Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 142 "Sang Guru Dan Sang Murid"


"Kakak pertama, apakah kamu memiliki waktu luang untuk mengajariku gerakan pedang yang diajarkan guru kemarin?"


Gadis kecil itu bertanya dengan wajah penuh harap. Pemuda didepannya tampak sudah dewasa, namun usianya baru saja menginjak angka limabelas tahun yang masih terbilang muda. Penampilannya tampan dan segar dengan sepasang netra kelabu lembut. Kulitnya yang sewarna madu berdampingan dengan helaian surai hitamnya yang selegam arang. Bibirnya tipis, namun berwarna merah alami yang selalu menyunggingkan seringaian tipis.


Berkacak pinggang, dia dengan tegas menepuk kepala adik seperguruannya. "Bukankah guru bahkan mengajarimu sampai tiga kali kemarin? Guru juga sudah memberitahu letak kesalahanmu? Sudah, jangan mencari alasan untuk bermain denganku dan mulai saja latihanmu."


Gadis itu mengerutkan bibirnya, cemberut.


Pada akhirnya dia hanya bisa menarik pedangnya kembali dan beberapa kali berbalik untuk memandang pemuda tadi dan bahkan memanggilnya dengan suara sedih. "Kak Zeron."


Zeron tidak tergerak oleh sepasang manik berairnya dan dengan tegas membalikkan badannya dan melangkah pergi. Ada sesuatu yang harus dia lakukan, dan hal itu lebih penting daripada mengurusi anak cengeng yang hanya suka bermain bahkan saat latihan. Dengan cepat, pemuda itu berlari, dan dalam beberapa menit, berakhir didepan sebuah rumah pondok. Ada asap yang membumbung tinggi dari cerobong asap yang berada disisi kiri rumah itu.


Dengan perlahan Zeron membuka pintu dan menemukan bahwa rumah itu benar-benar dipenuhi dengan asap.


Pemuda itu terbatuk, mengipasi bagian depan wajahnya untuk mengusir asap yang menerpa wajahnya meskipun itu tidak efektif. Pada akhirnya, ia mengangkat tangannya dan mengatur angin untuk mengeluarkan asap yang ada didalam rumah itu.


Maniknya memandang sekelilingnya, dan ada seseorang yang berdiri didekat sebuah pintu dengan sesuatu ditangannya. Sebuah panci dengan makanan berwarna hitam yang mengeluarkan asap hitam yang membumbung tebal.


Zeron mengangkat pandangannya dan bertemu dengan sepasang manik oranye cerah itu. Kulitnya yang benar-benar gelap kontras dengan rambut biru mudanya yang sepanjang lantai, bergelombang namun tidak bisa menyembunyikan kelembutan dan cemerlangnya. Bahkan jika bagi banyak orang itu adalah penampilan yang aneh, wajahnya benar-benar cantik dengan bibir tipis dan sepasang iris yang seperti langit ketika matahari tenggelam. Benar-benar sepasang mata yang indah dan mempesona.


Melihat tampilan sedih wanita itu, Zeron melembutkan senyumnya dan membuka suaranya untuk memanggilnya. "Guru, apa yang guru lakukan?"


Wanita itu mendongak memandangnya dengan sedih, dan mengerutkan alisnya. "Guru mencoba membuat Mie Manis, namun tidak tahu mengapa malah hangus."


Wanita didepan sana adalah gurunya.


Sebagai seorang ahli sihir terutama ahli obat-obatan, Anorexa adalah penyihir yang dipandang tinggi dan dihormati oleh kelompok penyihir diwilayah itu. Selaian itu, ia adalah seorang penggembara, hingga ia memiliki banyak sekali relasi dan kenalan yang merupakan tokoh-tokoh penting di dunia penyihir.


Anorexa membuka bibirnya yang berlapis lipstrik merah cerah. "Sepertinya aku memang tidak diperbolehkan memegang peralatan dapur."


"Zee, buatkan aku makan siang. Gurumu ini benar-benar kelaparan!"


Zeron menyunggingkan senyuman dan dengan tenang mengambil alih panci gosong itu ketangannya sendiri dan membawanya ke dapur. Ia memperhatikan semua kekacauan yang dibuat gurunya dan mau tak mau melirik wanita yang menghindari tatapannya dengan malu itu. Lupakan, tingkah gurunya yang menggemaskan patut dimaafkan.


Jadi Zeron menghabiskan setengah jam didapur untuk membereskan semua kekacauan itu dan menciptakan sepanci hidangan lezat.


Aroma lezat menyeruak ke hidungnya, dan Anorexa tidak bisa menahan dirinya untuk menjadi seorang guru yang tenang dan anggun ketika dia berhadapan dengan makanan lezat yang dibuat murid kesayangannya itu. Ia makan dengan suapan yang normal, namun kecepatan makannya yang tidak normal. Dalam sekejab saja, makanan yang ada didalam piringnya habis, tidak menyisakan sedikitpun potongan sayur atau daging.


Tanpa mendengarkan perintah apapun, dengan tenang Zeron menambahkan makanan ke dalam piring gurunya. Anorexa juga dengan tenang menyantapnya, mengabaikan Zeron yang dengan tertarik memandang telinganya yang memerah.


