
Telinganya berdengung bersamaan dengan suara sorak sorai dan hujatan yang terus dilayangkan kepadanya. Gadis yang terikat ditiang kayu didepan gerbang kota itu dalam keadaan yang mengenaskan. Baju putih yang dikenakannya bersimah darah, rambut pirangnya acak-acakan dan terpotong dibeberapa sisi. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan wajah sempurna yang sekarang ternoda oleh lebam dan darah yang setengah mengering. Kulit tangan dan kaki tergores oleh duri yang sengaja dililitkan ditali yang mengikatnya.
Ini adalah hukuman terkejam yang ada dikerajaan ini, tetapi tak satupun penonton disana yang mengenakan pakaian sutra merasa simpati dengan gadis yang terikat ditiang, siap untuk dieksekusi oleh lidah api yang membakar. Isak tangis dari Cecena dipelukan teman pelayannya mengundang air mata pelayan lain yang dekat dengan Lova, namun tak ada yang bisa mereka lakukan setelah melihat keadaan Cecena yang lemah tak berdaya setelah menerima 20 cambukan karena mencoba membela Lova. Padahal meski mereka tahu, bahwa Lova adalah korban kecemburuan dan kebencian dari sang putri.
“Hiks.. Hiks.. Lova tidak bersalah..” Cecena mencicit pelan ditengah samar kesadarannya yang tersisa sebelum dia memejamkan mata, tak kuasa menahan rasa sakit dari cambukan yang dimilikinya, sama seperti milik Lova.
Diatas sana, Lova melihat dengan sepasang manik samar, bagaimana orang-orang menggunjingnya, bagaimana mereka memperlakukannya dengan sampah, hampir sama ketika dia pertama kali menginjakkan kakinya dikerajaan ini, dengan rantai ditangannya, bersama dengan orang-orang dari kerajaan yang sama dengannya, menderita seperti ini.
Tatapannya jatuh pada Veronica yang menyunggingkan senyuman pongah kepadanya, dan kepada seorang penjaga yang melangkah mendekatinya dengan sebatang obor ditangannya. Itu api yang akan membakarnya.
Lova tertawa dalam hati, “Miris sekali. Aku bahkan belum bisa menemui orangtuaku. Dituduh menggoda Yang Muli Christopher, bahkan sekarang aku juga dituduh sebagai mata-mata dan penghianat.”
“Bakar! Bakar! Bakar!”
Ketika penjaga melemparkan api kedalam batang kayu, nyala api melebar bersamaan dengan sorak sorai bangsawan dan penduduk yang semakin menjadi. Tepat ketika api menyentuh kakinya, suara pedang berdenting dan suara langkah kuda terdengar. Bronze digaris terdepan memimpin pasukan untuk membukakan jalan, dan bersamaan dengan itu, sepasang manik hijau menatap lurus kedepan dengan bibir yang setengah terbuka. Dadanya bergemuruh menatap tubuh gadis yang ia cintai bersembunyi dibalik dinding api dengan sepasang manik sendu yang memandangnya. Dia berbisik kepada Bronze yang menggigil disampingnya. “Ratakan tempat ini.”
Tanpa mengatakan apapun kepada Christopher yang segera menuju ketempat Lova, Bronze segera berteriak lantang. “Angkat pedang kalian!! Ratakan tempat ini dan jangan biarkan satu orangpun berhasil lolos!!”
“YAAAA!!!” Teriakan lantang prajurit Vlover yang terkenal karena keahlian dan kekejaman mereka berhasil membubarkan penonton dengan kepanikan, bahkan penjaga kerajaan itu sendiri bergetar ketakutan.
Veronica yang melihat kedatangan penjaga segera berlari berlindung dibelakang ayahnya. “Ayahanda!!”
“Berani-beraninya kalian!! HENTIKAN!!” Raja Illes berteriak lantang, namun tanpa pandang bulu, prajurit Christopher segera mengangkat pedangnya dan memenggal leher Raja kerajaan itu. Darah memercik, dan selanjutnya hanya ada teriakan tertahan Veronica.
Christopher segera melompat dari kudanya dan hendak melompat kedalam api ketika Lova berteriak, “Jangan kemari!”
“Apa maksudmu!!” Christopher mengabaikan perkataan Lova dan tetap mencari jalan untuk masuk. Ia bahkan mengayunkan pedangnya untuk memotong batangan kayu dan tali agar dapat terbuka. Sayangnya, seberapa keras dia mencoba, justru ia mendapatkan luka ditangannya karena api. Penyusunan balok kayu itu sangat sulit untuk dibongkar, terlebih dengan panas dan asap yang menghalangi.
“Bre*gsek!! Terbukalahh!!” Christopher meraung penuh emosi.
"Berhenti!"
Lova memandangnya berusaha mencari celah. Ia menggigit bibirnya, menahan rasa panas yang membakar dan melantangkan suaranya. “CHRISTOPHER!!”
Trang..
Pemuda itu menjatuhkan pedangnya kala melihat tatapan Lova yang sulit diartikan. Dia berlutut dan menatap pias pada Lova yang kemudian menggulung senyuman ditengah wajahnya yang penuh dengan rasa sakit dan luka. “Terima kasih sudah menepati janjimu, Chris.”
“Terima kasih telah kembali.”
Air mata meluncur, Lova memejamkan matanya dan memasang senyuman. “Aku,”
Asap mengepul, dan nyala api berkobar. Apa yang dapat dilihat dan didengar oleh Christopher didetik berikutnya adalah Lova yang memberikannya senyuman dan sebuah kalimat. Aku mencintaimu, bahkan tanpa aku sadari.
Dadanya bergemuruh, pandangan Christopher menggelap dan napasnya tersengal berat. Tangan kanannya terangkat, meraih pedang, dan berakhir dengan jeritan dan raungan memilukan dari waktu ke waktu. Sebelum hanya ada, lautan darah dan Raja Tiran yang terlahir sesungguhnya.
...***...
Cahaya itu mengambang diudara, melayang dan membumbung naik sebelum sebuah tangan pucat meraihnya, menangkapnya dalam genggaman lembutnya. Pria itu duduk diatas sebuah kuda ungu yang bercahaya, mengenakan lilitan kain sutra ditubuh rampingnya. Wajahnya cantik, bahkan hampir menyamai kecantikan dewi kecantikan. Bibirnya yang kemerahmudaan melengkung, tetapi maniknya memandang sedih cahaya ditangannya. “Cinta memang mengerikan, ya?” Si kuda melayang diatas awan, dengan surai dan ekor yang mengapung dan bergelombang indah dan mempesona itu meringik, sebelum tubuh mereka lenyap seakan tertiup oleh angin.
Yogyakarta, LX