
Lasius sama sekali tidak tahu kehidupan Iloania, sebelum bertemu dengannya. Baiklah, ia akui jika dia merahasiakan beberapa hal yang memang tidak bisa dibeberkan, karena akan berbahaya bagi dirinya dan orang yang dekat dan disayanginya. Namun, Iloania itu terlalu misterius. Jika ia bisa berkata, mungkin kemisteriusan itu adalah kehidupan dan kebulatan dari Iloania sendiri.
Lasius ingin tahu, tapi ia sendiri juga tahu, akan selalu ada alasan, kenapa seseorang menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri dan membiarkan orang lain tahu, jika waktu telah tepat.
Jadi bagaimanapun rahasia Iloania, ia akan menyimpan rasa penasarannya, sampai Iloania berniat mengatakan kepadanya atau kesemua orang. Siapa Iloania sebenarnya, dan yang terutama. Darimana asal gadis 16 tahun itu. Tapi tetap saja, mengetahui Iloania kuat pun tak membuat Lasius mengurangi kecemasan dengan tindakan Iloania yang benar-benar mengatakan ingin mengikuti turnamen Festival Lentera yang Lasius ketahui cukup berbahaya karena melawan para senior.
"Kamu ingin kekantin?" Tanya Lasius, dan Iloania menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Mari pergi bersama."
Iloania terpekur, "Lalu kak Lion? Bukankah kakak ingin pergi menemui kepala sekolah?"
"Itu hanya Zalion. Dia terlalu takut untuk pergi sendiri, dan aku melihatmu disini, lebih baik mengantarmu saja kekantin. Kurasa Zalion sudah terlalu besar untuk takut pergi sendirian." Kata Lasius.
"Oh? Kak Lion takut? Haruskah kita antar bersama saja?" Tanya Iloania membuat Zalion tersenyum datar dengan menolak dengan tenang.
"Tidak, tidak apa. Kalian bisa pergi kekantin." Kata Zalion.
Ia kembali melanjutkan kata-katanya sembari melirik Lasius yang senantiasa memandangnya dengan wajah datar tanpa dosa. "Setelah kupikir-pikir, aku terlalu kekanakan untuk meminta Lasius menemaniku."
Iloania sedikit ragu, "Kak Lion yakin?"
"Tentu." Jawabnya cepat.
Lasius menarik Iloania, "Ayo pergi. Kantin akan segera ramai."
Iloania melambaikan tangannya pada Zalion. "Sampai jumpa lagi kak Lion!"
Menatap punggung keduanya yang melangkah berdampingan, Zalion menggelengkan kepalanya dan menghela napas pelan. "Benar-benar kekanak-kanakan."
...***...
Dikantin, sosok Jissiana, Miaka, Lane dan Kane tengah duduk bersama sembari menikmati makan siang mereka. Meski sebenarnya, hanya Lane yang menikmatinya sementara yang lain, menunggu kedatangan Iloania.
"Jissiana, bisa aku bertanya sesuatu?" Tanya Kane membuat Jissiana menoleh dan menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja. Ingin bertanya tentang apa?" Tanya Jissiana.
Kane sedikit ragu, "Itu .. bagaimana, bagaimana .. apakah Iloania dekat dengan Lasius?"
"Ah, seperti yang terlihat. Mereka memang dekat, tapi aku tak pernah tahu bagaimana mereka bisa bertemu. Kupikir, mereka bertemu dan langsung dekat begitu saja~" Jawab Jissiana.
"Ah, begitu." Gumam Kane membuat Jissiana menatapnya penasaran.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau bertanya?" Tanya Jissiana.
Kane sedikit memerah sebelum menggelengkan kepalanya berpura-pura alami. "Aku hanya penasaran, bukankah Lasius itu pangeran perang. Setahuku dia memiliki tempramen dingin dan sulit tersentuh. Agaknya, seperti apa cara keduanya bertemu sampai bisa dekat."
Jissiana nampak menimang-nimang sebelum tersenyum konyol, "Mungkin karena mereka sama-sama sempurna."
"Iloania me-meemang sangat cantik dan L-Lasius sangat tampan. Mereka juga kuat." Kata Miaka pelan, setuju dengan ide Jissiana.
Jissiana merangkul Miaka dan menempatkan jari telunjuknya didagunya sendiri. "Benar kan? Miaka juga berpikir begitu, kan?"
Miaka menganggukkan kepalanya. Bersamaan dengan datangnya Iloania dan Lasius.
"Ah, kak Sius. Mereka disana." Kata Iloania sembari menunjuk meja dimana Jissiana dan yang lain duduk.
"Ilo darimana? Kenapa bisa bersama dengan Lasius?" Tanya Jissiana.
Iloania duduk disamping Jissiana dan tersenyum. "Hal kecil,"
Lasius juga mendudukkan dirinya dideret bangku kosong. "Hal kecil apa? Sahabatmu ini mendaftar untuk ikut turnamen Festival Lentera."
Jissiana dan yang lain terkejut. "Apa?"
"Ilo! Kenapa kamu mengikuti turnamen itu?" Kaget Jissiana.
