
Ada sebuah bangunan tua diatas bukit. Terhalangi rimbunnya pepohonan. Beberapa waktu sebelum menemukan bangunan ini, Iloania dan Lasius memang harus menyebrangi sungai yang memisahkan bukit itu dan desa dengan menggunakan jembatan yang nampaknya juga telah dibangun sejak lama, tetapi nampak masih kokoh.
Tok.. Tok..
Mengetuk pintu, belum ada tanda-tanda seseorang akan membuka pintu. Lasius bersiap mengangkat tangannya untuk mengetuk, sebelum suara berisik terdengar dari dalam. Lasius menaikkan alisnya bingung, sembari menatap Iloania yang juga nampak bingung.
"Per—" Perkataan Lasius terpotong saat pintu seakan terpukul sesuatu yang kuat hingga mengeluarkan debam suara yang memekakkan telinga.
Iloania tanpa sadar mundur selangkah saat mendengar suara itu, begitupun dengan Lasius yang memasang posisi menyampingkan tangannya melindungi Iloania dibelakangnya.
"Akhh! Lepaskan dulu, aku mengalah! Kamu boleh membuka pintunya!" Lolongan itu terdengar dari dalam.
Suara laki-laki yang nampak kesakitan. Tak lama, suara wanita bernada riang terdengar. "Kamu sangat baik. Duduklah disana, dan aku akan membukakan pintu."
Seketika, pintu terbuka. Senyuman terpampang dihadapan Lasius yang menatap datar kepadanya. Ada seorang wanita muda bersurai kehitaman berdiri didepannya. Sepasang manik merah muda sedikit tersembunyi disepasang kelopak mata yang menyipit melengkungkan senyuman lebar. Dibelakangnya, ada seorang pria muda yang memiliki penampilan yang bak pinang dibelah dua dengan wanita itu. Hanya saja fitur wajahnya lebih tampan sementara wanita itu lebih ke cantik. Badannya tegak dan keduanya sama-sama berkulit putih.
"La-Lasius?!" Kaget keduanya sebelum menutup pintu dengan cepat.
Iloania tertegun. "Eh? Kenapa mereka menutup pintunya lagi?"
"Hah, sebentar, ya?" Ucapnya lembut pada Iloania membuat gadis itu mengangguk.
Lasius menarik pedang yang tersemat dipinggangnya. Dalam perjalanannya, Lasius menyempatkan diri membeli pedang berkualitas tinggi yang ditempa oleh penempa pedang yang sudah berpengalaman. Ia memasang posisi kuda-kuda dan mengayunkan pedangnya membelah pintu dengan mudah.
"Kyaaa!!" Ada jeritan yang terdengar setelah pintu memiliki celah seukuran pedang.
Tidak hanya melakukannya sekali, Lasius melakukannya berulang kali hingga terdengar jeritan dari dalam. "Siuss!! Hentikan! Kami akan bukakan pintunya! Jangan merusaknya."
Seketika, Lasius menyimpan pedangnya kembali dan membiarkan pintu terbuka. Sepasang kembar itu nampak tertunduk, memandang Lasius dengan takut-takut.
"Silakan masuk," lirih wanita itu membukakan jalan untuk Lasius dan Iloania.
Iloania merasakan tangan hangat menggenggam tangannya, dan merasakan tarikan sesaat sebelum ada suara.
"Wow! Sius, kamu membawa siapa ini? Apakah kau berniat mengenalkan pacarmu pada kami? Meminta restu? Tenang Sius! Kami merestuimu seratus persen!!" Girang si laki-laki.
Kembarannya turut bersuara. "Benar! Sangat cantik! Selera Sius benar-benar tinggi!"
Wajah Iloania sedikit memerah, namun segera menjadi normal ketika dia mengingat tujuannya datang kemari setelah mendengar perkataan serius Lasius. "Aku sedang tidak ingin bercanda panjang lebar bersama kalian."
"Ka-Ra, aku butuh bantuan kalian."
"Bantuan apa?" Tanya Ka, si laki-laki.
Lasius diam selama dua detik sebelum menjawab. "Menemukan seseorang dengan penglihatan kalian."
Mendengar itu, keduanya saling pandang dalam diam sebelum mempersilakan Lasius dan Iloania masuk kerumah itu. "Masuklah dulu."
Setelah mendudukkan dirinya dikursi yang ada diruang tengah, Lasius tanpa basa-basi segera menceritakan kejadian yang terjadi dengan jelas dan ringkas.
"Beberapa minggu lalu Dragonia Academy diserang sekelompok penyihir hitam. Setelah mereka kalah, Raja Iblis muncul dan bangkit dari segelnya." Kata Lasius tersela.
"Tunggu! Apa? Raja Iblis?!" Kaget Ra, wanita yang duduk disamping Ka.
Lasius mengerutkan alisnya tak senang. "Jangan memotong kata-kataku, diam sampai aku selesai menjelaskan."
Setelah kalimat itu meluncur, bibir keduanya bungkam dan diam-diam mengutuk dalam hati mereka tentang mengapa mereka bisa begitu takut dan patuh dihadapan Lasius. Padahal mereka jelas lebih tua daripada Lasius. Ingin rasanya mereka menyuarakan isi hati mereka, tetapi mereka saling pandang dan menelan udara hambar. Mendengarkan detail cerita Lasius sebelum terkena syok berat.
Ka memegang kepalanya memelototkan matanya karena rasa pening. "Aduh! Aduh! Kepalaku rasanya mau pecah! Rasanya memusingkan mendengar ceritamu, Sius. Itu terlalu berat untuk dicerna otak kecilku!"
Ra mendorong Ka dengan jijik saat Ka memutar tubuhnya kearahnya. Ra memandang Iloania dan bertanya.
