
Iloania membuka matanya sebelum berkedip beberapa kali. Ada langit-langit kamar rendah yang menyapa penglihatannya yang masih memiliki sedikit samar kelinglungan. Iloania mengambil posisi duduk dan memandang sekelilingnya dengan setitik kerutan didahinya.
"Sepertinya, kak Sius membawaku ke Alvatro." Gumamnya.
"Tapi, dimana dia sekarang?"
Menoleh kesekelilingnya, Iloania hanya mendapati ruangan kosong yang bergaya monoton setengah kuno. Melangkah keluar, Iloania melihat bahwa itu adalah suasana tegang kerumunan-kerumunan yang ada didepan pekarangan rumah Zaree. Iloania mendongak, dan menggunakan sihir anginnya untuk membantu dirinya melayang diudara dengan sebilah tongkat pendek. Maniknya sedikit melebar.
"Kak Sius!" Batinnya memekik.
...***...
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu membuat pria itu menoleh. Ia meletakkan senjata yang tengah dipegangnya kembali kekotak kayu, sebelum melangkah menuju pintu dan membukanya. Pupil pria itu sedikit menyempit, melihat sesuatu yang ada didepannya saat ini.
"Maaf mengganggu dijam seperti ini." Ujarnya.
"Lasius, bukan? Apa yang terjadi dengan Iloania?" Tanya tuan topeng bambu pada Lasius yang masih setia menggendong Iloania yang sudah terlelap dalam tidurnya.
"Bisakah saya menceritakannya didalam?" Tanya Lasius membuat pria itu segera menyingkir dari pintu, membiarkan Lasius melangkah masuk sebelum menutup pintu dengan rapat.
...***...
Waktu berjalan terasa lambat. Beberapa jam itu, hanya terisi oleh suara Lasius yang menceritakan detail kejadian yang terjadi bahkan sampai pada pelarian yang sebenarnya bukan pelarian ini. Dan tuan topeng bambu mendengarkan dengan serius tanpa sedikitpun menyela. Kabar yang didengarnya teramat berat, membuat buku-buku jarinya terkepal. Dia marah, dia cemas dan dia juga merasa takut.
Dia menarik napasnya setelah Lasius menutup bibirnya dari bercerita. "Tunggulah disini dan jaga Iloania. Aku akan pergi menemui seseorang yang bisa membantu."
"Apakah, dia bisa dipercaya?" Tanya Lasius.
"Nak, perlu kau ketahui. Kota ini sebenarnya tidak pernah menerima penyihir sejak zaman dulu. Semua orang membenci penyihir karena semua penyihir mendiskriminasikan penduduk Alvatro yang bertubuh besar dan tanpa sedikitpun sihir. Kota ini hidup jauh dari peradaban modern, dan selalunya menjadi sasaran bayangan yang muncul. Tetapi, Iloania saat itu datang dan melindungi kota ini." Katanya.
Tuan topeng bambu melihat keluar, "Lihat bunga yang tumbuh mengelilingi kota ini? Itu adalah bunga yang ditumbuhkan Iloania. Dan sejak bunga itu tumbuh, tidak pernah ada bayangan yang datang lagi."
"Iloania, adalah satu-satunya penyihir yang membantu kami. Dan penduduk disini mulai percaya, bahwa tidak semua penyihir itu jahat." Lanjutnya membuat Lasius menurunkan pandangannya.
"Mengapa bayangan takut pada bunga itu ?" Batinnya.
"Jadi jangan mengkhawatirkan keamanan kalian disini. Selama itu menyangkut Iloania, penduduk Alvatro akan maju kegaris terdepan." Kata tuan topeng bambu.
Lasius menganggukkan kepalanya, "Saya mengerti. Terima kasih banyak."
Tuan topeng bambu tak lagi berkata apa-apa. Bangkit berdiri, meraih jubahnya dan mengenakannya, sebelum melangkah keluar meninggalkan Lasius dan Iloania dibangunan yang sepi itu. Lasius memandang Iloania, menggenggam tangannya dan menghela napasnya.
"Ilo. Sebenarnya, siapa kamu ?" Batinnya.
...***...
Wajah Lasius sedikit memerah dengan urat dahinya sedikit menonjol. Ada lapisan keringat dingin yang tercipta dikening dan dilehernya, sementara napasnya tertahan. Sesekali, geraman tertahan terdengar darinya.
Pria didepannya bertubuh besar. Dan keadaannya tak jauh berbeda darinya. Kedua tangan berbeda ukuran itu saling bertautan, namun bila diperhatikan kedua tangan yang ditumpukan diatas meja itu saling mendorong satu sama lain, berusaha keras untuk menjatuhkan. Ketika tangan yang lebih kecil sedikit terdorong, orang-orang setinggi dua meter dan lebih itu bersorak.
"Sedikit lagi ayo! Dorong dia sialan!!"
"Hanya sedikit lagi, dorong saja!"
"Bah! Bagaimana si kecil itu sanggup menghadapinya dengan imbang!"
"Woah!! Dia menang!!"
"Bagaimana Yon bisa kalah adu kekuatan tangan melawannya?"
"Dia sangat kuat!"
"Kak Sius~" Panggilan itu membuat Lasius mendongak, untuk sedetik kemudian sepasang manik emas dan sepasang manik ungu sewarna anggur bertabrakan. Untuk sesaat, keduanya tak bisa menahan senyuman.
Lasius saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik. Wajahnya sedikit menghitam dengan wajah tertekuk. Sepasang manik itu menatap tajam pada seseorang yang tengah duduk dihadapannya, dan memandangnya sama dengan tatapan tak bersahabat.
...***...
"Benarkah? Ternyata Iloania sehebat itu!" Dirima berkata dengan suara besarnya.
Iloania menggeleng, "Tidak bibi. Ilo kan hanya membantu. Yang mengalahkan mereka sebenarnya adalah kak Sius~"
"Ilo memang selalu hebat! Tapi kau masih terlihat seperti anak kecil~" Kata Farelon membuat Iloania melotot, sementara Lasius menonjolkan sedikit urat dahinya.
Apa-apaan itu?
"Hey, aku sudah 16 tahun kamu tahu? Fa selalu saja menyebalkan. Sama sekali tak berubah." Kata Iloania sembari membuang muka.
"Ehh, bibi. Bukankah Ilo terlihat sedikit kesal. Dulu sewaktu dia disini, bagaimana aku bersikap buruk padanya, dia selalu tersenyum. Sekarang lihat, dia bahkan menaikkan alisnya!" Kata Farleon seakan menemukan penemuan langka.
Lasius terdiam. Ia mengabaikan sesaat rasa cemburunya, memikirkan benarnya perkataan pemuda yang nampak menyebalkan dimatanya itu. Dulu, pertama kali bertemu Iloania, Lasius tahu bahwa Iloania memang selalu tersenyum dan tak pernah menunjukkan secara langsung kemarahan, atau hal yang tidak disukainya. Iloania itu, seperti sebuah variabel yang sulit dimengerti oleh Lasius. Semakin diselami, semakin rumit tentang siapa Iloania itu. Tapi, Lasius jelas tahu bahwa Iloania, adalah seseorang yang baik.
Sejak kejadian penyerangan Raja Iblis itu, Lasius pertama kali melihat sisi Iloania yang berbeda. Benar-benar tanpa senyuman dan tanpa kehangatan. Bahkan disepasang manik emas itu, Lasius bisa merasakan kemarahan dan kebencian yang teramat besar.
Lasius tidak tahu seberapa besar kemarahan itu, tapi Lasius yakin bahwa itu lebih dan lebih besar dari kebenciannya pada ayahnya.
"Hentikan Fa! Berhenti menghinaku. Aku tidak menyukainya~" Iloania merengek, sementara Farleon dan Dirima tertawa bersama layaknya anak dan ibu.
"Haha. Dulu dia seperti bayi." Tawa Dirima membuat Iloania menggembungkan pipinya yang memerah dengan kesal.
Lasius menyunggingkan senyuman. Setidaknya, Iloania bisa menunjukkan perasaannya yang ia coba sembunyikan selama ini.
Melihat Lasius menatap Iloania lembut dengan senyuman tipis, Farleon diam tanpa kata. Sebelum menyunggingkan seringaian.
"Dia bahkan tak repot-repot menyembunyikan perasaannya." Gumamnya seperti angin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
30/04/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux