
Didunia ini, ada beberapa orang diantara seratus ribu orang yang memiliki kemampuan untuk melihat jiwa seseorang melalui warna yang mereka pancarkan dari tubuh mereka, yang bisa mereka rasakan melalui batin mereka. Apa yang dilihat oleh mata mereka berbeda dengan apa yang dilihat oleh mata biasa. Semua yang ada didunia mereka samar dan hanya warna yang bisa membuat mereka membedakan benda mati dan makhluk hidup. Meski mereka tampak seperti orang buta, sesungguhnya apa yang mereka lihat justru lebih jelas daripada penglihatan mata orang biasa.
Mata mereka istimewa, dan mereka disebut sebagai Rolea.
"Oh, aku mengenali warna ini." Gumamnya sembari mendekatkan wajahnya kearah Iloania, menatapnya dari atas sampai kebawah.
Melihat itu, Lasius segera menarik Iloania kebelakang tubuhnya, mengernyit dan menatap tajam pria buta itu yang setelah sedetik kemudian turut memandangnya dari atas kebawah, sebelum tertawa.
"Haha! Sebuah kebetulan!" Ucapnya.
Ia menunjuk Iloania, "Hey nak. Siapa namamu?"
Iloania memang tak bisa melihat, namun dia peka terhadap sekitarnya. "Aku? Namaku Iloania. Iloania Rexelite."
"Oh, mengapa kalian mengikutiku?" Tanyanya lagi.
"Apa anda Si Buta Peniup Seruling?" Iloania bertanya untuk memastikan, dan pria itu meraih serulingnya dan menganggukkan kepalanya dengan acuh tak acuh.
Begitupun jawabannya, "Sepertinya iya."
"Mereka memanggilku seperti itu. Padahal, aku hanya pendongeng biasa." Katanya melanjutkan.
Dari sini, Lasius mengambil alih pembicaraan. "Saya tahu bahwa ini mungkin terdengar tidak sopan. Tapi anda harus membantu kami."
Pria itu menaikkan alisnya. "Apa maksudmu? Mengapa aku harus membantu kalian?"
"Raja Iblis telah bangkit." Kata Lasius.
Lasius tidak memberikan waktu. Dia tidak suka berbasa-basi untuk sesuatu hal yang penting. Sehingga dia langsung mengatakan tujuannya kepada pria setengah baya yang membeku mendengarkan cerita Lasius yang beberapa kali diangguki dan direspon benarkan oleh Iloania yang berdiri disampingnya.
Pria itu bergumam. "Pantas saja aku seperti pernah melihat warna ini, ternyata benar yang waktu itu."
Ia berbalik dan berkata, "Ikutlah denganku."
"Jie, apa yang sedang kau lakukan disini, termenung sendiri?" Kane mendatangi Jissiana yang sedang duduk ditaman di areal Dragonia Academy dan mengambil tempat disampingnya.
Jissiana menggelengkan kepalanya dan berkata dengan sedih. "Hanya mengkhawatirkan Iloania dan kak Lasius."
Kane menatap Jissiana sebelum menurunkan tatapannya. Sudah berminggu-minggu sejak kejadian kemunculan Raja Iblis yang hampir mengacaukan seluruh kerajaan, selama itu juga Iloania dan Lasius tak pernah terlihat bahkan terdengar kabarnya. Walaupun baru selama di Dragonia Academy dia mengenal Iloania, dia juga sangat khawatir dengan keduanya.
"Hey, Jie. Iloania pasti akan baik-baik saja. Jangan khawatir, dia kuat dan pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Lagipula, Iloania tidak membuat kesalahan apapun." Kata Kane menenangkan Jissiana.
Jissiana menghela napas dan menganggukkan kepalanya sebelum mendongak, menatap kelangit. "Aku penasaran, apa yang sedang Iloania dan kak Lasius lakukan, ya?"
"Hufttt———!! Cough! Cough!!"
Terbatuk, Iloania memiliki wajah memerah selang beberapa waktu kemudian. Dia merasakan dadanya panas dan paru-parunya serasa ditusuk ketika dia mengambil napas sebanyak-banyaknya. Tetapi itu hampir membuat nadinya meledak!
Disampingnya, Iloania menatap khawatir Iloania dan menoleh. "Ozzo, apakah metode latihan ini benar-benar bisa berhasil? Ilo terlihat kesulitan dan kesakitan."
Tuk!
"Auch!" Lasius mengaduh pelan kala sebiji kacang kenari dilesatkan untuk mengenai kepalanya. Ia mengusap bagian belakang kepalanya dan bertanya-tanya darimana kacang kenari itu dilesatkan oleh Ozzo, Si Buta Peniup Seruling.
Pria setengah baya itu tengah berbaring miring sembari memangku kepalanya dengan satu tangannya. Mengenakan hakama hitam yang nampak lusuh, Ozzo nampak santai. Tetapi penampilannya sebenarnya cukup berantakan dengan helaian surai hitam keriting dengan bulu janggut tumbuh didagunya.
"Teruskan!" Katanya.
Iloania mengangguk setelah mengatur napasnya dan menjawab, "Baik Ozzo!"