Bagaimana gurunya bisa begitu imut?


Jika begini, bagaimana dia bisa untuk tidak jatuh cinta kepadanya?


Itu sudah sejak lama ketika dia sadar bahwa dia memiliki perasaan khusus kepada gurunya. Ketika dia berusia sebelas tahun, dia menyadari perasaan yang seharusnya tidak dimilikinya pada gurunya tumbuh begitu saja. Bahkan ketika dia mencoba menepisnya, perasaan itu mengalir seperti aroma bunga plum yang menyegarkan, namun terkadang bisa membuatnya mabuk dalam imajinasi dan keinginanya.


Dia tahu dan sadar bahwa perasaannya salah dan tidak sepantasnya ia tumbuhkan pada gurunya yang sudah merawatnya sejak dia masih bayi.


Namun dia tidak bisa menahannya, dan rasa kagum, suka itu lambat laun menjadi perasaan cinta dan semakin dalam setiap harinya.


Memandang sang guru yang masih dengan senang hati menikmati makanan yang dia buat, hatinya terasa hangat dan kebahagiaannya membuncah. Selama gurunya bahagia, dia akan melakukan apapun bahkan jika itu beresiko mempertaruhkan nyawanya.


"Jangan lupakan untuk menyiapkan perlengkapan obat-obatanmu. Setelah makan siang ini, guru akan mengajarimu untuk meracik ramuan yang bisa menyembuhkan penyakit Kulit Lepuh." Ujar Anorexa.


Zeron segera menganggukkan kepalanya. "Baik, guru!"


Sepuluh menit kemudian, keduanya sudah berada disebuah ruangan yang dipenuhi dengan bahan-bahan alami seperti akar tanaman, dedaunan, pohon-pohon kecil, buah-buahan kering yang dimasukkan kedalam toples dan banyak hal lain, bahkan sampai ke hal menjijikkan seperti fermentasi ular berbisa dan fermentasi mata binatang yang mengapung didalam botol kaca.


"Dengar!" Suara Anorexa menginterupsi. Ketika wanita itu sedang mengajar, aura anggun dan mulianya akan keluar begitu saja, dan mampu membuat siapapun yang menyaksikannya akan mengungkapkan kekaguman mereka, bahkan tidak terkecuali pada Zeron yang bisa selalu kagum pada Anorexa yang tengah mengajarinya, meskipun ia sudah bersamanya selama belasan tahun.


"Langkah pertama yang diperlukan untuk membuat ramuan obat Kulit Lepuh adalah memastikan bahwa kamu memiliki tempat yang bersih dan peralatan yang steril."


Anorexa melangkah mengambil toples berisikan tubuh ular berwarna putih yang terendam air berwarna kehijauan. Ia berkata, "Bisa ular putih dari Pegunungan Napena adalah bisa paling berbahaya didunia, namun jika dicampurkan dengan serbuk sari dari bunga biru berputik emas, yang sering disebut dengan Bunga Cakrawala, bisa ular putih tersebut bisa menjadi obat kulit yang amat mujarab. Dengan campuran beberapa bahan seperti lendir lidah buaya dan larutan akar pohon Belingka yang memberikan efek dingin, obat kulit ini nyaman dan bisa diterapkan tanpa efek samping apapun."


"Sekarang aku akan mempraktekkannya dan ingat baik-baik takarannya."


Zeron mengangguk. "Baik guru!"


Wanita itu mengambil sebuah mangkuk, ia memasang masker, menutup hidung dan bibirnya menggunakan kain yang diikatkan ke belakang. Tangannya dengan cekatan membuka tutup fermentasi bisa ular putih, mengambil pinset penakar, menyedot beberapa lama dan meneteskan sepuluh tetes bisa ular putih kedalam mangkuk. Ia mengambil pinset lain dan mengambil serbuk emas dari bunga Cakrawala yang melimpah dan mencampurkannya kedalam mangkuk yang sama. Ia meneteskan tiga tetes dan mengaduknya menggunakan adukan besi.


Tangannya terulur meraih toples berisi lendir lidah buaya dan menyendokkan tiga sendok kecil lendir itu kedalam mug kecil itu dan mengaduknya setelah ia menambahkan dua tetes ekstrak akar pohon Belingka yang berwarna bening.


Ia mengaduknya searah jarum jam, dengan kecepatan yang stabil dan kekuatan yang pas. Dua menit kemudian, cairan kental itu berubah warna dari bening menjadi warna hijau sewarna giok, dengan percikan emas didalamnya yang didapatkan dari serbuk bunga.


"Pada akhirnya kamu akan mendapatkan tiga wadah kecil salep yang secara ampuh dapat menghilangkan Kulit Lepuh." Ujar Anorexa dengan bangga.


Tentu saja. Semua orang tahu bahwa obat itu sangat mujarab. Ramuan itu adalah hasil dari kreativitas Anorexa dan berbagai percobaan yang telah dilakukannya, pada akhirnya dia menemukan salep itu dan membagikannya secara gratis, bahkan sampai pada resep salep tersebut.


Sudah cantik, cerdas, hebat dan benar-benar murah hati.


Sempurna bukan?