang kayu yang mencoba menahan gerakan cakram itu.


Sayangnya cakram itu meledak sebelum mengenai gadis bertopeng. Gadis bertopeng itu terkikik sebelum mengambil gilirannya menyerang Wency. Sulur tanaman rambat muncul dari bawah kaki Wency dan mengikatnya. Kedua tangannya ditahan sama halnya dengan kakinya. Sementara satu sulur mencengkram lehernya dan makin lama makin dieratkan.


"Ugh!" Gumam Wency.


Gadis itu mendekati Wency, "Kotamu.. Akan hancur.. Lihatlah.. Kehancurannya.. Khikhikhi.."


Wency mengeratkan giginya dan berusaha memberontak bahkan sampai memunculkan urat nadi dipelipis dan lehernya. "Jangan bermimpi!!"


Ketika Wency memekik, api menyembur dari seluruh tubuhnya dan mengenai sedikit bagian dari lengan gadis bertopeng. Ketika sosok Wency kembali terlihat, gadis itu tak siap menerima tendangan Wency diperutnya. Tendangan itu diyakini kuat, karena bahkan dapat membuat gadis itu terlempar dan bergulung ditanah sejauh berberapa meter sebelum kembali berdiri dengan tegas.


"Ini yang terakhir.." Gumam Wency.


Secara bersamaan, keduanya menggunakan sihir mereka.


"Tanaman Penghancur."


"Sayap Api."


Kedua macam serangan bertabrakan ditengah-tengah. Saling mengikis dan saling menahan. Keduanya berusaha keras agar masing-masing serangan mereka bisa bertahan. Sampai Wency sedikit melemah ketika merasakan rasa sakit mendera bagian bahunya. Sebuah sulur menembus bahunya, memunculkan cairan merah segar. Namun, itu tidak membuat serangannya hilang.


Wency menahan rasa sakitnya dan menatap tajam sosok didepan sana.


"Aku. Tidak bisa. Kalah!!!" Lantang Wency sembari meningkatkan serangannya.


Sedikit demi sedikit serangan Wency lebih mendominasi. Mendekat, semakin dekat dan membuat sepasang mata hitam dibalik topeng melebar besamaan dengan ledakan yang terjadi.


"Ahhhhhh!!!"


Ketika asap menyempit, sosok gadis bertopeng itu terbaring tak sadarkan diri ditanah. Sementara tak jauh darinya, Wency berdiri sembari memegangi luka dibahunya yang terus mengeluarkan darah.


Gadis itu terengah kelelahan akibat menguras sihirnya. "Hah.. Hah.."


"Nak Wency!" Suara itu membuatnya menoleh dan mendapati beberapa bantuan datang kepadanya.


"Dia disana," tunjuk Wency pada gadis bertopeng itu.


Pria itu terkejut, "Astaga! Nak Wency sangat hebat, bisa mengalahkannya. Namun sekarang luka nak Wency harus segera diobati."


Wency tersenyum bangga, "Baiklah."


Ini adalah hasil semangatnya. Tekadnya membawanya kepada rasa ingin melindungi sesuatu yang berharga baginya. Kota ini dan ayahnya. Wency memandang kearah langit dan memejamkan mata sembari bergumam dengan nada seringan angin.


"Semoga ayah dan Ilo berhasil." Gumamnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update


13/7/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux