ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Amarah ayah Andre


Lisa terbangun dari tidur paginya, ia melihat ke samping dan menatap suaminya yang masih tertidur pulas.


"Tampan sekali… alisnya juga tebal dan bibirnya…" Lisa menghentikan ucapannya.


"Kenapa aku jadi seperti ini, dan kenapa bibirnya terlihat sangat menggoda.." gumam Lisa, ia masih menatap bibir suaminya.


"Tidak, tidak.… Otak ku sudah terkontaminasi dengan virus mesum Zidan" ucap Lisa pelan


"Mesum…"saut Zidan tiba - tiba.


"Dia bangun?…" ucap Lisa pelan, Lisa menatap mata Zidan, namun mata itu masih tertutup rapat.


"Syukurlah dia hanya mengingau…" imbuhnya lagi. Lisa mencoba melepaskan pelukkan tangan Zidan pada tubuhnya.


"Kenapa susah sekali…" Lisa terus mencoba, tapi tangan Zidan seolah tak ingin dilepaskan.


"Zi… Lepasin dong" rengek Lisa.


"Mau kemana sih, aku masih ngantuk. Nanti aja minta tambahnya." gumam Zidan mengeratka pelukannya di tubuh istrinya.


"Siapa yang minta tambah, dasar mesum. Awas aku mau ke toilet..." Lisa berusaha menjauhkan tangan Zidan dari tubuhnya.


"Tahan bentar lagi"


"Mana bisa ditahan! Awas!! Baiklah kalau kamu gak mau lepasin, jangan salah kan aku kalau nanti kalau ranjangnya bau pesing." tutur Lisa santai.


"Iss jorok banget sih kamu"


"Sudah sana pergi, pargi." Zidan mendorong tubuh Lisa menjauh dari tubunya.


"Dari tadi kek…" seru Lisa, ia berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Saat Lisa masuk kedalam kamar mandi, Zidan meraih bantal guling dab ia berniat untuk kembali tidur. Namun, belum berapa lama ia menutup mata, suara dering ponsel kembali membangunkannya.


"Hais… Siapa sih yang telpon pagi - pagi begi." Zidan meraih ponselnya yang berada di atas meja nakas.


Saat ia menyalakan ponsel, Zidan begitu kaget ketika melihat jam yang tertera di ponselnya itu.


"Oh shit… Sudah sesiang ini ternyata, "umpat Zidan. Zidan menerima panggilan yang masuk ke ponselnya itu.


" Hallo pak…" sapa sang penelpon


"Iya hallo, kenapa kamu menghubungi saya?" tabya Zidan.


"Saya cuma ingin memberi tau bapak, kalau sebentar lagi bapak ada meeting denga dewan direksi…" ucap Sang sekretarisnya.


"Kenapa, kau baru memberitahu ?!" sergah Zidan yang langsung mematikan sambungan telponya.


"Kenapa kau marah - marah seperti itu?" tanya Lisa saat ia baru keluar dari kamar mandi.


"Tidak, siapa yang marah? Aku hanya lagi kesal aja dengan sekeretaris ku" ucap Zidan.


"Ada apa dengannya?" tanya Lisa lagi


"Sudahlah, kau terlalu banyak bertanya..." seru Zidan, ia beranjak bangun dan turun dari ranjang.


"Tolong siapkan pakaianku!! aku mau ke kantor" pinta Zidan sebelum masuk ke kamar mandi.


Lisa hanya geleng - geleng melihat kelakuan suaminya itu. Ia pun menyiapkan semua keperluan Zidan untuk ke kantor, Lisa juga menyeduhkan teh dan juga roti slai untuk di makan Zidan sebelum ke kantor.


"Lisa, aku pergi dulu." teriak Zidan. Lisa dengan buru - buru berlari membawakan roti dan secangkir teh untuk suaminya itu.


"Zi… Tunggu!!!" teriak Lisa. Zidan menoleh kebelakang dan tersenyum melihat istrinya yang membawakannya makanan.


"Makan ini dulu, kau belum makan apa pun dari pagi.." seru Lisa mengulurkan sepiring roti dan secangkir teh kepada Zidan.


"Tidak usah, aku buru - buru…" tolak Zidan.


"Padahal aku udah buru - buru siapkan biar dia bisa makan. Tapi ya sudalah…" ucap Lisa pelan. Zidan mendengar ucapan Lisa pun seketika menjadi tersentuh.


"Baiklah aku makan, suapi aku!!…" pinta Zidan, ia membuka mulutnya.


