ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Kekesalan Zidan


Cafe


Lisa dan Zidan berpijak di cafe yang telah di tentukan oleh Reyhan sebelumnya, mereka masuk ke dalwm cafe itu.


"Jangan tersenyum kepada siapa pin, termasuk Reyhan! kau mengerti?!"


Lisa merasa kesal dengan Zidan, namun dirinya sedang malas untuk berdebat dengan suaminya itu hingga dirinya pin terpaksa menuruti semuanperintah suaminya.


"Iya" saut Lisa


"Kau hanya boleh tersenyum kepadaku!" tutur Zidan kembali.


"Iya.... Kau ini cerewet sekali! tau gini mending aku nggak usah ikut." seru Lisa cemberut, ia merasa terkekang oleh Zidan.


Zidan dan Lisa memperhatikan semua pengunjung yang ada di sana.


"Dia dimana Zi?" tanya Kisa yang tidak melihat keberadaan Reyhan.


"Entahlah...."saut Zidan, hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi Reyhan.


"Zidan, Lisa!"panggilan yang terdengar dari ujung sana, membuat Lisa dan Zidan menoleh secara bersamaan.


Terlihat laki - laki berpakaian rapi dengan jas hitam melekat di tubuhnya sedang duduk di ujung sana.


Laki - laki itu tak lain adalah Reyhan, Zidan seektika menurunkan ponselnya yang sudah ia letakkan di dekat daun telingannya, ia memasukkan kembali ponselnya itu ke dalam saku celananya dan segera mengajak Lisa untuk mendekati Reyhan.


"Awas kalau kau berani tersenyum!" bisik Zidan. Lisa hanya mengiyakannya dengan nada kesal.


Zidan dan Lisa menghentikan labgkah kakinya dan berdiri sejajar di depan meja yang di duduki Reyhan. Laki - laki itu beranjak berdiri dari duduknya dan melemparkan senyuman di wajahnya.


"Selamat siang Lisa" ucap Reyhan sembari meempar senyum kepada Lisa.


"Siang Rey" jawab Lisa melirik kearah Zidan. Dia bisa melihat kalau suaminya itu sedang menahan rasa kesal yang teramat besar kepada temannya itu


"Jangan terlalu banyak basa - basi, aku asih banyak pekerjaan lain" tutur Zidan.


"Sombong sekali! " umpat Reyhan dalam hati.


"Duduklah dulu!" peritah Reyhan


"Lisa, pesanlah minuman dan makanan yang kau inginkan! dan carilah mejablain!"perintah Zidan, Lisa hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa ngebantah


"Zi, apa aku boleh pesan ice cream?" tabya Lisa berbisik kepada Zidan.


"Terserah kau saja" balas Zidan. Lisa begitu kegirangan, ia segera mencari meja kosong , saat melihat ada meja kosong yang tak jauh dari suaminya. Lisa segera mendekati meja itu dan mendudukinya. Ia memanggil pelayan dan memesan ice cream yang ia suka dan Lisa juga tidak lupa memesankan minuman untuk Zidan.


"Kenapa eku suruh Lisa pisah meja? disinikan bisa, lagi pula diakan sekretarismu" tanya Reyhan.


"Karena ini bukan termasuk pekerjaannya! Pekerjaan dia hanya membantu menyelesaikan pekerjaan hue yang berkaitan dengan perusahaan."ketus Zidan.


"Tapi ini kan jug apekerjaan dia!" saut Reyhan


"Tidak untuk yang bersifat penting!" seru Zidan. Reyhan tak bisa berkutik akan jawaban Zidan.


Zidan dan Reyhan pun mulai membahas masalah kerja sama yang akan mereka jalin, namun saat Zidan sedang menerangkan mengenai beberapa proposal yng sudah ia siapkan sebelumnya. Reyhan sama sekali tidak menghiraukannya, karna perhatian Reyhan tiba - tiba teralihkan ke arah Lisa yang sedang sibuk memakan ice cream miliknya.


"Dia sangat menggemaskan..." gumam Reyhan masih fokus menatap Lisa.


Zidan yang merasa kalau Reyhan sedang tidak fokus dengannya. Ia pun menghentikan penjelasannya dan mengikuti arah pandang Reyhan.


Zidan sangat merasa geram saat tau kalau Reyhan sesang memperhatikannya.


