ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Cemburu


Hingga lewat tengah malam, saking lelahnya dan rasa mengantuk tak bisa Lisa bendung lagi, membuat dirinya tertidur di atas sofa ruang tamu, bahkan membuat buku yang ia pegang terjatuh di lantai ruang tamu itu.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu yang berbunyi berulang kali membuat Lisa terperanjat dan terbangun dari tidurnya. Ia segera beranjak membuka pintu rumah itu


Ceklek.


Pintu terbuka terlihat Zidan dengan baju yang setengah acak-acakan berdiri di sana.


"Zi."Lisa menyentuh tangan suaminya itu, namun Zidan dengan kasar menepisnya.


"Kau dari mana saja? Kenapa pulang selarut inin" tanya Lisa. Zida. Hanya diam saja dan segera naik masuk ke dalam kamar. Lisa pun mengikuti suaminya dari belakang.


"Apa kau sedang banyak pekerjaan, kenapa kau smapai pulang selarut ini?" tabya Lisa . Namun, suara Zidan tak terbuang sedikit pun dari mukutnya.


"Zi,aku sedang bertanya, kenapa kau hanya diam saja?"


"Bertanya lah sesuai porsi dan jangan melebihi batasanmu!" bentak Zidan, Lisa sangat kaget dengan sikap suaminya malam ini.


"Pertanyaanku yang mana yang melebihi batas?" tanya Lisa.


"Aku kemana dan pulang jam berapa, itu semua bukan urusanmu!" srru Zidan.


"Kenapa kau tiba - tiba marah? Aku bertanya baik - baik kepada mu!"


"Kalau kau tidam ingin aku marah maka jangan bertanya!" Zidan melepaskan jas dan dasi yang masih melekat di tubuhnya dan melemparnya ke sembarang tempat. Lisa pun segera memungutinya.


Kedua mata Zidan melirik kearah Lisa denfan tajam.


" Bagaimana kencanmu dengan si brengsek itu? Menyenangkan?"suara Zidan menghentikan Lisa yang sedang sibuk menggantung jas yang telah di pakai oleh suaminya itu ke tempat semestinya.


"Aku tidak pergi berkencan dengannya, aku hanya makan sebentar dengannya" jawab Lisa.


"Lalu, apa bedanya?" teriak Zidan


"Zi, Reyhan tidak sengaja bertemu denganku, dia hanya mengajakku makan saja. Lagi pula, aku juga mengajak Sindy, aku sudak mengirim pesan kepadamu, tapi...."


"Kau pikir aku sebodoh itu pervmcaya dengan kata c katamu? Mana mungkin kau berkencan mengajak temanmu! Kalau tidak sengaja kenapa dia bisa menjemputmu di boutique?" tukas Zidan yang semakin mebgeraskan suaranya.


"Kau dari dulu menyukai si brengsek itu bukan? Kenapa kau tidak menikah saja dengan nya!" rasanya Zidan begitu kesal seakan tak bisa menahan emosinya. Bahkan ia tak memberi kesempatan sedikitpun untuk Lisa berbicara.


"Untuk tidak banyam yang tau kalau aku sudah menikah denganmu,apa kata orang jika aku menikahi wanita murahan sepertimu!


Lisa terdiam menatap Zidan. Dengan tatapan penuh, matanya terlihat berkaca - kaca. Hantinya begitu sakit mendengar apa yang ucapkan kepadanya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Mau marah? Mau memakiku? Maki saja!" teriak Zidan


"Maafkan aku..."Lisa menunduk menyembunyikan air matanya dan berlalu keluar dari kamat na tersebut.


"Pergilah.... Pergilah yang jauh sekalian...." Zidan meraih beberapa buku yanga ada di sekitar jangkauannya dan membanting buku - buku itu kelantai


"Arrrggghhh..." teriak Zidan. Ia berusaha menyetabilkan emosinya yang naik turun karena di penuhi oleh amarah dan kekesalan. Saat emosinya sudah stabil, Zidan teringat akan ponselnya.


"Kemana ponselku?" Zidan mencari ponselnya di sekitar meja dan tempat tidur. Namun, ia malah menemukan ponselnya terjatuh di bawah kolong tempat tidur. Ia segera meraih ponsenya tersebut.


