
Beberapa hari berlalu semenjak waktu sarapan, dimana Christopher menyuruhnya untuk melayaninya. Tak hanya sampai disana, pria itu gencar mendekatinya dan tak menyembunyikan ketertarikannya pada Lova, yang hampir membuat Lova mengalami masalah yang diakibatkan oleh Veronica.
Seperti suatu hari dimana Christopher mendatangi Lova yang tengah menata bunga ditaman. “Perlu bantuanku?”
Lova menoleh dan tersentak kecil kala mendapati sang raja tiran sudah berjongkok disampingnya, mengambil setangkai bunga mawar yang ada ditangannya dan beralih memandangnya dengan tatapan manik sewarna hijau dingin itu memandangnya dengan jejak kelembutan yang akan membuat semua wanita gemetar dibawah tatapan itu. Hati Lova berdesir, ia menunduk dan dengan suara setengah bergetar bertanya. “Ya-Yang Mulia? Me-Mengapa Anda bisa berada disini?”
“Tidak bisakah aku ada disini?” Pertanyaan yang menjurus kepernyataan itu membuat Lova hendak membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu, namun dalam sekejab, ia kembali membungkam bibirnya dan menggelengkan kepalanya. “Tentu Anda bisa kemanapun yang Yang Mulia inginkan.”
“Mengapa kamu menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang menyebalkan seperti itu? Aku menanyakan mengapa kamu menghampiri orang kecil sepertiku ditengah taman seluas 2 hektar, ini, huh.”
Christopher memandang Lova dan mengatakan sesuatu, “Nampaknya kamu sedang kesal.”
Ya! Aku kesal karenamu!!
Ingin Lova mengatakan hal seperti itu, namun ia masih sayang nyawa tentu saja. Gadis itu hanya mengulas senyuman namun senyuman itu tak sampai matanya dan dengan canggung berkata, “Mengapa saya kesal Yang Mulia? Saya sedang menghadap bunga yang indah, dan saya tidak boleh kesal untuk menjaga mereka tetap mekar dengan indah.”
“Apakah itu bisa berhasil?” Pertanyaan itu mengundang anggukan dari Lova. “Tentu saja! Apa Yang Mulia tidak tahu?”
Christopher menggeleng. Lova mengangkat suaranya, “Orang-orang didesa saya percaya bahwa setiap bunga memiliki jiwa yang terhubung dengan manusia yang menanam dan merawatnya. Jika manusia jatuh cinta atau malu-malu, mereka akan menjadi kuncup, tanaman akan ikut bersedih dan layu. Jika manusia tertawa riang, tanaman akan mekar dengan sempurna, dan jika manusia menangis atau sedih, tanaman akan layu dan mati.”
Christopher nampak mendengarkan dengan seksama dan tidak sekalipun telihat memiliki keinginan untuk menyela perkataan dari Lova yang tengah bercerita. Ketika Lova selesai berkata, barulah Christopher membuka suara. “Bisakah mereka memahamiku juga? Jika aku ingin menanam juga, bunga apa yang sesuai untukku?”
Lova tercengang dan bertanya dengan nada hampir tak percaya, “A-Apakah Anda percaya?!”
“Bukankah iya?”
Lova menahan bibirnya, namun sebuah lengkungan tak bisa dia sembunyikan setelah beberapa waktu kemudian. Lova menyeringai dan tertawa dengan suara tertahan yang membuat Christopher mengerutkan keningnya bingung, namun itu sedikit menambah kesan dingin diwajahnya. “Mengapa kamu tertawa?”
“Pftt! Ma-Maafkan saya, saya hanya, pft! Haha!” Suaranya terjeda tawa selama dua detik. “Karena anda percaya dengan apa yang baru saja saya katakan. Padahal itu suatu kebohongan, bagaimana mungkin Anda bisa mempercayainya?”
Melihat Lova tertawa dengan riangnya, Christopher mendengus pelan dan tanpa sadar menarik sudut bibirnya, tepat ketika Lova memperhatikannya. Lova tertegun dengan senyuman itu, dan tanpa sadar meluncurkan satu kata yang membuat wajahnya memerah luar biasa. Tepat ketika dia menyadarinya, kakinya telah membawanya berlari menjauh dari Christopher yang memadangnya dengan senyuman dibibirnya yang melebar.
“Apakah dia tidak pernah berkaca?” Batinnya.
“Yang Mulia, bagaimana Anda bisa begitu indah?”
Tetapi yang tidak mereka sadari adalah, bahwa ada seseorang disana, bersembunyi dibalik pilar. Menatap dengan tatapan datar dan penuh dengan kebencian.
...***...
“Aku sudah tidak sanggup!”