Menarik napasnya sedalam dan selama mungkin, Iloania terus berusaha bahkan sampai mengabaikan wajahnya yang memerah. Urat didahi dan lehernya menonjol, dan dia bahkan hampir tak bisa terbatuk saat dia berhenti menarik napasnya. Rasanya kepala dan dadanya hampir pecah!
"Angin adalah elemen yang mudah untuk ditemukan dimanapun dan kapanpun. Salah satu metode untuk meningkatkan kecepatan dan kekuatanmu menyamai kecepatan dan kekuatan angin adalah dengan membuat tubuhmu bersatu dengan angin." Kata Ozzo.
"Jika kau tidak mampu melakukannya, aku tidak akan yakin apakah kau mampu membawa kembali temanmu." Kata Ozzo.
Iloania sudah berkali-kali mencoba dan gagal. Jangan tanyakan seberapa merah wajahnya, bahkan ada genangan air mata dipelupuk matanya. Tetapi Iloania bahkan tidak merasakan sedikitpun perasaan ingin menyerah. Ia justru makin bertekad untuk segera bisa menguasai elemen angin dengan tingkatan yang lebih tinggi, ketika dia menyadari bahwa elemen anginnya masih belum kuat. Apalagi untuk sekedar melukai Raja Iblis.
Ozzo memandang Lasius yang mengepalkan tangannya ketika melihat Iloania kepayahan. Ia menyunggingkan senyuman miring. "Kau, nak. Lakukan sesuatu daripada diam menonton disana. Bagaimana dengan mencari sesuatu untuk dimakan? Aku ingin makan ayam."
Dia memutar tubuhnya menjadi berbaring dan menjaga kepalanya dengan berbantalkan satu tangannya, sementara tangan lain sibuk mengorek telinganya. "Oh, ada baiknya jika ada beberapa botol anggur dari toko terenak di Ribnon."
Lasius menyipitkan matanya. Dia adalah seorang pangeran! Bagaimana dia bisa diperintah begitu saja? Mengapa orang itu sangat dan sangat menyebalkan?!
Lasius merasakan kekesalan dan ketidaksenangan dihatinya. Tetapi ketika pandangannya menyapu Iloania yang berusaha keras melatih tubuhnya untuk menguasai sihir angin, kekesalan dan ketidaksenangan itu menghilang begitu saja. Iloania bekerja keras, Iloania tengah berjuang, dia harus bisa membantu.
Ia bangkit berdiri, mengenakan jubahnya dan berlalu pergi. Melirik kepergian Lasius, Ozzo terkekeh dan memfokuskan kembali perhatiannya pada Iloania. Melihat kilau samar disekitarnya, bibir Ozzo tak bisa menahan sedikit gumaman.
"Seharusnya tidak akan lama."
Menghirup napas sedalam-dalamnya, Iloania mencoba memfokuskan dirinya dalam pemikirannya, mengabaikan suara-suara disekelilingnya. Mengabaikan rasa sakit dan sesak yang dirasakannya.
"Vle.." Dalam benaknya, Iloania mencoba memanggil Vleia.
Tak ayal dia memiliki harapan bahwa dia akan mendengar suara Vleia. Tetapi dia hanya menelan kekecewaan, saat hanya kehampaan yang menjawabnya. Ingatan demi ingatan berputar dikepalanya, dan kemarahan yang dipendamnya seakan bangkit lagi. Dia tak tahu harus melampiaskannya kemana, dan semua kemarahannya hanya jatuh pada dirinya sendiri.
Kau lemah!
Kau adalah orang gagal!
Kau adalah seorang pembunuh!
Kau tidak bisa melindungi mereka, kau sangat lemah!
Iloania tengah berperang dengan dirinya sendiri. Hingga sebuah suara tertangkap pendengarannya membuatnya tersadar tiba-tiba dan terengah. Ketika pandangannya hampir mengabur, Iloania berlutut dan mencoba menstabilkan pernapasannya.
Ozzo mendatanginya, membantunya duduk dan berkata, "Tidak apa. Bernapaslah."
Setelah beberapa menit berlalu, Iloania sudah mendapatkan kembali ketenangannya. Ia mengusap air mata yang menggenang dimatanya dan bangkit berdiri mengikuti Ozzo yang berdiri dan menatapnya.
"Kamu hampir berhasil tadi." Tukas Ozzo.
"Meskipun gagal, kau seharusnya sudah bisa merasakan perbedaannya, kan?" Sambungnya bertanya.
Iloania menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Ya. Aku sudah sedikit mengerti. Ketika aku merasakannya, ada sesuatu yang menggelitik didarahku. Rasanya seperti, perpaduan yang menakjubkan." Ujar Iloania.
Ia menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu lanjutkan."
Ozzo kembali menuju tempatnya bersantai, sementara Iloania terdiam ditempatnya. Ia memikirkan suara yang didengarnya tadi. Dan tak bisa menahan pertanyaan tentang hal itu. Entah itu ilusi atau pikiran abstraknya karena tekanan dari ia menarik napas sebanyak itu, yang pasti, Iloania tidak mengerti.
"Namanya Amore? Sangat cantik! Aku janji akan selalu melindungi dan mencintaimu!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
27/05/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux