Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 126 "Sebuah Keranjang Dan Ketakutan Dari Kenyataan"


Brugh!


Asta menarik napas dalam ketika paru-parunya bisa merasakan kembali udara setelah ia hampir mengisi separuhnya dengan air danau. Pemuda itu terbatuk, mencoba menetralkan pernapasannya yang berantakan.


"Apa kau bosan hidup, hah?!"


Pertanyaan itu terlontar, membuat Asta yang masih dilanda rasa ambang kematian menoleh dengan bingung. Itu Rema, jadi dia yang menyelamatkannya?


Asta membuka bibirnya. "Te—Terima kasih, Rema."


Rema tidak mengatakan apapun selama beberapa waktu. Memandang Asta dengan tatapan marah. "Apa kau bosan hidup?!"


Merasa bahwa dirinya disalahkan, Asta mengerutkan bibirnya. Merasa tidak nyaman. Dia hanya ingin mengambil keranjangnya. Dia tidak ingin tenggelam, dia tidak ingin mati. Asta hanya ingin keranjangnya, untuk mengumpulkan tanaman obat dan membeli kebutuhannya untuk bertahan hidup. Dunia sudah sulit, siapa yang tahu apakah jika dia mati, dia benar-benar bisa merasa nyaman diatas sana. Bagaimana jika dia masuk ke neraka?


Asta tidak ingin mati dengan sia-sia. Setidaknya, Asta ingin mati karena usianya yang memang seharusnya sudah waktunya, dan atau karena sakit. Bukan karena mati tenggelam karena terpeleset.


"Aku tidak ingin mati! Aku hanya ingin mengambil keranjang ku yang kamu lempar ke danau!" Ujar Asta.


Rema membuka bibirnya. "Bukankah sudah kukatakan bahwa keranjang itu sudah usang? Buat apa kamu mempertahankannya?!"


"Karena aku tidak bisa mengumpulkan tanaman obat tanpa keranjang Rema! Aku butuh itu untuk mencari uang. Untuk membeli makanan agar aku tetap hidup!" Tegas Asta.


"Itu salahmu karena kamu melemparkannya ke danau!"


Tanpa sadar, ia mengeluarkan suara yang lantang. Emosi mengalir melalui suaranya, dan setelah sadar, hanya ada keheningan yang menyambut Asta. Pemuda itu menunduk. Jika Rema tidak melempar keranjangnya, dia tidak akan berusaha mengambilnya di danau. Dia mungkin, tidak akan tenggelam. Mengapa gadis itu yang marah kepadanya saat dirinya yang hampir kehilangan nyawanya?


Asta mengepalkan tangannya. Memutuskan untuk marah kepada Rema selama dua hati dalam hatinya. Ketika tangannya hendak mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membantunya memeriksa jalan saat kembali, tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu.


Meraihnya, manik semu Asta melebar.


"Rema?" Dengan suara bergetar, dia memanggil Rema. Namun, hanya ada keheningan yang menjawabnya. Ditangannya, ada satu keranjang besar. Baru, bersih, dan kokoh.


Gadis dingin dan terasing yang baru saja dia salahkan ... membelikannya sebuah keranjang baru.


...***...


Melangkah dengan tegas dan mantap di lorong itu, Setiap langkahnya meninggalkan jejak air yang mengalir dari tubuhnya yang basah kuyup oleh air. Rema memasang wajah dingin yang membuat siapapun yang melihatnya akan bergetar ketakutan. Sepasang manik merah darah itu memekat, dan hanya ada jejak rasa dingin dan kemarahan didalamnya.


"Kak Rema?"


Selliev menatap Rema dengan sepasang manik terkejut. Dia melangkah cepat, menghadang langkah Rema yang nampak seperti bom waktu. "Kak Rema, darimana saja kau selama ini?"


Rema menatap lurus kedepan, tidak sedikitpun menaruh pandangan pada gadis didepannya. Berkata dengan nada dingin. "Minggir."


Selama ini, begitulah Rema mengurangi amarahnya.


Rusfeli memandang Rema dan Selliev yang masuk dengan tenang. Tatapan dingin itu masuk ke penglihatannya, dan Rusfeli dengan sadar menahan dirinya. Dengan tenang berkata, "Apa yang kau butuhkan?"


"Berikan aku misi. Banyak misi."


Rusfeli menganggukkan kepalanya. "Tapi tidak akan ada pertunjukan. Dan kuharap kau mengingat itu."


Rema tidak mengatakan apapun. Gadis itu diam, dan mengulurkan tangannya, menerima sebuah gulungan yang mengungkap nama-nama beserta foto target yang harus dibunuhnya. Me liriknya sekilas, Rema membakar gulungan itu dan berbalik pergi.


"Kak Rema!" Selliev memanggilnya, namun Rema bahkan tidak bergeming, terus melangkah dengan tegas hingga menghilang dibalik lorong yang gelap.


"Kamu tidak perlu terlalu mencemaskannya. Dia tidak berada di level dimana kamu harus mencemaskannya." Ucapan Rusfeli membuat Selliev melirik dingin wanita itu. "Dia adalah kakakku."


"Bahkan jika aku mati, aku akan selalu menganggap dia sebagai kakakku. Karena itu adalah fakta, yang hanya bisa ibu sembunyikan."


Kemudian Selliev pergi.


...***...


Ada aroma darah dimana-mana. Setiap pasang mata yang ada ditempat itu memandang ngeri pemandangan yang dapat dilihat. Mayat bergelimpangan dengan anggota tubuh yang tidak lengkap. Kerangka yang terekspos dan kulit yang tercabik-cabik. Rema mengakui bahwa dirinya jahat.


Dia tidak akan mengelak dari fakta bahwa dia adalah seorang penjahat manusia paling keji yang pernah ada.


Tangannya gemetar meraih sebuah foto yang tersilang diatas abu foto lainnya. Dengan tatapan yang sedikit melebar, dia melihat profil sebuah keluarga yang ada didalam foto itu. Sepasang manik hijau yang lembut, bersinar oleh binar kebahagiaan yang kental dari anak laki-laki yang ada dipelukan kedua orangtuanya. Wajah akrab, senyuman yang sama.


Asta.


Rema memandang kosong kedepan selama beberapa saat.. Hatinya berdenyut nyeri, kepalanya terasa ingin pecah ketika ingatan demi ingatan mengalir dikepalanya. Dua orang yang dia bunuh dengan tangannya, darah yang mengalir disela air mata wanita yang mencoba melindungi anaknya. Raungan penuh kemarahan dan keputusasaan dari sang pria. Sebelum jeritan dari seorang anak yang kehilangan orangtuanya dan juga penghilatannya, disaat ledakan besar terjadi, karenanya.


Tubuh Rema bergetar, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa ketakutan karena membunuh.


"Aku, aku yang membuatnya kehilangan penglihatannya." Lirihnya tertelan oleh keheningan yang terjadi malam itu.


Sangat sunyi, hingga begitu jelas suara bayangan yang bergerak lincah diatas awan. Sepasang manik emas yang berkilau tajam, dengan gigi runcing yang membahayakan. "Rasanya samar, tapi dia pernah disini."



Yogyakarta, LX