ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Mengganggu saja


"Lihatlah!" Zidan menunjukkan rekaman CCTV di layar laptopnya yang menampakkan dirinya dan Lisa sedang duduk bersama.


"Ba - bagaimana bisa?" tanya Lisa. Jari Zidan menunjuk ke arah kamera CCTV yang melekat di ujung sana, membuat Lisa mengikuti gerak jari tangan suaminya itu mengarah.


"Sialan, berarti dari tadi dia memperhatikanku dari laptopnya!" umpat Lisa dalam hati.


"Masih mau mengelak tidak memperhatikanku?" tanyanya diiringi dengan senyuman meledek.


"Aku memang tidak memperhatikanmu! Siapa yang memperhatikanmu!" Lisa mengalihkan pandangannya, ia masih mencoba menyangkalnya.


Zidan meletakkan laptop yang di pegabgnya di atas meja yang sda di depannya saat ini, ia menarik tubuh Lisa, hendak mencium bibir tipis istrinya tersebut.


"Zi, apa kau sudah gila? Ini di kantor!" Lisa meronta, mencoba melepaskan diri dari suaminya itu.


"Aku bisa melakukan apa saja di dalam kantorku, siapa yang berani melarang ku?" ujarnya. Masih tak menyerah, ia ******* habis bibir istrinya itu, hingga membuat Lisa tersedak dan hampir kehilangan napas.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu, menghentikan aktivitas mereka berdua. Hal itu membuat Zidan mengumpat kesal.


"Mengganggu saja!!" decak Zidan kesal.


"Dia benar - benar sudah tidak waras!" umpat Lisa. Ia merapikam bajunya yang sedikit berantakan oleh ulah suaminya itu.


Zidan menyauti ketukan pintu itu, pintu pun terbuka, terlihat seorang wanita cantik dengn balutan blazer yang memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuhnya. Ia pun masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa berkas di tangannya.


"Permisi tuan Zidan." langkah kaki wanita itu mendekat kearah sofa yang sedang diduduki oleh Zidan dan juga Lisa.


"Ada apa?" tanya Zidan yang masih memasang wajah kesal.


"Asisten tuan Dika, baru saja kemari memberikan berkas ini. Tuan." wanita itu memberikan berkas yang ia bawa itu kepada Zidan. Namun kedua matanya menatap selidik kepada Lisa.


"Berkas apa inin" tanya Zidan, ia meraih dan membuka beberapa lembar halaman pertama dari berkas tersebut.


"Aku kurang tau tuan." jawab wanita itu, masih tak melepaskan pandangannya menatap Lisa penuh dengan tanda tanya.


"Kau boleh keluar! Jangan ada yang boleh masuk ke ruanganku! Tanpa terkecuali kau mengerti!"ujarnya. Wanita itu mengangguk mengerti,kemudiam ia berlalu pergi dengan melenggak - lenggokkan tubuh rampingnya. Seakan - akan ia sengaja melakukannya untuk mengejek Lisa akan kecantikannya itu. Lisa yang polos tak memperdulikan itu semua.


"Sebentar aku mau menghubungi papa dulu."


"Iya, lama juga gak apa - apa!" saut Lisa.


Zidan melirik tajam, membuat Lisa sedikit takut.. Zidan beranjak berdiri, mendekti meja kerjanya dan mengambil ponsel miliknya yang ia letakkan di atas sana. Lalu ia kembali mendekati Lisa dan mendudukkan tubuhnya di tempat yang sama. Ia segera mencari nomor kontak papanya dan menghubunginya.


"Hallo, Zi" suara papa Dika menyaut setelah nada sambung terhubung setelah beberapa saat.


"Hallo, pa. Zi baru saja menerima berkas yang di antar oleh asisten pala. Zi mau nanya, berkas apa ini apa?" tanya Zidan sambil membolak - balik berkas tersebut.


"Oh itu. Anak rekan bisnis papa sedang melakukan observasi di perusahaanmu, katanya tadi dia akan ke sana ingin menemuimu. Maka dari itu papa memberikan berkas itu kepada mu, nak."


"Anak dari rekan bisnis papa? Rekan papa yang mana?" tanya Zidan penasaran.


"Itu loh Zi, anaknya om Glend. Kamu pasti kenalkan, dan katanya dia dulu juga pernah satu sekolah denganmu."