"Ehem.... " Kode Zidan, tapi Reyhan belum juga sadar.


"Ini meetingnya mau di teruskan atau gimanan" tanya Zidan sedikit mengeraskan suaranya.


"Sorry, sorry gue gak fokus" ujar Reyhan acuh.


"Silahkan lanjutkan penjelasannya!"


"Penjelasan yang mana lagi, yang mau di jelaskan? "ucap Zidan.


"Udah selesai ya? tunggu beri gue waktu sebentar untuk membacanya"pinta Reyhan, ia pun mengambil proposal yang di bawa Zidan dan membacanya.


"Ck..." Zidn berdecak kesal.


"Elu sebenarnya, niat gak sih menjalin kerja sama ini?" tanya Zidan to the poin.


"Santai bro... santai, gue punya penawaran menarik buat elu" ujar Reyhan, Zidan hanya diam menatapnya.


"Gue mau menjalin kerja sama dengan perusahaan elu, dan gue bakalan memodali semua proyek ini dan keuntungannya 75% ambil buat elu..." Zidan mulai tertarik mendengar tawaran dari Reyhan.


"Tapi apa?" tanya Zidan.


"Tapi sekretaris elu Lisa buat gue, gimana? gampangkann" jawabnya sembari tersenyum miring.


Brak


Zidan yang emosinya pun terpancing saat mendengar perkataan Reyhan.


"Jaga ucapan elu, eku kira dia apaan ha..." hardik Zidan. Lisa yang mengar suara Zidan pu. menoleh melihat kearah suaminya itu. ia sangat kaget saat melihat Zidan sudah berdiri dan mengebrak meja.


"Ada apa ini?" tanya Lisa saat mendekati meja suaminya.


"Kalau elu nggak mau menjalin kerja sama dengan gue, gak maksa juga gue."


"Beneran elu gak mau, come on Zi, dimana lagi elu dapatkan penawaran yang sangat menguntungkan ini" Reyhan masih terus mencoba meyakinkan Zidan.


"Sampai kapan pun gue nggak akan pernah mau menukarkan dia dengan apa pun. camkan itu!"


"Tapi kenapa, bukannya dulu elu gak suka sama dia. Atau elu cuma mau memanfaatin dia doang" seru Reyhan.


"Ini ada apa sih sebenarnya." tanya Lisa lagi, ia sangat penasaran dengan perdebatan yang terjadi antara suaminya dan sahabatnya itu.


"Bukan apa - apa, kamu diam saja!" suruh Zidan


"Suami mana coba yang mau menukar istrinya demi uang!!!" jawab Zidan. Reyhan terdiam.


"Maksudnya suami istri?" tanya Reyhan


"Kita batalin aja kerja sama ini." Saut Zidan, ia meraih tangan Lisa dan mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu.


"Maksudnya apa? apa mereka sudah menikah? tapi itu tidak mungkin." gumam Reyhan menggeleng.


"Gue tau banget kalau Lisa itu sangat membenci Zidan" imbuhnya lagi.


~


Zidan menarik tangan Lisa sampainke pakiran. Ia membukakan pintu untuk Lisa.


"Masuklah!"


"Kamu kenapa?" tanya Lisa.


"Nggak kenapa - kenapa, ayo masuklah.!" Lisa pun masuk ke dalam mobil dan di susul oleh Zidan.


Di perjalanan Zidan hanya diam saja, tanpa mengajak Lisa untuk mengobrol seperti biasa nya.


~


Sesampainya di rumah, Zidan memakirkan mobilnya kemudian berlalu pergi ke kamar. Lisa hanya melihat suamnya dalam diam. Dia tau kalau tadi pasti ada hal yang membuat mood suaminya itu memburuk.


"Kenapa dia jadi aneh begitu?"


"Baru juga tadi pagi dia bersikap baik dan manis." imbuhnya.


"Aku bikinin teh aja kali ya, biar dia lebih relex." ucap Lisa dan berlalu pergi ke dapur untuk membuatkan Zidan teh.


~


Zidan masuk ke dalam kamar, tampa membuka sepatu dan mengganti pakaiannya Zidan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Dasar brengsek?" umpat Zidan yang masi di liputi kekesalan terhadap Reyhan tadi.


~•••~


.


.


.


.


.


Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐


Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