ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Pergilah!!!!


Zidan mengambil jaket dan mengenakannya, ia segera keluar dari kamar dan menutup kembali pintu kamar itu. Baru saja ia melangkahkan kakinya hendak meninggalkan kamar namun pikirannya dibuat tak tenang aja kita harus meninggalkan bisa di rumah sendirian


Aku ingin sekali pesta minum, Tapi kasihan jika harus meninggalkan dia sendirian di rumah" Zidan menggaruk-garuk rambutnya dengan bingung.


Seketika itu Zidan disadarkan saat melihat Ronal dan juga Rose yang baru saja pulang hendak menaiki tangga menuju lantai atas.


"Laki - laki itu kemari lagi!" kedua alis Zidan menaut tajam, seakan tak suka akan kedatangan pria yang sedang di lihatnya itu.


"Lebih baik aku tidak usah pergi berpesta. Jika disini ada laki - laki brandalan itu, nanti dia macam - macam dengan Lisa!" Zidan seketika mengurungkan niatnya dan kembali masuk kedalam kamar.


Lisa yang kala itu sedang duduk berselonjor di atas tempat tidur dan membaca buku, dibuat heran saat melihat Zidan yang kembali masuk ke dalam kamar.


"Kenapa kembali? Apa kau melupakan sesuatu? " tanya Lisa.


"Iya, hukuman untukmu hampir terlupakan..." Zidan seketika melepaskan jaket yang melapisi tubuhnya, membuangnya sembarangan tempat. Lalu, segera merebahkan tubuhnya si samping Lisa dan melingkarkan tangannya di perut istrinya tersebut.


"Hukum? Sialan,kenapa dia masih ingat saja!" umpat Lisa dalam hati.


"Lebih baik kau pergilah, nanti teman - tanmu menanyakanmu bagaimana?" kata Lisa mencoba melepaskan tangan Zidan dari perutnya. Namun Zidan tak mau melepaskannya.


"Biarkan saja, aku tidak peduli tentang itu. Ayo tutup bukumu!" Zidan merampas paksa buku yang masih dipegang oleh Lisa,kemudian ia meletakkannya sembarangan tempat dan segera manarik tangan Lisa hingga hendak jatuh di atas tubuhnya.


"Ah, kenapa dia tidak jadi pergi? Oadahal aku ingin sekali menghabiskan waktu untuk membaca buku..."hati Lisa tak henti menggerutu kesal, ia mencoba menjauhkan tubuhnya dari tubuh suaminya itu.


"Zi, setelah kau menikah dengan ku, kau tidak pernah keluar dengan teman - temanmu bukan,? Lebih baik pergilah. Nanti teman - temanmu akan kecewa kalau kau tidak datang untuk berpesta dengan mereka," ucap Lisa mencoba meyakinkan suaminya tersebut.


Zidan terdiam sejenak, memang benar apa yang di katakan oleh istrinya itu dan ia juga ingin sekali pergi. Tapi diri nya merasa was c was jika harus meninggalkan Lisa sendirian di rumah, apa lagi sekarang di rumah ini sedang ada laki - laki yang sudah dicapnya sebagai laki - laki brandalan itu


" Sebenarnya, tadi aku memang berniat untuk pergi berpesta. Tapi karena kau menggodaku, aku jadi teringat akan hukuman tadi siang


Jadi aku mengurung niatku untuk pergi" Zidan melebarkan senyumannya ia merangkul Lisa dan mengendus dalam-dalam aroma yang melingkup di sekitar leher istrinya tersebut.


"Siaa yang menggodamu?" Lisa mencoba menjauhkan kembali tubuhnya.


"Jelas - jelas kau sendiri yang mengingatkan ku, akan hukumanmu! Lihatlah cara berpakaianmu jelas sekali kau menggodaku!" ujar Zidan.


" Kenapa memangnya cara berpakaianku? Salahnya dimana?"bantah Lisa sembari menlihat cara berpakaiannya.


"Ayo, pergilah berpesta bersama teman - temanmu!" perintah Lisa.


" Kenapa kau begitu ingin sekali menyuruhku untuk pergi, huh?" tanya Zidan.


"Oh, aku tau, jangan - jangan kau memakai pakaian seperti ini berharap aku pergi berpesta dan saat aku sudah pergi, kau bisa menggoda kekasih adikmu itu. Iya kan seperti itu niat mu!" imbuhnya dengan kesal.


Tangan Lisa tiba - tiba menepuk mulut Zidan begitu saja, hingga membuat suaminya itu berteriak kecil.


