
"Ilo," panggil Vleia.
"Aku sudah pernah kehilangan seseorang yang kucintai karena segel ini, Vle. Aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi." Lirih Iloania.
Ia mendongak. Memandang kekacauan disekelilingnya dengan sepasang mata yang sedikit memerah. Ada banyak sekali orang. Yang meminta tolong, yang menangis, dan yang putus asa melihat seseorang yang mereka sayangi terbunuh karena sihir hitam. Iloania mengepalkan tangannya.
"Tetapi, aku tidak bisa diam melihat mereka seperti itu, Vle." Kata Iloania.
Ia menarik napasnya dan tersenyum, "Maukah kamu membantuku sedikit lagi?"
Suara Vleia segera terdengar tanpa ragu, "Kamu tahu aku akan selalu membantumu. Lakukan hal yang menurutmu benar, Ilo."
Iloania tersenyum cerah, "Terima kasih Vle."
Ketika menoleh, wajah Iloania telah tergantikan dengan wajah serius. Tak ada keraguan sedikitpun disepasang manik emas itu. Hanya tekad sekuat hempasan anginnya, dan sepanas tekad apinya. Iloania, tidak akan ragu.
"Kak Sius!" Teriaknya membuat Lasius menoleh.
Ia sedikit terkejut melihat Iloania, namun segera mendengarkan. "Aku akan melindungi orang-orang yang ada disini. Minta semua penyihir pelindung untuk membuat barrier yang bisa menahan mereka agar tidak keluar. Akan kuserahkan penyihir hitam itu pada kak Sius dan yang lain! Gunakan serangan sekuat apapun, aku akan melindungi orang-orang didalam. Dan minta penyihir pelindung memperkuat barrier yang melindungi Dragonia Academy!!"
Lasius mengangguk, "Ya!"
"Nona Millied!" Kata Iloania sembari menghampiri Millied yang tengah melawan serangan penyihir hitam dengan serangannya.
"Ada apa?!" Tanya Millied.
Iloania segera berkata, "Tolong katakan kepada seluruh penduduk untuk segera berkumpul ditengah arena! Aku akan menggunakan sihirku untuk melindungi mereka."
Millied ragu sesaat. "Tolong cepatlah!"
Mendengar desakan Iloania, Millied segera menggunakan pengeras suaranya. "Kepada seluruh penduduk untuk segera menuju tengah arena. Sekali lagi, pergi kearena untuk berlindung!!"
Suara Millied terdengar begitu keras. Orang-orang segera tanpa ragu bergerak menuju tengah arena. Puluhan ribu berkerumun dan saling mendekat. Membentuk sebuah koloni yang mungkin terlihat menjadi sasaran empuk. Iloania segera menaiki piringan hitamnya dan melesat menuju tengah arena.
"Terima kasih, miss Millied!" Katanya sebelum benar-benar menjauh.
Millied memandangnya, "Semoga itu berhasil."
"Mengapa kita berkumpul disini?!"
"Lalu bagaimana?! Apakah kita disuruh mati beramai-ramai disini?!"
"Lihat, ada yang datang!"
"Itu gadis tadi! Iloania bukan?!"
Iloania tanpa kata menuju tengah kerumunan dan melayang setinggi lima meter diatas mereka. Menarik napasnya, Iloania bergumam. "Kita lakukan bersama."
Dari tangannya, cahaya keemasan bercampur kemerahan dan keabuan memendar. Melebar dan meluas membentuk payung setinggi puluhan meter yang melingungi seluruh orang. Barrier itu melebar dan melebar, semi transparan dengan gelombang emas yang kerap terlihat oleh sepasang mata telanjang.
Iloania beradu pandang dengan Lasius dan keduanya sama-sama menganggukkan kepalanya. "Gunakan kekuatan kalian semua! Jangan khawatirkan keselamatan orang-orang!!"
Para penyihir berangsung-angsur menggunakan kekuatan maksimal mereka. Tak ada lagi yang membuat mereka ragu untuk melepaskan sihir penuh, karena orang-orang sudah terlindungi dibarrier raksasa itu.
Pria yang menghalangi pintu dimensi tadi muncul dan memandang Iloania didalam barier. "Pengganggu."
Ia mengarahkan tangannya dan hendak memunculkan pintu dimensi didalam dinding pelindung, namun sama sekali tidak bisa. Ia mengernyitkan dahinya dan mengabaikan pikiran tentang gerbang dimensi.
Pria itu mengangkat satu tangannya dan membuat gerakan membanting kebawah. Memunculkan sambaran petir hitam yang kemudian menghantam dinding pelingung yang Iloania ciptakan. Iloania menahannya, namun merasa petir itu pernah dirasakan Iloania. Ini sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Insiden bersama Gailes. Petir yang menghancurkan bariernya, tak salah lagi.
Petir lainnya muncul dari langit, menyerang dan menyerang dinding pelindung Iloania. Ketika ada keretakan, Iloania memperbaikinya dengan terus menekan kekuatannya.
"Ahhhh!!"
Orang-orang menjerit karena terkejut. Memeluk orang yang mereka kenal dan saling memberi dukungan. Tetapi, mereka juga ketakutan karena serangan itu.
"Uhgh!"
Terbatuk, ada cairan merah pekat yang mengalir dari sela bibirnya. Iloania mengeratkan giginya dan menahan serangan petir yang terus datang.
Ia baru saja mengalahkan penyihir-penyihir hitam ditempat lain, namun siapa sangka bahwa Iloania diserang hingga mengeluarkan darah kembali, sama seperti waktu itu. Lasius mengetatkan rahangnya dan berkata dengan amarah.
"Aku akan membunuhmu!"
...***...
Pertarungan itu berlangsung belum lama, namun mereka semua ditekan hingga batas mereka. Ditempatnya, Iloania benar-benar berusaha menahan serangan dari luar yang kerap kali terarah ke dinding pelindungnya. Iloania memandang Lasius dan yang lain, nampak kewalahan. Penyihir hitam dan bayangan hitam itu berbeda. Mereka, bayangan hitam ditakdirkan untuk melindungi manusia, bukan memburu mereka. Meskipun manusia yang memburu mereka, mereka tidak bisa menyakiti manusia. Hingga pada akhirnya, manusia melawan bayangan hitam, kemenangan jelas berpihak pada manusia.
Mereka merasa mereka sudah hebat, tetapi itu karena tugas mereka bukanlah untuk menyakiti manusia. Kemenangan mutlak, tetapi berhadapan dengan sesama manusia, terlebih pengguna sihir hitam, tentu saja mereka akan kewalahan. Ilmu sihir hitam, adalah hal tabu didunia sihir. Itu membawa kutukan, air mata dan penderitaan. Tetapi kekuatannya, buruk.
"Kak Sius, gunakan sihir cahaya terkuat kak Sius!" Kata Iloania.
Lasius menjawab, "Terlalu berbahaya! Semua penyihir bisa terkena imbasnya!"
"Aku akan melindungi mereka semua!"
"Percayalah padaku kak!" Kata Iloania membuat Lasius mengeratkan giginya. Iloania sudah berjuang sejauh itu, bagaimana dia bisa mengatakan tidak.
"Aku akan menggunakan Laut Cahaya." Katanya membuat Legarion yang ada disampingnya dan sedang bertarung bersama prajuritnya menoleh dengan terkejut.
"Terlalu beresiko Sius! Jika Iloania tidak mampu menjaga dinding pelindung, semua orang akan hangus menjadi debu! Terlalu berbahaya!" Katanya.
Lasius menoleh, "Aku percaya pada Iloania, kak. Dia akan menjaga yang lain."
Melihat tekad dimata adiknya, Legarion tidak mampu berkata-kata. "Hah, pastikan mereka semua lenyap, Sius."
"Hn, serahkan padaku."
Lasius menoleh pada Iloania dan menganggukkan kepalanya. Iloania memejamkan matanya, menarik napasnya dan berdiri diatas piringan hitamnya. Iloania memandang seluruh orang. Memaksa mengeluarkan semua cadangan sihirnya.
"Puluhan ribu orang disini. Tidak boleh ada yang terluka lagi." Gumam Iloania.
Ada cahaya keemasan ditangannya. Iloania berteriak, menyuarakan kecemasan dan tekadnya. Ada cahaya keemasan memendar ditubuhnya, seperti lentera lembut yang membawa kehangatan dan rasa aman.
"Ah! Apa ini?"
"Ini dinding pelindung dari siapa?"
Banyak penyihir terkejut ketika melihat ada lingkaran cahaya yang melindungi mereka. Iloania terduduk dengan napas terengah. Namun tetap berusaha mempertahankan dinding pelindung yang melindungi semua orang di Dragonia Academy.
Jauh disisi lain, Clareon tengah melawan penyihir dengan serangannya. Terkejut dan terhenti ketika selubung energi hangat melindunginya. Clareon menyentuh dinding pelindung itu, untuk menatap jauh dengan sepasang manik kosongnya.
"Itu yang dia katakan." Gumamnya samar.
"Kenapa tidak meminta bantuan penyihir pelindung saja?" Tanya Vleia khawatir.
Iloania menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa. Mereka sudah menjaga seluruh wilayah Dragonia Academy dengan barrier. Jika mereka membagi sihir mereka untuk kita, kekuatan barrier utama akan melemah. Orang-orang diluar barrier bisa dalam bahaya."
"Tapi kamu sudah pada batasmu! Bahkan sudah menggunakan sihir cadanganmu. Kamu tahu, segelnya bertambah retak setiap kali menahan serangan sihir hitam!" Kata Vleia.
"Aku bisa Vle!" Tegas Iloania membuat Vleia tak bisa berkata-kata.
"Lakukan yang terbaik. Bertahanlah, Ilo."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
13/01/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux
1 bab menuju End Of Volume 1🌸