
"Guru, apa yang terjadi? Apa yang terjadi?!"
Anorexa dengan tidak menjawab apapun mengangkat tangannya, melangkah menuju Zeron dan menarik sesuatu dari separuh tubuhnya.
Benda kehitaman itu segera muncul dipenglihatan Zeron. Sekelebat ingatan muncul dibenaknya, dan maniknya melebar dengan wajah memucat. Itu adalah binatang iblis yang mengendalikannya. Menatap gurunya, Zeron menemukan luka bakar dilengan kanannya dan tidak bisa menahan perasaan tertekan yang luar biasa dalam hatinya. Tubuhnya gemetar dan matanya memerah.
"Apa aku yang melakukannya, guru?"
Suaranya bergetar, dan Anorexa menggelengkan kepalanya. "Binatang iblis ini yang melakukannya, bukan kamu."
Zeron kembali berbicara. "Tapi yang membuat guru terluka adalah aku. Itu adalah sihirku, dan aku yang mengeluarkan sihir itu!"
Anorexa tidak menjawab, dan terus mempertahankan posisinya. Binatang Iblis itu perlahan menjalar ke tubuh Anorexa, wanita itu memandang Zeron yang menatapnya dengan ngeri. "A—Apa yang coba guru lakukan?! Hentikan!! Guru, lepaskan aku!!"
Meski merasakan tubuhnya hampir terasa terbelah ketika dia memberontak, ia tidak peduli selama wanita itu melepaskan tangannya dari bahunya dan menghentikan tindakannya untuk mengambil alih Binatang Iblis dari tubuhnya. Melihat Zeron yang berusaha menjauhinya, Anorexa dengan cepat merengkuhnya dalam pelukannya dan mengunci pergerakannya. Tidak melepaskannya bahkan ketika Zeron memberontak dan mencoba mendorongnya.
Meskipun Zeron selalu mendambakan pelukan hangat gurunya yang tidak pernah ia dapatkan lagi, Zeron untuk pertama kalinya tidak ingin gurunya memeluknya seperti itu.
"Guru!! Lepaskan aku!!"
Anorexa membiarkan Binatang Iblis itu perlahan menguasai tubuhnya, namun dia berusaha untuk terus menerus menjaga kesadarannya. Ia membuka bibirnya. "Zee, bisakah kamu lebih tenang dan memeluk guru untuk saat ini?"
Mendengar perkataan Amorexa, air wajah Zeron berubah. Matanya memerah dan berkilat oleh air mata yang menggenang dipelupuk matanya.
"Guru.."
Anorexa menggelengkan kepalanya. "Tidak apa, tidak perlu takut. Kamu akan baik-baik saja setelah ini, guru berjanji."
Zeron segera berteriak, "Lalu bagaimana dengan guru? Apakah guru akan baik-baik saja?!"
Anorexa tidak menjawab pertanyaan Zeron dan melepaskan pelukannya ketika dia tiba-tiba mengangkat tangannya dan menempelkan ujung jarinya ke dan jarinya berpendar mengeluarkan cahaya berwarna kemerahan. Ada selembar kelopak bunga yang kemudian jatuh dari telapak tangannya, dan manik Zeron membulat.
"Guru .. memberiku Segel Bunga Mimpi?!"
Anorexa melangkah mundur, dan Zeron yang tidak bisa bergerak hanya terdiam ditempatnya, memandang Anorexa yang berdiri membelakangi kawah gunung yang meluap-luap. Binatang Iblis sepenuhnya menempel ditubuh wanita itu, dan lambat laun bergerak untuk menutupi tubuhnya.
"Aku tidak ingin melupakan guru!! Tidak!! Tidak guru!! Aku mohon batalkan segel guru!! Guru!!"
"Zee."
Anorexa memanggil dengan suara yang tenang. "Guru tahu jika kamu tidak akan bisa mengingat kata-kata guru lagi. Tapi, guru masih ingin mengatakan ini. "
Ia memasang senyuman yang teramat manis, sebelum mengeluarkan serentetan kalimat sederhana, dan membiarkan tubuhnya jatuh. Dan menghilang dibalik cekung kawah gunung berapi yang menyala-nyala. Tepat setelah itu, Zeron jatuh tak sadarkan diri dengan air mata yang mengalir diwajahnya.
Ketika dia membuka matanya kembali, dia masih berada ditempat yang sama, dengan cahaya matahari menerpa wajahnya dan membiarkan jejak air matanya mengering. Pandangannya kosong memandang sekelilingnya, dan dia tidak bergerak untuk waktu yang lama, sebelum ia bergumam dengan suara pelan.
"Aku .. kenapa aku menangis?"
...***...
Hari Kelimabelas, Bulan Kesebelas, Musim Gugur
Gadis itu melangkah dengan tenang diperbukitan. Hutan rimbun menyapa penglihatannya, dan binatang sihir nampak berkumpul di suatu tempat ketika fajar mulai menyingsing.
Helaian surai panjangnya tersibak oleh angin ketika dia perlahan melangkah keluar dari jalan setapak dan menghampiri binatang-binatang sihir itu. Tidak ada binatang sihir yang kuat disana, dan hanya ada binatang sihir berlevel sedang dan lemah yang biasanya dijadikan binatang sihir peliharaan. Sepasang manik oranye-nya memandang pada buntalan kain yang dikelilingi barrier pelindung.
Tangannya terulur memecah barrier itu dan menangkapnya kedalam tangkupan tangannya.
Sepasang manik kelabu yang terpapar cahaya lembut membuat penampilannya hangat dan menawan. Anorexa memandangnya dan bergumam. "Apakah kamu juga sendirian?"
"Tidak apa, kamu tidak akan sendirian mulai sekarang."
Anorexa menyunggingkan senyuman dan dengan lembut mengusap pipinya. "Aku, tidak akan membiarkan kamu merasakan kesepian yang pernah aku rasakan."
...***...
"Guru berharap, kamu bisa bertemu dengan seseorang yang bisa menarikmu dari kesepian yang akan kamu rasakan. Tidak, guru yakin kamu akan segera menemukannya."
"Kamu akan hidup dengan bahagia, Zee."