"Kau bena - benar keterlaluan! Kau pikir aku wanita apaan? Kau pikir aku semurahan itu!" Lisa mendorong tubuh Zidan dengan begitu kesal.


"Kalau begitu, kenapa kau berpakaian seperti ini?" tanya Zidan.


"Aku tidam membawa pakaian, pakaianki semuanya tertinggal di rumah. Jadi aku menggunakan pakaian lama ku yang masih ada di dalam lemari. Lagi pula, di rumah ini tidak ada siapa pun." ujar Lisa.


"Pergilah sana! Berpestalah dengan teman - temanmu sepuasnya! Kau ini menyusahkanku saja!" Lisa mengeraskan suaranya, ia sangat kesal dengan suaminya itu yang tega menuduhnya yang tidak - tidak.


"Kau mau aku pergi?" tanya Zidan. Namun, Lisa hanya diam saja debgan mata yang masih menatapnya kesal.


"Baiklah, aku akan pergi!" Zidan beranjak berdiri dari atas tempat tidur dan merapikan kemejanya yang sedikit berantkan.


"Kau yakin, menyuruhku pergi?" tanyanya kembali.


"Pergilah!!" saut Lisa


"Ya sudah aku akan pergi!" bibir Zidan berucap seperti itu, namun ia begitu enggan untuk melangkahkan kakinya.


"Aku akan pergi..."serunya kembali.


"Kalau mau pergi ya pergi saja! Kenapa seperti anak balita yang harus berbicara berulang kali!" saut Lisa.


"Baiklah, aku akan pergi. Awas saja kalau sampai kau mencarikub" seru Zidan.


Zidan beranjak hendak keluar dari kamar. Tangannya yang sudah memegang gagang pintu dan siap akan membukanya. Namun, saat pintu terbuka. Kedua matanya disuguhkan dengan pemandangan Rose dan Ronal yang sedang bergadengan tangan dengan mesrahnya


"Mana kakakku?" tanya Rose. Zidan hanya diam saja tanpa menjawanya, Lisa segera beranjak turum saat mendengar suara adiknya yang sedang mencarjnya tersebut.


"Ada apa, Rose?" tanya Lisa. Kedua mata Ronal dibuat terkejut akan Lisa yang terlihat begitu cantik.


Aku mau pergi dengan Ronal dan kembali besok pagi! Aku titip rumah ya kak!" ujar Rose.


"Kau mai pergi ke mana dek?" tanya Lisa.


"Aku mau pergi ke pestanya temannya Ronal, yang tinggal cukup jauh dari sini. Jadi tidak memungkinkan untuk pulang malam ini!" jawab Rose. Kedua mata Ronal begitu tertarik akan kakak kekasihnya tersebut, bahkan sedari tadi ia tak henti memandangi wajah cantik Lisa hingga sekujur lekuk tubuhnya, kedua mata Zidan pun tak kecolongan mengawasi laki - laki itu.


"Apa yang kau lihat?" Zidan tiba - tiba menutupi tubuh Lisa, hingga tubuh Lisa terhalangi oleh tubuh tegab suajminya itu.


"Memangnya apa ynag ku lihat? dasar aneh!" seru Ronal.


"Zi, aku sedang berbicara dengan Rose, kau minggirlah. Aku tidak bisa melihat adikku.!" Lisa mencoba menjauhkan tubuh suaminya dari hadapannya tersebut.


" Tidak usah berbicara! Masuklah! Bicara dari dalam kamar sajab" perintah Zida . Ia menyuruh paksa ustrinya itu untuk masuk ke kamat. Namun, Lisa menolaknya.


"Mana bisa berbicara dalam kamar? Apa kau sudah gila? Minggirlah!" seru Lisa . Ia begitu kesal dan kembali mendekati adiknya yang masih berdiri di depn pintu kamarnya.


" Rose, kau tidak boleh pergi!. Kau itu perempuan gak baik menginap disembarangan tempat!" perintah Lisa.


"Meskipun kakak tidak mengizinkan, Rose akan tetap pergi! Jagalah rumah, jangan bilang ayah!. Rose pergi dulu" Rose menarik tangan Ronal dan segera berlalu pergi meninggalkan kakaknya. Lisa melirik kearah jendela yang menampakkan hujan lebat di luar rumah.


" Rose, diluar hujan! Jangan pergi!" teriak Lisa yang memanggil Rose berkali - kali. Namun teriakan Lisa hanya dianggap angin lalu oleh sang adik.


~•••~


.


.


.


.


.


Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐


Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