
Vleia berdiri dihadapan pria itu. Jarak keduanya hampir sepuluh meter, menghalanginya untuk mendekati Iloania dan yang lainnya. Meskipun dalam wujud anak kecil, Vleia tidak terlihat dapat diremehkan. Disekelilingnya, ada cahaya suci yang murni. Berbanding terbalik dengan pria muda rupawan didepan sana. Memiliki aura yang mencekam dan penuh kebencian dan perasaan gelap yang berbahaya.
"Mengapa mahkluk rendahan seperti kalian sangat senang mengganggu." Dingin pria muda itu dengan nada samar.
Vleia memandangnya dengan sama dinginnya, "Makhluk rendahan? Bukankah kau yang rendahan? Bukankah seharusnya tempatmu didunia bawah yang menjijikkan itu." Katanya.
Vleia melanjutkannya dengan seringaian penuh cibiran. "Sangat mengherankan. Apakah seorang yang mendapat gelar Raja Iblis itu sebenarnya adalah parasit? Sulit sekali untuk dibunuh." Ucapan Vleia yang kelewat bernada keras itu membuat semua orang yang ada disekelilingnya terkejut.
Raja Iblis katanya?!
Raja Iblis yang memulai perang ribuan tahun dengan dewa itu? Dan sekarang benar-benar ada dihadapan mereka?!
Lasius sama terkejutnya. Namun keterkejutannya terpotong saat suara Vleia terdengar dikepalanya. "Manusia,"
"Vleia?" Beo Lasius membatin.
Suara Vleia terdengar sangat serius. "Manusia, dengarkan aku. Ini bukan waktunya untuk takut. Aku akan memberimu waktu untuk mengirim semua orang keluar dari Dragonia Academy. Minta penyihir pelindung untuk melipat gandakan dinding pelindungnya. Lakukan dengan cepat!"
"Tapi.."
"Tidak ada bantahan! Lakukan atau aku tidak akan pernah membiarkan Iloania bertemu denganmu lagi! Cepat lakukan!" Ancam Vleia.
Lasius mengepalkan tangannya sebelum dalam hati menyetujuinya. Tetapi dia yakin, jika semuanya tidak akan semudah itu bagi Vleia. Terlebih untuk melawan sang penguasa dunia bawah, Raja Iblis yang kejam.
Vleia memandang Iloania dan membulatkan keberaniannya, "Aku akan melindungi kalian. Seperti guru melindungi kita, Ilo."
Vleia mengangkat kedua tangannya kesamping. Memunculkan cahaya yang lembut dari punggung tangannya. Ketika cahaya itu melebar, dibelakangnya terbentuk sebuah lingkaran cahaya yang nampak seperti cakram besar. Vleia melirik Lasius untuk memberitahunya agar mempersiapkan dirinya.
Lasius melihat tatapan itu dan menganggukkan kepalanya dalam hati. "Aku harus bergerak dengan cepat."
Vleia memunculkan rantai energi dari cakram dibelakangnya. Jumlahnya tidak hanya satu, namun banyak dan meliuk-liuk seperti ular. Rantai berujung runcing itu menyerang dengan cepat mengikuti arahan Vleia. Menyerang menuju Raja Iblis dengan brutal. Tetapi Raja Iblis dapat menghindarinya dengan mudah, seakan serangan itu tidak ada artinya.
Lasius bergerak cepat menggendong Iloania, "Lakukan evakuasi. Penyihir dimensi, pindahkan seluru orang segera!"
"Stora, minta penyihir pelindung untuk memperkuat keamanan dinding pelindung! Lakukan dengan cepat!" Kata Lasius.
Stora Recolain, sang asisten Legarion bereaksi dengan cepat. Melihat situasi ini, dia tidak ingin menyia-nyiakan sedetikpun waktu. Ia nampak bergumam, dan mengirimkan pesannya melalui angin dengan segera. Ketika selesai, beberapa detik berlalu, dinding pelindung di Dragonia Academy memendar dan menjadi lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Mendenga kata Raja Iblis, merek benar-benar beru menggunakan energi sihir mereka semaksimal mungkin.
"Sudah!"
Disaat bersamaan, penyihir dimensi berusaha keras memindahkan seluruh orang di Dragnia Academy ketempat aman. Bahkan termasuk para penyihir dan guru, atas perintah Vleia. Melihat portal yang diciptakan penyihir dimensi, mereka segera berlarian menyelamatkan diri. Membiarkan Vleia mengulur waktu untuk mereka kabur.
...***...
Iloania terusik ketika mendengar suara ledakan dan kericuhan. Membuka matanya perlahan, hal yang pertama dirasakannya adalah rasa pening yang mendera kepalanya. Menyadari bahwa Iloania telah sadar, Lasius menunduk.
"Ilo, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Lasius.
"Apa, apa yang terjadi?" Tanyanya samar sembari mencoba bertahan berdiri ketika Lasius menurunkannya perlahan.