"Sialan, low batt..." Zidan berdecak kesal saat ponsel yangia hidupkan, ternyata tidak ada daya dan ponselnya tiba - tiba mati. Ia mengambil charger dan segera mengisi daya ponselnya tersebut.


Raut wajah Zidan yang semula ditekuk tiba-tiba kini menjadi datar


"Dia benar-benar tidak makan berdua dengan si brengsek itu rumahnya dengan wajah yang merasa bersalah


"Astaga, kenapa aku tadi sampai berbicara kasar kepadanya." tidak meletakkan ponselnya dan segera keluar dari kamar, dia mencoba mencarI Lisa di dapur, namun tidak menemukannya. Zidan mencari Lisa ke setiap sudut ruangan yang ada di rumah mertuanya tersebut. Hingga langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar ayah Andre yang tertutup rapat, ini merupakan ruangan terakhir yang belum ia pijaki.


Zidan mengetuk pintu kamar ayah mertuanya tersebut dengan punggung tangannya. " Lisa Apa kau ada dalam?" Zidan mengetuk pintu itu berulang kali namun tidak ada sahutan atau suara apapun dari dalam


"Lisa, jika kau ada di dalam tolong buka pintunya!"


"Lisa, maafkan aku. Aku baru membaca pesan darimu,tadk aku tidak membawa ponselku. Tolong buka pintu nya!"


"Lisaaaa...."suara Zidan yang semakin mengeras terbuang dengan percuma. Ia yang begitu kesal pun menendang pintu kamar itu dengan sangat keras hingga membuat kakinya merasa kesakitan.


"****!" patnya sembari memegangi kakinya tersebut.


"Kalau tidam di kamar ayah lalu dia di manan" Zidan mengacak - acak rambutnya dengan begitu frustasi, ia melirik ke arah pintu rumah, namun pintu itu terkunci dari dalam dan kuncinyanmasih menggantung di sana.


"Tidak mungkin kalau dia keluar." Zidan masih tak menyerah, dan ia dengan sangat ykin bahwa istrinya itj berada di dalam kamat ayah mertuanys itu.


Tok... Tok.... Tok....


"Lisa ayo buka pintunya! Aku tau kau ada di dalam!" Zidan mengeraskan suaranya, ia sudah seperti orang yang kehilangan akan berteriak - teriak malam hari seperti ini. Untung saja tidak ada siapapun, hanya ada dirinya dan juga Lisa saja yang ada di sana.


"Baiklah! Kalau kau tidak mau membuka pintunya aku akan pergi dari rumah ini!!" teriak Zidan. Zidan membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan kamar tersebut.


Ceklek. Suara pintu terbukamengurungkan langkah kaki Zidan yang hendak pergi dari sana. Ia menoleh dan membalikkan badannya kembali kearah pintu.


"Ada apa?" Lisa bertanya dengan suara yng hampir tidak terdengar sama sekali, karena sebagian tubuh hingga kepalanya dibalut oleh selimut, yang kelihatan hanya wajahnya saja. Zidan mengernyit , ia mencoba menarik selimut itu dari tubuh istrinya tersebut.


"Jangan menarik selimutnya!" Lisa menahat selimut tersebut dan mendekapnya dengan erat - erat agar tidak terlepas dari tubuhnya. Zidan tak mau mnyerah dan ia menarik selimut itu dengan kuat - kuat hingga kain tebal itu pun terlepas dari tubuh Lisa dan teronggok di lantai.


Lisa seketika menundukkan wajahnya hingga membuat Zidak tidak bisa melihat wajahnya, karna tertutupi oleh rambutnya yang terlihat acak - acakan.


"Kau menangis?"Zidan bertana saat tenganya mengangkat wajah istrinya itu, terlihat begitu jelas dan Zidan begitu terkesiap saat melihat kedua mata wanita itu menyipit dan air mata masih mengalir dengan jarang di sana. Zidan sudah bisa menebak, istrinya menangis pasti karena ucapan kasarnya tadi.


Lisa menjauhkan tangan Zidan dari dagunya " ada apa?" tanya nya sambil menundukkan kembali, ia menyembunyikan wajahnya dari delikkan mata suaminya itu.


~•••~


.


.


.


.


.


Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐


Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