"Zi, ini kesempatan emas, kalau anak dari rekan bisnis papa ini tertarik dengan perusahaanmu, dia akan mengajak perusahaanmu untuk bekerja sama dan ini akan sangat menguntungkan. Karena anak dari rekan bisnis Papa ini sudah memiliki beberapa cabang perusahaan yang cukup ternama di negara kita ini." imbuh papa Dika.


"Sebentar pa. Yang papa maksud siapa? Pagi ini atau pun siang ini, Zi sama sekali belum ada menemui client atau pun tamu pa." ucap Zidan dengan bingung.


"Reyhan?. Belum ada pa. Zidan belum ada menemui tamu sama sekali" jawabnya. Ia sedikit kaget mendengar nama Reyhan,


"Apa ini Reyhan yang sama dengan Si brengsek itu" gumam Zidan dalam hati.


"Tapi tadi di menghubungi papa, katanya dia sudah berangkatnke perusahaanmu, sebentar ya papa coba menghubungi dan menanyakan kepadanya" kata papa Dika yang terburu - buru mengakhiri panggilan itu bersama anak nya.


Zidan tiba-tiba beranjak berdiri, ia menemui sekretarisnya yang kala itu berada di luar ruangan, dan menanyakan siapa saja tamu yang datang hari ini. Namun, sekretaris itu memberitahukan bahwa tidak ada tamu yang datang untuk berkunjung kecuali temannya Ridho.


Zidan pun kembali menemui Lisa dan mendudukkan tubuhnya di tempat yang sama


" Ada apa, Zi?" Tanya Lisa


"Aku bingung, Katanya anak rekan bisnis Papa datang kemari ingin menemuiku, tapi kenapa kata sekertaris ku tidak ada ya tamu yang datang berkunjung kecuali Ridho." Zidan menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung.


Suara dering ponsel milik Zidan, kembali berbunyi, terlihat ada satu panggilan masuk dari Papa Dika, Zidan segera menerima panggilan dari Papanya tersebut.


Ia mendekatkan benda Pipi itu ke daun telinganya. " Halo, Pa. bagaimana? " tanyanya yang sudah tahu dengan apa yang akan dibicarakan oleh Papanya Itu.


" Papa baru saja menghubungi Reyhan, dia tadi sudah pergi ke kantormu. Tapi katanya tidak sempat bertemu denganmu karena dia mendadak ada urusan " ujar Papa Dika.


"Tapi tadi aku bertanya ke sekretaris ku, dia bilang tidak ada yang datang berkunjung hari ini pa, lantas ke perusahaan mana yang di maksudnya apa? " tanya Zidan, kepada Papa Dika.


"Mungkin saja dia belum sempat sampai ke ruanganmu Zi, mungkin dia masih lobby atau di parkiran. Terus dia langsung pergi dan tidak jadi masuk ke perusahaan "


"Oh, ya sudah!" seru Zidan .


"Atau kau bisa pergi ke kantornya untuk menemui dia?" saran papa Dika.


"Iya yang butuh, kenapa jadi aku yang harus menemuinya, pa? Suruh saja dia kemari lagi, " Zidan mengernyit heran.


" Zidan Ayolah nak, Reyhan itu adalah orang yang memiliki pengaruh besar, kalau kau bisa bekerja sama dengannya, setidaknya perusahaanmu akan ikut untung," tutur Papa Dika


" Untuk apa susah payah mengharapkan kerja sama dengan orang lain pa, lagipula ini kan cuma cabang dari perusahaan papa ya kalau perusahaan ini kekurangan dana kan Papa bisa ngasih suntikan ke sini." saut Zidan menyombongkan diri akan kekayaan orang tuanya tersebut.


"Zi, papa hanya ingin mengajarimu mandiri nak. Papa ingin mencarikanmu rekan bisnis. Karena, tidak mungkin selamanya kau akan bekerja sebagai dosen, papa ingin kau menjadi pengusahan sukses seperti papa. Dan tolong jangan main - main lagi mengurus perusahaanmu. Kalau kau terus seperti itu. Bagaimana kau mau membuat perusahaanmu itu maju?"Seru papa Dika.


Zidan hanya diam, ia mengusap - usap dagunya seolah tak menghiraukan ucapan papanya tersebut, ia melirik ke arah Lisa yang sedang memperhatikannya, lalu tersenyum kepadanya.


"Dasar Gila!"umpat Lisa


~•••~


.


.


.


.


.


Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐


Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