
"Zi, papa hanya ingin mengajarimu mandiri nak. Papa ingin mencarikanmu rekan bisnis. Karena, tidak mungkin selamanya kau akan bekerja sebagai dosen, papa ingin kau menjadi pengusahan sukses seperti papa. Dan tolong jangan main - main lagi mengurus perusahaanmu. Kalau kau terus seperti itu. Bagaimana kau mau membuat perusahaanmu itu maju?"Seru papa Dika.
Zidan hanya diam, ia mengusap - usap dagunya seolah tak menghiraukan ucapan papanya tersebut, ia melirik ke arah Lisa yang sedang memperhatikannya, lalu tersenyum kepadanya.
"Dasar Gila!"umpat Lisa
"Zidan, kau mendengarkan papa atau tifak?" suara papa Dika terdengar mengeras dari ponsel yang masih di genggam oleh Zidan itu.
"Iya pa, Zi dengar kok"
"Bagaimana, kau akan menemui Reyhan atau tidak?" tanya papa Dika.
"Nanti Zi, fikirkan dulu pa."
"Apalagi yang ingin difikirkan Zi? Semuanya sudah jelas, ini peluang untuk mu" seru papa Dika. Zidan menjauhkan ponselnya akan suara papa Dika yang hampir merusak gendang telinganya.
"Sebenarnya Zi, sangat malas menemui orang yang sok di butuhkan seperti itu! Seolah - olah, Zi ini sangat membutuhkannya. Malas ah pa."saut Zidan.
"Ya karna kau memang membutuhkannya nak! Astaga... Papa sungguh lelah bebicara denganmu,"
"Maklumlah kalau papa mudah lelah, papa kan udah tua." saut Zidan.
"ZI..."
"Zi, cuma becanda aja kok pa!."sautnya sambil terkekeh takut.
"Papa tidak mau tau, kau harus menemui Reyhan dan berusaha untuk bisa bekerja sama dengannya. Jika kau tidak mau menemuinya, atau kau tidak mendapatkan kerja sama itu. Papa pastikan kau tidak akan bisa mengajar di kampus lagi." ancam papa Dika.
"Papa, kenapa jadi seper..."
Belum selesai perkataannya, papa Dika sudah mengakhiri panggilan itu begitu saja.
"****, dimatikan!" Zidan mengumpat sambil meletakkan ponselnya diatas meja.
"Kenapa?" tanya Lisa.
"Itu, mertuamu menyebalkan." saut Zidan.
"Zi, bicaralah yang sopan kepada papa!" tutur Lisa.
"Aku kesal dengan papa, dia selalu saja mengancam!" decak Zidan, dahinya mengerut menahan rasa kesal.
"Mengancam? Memangnya papa mengancammu apa?" tanya Lisa dengan penasaran.
"Aku harus menemui anak rekan bisnisnya, katanya dia tertarik untuk bekerja sama dengan perusahan kita, seharusnya dia akan melakukan observasi keperusahaan hari ini, tapi karna ada hal yang mendesak ia membatalkannya, dan dia malah menyuruhku ke perusahaannya untuk menemuinya. Dia yang membutuhkan aku, jadi kenapa malah alu yang di suruhnya kesana.?"
"Terus hubungannya dengan papa mengancam apa?" tanya Lisa.
"Kalau aku tidak mau dan tidam mendapatkan kerja sama itu. Papa akan memberhentikanku untuk mengajar di kampus. Sungguh menjengkelkan bukan."
"Papa selalu saja mengancam seperti itu. Kalau aku tidak menuruti kemauannya pasti ada aja caranya untuk mengancam ku. Bahkan waktu menyuruhku untuk menikahimu juga seperti itu. Padahal tanpa di ancampun, aku juga tidak akan...."
"Tidak akan apa? Tidak akan mau menikahiku?" tanya Lisa. Zidan hanya diam dan masih setia menatapnya.
"Aku tau, menikah denganku bagaikan mimi buruk bagimu. Kaau kau ingim menceraikanku tidak apa - apa lagi pula kita masih belum memiliki anak bukan" Lisa mencoba tersenyum di balik perkataan yang menyakitkan itu.
"Kita bisa bercerai secara sembunyi - sembunyi tanpa sepengetahuan orang tua kita, lagi pula tidak banyak orang yang tau kalau kita sudah menikah."uajr Lisa. Ia berbicara dengan begitu berat, sesuatu seakan tercekat di rongga dadanya,ia merasa begitu sesak. Tapi dirinya tau betul, pernikahan ini memang sangat tidak di harapkan olehnya dan juga oleh suaminya itu.
Zidan hanya diam, dahinya mengernyit kesal, ia mengalihkan pandangannya, lalu ia beranjak berdiri dan berlalu pergi meninggalkan ruangannya tanpa membuang sepata kata pun dari mulutnya itu. Kedua mata Lisa yang berkaca - kaca mengikuti gerak tubuh suaminya yang pergi dari sana.
"Orang seperti Zidan memang seharusnya mendapatkan istri yang cantik dan modis, bukan seperti diri ku, yang biasa - biasa saja, jangankan modis, menggunakan alat meke up saja aku masih kaku.
Air mengucur deras keluar dari krean yang baru saja ia putar. Ia membasahi kedua telapak tangannya yang menadah, air pun menggenang di telapak tangannya tersebut. Kemudian ia membasahi mukanya yang terlihat binggung itu.
Seakan sedang memikirkan sesuatu, Zidan mematung, menatap ke sembrangan arah. Rasanya , perkataan Lisa begitu mempengaruhi hati dan pikirannya.
"Kenapa denganku?" Zidan mengusap kasar wajahnya yang hampir mengering.
"Aku sangat tidak menyukai dia berbicara seperti itu, tapi kenapa aku tidak bisa ngebantah perkataannya tadi. Apa benar aku terpaksa menikahinya tapi mana mungkin? Hais kenapa aku jadi meragu begini" Zidan sejenak memejamkan matanya.
"Tidak... Tidak, tanpa dipaksa pun aku juga akan menerimanya"
"Iya benar seperti itu..." Zidan mencoba meyakinkan hatinya dan juga pokirannya yang ia rsa tidak singkron, ia pun berlalu keluar meninggalkan kamar mandi itu dan bermaksud kembali ke ruangannya. Namun, saat hendak masuk ke ruangan, Zidan berpapasan dengan Lisa
"Mau kemana?" tanya Zidan dengan penuh selidik.
"Ehm..."
"Tidak boleh meninggalkan tempat ini tanpa diriku! ayo maduk!" Zidan menarik tangan Lisa dan menyuruh dan memaksanya untuk duduk.
"Zi, aku..."
"Apa?" Zidan menyauti seraya melototkan kedua matanya.
"Aku lapar..." Lisa memegang perut datarnya.
"Kau lapar? bukannya tadi kau sudah makan?" tanya Zidan.
Lisa menganggukkan kepalanya dengan tatapan memelas. "Tidak tau kenapa aku jadi lapar lagi. Mungkin, ini efek bosan menunggumu" jawab Lisa.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? ayo, kita pergi ke restauran yang ada di sebelah kantor." Zidan menarik tabgan Lisa, namun tank membuat Istrinya itu berpindah tempat.
"Makan denganmu?" tanya Lisa.
"Iya, memangnya kau ingin makan dengan siapa? Atau ingin makan dengan laki - laki brengsek yang kau sukai itu?" Zidan berucap dengan nada nyolot.
Lisa berdecak, merasa kesal akan sifat Zidan yang selalu mengutamakan
"Bukan seperti itu maksud ku, kau ini mudah sekali marah. Kau kan sedang bekerja, jadi aku akan pergi makan sendiri saja, aku tidak mau mengganggu pejerjaanmu itu saja."
"Alasan! Bilang saja kau sengaja ingin menghindar dariku dan ingin makan sendiri, supaya bisa di goda oleh laki - laki genit dan mengira dirimu masih lajang? benarkan!" tuduh Zidan.
"Huh,kau ini bicara apa?" Lisa memukul dada suaminya dengan kesal. Namun, tak membuatnya sakit.
"Memangnya siapa yang mau menggodaku? Tidak akan ada yang mau denganku. Kau saja tidakkan mau dengan ku! Jadi, kenapa kau berpikir sedangkal itu!" Zidan diam sejenak mendengar perkataan Lisa.
~•••~
.
.
.
.
.
Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐
Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