Dia mengeluh kepada Cecena. Sebagai seorang yang dapat dimasukkan kedalam golongan sahabat dekat, Cecena mendengarkan keluhan Lova yang hampir tak pernah didengarnya dari bibir gadis itu selama mengenalnya. “Gadis itu adalah iblis! Dia benar-benar menyuruh nyonya untuk memotong jatah makan dan upahku! Bahkan aku tidak diizinkan untuk menggunakan fasilitas dikerajaan. Aku merasa posisiku benar-benar lebih rendah daripada budak tawanan, Ce. Dua minggu yang mulia Christopher disini, dan dua minggu juga hidupku seperti tawanan betulan!”
Cecena menghela napas berat dan menggelengkan kepalanya. “Itu karena dia hanya iri padamu, Lova. Dia iri karena Yang Mulia Raja Tir—em, maksudku, Yang Mulia Christopher lebih memilihmu daripada dirinya. Tidak perlu berkecil hati, aku akan dengan senang hati membagi makanku untukmu. Aku bisa melakukan diet dengan itu.”
Lova membuka lengannya, menampilkan bekas merah samar. “Lihatlah! Aku benar-benar masih beruntung bahwa dia hanya memukul lenganku dengan pemukul, bukan dengan cambuk, atau tanganku benar-benar akan hancur.”
“Dengar, Va. Dia benar-benar hanya iri karena Yang Mulia menyukaimu. Kamu harus lebih percaya diri dan suatu saat nanti, kamu harus berusaha untuk melawannya.” Cecena memberikan pendapatnya”
“Intinya, jika Yang Mulia Christopher menyukaimu bahkan sampai dititik dimana dia mencintaimu, dia tidak akan menyerah mempertahankanmu dan dia akan melakukan apapun untukmu. Lagipula, tolong bedakan antara raja lainnya dengan dia. Raja lain selalu memiliki ratusan selir bahkan sebelum menikahi ratu, namun dia tidak. Dan kamu, kurasa menjadi cinta pertamanya.”
Lova menatap Cecena, tak bisa menahan rona merah muda diwajahnya. “Se-Sebenarnya omong kosong apa yang kamu bicarakan, Ce! Jangan menggodaku.”
“Betapa berpura-puranya. Astaga, Yang Mulia sungguh harus bersabar menghadapi gadis ini.” Batin Cecena.
“Oh ya, ngomong-ngomong sudah dua hari Yang Mulia pergi, apakah kamu sudah mulai merindukannya?” Pertanyaan menggoda itu membuat Lova mengerutkan keningnya dan bertanya dengan nada setengah kesal. “Apa yang kamu bicarakan!!”
“Ayolah, tidak perlu malu.”
Pikiran Lova berkelana kembali kedua hari yang lalu. Sungguh, bagaimana dia tidak malu ketika Raja itu berpamitan kepadanya, mengatakan akan kembali secepatnya dan akan menjemputnya setelah menyelesaikan masalah dengan kerajaan tetangga.
...***...
“Aku akan pergi dari kerajaan ini, malam nanti.” Pernyataan itu entah mengapa membuat hati Lova berdenyut sakit. Perasaan yang membuatnya tanpa sadar memasang wajah sedih dan bingung, yang membuat Christopher memandangnya dengan tatapan samar sebelum menggulung senyuman.
“Emm, kalau begitu mohon berhati-hati diperjalanan Yang Mulia. Semoga keselamatan menyerta—” Perkataan Lova terhenti. Dia mendongak ketika merasakan tangan setengah kasar itu mengangkat wajahnya, mengusap lembut pipinya yang basah.
Ah? Mengapa dia menangis?
Lova menarik wajahnya dan hendak mengusap air matanya ketika sepasang tangan Raja menariknya dan menjatuhkan sebuah ciuman dibibirnya. Seperti capung yang menyentuh air, tenang dan lembut. Ketika Christopher menarik wajahnya, sepasang manik indah milik Lova memandangnya dengan penuh kejutan dan kebingungan. Ada jejak air dimatanya dan samar garis air dipipinya yang putih.
“Setelah semua urusanku selesai, aku akan menjemputmu dan membawamu bersamaku. Aku akan menjadikamu permaisuriku, dan aku akan membahagiakanmu.” Christopher tidak repot untuk menyembunyikan keseriusannya yang tak terbantahkan, tatapannya dalam memandang Lova.
“Maukah kamu menunggu sebentar?” Pertanyaan langsung itu membuat Lova yang masih ada dalam kebingungan dan kelinglungannya menganggukkan kepalanya tanpa sadar. Hal itu membuat Christopher menggulung senyuman sebelum mendaratkan sebuah ciuman ringan didiahi Lova sebagai bentuk kasih sayang dan ketulusan hati dan cinta.
Christopher meraih Lova kedalam rengkuhannya dan berjanji dengan penuh kesungguhan. “Aku akan segera kembali, karena aku mencintaimu.”
...***...
“Bakar dia!! Bakar penyihir itu!! Bunuh wanita penggoda itu!”
“Dasar rubah! Beraninya menggoda Yang Mulia Christopher.”
“Dia jelas-jelas juga seorang penghianat! Sampah menjijikkan sepertinya memang pantas untuk dihabisi.”
Yogyakarta, LX