Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 139 "Pertemuan Dua Ras"


"Tha, kamu akan pergi?"


Wanita itu memiliki penampilan yang luar biasa cantik. Wajahnya lembut dan menawan dengan sepasang manik hijau sewarna daun yang berkabut cahaya dan dengan helaian mahkota merah muda yang sewarna buah persik. Ia bersih dan nampak begitu muda, namun ucapan gadis cilik didepannya mungkin akan mengejutkan mereka yang mendengarnya.


"Iya, Nek! Aku akan mencari tanaman obat untuk persediaan selama beberapa bulan kedepan. Sekarang seharusnya sudah masuk musim dimana tanaman obat tumbuh."


Wanita itu menyunggingkan senyuman tipis, namun senyuman itu berhasil mengungkap wajahnya menjadi berkali-kali lipat cantiknya.


"Kalau begitu kembalilah sebelum hari gelap. Kamu harus berhati-hati." Nasihatnya.


Samantha, gadis itu menganggukkan kepalanya dan dengan ringan berlari keluar dari rumah pohonnya. Mereka adalah elf. Sebuah ras yang hidup berdampingan dengan ras lainnya. Kendati demikian, ras Elf merupakan sebuah ras yang memiliki sedikit lebih banyak kelebihan dari ras lainnya. Mereka berumur panjang dengan penampilan fisik yang indah, lebih indah dari mahkluk manapun selain ras duyung atau ras Delova yang merupakan ras paling indah dan cantik didunia, namun keberadaannya adalah sebuah kemisteriusan.


Menyapa para penduduk desa yang berpapasan dengannya, Samantha memang dikenal sebagai elf paling ramah dan baik di desa Daun Ungu, sebuah desa dengan nama yang aneh, namun menjadi tempat paling indah karena berada disebuah lembah yang menakjubkan luasnya dan bahkan bersebelahan dengan sebuah hutan yang memiliki banyak musim sekaligus.


"Pagi, Samantha!"


"Pagi, Sam!"


"Hei, Mantha! Kita akan bermain bola sayap sore nanti, ingat, kan?"


"Pagi!" Balasnya, "Jangan khawatir! Aku akan datang nanti sore!"


Setelah menyapa teman-teman dan tetangganya, Samantha dengan ringan kembali melangkah menuju hutan yang ada disisi utara lembah dan menyeberangi jembatan untuk mengumpulkan tanaman obat yang bisa digunakan oleh mereka untuk menyembuhkan luka disaat mereka terluka dan dijadikan minuman untuk memperkuat tubuh mereka ketika musim panas tiba.


Sebagai suku Elf Salju yang terlahir ditengah musim dingin, tubuh mereka secara alami sudah terbiasa untuk berada dimusim dingin, dan mereka menjadi sedikit lemah dimusim panas.


"Woah! Banyak sekali!"


Ia berjongkok, mulai memetik bunga yang merupakan tanaman obat dan dengan tenang memasukkannya kedalam keranjang bambu yang dibawanya. "Musim ini sepertinya lebih banyak daripada musim semi sebelumnya dihutan ini."


Entah berapa lama dia mengumpulkan, ketika Samantha menyadarinya, keranjang bambunya sudah penuh dengan berbagai jenis tanaman obat yang bisa dia dapatkan. Ia memandang keranjangnya dengan puas dan memutuskan untuk kembali ketika dia melihat jejak langkah kaki disisi lain tempatnya berdiri, cukup jauh, namun dia dapat dengan jelas melihatnya.


Jejak kaki yang cukup kecil sama sepertinya.


Dengan rasa penasarannya, Samantha melangkah menuju jejak itu, dan mengikutinya. Tanpa sadar, dia berjalan lebih dalam kedalam hutan.


Seseorang itu tidak membalas, semakin beringsut dibalik pohon dan menguncang tangannya menandakan bahwa Samantha tidak perlu mendekat karena dia baik-baik saja. Namun Samantha adalah gadis baik yang selalu memastikan bahwa keadaan orang lain memang benar seperti yang mereka katakan. Langkahnya menapak ketanah berumput, dan dengan mengulangi pertanyaan yang sama, dia bertanya, "Kamu yakin? Kamu baik-baik saja? Mengapa kamu ada dihutan sendirian?"


Samantha hanya berjarak dua langkah dari pohon tempat seseorang itu bersembunyi. Ketika ia hendak melangkah lagi, ia dikejutkan ketika seseorang itu terlebih dulu berlari keluar dan hendak berlari menjauhinya. Sayangnya, langkah yang diambil seseorang itu salah, karena kakinya tersandung akar pohon dan membuatnya jatuh dengan bagian depan tubuhnya terlebih dahulu menyapa tanah berumput yang tetap saja keras.


Brugh!


"Akh!" Pekiknya membuat Samantha terkejut dan berlari menghampirinya. "Kamu baik-baik saj-!"


Samantha kehilangan kata-kata ketika melihat secara sepenuhnya anak yang mencoba lari itu. Dia nampak seperti anak laki-laki biasa, bukan dari ras elf karena penampilannya yang cukup biasa. Rambutnya berwarna hitam dengan mata berwarna emas yang berbanding dengan Samantha yang memiliki surai sewarna salju dengan manik hitam jernih. Namun yang menjadi fokus utama Samantha bukanlah wajahnya, namun telinga yang mencuat dikepalanya dan ekor yang bergulung dibelakang punggungnya.


Samantha bukannya tidak tahu makhluk apa yang ada didepannya itu.


Ribuan tahun lalu sebelum dia lahir, sebuah peraturan dibuat bahwa Elf menyatakan permusuhan dengan bangsa Manusia Serigala atau Werewolf yang sangat suka membunuh elf hanya untuk menyerap kekuatan elf. Maka dari itu, dengan kesepakatan bersama ras lain, dibentuk sebuah plakat yang menyatakan bahwa ras elf dan werewolf tidak boleh berdampingan dan akan ditempatkan dalam wilayah yang berjauhan, dengan ras elf mendapatkan perlindungan dari beberapa ras besar seperti ras Manusia Burung, ras duyung, dan beberapa ras lain.


Demi menjaga keselamatan anak-anak mereka, orangtua menanamkan sebuah kisah bahwa ras werewolf adalah ras jahat yang sangat suka memangsa ras elf dan memakan daging serta meminum darah mereka untuk mencapai keabadian. Maka dari itu, tidak ada anak yang baru lahir yang tidak takut dan tidak memiliki pandangan buruk pada Werewolf, termasuk Samantha.


Samantha awalnya ingin langsung berlari pergi, namun melihat bulir air mata anak didepannya dengan darah yang menetes dari dagu dan lututnya, hati nurani Samantha yang memang sebaik malaikat tidak bisa tidak tergerak.


Meski katanya ras manusia serigala itu kejam dan jahat, namun melihat penampilan anak laki-laki itu membuat Samantha sedikit merasa bingung dan bimbang dengan apakah yang orangtua katakan kepada mereka itu adalah kebenaran.


"Ishh!" Ringis anak laki-laki itu masih mencoba menahan isak tangisnya.


Melihat betapa dia nampak kesakitan, Samantha tidak bisa menahan untuk tidak merasa kasihan. Samantha memandangnya dengan hati-hati selama beberapa waktu sebelum memutuskan mendekatinya dan berjongkok didepannya. Bukannya Samantha yang takut, justru anak laki-laki itu yang nampak begitu takut dan bahkan berusaha merangkak mundur menjauhi Samantha yang tertegun.


"Eh, tunggu. Aku bukan orang jahat, aku tidak akan melukaimu." Kata Samantha sembari mengangkat kedua tangannya yang menunjukkan bahwa dia tidak bersenjata yang memungkinkan untuk bisa melukainya.


Anak laki-laki itu memandang Samantha dengan ragu sebelum menjadi lebih tenang ketika telinganya perlahan sedikit terangkat. Melihatnya, Samantha seperti melihat keajaiban. Selama hidupnya, dia tidak pernah melihat manusia serigala karena itu tidak akan mungkin diizinkan, namun karena dia tidak bertemu secara sengaja, maka itu seperti menemukan sebuah fenomena alam yang hanya bisa terjadi sekali seumur hidup.


"Aku Samantha. Siapa namamu?" Tanya Samantha sembari meletakkan keranjangnya dan mengeluarkan beberapa tanaman obat.


Anak laki-laki itu menjawab dengan suara seringan kapas, "Theor."