Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 70 "Munculnya Raja Iblis"


Suara ledakan didalam gua itu terdengar begitu keras. Kepulan asap tebal tak bisa menyembunyikan cahaya merah darah yang memendar dari tubuh seseorang yang perlahan-lahan melayang turun. Sepasang kaki pucat tanpa alas itu menapak diatas tanah. Pria itu sangat tampan, dengan sepasang manik merah darah dan helaian surai perak sepinggang yang tampak seperti permata.


Pria itu mengenakan pakaian hitam, dengan kulit putih yang sangat kontras dengan pakaiannya. Tarikan napasnya samar, dan setiap hembusan napasnya membawa hawa membeku yang terasa penuh dengan kematian.


Dari jurang dibelakangnya, binatang iblis bermunculan dan mencoba mendekatinya sembari meraung menyeramkan. Sepasang manik darah tak bergerak, dengan tenang mengangkat tangan kirinya dan mengepalkan tangannya mencengkram asap kehitaman disekitar lengannya. Detik berikutnya, tubuh binatang iblis itu meledak dan tercabik-cabik oleh asap hitam dengan kejam dan ganas.


"Serangga pengganggu."


Suaranya dingin. Membawa semua orang yang mendengarnya untuk bergetar ketakutan tanpa disadari.


"Cough!" Terbatuk darah, pria itu berlutut dengan satu lutut dan bertumpu dengan satu tangannya.


Jejak darah mengalir dari sela bibirnya, dan mengalir menuju dagu dan lehernya. Keringat terbentuk didahi dan pelipisnya, sementara napasnya sedikit terengah.


"Hah.. Tubuhku benar-benar hampir rusak." Gumamnya.


Sesaat kemudian, ia menyeringai. Sepasang manik merah darah itu memekat, dan memandang jauh kedepan, hingga seringaian diwajah sempurnanya melebar ketika ia melihat sesuatu, "Disana rupanya."


...***...


Sejak meledaknya kekuatan Iloania, Lasius tak berhenti berusaha menembus ledakan energi sihir untuk meraih Iloania. Meskipun rasanya menyesakkan, meskipun ia sulit bergerak, Lasius tidak pernah boleh menyerah.


"Ilo .. kamu pasti .. bisa!" Katanya terbata oleh tekanan kuat itu.


...***...


Iloania kedingininan. Iloania merasa sakit diseluruh tubuhnya. Maniknya terbuka, tetapi hanya kegelapan yang dilihatnya. Telinganya mendengar, namun hanya ada kekosongan dan kesepian yang membuatnya ketakutan. Iloania meringkuk ditengah kegelapan, membiarkan tubuhnya tertelan kegelapan sedikit demi sedikit.


"Celestia.."


Suara itu membuat Iloania mendongak. Bersamaan dengan gerakan mendongaknya, kegelapan yang menelan Iloania melambat hingga akhirnya berhenti ketika suara lembut itu memanggil Iloania.


"Celestia.. bertahanlah sayang."


"Siapa itu?" Iloania membuka suaranya, bertanya tentang suara yang didengarnya.


Suara itu jelas suara wanita. Terdengar begitu tulus, lembut dan menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Termasuk Iloania. Tetapi, siapa itu?


"Ilo, apakah kamu baik-baik saja?"


Mendengar suara itu, Iloania segera berdiri dan menatap sekelilingnya, meskipun hanya kegelapan yang dapat dilihatnya. "Guru? Guru?! Guru ada dimana?!"


"Ilo, mengapa kamu menyembunyikan kuas guru lagi?"


"Apa? Guru hanya suka menulis kaligrafi, tetapi apa salahnya belajar menggambar sedikit?"


"Ilo, tolong guru! Vleia mencoba mengancam guru dengan bunga!!"


"Ilo, apa makan siang hari ini? Sa, guru sudah sangat lapar."


Iloania terdiam ketika mendengar suara-suara itu dikepalanya. Suara-suara sang guru, ingatan dikepalanya bersatu. Membuat Iloania memegang kepalanya dan menjerit.


"Ahhhhh!! Berhenti!!"


"Haha, benarkah? Guru dengar Vleia gagal menangkap ikan disungai dan justru tercebur kedalamnya?"


"Sampai kapanpun, guru akan selalu bersama dengan Ilo."


Iloania menjerit. "Pembohong! Dasar pembohong! Guru meninggalkan Ilo!"


"Lihat Ilo, guru membelikan kue kacang untuk Ilo. Jika Ilo suka, mari berkeliling keseluruh dunia untuk mencicipi kue kacang yang lezat!"


"Aku benci guru! Guru mengatakan omong kosong yang tak pernah bisa guru tepati. Guru pembohong.." Lirih Iloania dengan derai air mata.


"Ilo," suara itu lebih lembut.


"Bahkan jika suatu hari nanti guru tidak bisa menemani Ilo. Ingatlah, bahwa didunia ini Iloania tidak sendiri. Dunia itu sangat luas, bahkan semesta lebih luas. Hal yang perlu Iloania ketahui adalah, dimanapun dan kapanpun Iloania berdiri, Ilo tidak sendiri."


"Bahkan jika suatu hari guru pergi, guru akan ada selalu disini. Diingatan dan hati Iloania. Mengerti?"


"Salah.. Dimanapun aku, aku selalu sendirian. Bagaimana aku bisa?" Lirih Iloania.


Beberapa saat kemudian, suara wanita itu terdengar lebih samar. "Aurea, mengapa kamu tidak mendengar sekitarmu ?"


"Dengarkan Celestia, percayalah."


Suara itu mengecil dan menghilang. Iloania bertanya-tanya. Apakah Aurea itu .. dirinya? Mengapa suara wanita itu terdengar dikepalanya bahkan saat Iloania tak mendengarnya?


Dan mengapa, mengapa suara itu membawa perasaan nyaman untuknya?


"Iloania !"


Iloania tertegun, "Jie? Kane? Lane?"


"Iloania, bukankah kau kuat ?"


"Kak Lean? Mengapa suara mereka terdengar begitu khawatir?" Lirih Iloania.


"Ilo!" Itu suara Lasius, membuat senyuman lembut Iloania terbit.


"Iloania !!" Tersentak, Iloania memandang siluet orang didepannya.


Bercahaya dengan hangat, dilingkupi keberanian dan ketulusan. Tangan kokoh menggenggam pergelangan tangannya, membawa rasa hangat yang menghilangkan perasaan dingin diseluruh tubuhnya.


"Kak Sius?" Samar Iloania.


Sosok Lasius makin terlihat jelas didepan mata Iloania, hingga sebuah suara hangat terdengar, "Kembalilah bersamaku."


...***...


Vleia memandang ledakan energi yang berangsur-angsur menghilang setelah Lasius meraih tangan Iloania dan menariknya kedalam pelukannya. Semua orang menyaksikan langit berangsur tenang, dan sosok Iloania jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Lasius.


"Ilo!" Panik Jissiana sembari berlari menghampiri Lasius bersama yang lain.


"Kak, bagaimana keadaannya?" Tanya Jissiana pada Lasius.


Lasius menyamankan posisi Iloania dan mengangguk, "Dia pingsan. Tetapi sepertinya baik-baik saja. Bahkan, sepertinya luka-lukanya telah sembuh."


Eleanor berdiri disamping Lane. "Kekuatan tadi, apakah kekuatannya?"


"Sepertinya iya." Gumam Lasius.


Lasius memandang Iloania dan menggenggam tangannya dengan lembut. Lasius tahu bahwa Iloania kuat, dan telah menyimpan begitu banyak rahasia. Tetapi, energi sihir sekuat tadi, apakah itu kekuatan yang masuk akal?


"Sius, bagaimana keadaan Iloania?" Legarion segera menghampiri Lasius.


"Kita harus segera membawanya keunit perawatan." Kata Gheorn yang turut menyusul mereka.


Lasius menganggukkan kepalanya. Tetapi terhenti saat menangkap sosok Vleia berdiri sembari menatap lurus kedepan dengan sepasang mata yang dipenuhi kebencian namun juga kecemasan dan kepanikan. Mengikuti arah pandang Vleia, Lasius melihat samar portal hitam perlahan muncul diudara. Ada seseorang yang keluar dari sana, mengenakan pakaian hitam dan memiliki helaian benang perak dikepalanya.


Lasius tidak tahu apa yang terjadi, tetapi suasana ditempat itu mendadak menjadi begitu menakutkan. Suasana berat, dingin dan penuh rasa bahaya tak hanya dirasakan oleh Lasius. Tetapi bahkan dirasakan oleh seluruh orang ditempat itu. Mereka kesulitan bahkan untuk sekedar menoleh. Kesulitan bernapas dibawah tekanan seolah mereka berada diambang kematian.


Deg! Deg! Deg!


Lasius merasakan detak jantungnya begitu kuat. Seakan akan meledak jika dia tidak menghentikannya. Wajahnya sedikit memucat, dan dengan gerakan patah-patah sedikit lebih mendongak untuk melihat sosok itu.


Deg! Deg! Deg!


"Perasaan apa ini ?!" Batin Eleanor yang merasakan bahwa tubuhnya tak bisa bergerak karena perasaan itu.


Jissiana dan Kane bahkan lebih parah. Wajah mereka memucat, dan detik berikutnya bisa saja pingsan karena kesulitan bernapas. Tetapi itu, memang menakutkan. Bahkan untuk Legarion, Gheorn dan Clareon yang merasakan kaki mereka gemetar.


"Apa ini?! Siapa orang itu ?!" Batin Lasius.


Pria itu mendongak, memandang sekelilingnya hingga jatuh pada Iloania dipelukan Lasius. Ia menyeringai dingin, "Ketemu."


DEG!!!


Lasius bahkan belum bisa bereaksi ketika pria itu kini ada didepannya. Mengarahkan tangan kirinya yang dilapisi asap hitam dengan hawa kematian yang kental. Serangan itu sudah didepan matanya, dan Iloania hendak diambil darinya. Tetapi, mengapa dia begitu lamban beraksi?!


Dalam detik terakhir itu, sebelum Lasius bisa bergerak, sebuah barrier emas lebih dulu melindungi mereka. Tak hanya melindungi, namun dari barrier itu muncul sulur tajam yang menyerang pria itu secara membabi buta. Memaksanya mundur menjauh dari tempat Iloania dan yang lain. Lasius benar-benar bernapas lega karena beberapa detik itu.


Pria itu mengerutkan alisnya tak senang, dan menoleh untuk melihat Vleia mengangkat tangan kanannya yang mengeluarkan cahaya keemasan bersih.


"Ahh .. Itu kau yang waktu itu, bukan?" Gumam pria itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


03/04/2022



Salam hangat,


LuminaLux