"Iloania, kamu yakin jika yang kamu ingat tentang simbol digurumu adalah hal yang sama seperti yang ditemukan Lasius?" Tanya Ra.
Iloania mengangguk. "Ya, aku sangat yakin. Ingatanku tidak mungkin salah."
Ra menghela napas sebelum menarik kertas potret guru Gamma mendekat kearahnya. Ia memandangnya sesaat sebelum menatap Ka dan menganggukkan kepalanya.
Ka memandangnya ragu. "Tapi—"
"Tidak ada kata tapi, Ka! Jangan ragu! Kita akan menjadi pahlawan!! Jangan ragu, yosha!!" Ucap Ra penuh dengan semangat.
Wajah Ka nampak mengendur, tersenyum tipis sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Yosh! Ayo lakukan demi nyawa banyak orang, haha!!"
Mendengar suara mereka yang bersemangat, Lasius tidak bisa menahan sedikit senyuman. Tetapi disampingnya, Iloania sama sekali tidak bisa tersenyum. Suara Ka, bergetar menahan kesedihan.
Ka dan Ra duduk ditepi ranjang dan saling mengaitkan tangan mereka. Telapak tangan hangat saling menggenggam dengan bunyi kecipak basah dari dua bibir yang bersatu.
Untaian benang bening tercipta ketika keduanya berpisah, saling memandang dalam, dan penuh dengan cinta. Mereka tahu bahwa mereka salah, tetapi mereka sudah jatuh terlalu dalam, hingga mereka bahkan tak bisa lagi menemukan cahaya. Mereka tenggelam, oleh eksistensi paling berbahaya didunia.
Cinta.
"Kita harus melakukannya lagi besok," ucap Ka sembari mengusap sayang surai Ra yang notabennya adalah adiknya, meski hanya berbeda beberapa menit.
Ra memeluk Ka, menyamankan dirinya didekapan orang terkasih. "Mn, aku tahu. Banyak perngorbanan yang mungkin kita perlukan, tetapi aku tidak akan ragu. Banyak nyawa yang terancam karena Raja Iblis, Ka. Jika Iloania benar-benar mampu mengalahkannya setelah menguasai sihirnya menjadi lebih baik dan lebih baik, tidak masalah."
Ka menggeleng. "Tapi sebelah matamu sudah tidak bisa melihat, Ra. Jika kamu melakukannya lagi, kamu akan buta."
Ra menarik diri, memincing menatap Ka. Meski sepasang maniknya cerah, nyatanya hanya satu yang bisa melihat dengan jelas. Wanita itu menggulung senyuman. "Tidak masalah bagiku. Bahkan jika aku kehilangan penglihatanku. Kehilangan pendengaranku. Bahkan kehilangan kemampuan bersuaraku, selama aku disampingmu, aku tidak akan pernah takut."
Manik Ka memerah. Dia segera menarik Ra kembali kepelukannya dan menangis. Dia tahu, bahwa dia akan kehilangan penglihatannya setelah kehilangan sihirnya. Memiliki tubuh yang lemah sejak diawal, tetapi Ra tidak memiliki sedikitpun penyesalan bahkan jika dia harus kehilangan penglihatannya.
Karena dia membantu orang banyak, persis seperti yang diharapkan ayah mereka.
"Istirahatlah dulu Ilo. Kita akan menemukan guru Gamma besok." Lasius mengingatkan Iloania yang termenung diteras.
Begitu Lasius mendudukkan dirinya disamping Iloania, gadis itu menarik kakinya dan melingkarkan tangannya dileher Lasius, dan memeluknya. Pemuda itu terkejut dengan aksi Iloania, bertanya dengan lembut namun tangannya melingkari pinggang tipis Iloania.
"Ilo? Ada apa, hm?" Tanyanya.
Iloania meletakkan dagunya dibahu Lasius dan menggelengkan kepalanya. Mencicit dengan suara kecil. "Tidak ada."
"Mn? Baiklah, jika kamu memang tidak bisa mengatakannya, tidak apa. Aku akan ada disini, disampingmu, sampai kamu bersedia bercerita tentang apa yang terjadi." Lanjutnya sembari menepuk lembut punggung Iloania dengan sebelah tangannya.
Iloania tidak berbicara, hanya mengeratkan pelukannya pada Lasius. Iloania mendengar semuanya. Mendengar bahwa Ra mungkin saja mengalami masalah serius. Iloania tidak naif dan munafik. Jika keinginan Ra sendiri untuk bisa membantu orang-orang, Iloania tidak akan berkomentar untuk itu. Bahkan jika Ra berubah pikiran, Iloania akan mencari cara untuk menemukan guru Gamma.
Namun ada sesuatu yang mengganjal dibenaknya. Perasaannya tidak nyaman, dan Iloania memerlukan dukungan dan pilar kokoh sekarang. Dan itu didapatkannya dari Lasius.
Iloania, hanya merasa tidak nyaman.
Ada sebuah danau yang luas. Permukaan danau bak cermin, memantulkan sang rembulan yang mempesona dimalam. Bunga sakura berterbangan, dan kelopaknya jatuh diatas air ketika angin menyapa.
"Re, apakah kamu mencintaiku?"
Ada seorang laki-laki, duduk disebuah tempat duduk batu. Suaranya lembut, hangat dan ringan. Hampir memabukkan untuk didengar. Disebelahnya, seorang gadis mengenakan balutan kain putih. Bibir merah mudanya menyinggungkan senyuman lebar, tetapi bayangan pohon membuat separuh wajahnya tertutup, sama halnya dengan sang laki-laki.
"Aku mencintaimu."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
20/06/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux
Ps: Aku tidak bisa membuat yang sedikit ekhm ekhm, sama sekali tidak ada pengalaman😣😣🙏