Iloania menstabilkan pijakannya dan mengembalikan fokusnya. Memandang sekitarnya, Iloania dikejutkan oleh kekacauan yang terjadi. Namun dalam sedetik, lebih dikejutkan oleh sosok yang jelas terekam diingatannya. Jantung Iloania berdetak lebih cepat, perasaan itu menggerogoti benaknya.
"Vle.." Gumam Iloania ketika melihat Vleia berusa menghindari serangan dari Raja Iblis.
Lasius menatapnya dan terkejut.
"Apakah yang tadi itu elemen petir?!" Kagetnya.
Ditempatnya, Vleia berusaha keras menghindari serangan berbahaya Raja Iblis. Sesekali melakukan serangan untuk balasan.
"Aku tahu jika dia sedang lemah. Tetapi, mengapa dia masih begitu kuat?!" Batin Vleia sembari menangkis asap hitam yang mencoba menyerangnya.
"Sama seperti dulu. Lemah," gumam Raja Iblis.
Ia mengangkat tangannya. Menggunakan asap hitamnya yang bergerak secepat kilat untuk mencengkram Vleia. Vleia jelas sekali merasakan bahwa cengkraman pada tubuhnya sangat kuat, hingga membuatnya merasa sesak.
"Matilah." Gumam Raja Iblis mengeratkan cengkramannya.
Sebelum Vleia merasakan sakit yang lebih parah, sebuah kilat muncul, berhenti diatas mereka. Sedikit terkejut, Raja Iblis juga Vleia mendongak untuk mendapati sosok Iloania mengambang diatas mereka. Untuk beberapa detik itu, Iloania bertatapan dengan manik darah Raja Iblis, sebelum menyatukan kedua tangannya, mengangkatnya diatas kepala dan membuat gerakan membanting kebawah bersamaan dengan munculnya sambaran kilat besar yang menghantam langsung pada Raja Iblis. Tetapi Raja Iblis telah lebih dulu melindungi dirinya menggunakan asap hitamnya yang berbahaya.
Mendarat didepan Vleia yang telah terbebas dari cengkraman asap hitam, Iloania tak memberi kesempatan pada Raja Iblis untuk menyerang. Sepasang manik Iloania kembali berubah, sepasang manik razzmatazz itu memandang lurus kedepan, sebelum Iloania berlutut dengan satu kaki. Mendaratkan tangannya yang dilingkupi warna yang senada dengan matanya. Menciptakan sebuah pola lingkaran ditanah.
Ketika pola itu muncul dan melingkari luar area disekitar Raja Iblis, Iloania bergumam dengan suara rendah. "Tekan!"
Ketika selesai menyemburkan satu kata itu, Raja Iblis disana tiba-tiba merasakan tekanan luar biasa kuat yang menariknya dan mendorongnya kebawah. Hingga membuatnya berlutut dengan sedikit terbungkuk. Memaksa tubuhnya melawan, Raja Iblis mendongak untuk melihat Iloania menambahkan jumlah tekanan, sebelum Iloania melemparkan tubuhnya keudara dan membantingnya kembali dengan tekanan yang serupa.
Vleia memandang hal itu dan bergumam dalam hati. "Iloania menggunakan elemen petir dan sekarang gravitasi. Kekuatannya .. benar-benar dilepaskan?"
Terbatuk darah, Raja Iblis terkapar ditengah tanah yang retak dan setengah hancur. Kepulan debu sedikit menghilang, namun ketika asap itu menghilang, seringaian dibibir Raja Iblis muncul. Perlahan bangkit berdiri, ada aliran darah dari kepala dan bibirnya.
"Sungguh sangat bersemangat. Sudah lama sekali, kita tidak berjumpa, ya?"
Mendengar ucapan Raja Iblis, Iloania tidak mengatakan apa-apa. Memandangnya dengan mata tajam yang membawa setitik kebencian pekat didalamnya. Iloania bahkan tidak bisa melupakan napas yang dipenuhi aroma kematian itu. Benar-benar membuatnya ingin meludahkan kemuakannya.
"Benar-benar bukan pertemuan yang menyenangkan. Sangat menjijikkan. Mengapa kau tidak kembali kedalam peti mati saja?" Gumam Iloania.
Raja Iblis menyeringai, "Aku hanya butuh kekuatanmu. Bukan nasihatmu. Sekarang, bagaimana jika kita mulai, jika rencana kalian memindahkan mereka selesai?"
Deg!
Lasius yang berada diseberang sana tak dapat menahan detakan jantungnya. Pemuda itu tidak tahu apa yang terjadi secara jelas, namun sepertinya yang Raja Iblis itu incar adalah Iloania. Kekuatan, lantas .. apakah itu ada hubungannya dengan ledakan energi sihir yang dialami oleh Iloania?
Tetapi mengapa ia harus berpikir?
Jika Raja Iblis menginginkan Iloania, maka yang bisa dilakukannya hanyalah melindungi Iloania dengan sekuat tenaganya. Bahkan meskipun yang ada dihadapannya, adalah Raja Iblis.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
06/04/2022
LuminaLux