"Tapi kau nanti bisa terlambat." balas Lisa.


"Kau mau aku memakannya atau tidak?" seru Zidan.


"Iya… iya, buka mulutmu!" Lisa mengulurkan sepotong roti kedalam mulut Zidan.


"Enak…" ucap Zidan sembari mengunyah.


"Harus… Kan aku yang suapkan." ucap Lisa tersenyum, ia kembali menyuapkan roti kedalam mulut suaminya.


"Sudah selesaikan, sekarang aku pergi dulu." pamit Zidan.


"Iya, hati - hati" balas Lisa, Zidan pun berlalu berjalan pergi. Lisa menatap punggung Zidan sejenak, kemudian ia pun berlalu pergi ke dapur.


"Akh…" pekik Lisa kaget saat seseorang tiba - tiba memeluknya.


"Zidan… Kau mengagetkan ku" seru Lisa


"Sorry…"


"Kenapa kau kembali? apa ada yang tertinggal?"tanya Lisa memutar tubuhnya menghadap Zidan.


"Iya, aku meninggalkan sesuatu…"


"Apa…"


Cup


"Aku lupa menciummu" jawab Zidan mencium Lisa. Lisa tersipu malu mendengar ucapan Zidan.


"Yasudah, aku pergi dulu." pamit Zidan tersenyum. Lisa tersenyum memandangi kepergian suaminya itu.


~


Di rumah sakit


Bella sudah sampai di lantai 3 rumah sakit, ia sedang menunggu kedatang Ronal di tangga darurat.


"Hosh… Host…"


"Lemah… Segini doang udah ngos - ngosan " Ledek Bella.


"Lahhh, elu kok bisa sampai sini?" tanya Ronal heran.


"Iyalah, kan gue pakek sulap" ucap Bella berlalu pergi meninggalkan Ronal.


"Eh… Tungguin gue" Ronal mengejar Bella.


"Elu ngerjain gue ya kan? pasti Liftnya gak rusak, ya kan?" seru Ronal tak terima di bodoh - bodohi oleh Bella.


"Haha… Salah elu ndiri lah, kenapa jadi orang, bego amat." pungkas Bella.


Ceklek


"Ayo masuk!!" ujar Bella membuka pintu ruangan inap Rose.


"Ini ruangannya?" tanya Ronal


"Iya, yuk masuk!" ajak Bella lagi. Ronal dan Bella pun masuk ke dalam ruangan Rose. Di sana sudah ada ayah Andre dan juga Dani, mereka sedang duduk di sofa sedang menatapa Ronal.


"Hai Om… Saya Ronal" sapa Ronal kepada ayah Andre. Ayah Andre pun berdiri menghampiri Ronal.


Bugh… Bugh


Beberapa pukulan mendarat di wajah tampan Ronal. Pria itu meringis ketika merasakan ujung bibirnya terasa perih.


"Ada apa ini Om, kenapa anda memukul saya?" tanya Ronal tak mengerti dengan perlakuan ayah dari pacarnya itu.


"Berani sekali kau bertanya seperti itu!!" ayah Andre benar - benar tersulut emosinya saat ia tahu siapa orang yang telah menghamili anaknya.


Ronal tersungkur di kursi yang ada di samping rangjang Rose ketika satu pukulan lagi mendarat di rahangnya. Dani meringis ketika melihat darah segar mengucur dari hidung dan bibir Ronal yang sobek


Sebetulnya Dani ingin menolong Ronal, namun ia juga sangat marah saat mengetahui sepupunya itu telah di hamili oleh Ronal. Akhirnya Dani hanya bisa menonton pamannya yang sedang melampiaskan emosinya kepada Ronal.


"Sudah paman, Ronal bisa mati" teriak Bella. Dani dan Bella mencekal tangan Andre yang hendak melayangkan kembali begem mentahnya ke wajah Ronal. Mata Andre tampak merah menahan amarah.


Dani dan Bella membantu Ronal untuk bangun. Kendati pukulan bertubi - tubi yang ia dapatkan dari ayah pacarnya. Namun, tak sekali pun Ronal melawan, ia merasa pantas mendaoatkannya. Setalah mengetahui bahwa telah hamil oleh nya .


"Mulai dari sekarang, kamu jangan pernah deketi anak saya lagi!!" tegas ayah Andre.


"Maaf Om, saya sungguh tidak mengetahui kalau Rose hamil" ujar Ronal.


"Kamu…


~•••~


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA🤗