Miaka khawatir, "Turnamen itu cukup beresiko bagi kita. Terutama karena lawan adalah para senior. Ilo, apakah kamu yakin akan ikut?"
"Ilo~ Jangan ikut ya?! Bagaimana bisa kami tidak ikut dan hanya kamu yang ikut~ Itu berbahaya." Kata Jissiana.
Iloania menoleh dan menatap Lasius yang berpura-pura tak melihatnya.
Iloania sudah memperingati Lasius untuk tidak mengatakannya pada Jissiana atau yang lain karena takut mereka khawatir. Tapi Lasius justru mengatakannya dan membuatnya harus membujuk Jissiana yang pastinya mencoba melarangnya untuk mengikuti turnamen.
"Aa, sangat menyakitkan~" Ucap Lasius dengan wajah datarnya.
Iloania mengerutkan bibirnya dan berbalik kearah Jissiana. "Jie, itu adalah janji yang kubuat. Jie mengerti, kan?"
Pernyataan Iloania membuat Jissiana menghela napas. Jissiana tahu jika Iloania sudah membuat janji, maka Iloania akan menepatinya.
"Hah~ Jangan sampai terluka, oke?" Kata Jissiana membuat Iloania mengangguk dengan senyuman.
Lasius memandang Jissiana, "Begitu saja?"
"Err, lalu aku harus bagaimana?" Tanyanya tak mengerti.
Lasius memutar bola matanya malas dan menatap Iloania yang menjulurkan lidah padanya. Mengejek aksi Lasius yang mencoba menggagalkan rencananya untuk mengikuti turnamen Festiva Lentera. Lasius tidak mengatakan apapun dan mencubit hidung bengir Iloania, hingga membuat Iloania tak bisa bernapas selama beberapa waktu dan berkata-kata dengan suara yang menggemaskan.
Sementara Lane yang tengah asik memakan makanannya melirik kearah Kane yang menunduk dan terlihat gugup. Bibirnya membentuk garis lurus, ia tahu bagaimana kembarannya. Gadis bersurai hijau lembut itu, agaknya menyukai Lasius. Memang pemuda itu menurut Lane sendiri juga keren dan lumayan. Dan Lane, sejak awal sudah mengidolakan sosok Lasius bahkan bisa dikatakan menempatkannya dihati dan pandangannya.
Sayangnya, Lasius bahkan mungkin tidak menyadari keberadaannya dan bahkan mungkin tidak mengetahui namanya.
Lane mengalihkan lirikannya pada Lasius yang menatap Iloania yang memiliki hidung memerah, dengan jejak air disidut matanya. Dan mengangkat sudut bibirnya.
"Dia menyukainya."
...***...
Ketika Lane selesai dengan makanannya, ia berdiri dan mengajak Lane pergi. Karena mereka harus menemui guru untuk membahas pembelajaran yang sedikit tertinggal. Melambaikan tangan, keduanya menghilang dibalik pintu kantin yang makin ramai.
"Tapi Ilo. Jika kamu mengikuti turnamen itu, setidaknya kamu harus berlatih diluar jam sekolahan untuk meningkatkan kekuatanmu." Kata Jissiana.
Iloania mengangguk. "Aku tahu. Aku juga sudah mendapatkan seseorang untuk melatihku."
"Siapa itu?" Tanya Jissiana membuat Iloania tersenyum dan berbisik didekatnya.
"Seseorang diruang dimensi. Kamu ingin mencobanya lagi, Jie ?" Bisik Iloania membuat Jissiana mematung, berdeham pelan, Jissiana menegakkan punggungnya dan memulai makannya dengan tenang sembari menggeleng tenang.
"Tidak perlu. Aku tidak akan ikut, jadi silakan latihan sendirian." Ucapan Jissiana membuat Iloania mengangguk.
"Kalau begitu Miaka ingin ikut berlatih denganku?" Tanya Iloania.
Jissiana menoleh membelakangi Iloania dan menggerakkan bibirnya mengatakan "Tidak" secara berulang.
Miaka sedikit kebingungan namun menggeleng kecil. "S-Sepertinya tidak usah. Aku j-juga tidak ikut turnamen."
Iloania sedikit sedih. Maniknya menangkap Lasius yang sama memandangnya dan senyumnya mengembang. "Kalau begitu kak Lasius saja yang ikut."
"Hm?" Tanya Lasius.
Jissiana dibelakang Iloania menggeleng dan mengibaskan tangannya. Mengisyaratkan Lasius untuk menolak ajakan Iloania. Namun meskipun sudah melihat kode Jissiana, Lasius tetap membuka bibirnya dengan ringan.
"Baiklah."
Iloania senang, "Yeay.. Kalau begitu setelah makan ayo keperpustakaan."
Jissiana memandang Lasius dengan tatapan yang menyayangkan. Jissiana sudah pernah merasakan bagaimana latihan Iloania, untuk meningkatkan energi sihirnya. Dan itu, tidak pernah ingin diingatnya. Sudah diberitahu tapi tidak mau mendengarkan. Ya sudah, bukan salahnya juga~
Latihan Iloania, terlalu istimewa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update
17/07/2021
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux