
Kerajaan Lomiere, Endlain
“Raja Cristopher dari Vlover, Endlain. Memasuki ruangan!” Ketika namanya diserukan, semua bangsawan yang ada didalam aula Kerajaan Lomiere menoleh, menahan napas dan berusaha untuk tidak gemetar dan terpukau akan keagungan dan kharisma dari Christopher kala pintu masuk terbuka lebar.
Langkah kakinya tegap, dan tatapannya fokus lurus kedepan. Orang-orang membungkuk menyambutnya dengan salam, dan Raja Ilen, tuan rumah, segera berdiri dan menyambutnya dengan senyuman yang terpasang apik diwajahnya yang terlapisi oleh lemak tebal hampir disemua sisi wajah dan tubuhnya yang mengenakan jubah merah.
“Selamat datang Yang Mulia, Kerajaan Lomiere menyambut anda dengan sukacita dan kegembiraan. Silakan duduk!” Ucapnya penuh dengan semangat, mempersilakan Christopher untuk duduk setelah berbasa-basi singkat.
Ada seorang wanita yang melangkah mendekati area singgasana ketika Christopher mendudukkan dirinya beberapa saat lalu. “Salam penuh kehormatan kepada Bintang Vlover, Yang Mulia Christopher. Saya adalah permaisuri kerajaan Lomiere, suatu kehormtan untuk bisa menyapa Yang Mulia.”
Raja Ilen menoleh dan tertawa. “Dia adalah istri saya Yang Mulia. Sudah 19 tahun sejak saya menikahinya.”
Christopher tak berkomentar dan hanya menganggukkan kepalanya sebagai sebuah respon. Raja Ilen tidak merasa canggung dan segera menunjuk seorang gadis yang mengikuti gerakan Permaisuri, perlahan menuju singgasana dengan gerakan anggun. Ia memasang senyuman lembut ketika memberikan salam kepada Christopher. “Salam keagungan bagi Yang Mulia Christopher. Saya Veronica de Lomiere, suatu berkat dan dan kehormatan dapat menyapa Yang Mulia secara langsung.”
Tatapan manik sewarna lavendernya berpindah, menatap sepasang iris hijau yang menatapnya. Penuh dengan godaan dangkal. Tetapi dalam sekejab, Christopher mengalihkan tatapannya dan menatap pilar berlapis permata dan menatapnya lama, seolah pilar itu lebih menarik daripada dirinya yang sudah sengaja berdandan hampir berjam-jam lamanya hanya untuk menarik perhatian Raja yang mendapat julukan Raja paling tampan diseluruh benua itu. Dibalik senyumannya, Veronica menahan amarah dan rasa jengkelnya karena sikap Christopher.
“Verony, kembali ketempatmu.” Bisikan permaisuri membuat Veronica menganggukkan kepalanya dan kembali menemui teman-teman bangsawannya.
Cring.. Cring.. Krincing..
Ada suara diaula, dan cahaya diaula sedikit memudar ketika beberapa lampu lilin dipadamkan oleh pelayan. Pintu disisi dalam terbuka, dan suara semakin keras. Raja Ilen berkata kepada Christopher. “Ini adalah hiburan yang sudah disiapkan oleh kerajaan. Anda pasti akan menyukainya, Yang Mulia.”
Wanita dengan balutan kain sutra merah ditubuhnya perlahan melangkah dengan membawa alat musik petik ditangannya. Diikuti beberapa wanita yang membawa kendang kulit kecil, memukul bersamaan dan kadang-kadang bergantian. Suara seruling menambah kesan misterius dan membuat suasana sedikit menawan. Bunyi kecrekan terdengar bersamaan dengan langkah kaki tanpa alas dari seseorang.
Gadis itu mengenakan kerudung semi transparan berwarna merah dikepalanya. Menyembunyikan secara samar wajahnnya. Tubuhnya ramping, dengan hanya menggunakan kain sutra yang melilit dibagian dadanya dan menggunakan celana belah, pakaian itu hampir mengungkap kulit sepucat saljunya.
“Wow!” Bisikan orang-orang samar terdengar kala gadis itu membuka jubahnya.
Wajah putih itu terpampang dimata semua orang. Bulu mata lentik yang menyembunyikan sepasang manik yang belum diketahui. Bibir merah muda tipis yang melengkungkan senyuman penuh misteri. Ia nampak seperti remaja, tetapi tatapan sepasang manik persik yang baru saja terbuka menunjukkan tatapan yang penuh dengan spiritualis yang berani dan hidup. Sangat mempesona dan mengundang orang untuk ingin lebih dan lebih menjelajahi apa yang tersimpan didalamnya.
Gadis itu mulai mengangkat kedua tangannya dan mengangkat kakinya. Ia membentuk tubuhnya untuk menyerupai kurva yang melengkung sempurna. Helaian rambut peraknya tergerai dan tersibak oleh angin. Menjadi tambahan untuk memperindah tariannya yang seperti angsa.
“Wah! Sangat indah!”
Setiap nada dan setiap gerakan tarian sangat berkesinambungan, tak ada cacat sedikitpun dalam gerakannya. Bahkan ketika gadis itu melakukan tarian cepat dengan lantunan musik yang cepat, dia tetap sangat menawan dan menarik. Laksana sebuah bunga di padang Nirwana.
Diakhir tariannya, ia membungkuk dan menatap kearah singgasana untuk beberapa detik, sebelum berbalik. Namun, tatapan mata sang Raja Vlover, tak pernah lepas darinya bahkan sampai gambaran gadis itu menghilang dibalik pintu.
“Anda menikmatinya, Yang Mulia?”
...***...
“Tidak biasanya kamu kurang semangat, Lova. Apa terjadi sesuatu, tarianmu hari ini sedikit melambat. Untung saja, tidak ada yang bisa menyadarinya selain kita.”
Cecena Flors, si pemetik senar bertanya kepada si gadis penari, yang saat ini tengah duduk dibawah pohon dibelakang Istana, memandang bulan yang bersinar megah, diatas bayangan sang mentari. Lova Vessell, menggelengkan kepalanya. Memasang senyuman dan menjawab, “Tidak ada masalah. Yah, aku memang sedikit lelah akhir-akhir ini karena banyak yang memanggil kita untuk menari. Apalagi menari didepan Raja Vlover, sedikit membuatku gugup.”
Cecena segera berkomentar, seperti kereta api. “Benar sekali! Aku bisa merasakan jemariku gemetar bahkan sampai sekarang. Aku takut dia tidak senang dan tidak puas dengan hiburan kita, dan akan menjatuhi hukuman untuk kita. Ditengah permainan, aku bahkan bisa merasakan jantungku berdetak dengan sangat cepat, melebihi genderang yang dimainkan Sce!!” Dia merengek, “Aku benar-benar takut dieksekusi!!”
Lova menyentuh punggungnya dan menepuknya beberapa kali. “Tenanglah, tenanglah. Yang penting acara sudah lancar bukan?”
Cecena mengangguk cepat dan menoleh ketika melihat seseorang terlihat celingak-celinguk didepan pintu belakang istana, nampak mencarinya. “Oh, itu Isel. Aku izin kepadanya sebentar, aku akan kembali kedalam. Kamu juga segera kembalilah, dingin diluar.”
Lova menganggukkan kepalanya. “Aku akan menyusul. Aku masih ingin melihat langit beberapa waktu lagi.” Perkataannya membuat Cecena tersenyum dan berkata, “Baiklah. Aku akan masuk dulu.”
Cecena berlalu, dan malam disana menjadi hening. Angin menyapa lembut, menggerakkan dedaunan dan menyibak rambut panjangnya. Jemari lentiknya terangkat, menangkap kelopak bunga ungu yang gugur kedalam telapak tangannya. Sepasang manik persik yang memandang, penuh dengan nostalgia, dan apa yang terkandung didalamnya hanyalah sebuah angan. “Aku merindukan kalian..” Hanya itu yang mampu dibisikannya pada angin.
Tap.. Tap.. Tap..
“Ce, aku akan kembali nanti. Aku masih ingin disini.” Mendengar suara langkah kaki, Lova berpikir bahwa itu adalah Cecena yang beberapa waktu telah masuk kedalam meninggalkannya. Gadis itu berpikir bahwa Cecena kembali untuk segera menyeretnya kembali kedalam Istana. “Ce?” Merasa tak mendapat balasan, gadis delapanbelas tahun itu menoleh, bersamaan dengan jatuhnya sebuah jubah ketubuhnya. Angin menyapa kembali dengan lebih berani, dan helaian benang emasnya tersibak menutupi wajahnya. Sosok itu mengulurkan tangannya, menyela Lova, untuk menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.
“Kau bisa sakit karena kedinginan.” Suara magnetis itu jatuh, dan Lova, tak bisa untuk tak tertegun.
Yogyakarta, LX