ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Rumah Baru


"Pa, Lisa boleh bicara?" tanya Lisa.


"Boleh sayang, silahkan" jawab papa Dika.


"Menurut Lisa, gak masalah kalau Zidan nerusin kerjanya sabagai dosen. Nanti kalau urusan perusahaan Lisa bisa bantu" ujar Lisa. Dia tau kalau jadi dosen adalah impian Zidan dari dulu.


Zidan menatap Lisa untuk sesaat, dia senang karna istrinya mendukungnya.


"Emang kamu ngerti soal urusan kantor Lis?" tanya papa Dika.


"Lu tenang aja Dik, Lisa bisa diandalkan kok kalau soal perusahaan. Dianya aja yang gak mau kerja diperusahaan" ujar ayah Andre.


"Benarkah itu sayang?" tanya mama Lilis kaget mengetahui ternyata menantunya itu selain ahli di bidang desain dan fashion, dia juga ahli dibidang bisnis.


"Iya ma"jawab Lisa.


Zidan menatap Lisa, dia tidak menyangka kalau istrinya itu sangat bisa diandalkan dalam bisnis. Lisa yang merasa ada yang menatapnya pun, menoleh kearah Zidan. Untuk beberapa saat mereka saling pandang.


"Terus gimana pa? Aku boleh lanjut ngajarkan?"tanya Zidan mengalihkan pandangannya dari Lisa kearah papa Dika.


"Asal kalian gak kerepotan aja Zi." jawab Zidan


"Iya pa. Besok kalau kita ke repotan. Zidan janji bakal ninggalin profesi sebagai dosen" ucap Zidan.


Papa Dika menjawabnya dengan sebuah anggukan dan senyuman. Zidan sangat senang karna dia tidak jadi berhenti jadi dosen.


~


“kruck… kruck…”tiba – tiba perut Lisa berbunyi. Semua oang memandangnya.


“ Hehehe”Lisa hanya bisa cengengesan.


“Hahaha sayang kamu lapar ya? Cacingnya sampai demo gitu, apa kamu melewatkan sarapanmu?” Tanya mama Lilis disela tawanya.


“Lupa ma?” ucap Lisa.


“ Aduh sayang kamu tu ya, sarapan itu penting. Yaudah yuk kita cari makanan di dapur” ajak mama Lilis. Mereka pun berlalu begitu saja kedapur , tanpa menyadari kalau Zidan sedari tadi memperhatikan Lisa.


“Bi masih ada makanan tidak?”tanya mama Lilis


“Ada nya, nyonya mau makan lagi?”tanya bi Anah


“Tidak bi, ini Lisa yang mau makan. Tadi dia kesiangan makanya gak lupa sarapan” ujar mama Lilis.


“Ooo… Tunggu sebentar ya nyah bibi hidangkan dulu” pamit bibi Anah


“Tidak usah dihidangkan bi, biar Lisa ambil sendiri. Bibi lanjutin aja kerjanya.” Ucap Lisa mengambil makanan. Mama Lilis tersenyum melihat Lisa begitu baik kepada pelayannya.


“Aku gak salah pilih Lisa sebagai menantu” pikir mama Lilis.


“Sini sayang biar mama bantu.”tawar mama Lilis.


"Tidak perlu ma, mama duduk aja di meja.” Lisa membawa sepiring makanan dan setoples makanan ringan buat mama Lilis.


“Makasih ya ma, udah mau temani Lisa makan.”ucap Lisa menyuapkan makanan ke muluutnya.


“Kamu gak perlu sungkan gitu sayang”ucap mama Lilis tersenyum.


Lisa memakan makanannya sambal ngobrol bersama mertuannya. Dia senang mendapatkan mertua yang baik seperti mama Lilis. Dia merasa mamanya telah hidup kembali, mama Lilis sangat perhatian kepadanya.


“Udah siap belum makannya? Kita harus berkemas” seru Zidan yang datang menghampiri Lisa dan mama Lilis.


“Ada sedikit lagi, tunggu sebentar” Lisa cepat – cepat menghabiskan makanannya.


“Pelan – pelan sayang “ tegur mama Lilis


“iya ma, sudah yuk” Lisa meneguk habis air minumnya


Mama Lilis hanya bisa geleng – geleng melihatnya. Dia tidak menyangka kalau menantunya sangat penurut dengan anaknya dan untuk kesekian kalinya mama Lilis mengucapkan syukur telah menjadikan Lisa sebagai menantunya.


“Yuk” ZIidan kaget dengan sikap istrinya yang berubah jadi penurut dengannya.


‘kesambet seta apa ni cewek” pikirnya.


“Kita pamit ke kamar dulu ya ma” ucap Lisa dan berlalu pergi dengan Zidan.


'Blam' Lisa menutup pintu kamar agak keras.


Zidan berjalan kearah sofa dan saat dia berbalik dia kaget melihat Lisa mengkuti dan menatapnya dingin.


“Ada apa?” tanya Zidan


“Lu kan yang matikan alarm gw?”tanya Lisa to the poin


“Kalau iya kenapa? Kalau gak kenapa?” tanya Zidan


“Kekana - kanakan tau gak” ujar Lisa kesal.


“Bodoh amat” balas Zidan cuek.


“Haish emang susah ngomong sama orang gila” ujar Lisa berlalu pergi ke lemari, dia mengambil koper yang paling besar da mulai memasukkan barang – barang yang dibutuhkannya.


“Bawalah barang – barang yang dibutuhkan saja!”ujar Zidan. Lisa tidak menanggapinya, dia tetap fokus mengkemasi barang - barang yang akan dibawanya.


Setelah selesai dengan acara berkemasnya, Lisa membawa baju gantinya dan masuk kedalam kamar mandi.


“Mau kemana?”tanya Zidan.


“Mandi, kenapa mau ikut?” tanya Lisa


“Kalau boleh, hayuk” terima Zidan


“Yuk, tapi dalam mimpi” hardik Lisa berlalu masuk ke kamar mandi.


“BLAM” Lisa menutup pintu dengan keras.


“Lah kok jadi marah? Kan dia yang ngajak” gumam Zidan.


~


“Ayah titip Lisa kamu ya Zi? Tolong jaga dia baik – baik dan kalau dia susah – susah diatur kamu jewer saja” mendegar pesan ayahnya Lisa jadi cemberut.


“jangan cemberut gitu dong anak ayah, ntar cantiknya hilang baru tau. Sini ayah peluk” ujar ayah Andre. Lisa memeluk sang ayah.


“Kamu hati – hati ya nak dirumah barumu, dan jadilah istri yang penurut kepada suamimu” nasehat ayah Andre. Lisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


“Kita pamit ya semua” pamit Zidan kepada semua Orang.


“Iya hati – hati, maaf kami gak bisa antar kalian. Setelah ini mama sama papa juga mau pulang.” Ujar mama Lilis.


“iya tidak apa – apa ma” jawab Lisa.


Zidan memasukan barang – barangnya ke bagasi, kemudian di menuntun Lisa masuk ke mobil. Bener – bener suami idaman banget. Itu yang dilihat oleh orang lain.


“Bye – bye semua” pamit mereka melambaikan tangan.


~


Saat diperjalan tidak ada pecakapan yang terjadi diantara mereka. Lisa asik dengan membaca buku yang sengaja dimasukkannya kedalam tas selempangnya.


“EHEM” deheman Zidan memecahkan keheningan yang terjadi di dalam mobil itu. Lisa tidak bergeming dia tetap focus dengan bukunya.


“dasar kutu buku” gumam Zidan pelan, dan ternyata Lisa mendengar gumamanya tersebut.


“Bodoh amat” balas Lisa tak bergeming dari bukunya.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mereka sampai di rumah Zidan.


Lisa melihat perkarangan rumah Zidan yang tetata dengan rapi. Meski pun rumahnya tidak terlalu besar tapi interiornya sangat nyaman dan sesuai dengan selerah Lisa yang menyukai hal – hal yang mini malis. Yang paling membuat Lisa kaget adalah ketika dia berjalan kebelang disana terdapat taman yang di penuhi oleh bunga mawar merah yang mana itu bunga kesukaan Lisa. Zidan hanya mengikuti Lisa dari belakang dia tau kalau Lisa akan menyukai rumahnya, karena memang seminggu yang lalu dia merubah desain rumahnya sesuai dengan selerah Lisa.


“Suka gak?’tanya Zidan.


“Banget, kok bisa sih lu tau bunga kesukaan gw?” tanya Lisa penasaran.


“Gu-gu-gw asal tanam aja”kila Zidan gugup. Karena Lisa menatapnya.


“Sudah gw duga, lagian mana mungkin lu tau kesukaan gw” sambung Lisa mengitari taman bunga mawar tersebut.


“Kamar gw dimana?”tanya Lisa yang sudah puas mengelilingi taman bunga.


“ikut gw!”ajak Zidan.


Lisa mengikuti Zidan dari belakang, mereka naik ke lantai atas. Zidan membuka salah satu pintu kamar. Karena lantai atas terdapat 2 kamar.


“Ini kamar kita” ujar Zidan


“Ha, maksudnya kamar kita?.. kita sekamar lagi? Gak ada apa kamar lain? Kenapa harus sekamar sih?” tanya Lisa kesal.


“Dasar bodoh, iyalah kita sekamar kan lu ISTRI gw” seru Zidan yang sengaja menekankan kata istri.


“Gw gak mau, yaudah mending gw dikamar tamu saja”tolak Lisa.


“Gak usah lebay bisa gak sih, buang khayalan lu buat pisah kamar. Karna ini bukan seperti kisah – kisah di novel yang lu baca itu.” Seru Zidan yang gak habis pikir dengan Lisa yang minta pisah kamar.


“Apa maksud lu ngatai gw lebay?” tanya Lisa yang tidak terima dikatai lebay.


“Capek gw debat mulu sama lu” ujar Zidan berlalu masuk ke kamar mandi.


“Hais masa gw harus sekamar lagi sama dia.”gumam Lisa, dia melihat sekeliling kamar dan dia sangat menyukainya.


“Desainnya selera gw banget” gumamnya lagi.


Lisa sibuk menata barang – barangnya. Dia sangat kerepotan dan kelelahan menata barangnya yang lumayan banyak.


~•••~


Hai semua jangan lupa beri dukungannya dan juga tinggalin jejak biar author tau kalian mampir.


yuk saliang dukung🤗