
Mereka bertiga pun pergi keluar untuk makan siang bersama. Saat dipakiran, seperti biasa Dini akan meminta kunci mobil Lisa. Karena kalau, mereka sedang berpergian kamana pun makan Dini lah yang akan menjadi supir nya.
"Hari ini gw gak bawa mobil, pake mobil kalia. aja" ujar Lisa.
"Lah trus lu kesini gimana?" tanya Sindi.
"Tadi gw bareng Zidan, karena nanti sore kita bakal nginap di rumah ayah"ucap Lisa.
"Yaudah kita pake mobil gw aja yuk " tawar Sindi.
"Yuk" ucap Dinin dan Lisa kompak.
Mereka bertiga pun pergi ke mobil Sindi dan saat Lisa akan masuk ke mobil tiba - tiba seseorang memanggilnya.
"Lisa"
Lisa mencari sumber suara yang memanggil namanya.
"Lis, ada yang manggil lu deh kaya nya" seru Dini.
"Iya gw juga dengar"sahut Sindy.
"Gw juga dengar, tapi gak ada orang" ujar Lisa.
"Ah lupain aja, mungkin nama nya samaan kali" tambah Lisa.
"Yaudah yuk, kita pergi" ajak Dini.
Dini dan Sindi pun masuk kedalam mobil, mereka duduk di bangku depan dan Lisa duduk di bangku belakang.
"LISA" panggil suara itu kembali terdengar, Lisa menoleh keluar mobil.
"Lis, ada yang manggil lagi" seru Dini.
"Iya, siapa ya dari tadi manggil - manggil tapi gak nampak wujudnya" ucap Lisa.
"Lisa" panggil orang itu lagi.
"Eh itu Lis, orang yang manggil - manggil elu" ujar Sindi.
"Reyhan" gumam Lisa.
"Siapa Lis?" tanya Dini dan Sindi.
"Itu teman gw" ucap Lisa dan keluar dari mobil Sindi.
"Eh Rey, gw kira siapa yang manggil - manggil" sapa Lisa.
"Hehe iya, tadi gw liat lu dari jauh. Makanya gw panggil - panggil." seru Reyhan.
"Ngapain lu kesini?" tanya Lisa
"Ini adek gw minta ditemanin beli baju, eh ternyata dia kesini" jawab Reyhan.
"Ooo gitu, semoga adek lu senang dan puas belanja disini" ucap Lisa.
"Btw kalian mau kemana?" tanya Reyhan.
"Ini kita lagi mau cari makan" ujar Lisa.
" Oh baiklah, kalau gitu gw nyusul maya dulu kedalam. Bye" ucap Reyhan
"Iya, gw juga mau pergi dulu" balas Lisa. Reyhan berlalu pergi masuk kedalam butik sementara Lisa masuk kedalam mobil.
"Boleh juga tu teman lu Lis" ucap Dini.
"Lu mau?" tanya Lisa.
"Boleh juga, tapi dia masih singel gak?" tanya Dini.
" kaya nya masih deh Din, soalnya gw kagak ada dapet undangan dari Reyhan" ucap Lisa.
"Yee kali aja lu gak di undang Lis, ya gak Din" sahut Sindi yang fokus mengemudi.
"Sembarangan, dia itu sahabat gw dari smp sampai sekarang" balas Lisa.
"Iyain deh Sin wkwk" ucap Din tertawa.
"Ini kita mau makan di mana bos?" tanya Sindi melirik Lisa dari spion
"Di tempat biasa aja" sahut Lisa.
"Oke" Sindi pun kembali fokus ke jalan.
~
Sementara Zidan dikampus sedang memperhatikan mahasiswanya yang tengah mempresentasikan tugas makalah yang di berikan oleh Zidan pada pertemuan sebelumnya.
"Pak, apa tidak sebaiknya kita istirahat makan siang dulu?" tanya salah satu mahasiswanya.
"Bukannya saya sudah memberikan kalian waktu lebih dari cukup tadi, kenapa tidak kalian gunakan waktu itu untuk makan?"tanya Zidan balik, dia paling tidak suka jika dia sedang mengajar ada yang mengimtrupsi.
"Baiklah disini siapa yang lapar silahkan berdiri!!!" perintah Zidan.
"Baik sekarang jam 13.30 waktu setempat, kalian boleh istirahat untuk makan. nanti kalian harus kembali lagu tepat pada pukul 13.35. Tidak ada protes, dalam hitungan ketiga tidak ada yang keluar dari Ruangan ini. Maka saya yang akan keluar" ucap Zidan kepada mahasiswanya.
