
Disaat malam menjelang orang-orang, tidur, Iloania terbangun secara alami dikamar asramanya. Siang tadi, pembagian asrama sudah dijelaskan. Dengan pembagian seragam dan barang-barang khusus yang dibutuhkan untuk menjadi seorang murid di Dragonia Academy sudah dibutuhkan. Milied mengatakan bahwa pembelajaran akan dimulai besok pukul 8 pagi dikelas masing-masing setelah jam sarapan pagi. Asrama seluas 3 meter x 3 meter itu dihuni olehnya sendirian, dengan kamar mandi terletak disudut dengan pintu yang berbeda bersebelahan dengan ruang penyimpanan.
Secara teknis, kamar asrama itu tidak luas namun tidak begitu sempit. Ada ranjang tunggal dengan meja belajar didekat jendela, lengkap dengan sebuah lampu belajar yang akan bercahaya cukup terang ketika dialiri sihir. Itu adalah benda ciptaan penyihir perak.
Iloania bangkit berdiri dan melangkah keluar ketika ia sudah mengenakan jubah ditubuhnya.
...***...
"Permisi kakak," sapa Iloania pada pemuda yang berjaga gerbang keluar dan masuk Dragonia Academy.
Pemuda itu menoleh dan terpana, sebelum menggeleng kecil dan membalas ramah sapaan Iloania. "Ya? Ada yang bisa kubantu?"
Iloania tersenyum, "Bisakah aku izin keluar malam ini kakak? Aku memiliki urusan yang cukup penting."
"Ah, kamu harus mendefinisikan urusan penting itu. Apakah kamu ingin keluar untuk berbelanja, untuk bertemu orang tuamu atau apa?" Tanya pemuda itu dengan nada yang halus.
"Malam ini aku ingin menaruh senjataku ditoko senjata kak. Ada beberapa bagian yang perlu diubah, dan yah~ Kurasa itu penting, untukku kembali besok pagi sekali." Jawab Iloania.
Pemuda itu mengangguk, "Tentu itu penting. Bisakah aku mendapatkan Token Merah milikmu?"
Iloania memunculkan sebuah benda berbentuk lingkaran kecil dengan ukiran kepala naga yang rumit diatasnya. Itu berwarna merah dengan bagian tepinya dihiasi bentuk dedaunan dan sulur yang menjalar. Token Merah, adalah token khusus yang dibuat khusus untuk murid di Dragonia Academy. Dengan token itu, murid bisa mendapat izin keluar dan masuk untuk urusan yang dirasa masuk akal. Token merah sama seperti Token Biru dan Token Putih. Bedanya token merah untuk kelas 1, token biru untuk kelas 2 dan token putih untuk kelas 3 atau tingkatan akhir.
Iloania mendapatkan kembali tokennya selepas diperiksa.
"Jangan sampai menghilangkan tokenmu, ingat? Berhati-hatilah diperjalanan. Ingat untuk membawa sesuatu yang bercahaya. Apakah kamu memerlukan lentera?" Tanya pemuda itu.
Iloania mengangguk semangat, "Aku memiliki sihir api, jadi tidak perlu. Terima kasih kakak, sampai jumpa~"
...***...
Meninggalkan Dragonia Academy, Iloania muncul diportal masuk Dragonia Academy. Kaki rampingnya yang berlapis flatshoes bergerak menjauhi portal sementara manik emasnya mengawasi sekelilingnya yang nampak sepi. Kota itu masih nampak ramai, dengan ditiap sudut terpasang lentera dan lampu yang bercahaya dengan sihir. Hal ini tentu saja menghindari para bayangan mendekat. Meskipun, dalam beberapa waktu, masih ada beberapa orang yang hilang dan diduga karena bayangan. Semua bukti nyata yang mengarah jelas.
Jemarinya bergerak ringan, mengambil piringan hitam yang muncul perlahan dan menjatuhkannya didepannya. Ketika ia telah berdiri, piringan hitam itu melayang dan melesat dengan cepat menuju sebuah tempat yang jauh. Berkilo-kilometer.
Kota Alvatro, sebuah kota di distrik 5, barat kerajaan Alete. Kota ini dikenal karena kekejaman dan sikap barbar penduduknya. Yang membuat mereka sedikit terisolasi dari dunia luar, karena dijauhi. Kota ini dipenuhi dengan mereka yang pandai bertarung dengan senjata, dan keseharian mereka nyatanya adalah berburu dan saling beradu pedang sebagai hobi. Dalam 5 jam perjalanan dengan kecepatan yang cepat, Iloania telah tiba digerbang masuk kota Alvatro yang tidak memiliki pencahayaan yang sama seperti kota-kota lain. Pencahayaan cukup minim. Hanya saja, kota itu dikelilingi dengan bunga aneh berbentuk bintang dengan kilauan cahaya samar keemasan ditiap kelopaknya yang mengemabang dengan bentuk layaknya kristal.
"Aku kembali lagi," gumam Iloania dengan senyuman dimatanya.
...***...
Hari keenam belas, bulan kedelapan dimusim panas, Kota Alvatro
Iloania yang saat itu berusia 14 tahun melangkah dengan ringan disepanjang jalan setapak. Melangkah keluar dari hutan dengan balutan dress tanpa lengan dan tanpa lengan warna putih dengan jubah semi transparan berwarna hitam yang terikat pas ditubuhnya sebatas pinggang. Sesekali bersenandung, Iloania menggerakkan tangannya menyapu dedaunan hijau. Hingga ia berhenti melangkah begitu melihat sebuah gerbang kota yang cukup besar. Dan itu terbuat dari bebatuan asli.
Ketika Iloania mendekat, dua orang pemuda berusia sekitar belasan tahunan menahannya. "Hey, siapa kau?"
Mengangkat wajahnya, Iloania menampilkan senyumnya. "Hanya pengelana yang tak sengaja lewat dikota ini. Apa boleh aku tinggal disini selama beberapa hari?"
"Tidak. Pergilah!" Usir pemuda bernama Farleon Shallr itu.
Iloania sedikit menunduk, "Tidak bisakah? Beberapa hari saja."
"Tidak bi-!"
"Ada apa ini?" Ucapan pemuda itu terhenti ketika melihat seorang wanita dengan tatapan tajam dan bertubuh tinggi menatap mereka dengan tajam.
"Ah," beo Iloania sembari mendongak, ketika melihat betapa besarnya wanita didepannya itu.
Penduduk kota ini memiliki keistimewaan yang lain. Meskipun tak mampu menggunakan sihir, mereka memiliki tubuh besar dan tinggi baik wanita, perempuan maupun anak-anak. Mereka besasal dari Suku Giantave. Sebuah suku yang disinyalir terlahir dengan darah raksasa ditubuh mereka. Jadi, ukuran tubuh mereka memang bisa dikatakan melebihi ukuran tubuh orang normal.
"Siapa dia?" Tanya wanita itu pada Farleon yang sedikit mundur.
"Nona Dirima. Kami tidak tahu siapa dia yang tiba-tiba datang. Mengatakan bahwa dia kelelahan dan ingin menginap beberapa hari. Ketika aku menyuruhnya pergi, dia tetap mencoba untuk tinggal beberapa hari disini." Jelas Farleon.
"Siapa namamu?" Tanya Dirima itu.
Iloania membangkitkan senyuman lebarnya, "Namaku Iloania, bibi."
...***...
Iloania tidak mengerti situasinya sekarang ini. Ya, dia tidak cukup mengerti. Dimana sekarang dia didudukkan diatas bangku dengan banyak wanita yang sama seperti Dirima duduk bersila dibawahnya. Meskipun duduk dibawah, mereka masih sejajar dengan Iloania yang duduk dibangku yang cukup besar itu. Tak hanya wanita, banyak orang yang berusia remaja dan pria besar ikut mengelilingi Iloania diruangan yang sangat besar itu.
"Astaga, dia sangat menggemaskan."
"Lihat betapa halusnya dia! Bayi kecil yang halus!"
"Bagaimana dia bisa terlihat sangat cantik seperti itu."
"Ibu, dia boneka peri ya?"
"Terlihat seperti peri."
"Siapa namanya? Iloania bukan?"
Orang-orang berbisik dan bertanya-tanya saat melihat sosok Iloania. Mereka menatapnya seolah mereka tidak pernah melihat dirinya. Sedangkan Iloania menatap sekelilingnya dengan senyuman manis yang halus meski tersirat sedikit kekakuan didalamnya. Ketika ia menjawab pertanyaan Dirima yang menanyakan namanya, Iloania langsung diangkat kegendongannya dan dibawa mengelilingi kota itu dengan riang. Hal yang tidak diketahui Iloania, Dirima adalah pemimpin kota Alvatro. Orang-orang yang melihatnya terutama wanita memekik senang dan mendekatinya.
"Iloania, bagaimana kau bisa sampai disini?" Tanya Dirima.
"Em, sebenarnya Ilo sudah melakukan perjalanan sejak kecil. Dan kebetulan saja hari ini sampai dikota ini setelah dari kota Marai. Jadi karena sedikit lelah, Ilo berpikir untuk menetap selama beberapa hari, juga melihat-lihat kota ini sebentar." Jawab Iloania.
"Ah? Darimana kau berasal? Kau sendirian? Dimana orangtuamu?" Tanya seorang pria disamping Dirima, Zaree Clavien, suami dari Dirima.
"Ilo berasal dari tempat yang jauh sekali dari sini. Dan yah, Ilo tidak tahu siapa orangtua Ilo sejak dilahirkan."
Jawaban Iloania membuat Zaree membungkam bibirnya cemas ketika melihat tatapan tajam Dirima. Sementara yang lain nampak memasang wajah simpati pada Iloania yang masih tersenyum.
"M-Maafkan aku Ilo." Kata Zaree.
Iloania menggeleng dan menjawab dengan senyuman ringan, "Tidak apa, tidak apa. Ilo sudah terbiasa, lagipula tidak ada yang salah dengan rasa penasaran melihat seorang gadis berkeliaran seorang diri tanpa orang dewasa."
Dirima menunduk sesaat, "Aku izinkan kau tinggal disini sampai kau akan pergi. Aku secara khusus membiarkanmu mengelilingi kota bersama dengan Farleon."
"Ah? Aku? Tidak mau!" Kata Farleon yang sejak tadi bersandar didinding.
"Tidak ada penolakan."
"Cih~"
Dirima menoleh dan menatap Iloania dengan senyuman, "Ngomong-ngomong berapa usiamu, Ilo?"
Iloania tersenyum, "14 tahun."
Seketika, keheningan jatuh melanda.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Udate:
31/05/2021
Jangan lupa beri dukungan tiap sudah membaca chapter~
Makasih banyak...
@LuminaLux