Belum sempat menghitung, para mahasiswanya sudah berlari keluar dari ruang kelas.
"Mereka benar - benar lapar ternyata" gumam Zidan. Dia kembali memeriksa tugas makalah mahasiswanya.
"1 menit lagi" gumamnya saat melihat jam tangannya. Zidan kembali membolak balikkan tugas makalah itu.
"10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, ..." belum sempat hitungan ke 10 semua mahasiswanya telah masuk ke ruang kelas.
"Bagus, tidak ada yang telat kan" tanya Zidan. Semua mahasiswa hanya diam sebagai jawabannya.
Meskipun mereka tau kalau ada dua orang lagi yang belum masuk kedalam kelas.
"Baiklah kalau begitu kita mulai lagi presentasinya" ucap Zidan.
Mahasiswa yang terpanggil namanya itulah yang akan melakukan presentasi. Kelas berjalan dengan hikmat sebelum dua biang kerok datang.
Tok... Tok...
Semua perhatian tertuju kepada pintu keluar. Terutama Zidan, dia menoleh dan melihat siapa yang datang mengganggu kelasnya.
"Ma-maaf pak kita telat" ucap Bella ketakutan.
"Masuk!! " suruh Zidan. Bella dan Rose pun masuk dan berjalan kearah meja yang kosong.
"Yang nyuruh kalian duduk siapa?"tanya Zidan. Rose menatap Bella, begitpun dengan Bella yang melihat kearah Rose sambil bergumam.
"Matilah kita"gumam Bella pelan kearah Rose, dengan susah payah mereka menelan air ludahnya.
"Sini!!!"Ucap Zidan tegas. Dengan gemetar Bella dan Rose berjalan menghadap Zidan.
"Dari mana saja kalian?" tanya Zidan panuh dengan aurah kekegalapan, mereka merindibg mendengar pertanyaan dari Zidan.
"Ka-ka-kantik pak" jawab Bella gugup.
"Apa kalian tidak mendengar intrupsi saya tadi?" tanya Zidan.
"De-de-dengar pak" jawab Rose dan Bella bersamaan.
"Apakah kurang jelas?" tanya Zidan.
"Sa-sa-sangat jelas pak" jawab mereka bersamaan.
"Lalu kenapa kalian jam segini masih diluar?" tanya Zidan.
"I-i-itu pak, kami ta-ta-tadi telat kebagian pesanannya" ucap Rose.
"Kenapa kalian bicaranya jadi gagap gitu?" tanya Zidan heran
"Ng-ng-nggak tau pak sp-sp-spontan aja pak" ucap Bella.
"Sekarang kalian keluar dan Lari bolak balik dari ujung sana sampai ujung itu, sebanyak 100 kali" ujar Zidan, sambil menunjukkan batas - batas hukuman mereka.
"Apa pak, itu gak bisa dikurangi lagi pak" seru Rose protes.
"Baiklah 150 kali" ucap Zidan tak terbantah.
"Rose semakin lu minta kurang maka hukumannya akan semakin bertambah" bisik Bella kepada Rose.
"Masih minta kurang?" tanya Zidan.
"Tidak pak, cukup kok" jawab Bella, mulai lari sambil menarik tangan Rose.
Zidan kembali fokus dengan presentasi yang sempat tertunda beberapa menit karena Zidan yang memberi hukuman kepada Rose.
~
Dibutik Lisa sudah menyelesaikan semua kerjaannya, dan dia tadi juga sudah menchat Zidan kalau dia ingin pulang.
"Lis, lu beneran gak mau gw antar?" tanya Dini.
"Nggak usah Din, gw dijemput sama Zidan kok" jawab Lisa.
"Baiklah, kalau gitu gw duluan ya" ujar Dini. Kalau kerjaan Lisa selesai di butik maka tugas Dini pun berakhir berbeda dengan Sindi yang notabenya adalah seorang sekretarisnya Lisa. Meskipun Lisa nggak ada di butik tapi Sindi harus tetap stay dibutik.
"Iya hati - hati ya. Bye" ucap Lisa. Dini tak menjawab dia hanya.menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ini Zidan mana sih, kok lama banget?" gumam Lisa pelan. Lisa berdiri dan melihat kebawa apakah Zidan sudah datang atau belum.
Cekle
~•••~
Hai semuanya makasih ya sudah baca karya aku.
Dan jangan lupa like, komen dan kalau suka fav nya juga ya
Tunggu kelanjutannya ya.